<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sekolah Minggu HKBP Taman Mini &#187; Anak</title>
	<atom:link href="http://hkbp.wordpress.com/category/anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hkbp.wordpress.com</link>
	<description>Give The Best For GOD</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Jan 2008 05:03:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='hkbp.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/742913894b0781f1638ee93983ee8ed7?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sekolah Minggu HKBP Taman Mini &#187; Anak</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hkbp.wordpress.com/osd.xml" title="Sekolah Minggu HKBP Taman Mini" />
		<item>
		<title>Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/mengajarkan-matematika-pada-anak-balita-dengan-dot-cards/</link>
		<comments>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/mengajarkan-matematika-pada-anak-balita-dengan-dot-cards/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 07:33:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hkbp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/mengajarkan-matematika-pada-anak-balita-dengan-dot-cards/</guid>
		<description><![CDATA[Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards
      (Metode Glenn Doman)
Penulis : Drajat, (Penulis buku Bersahabat dengan Matematika)
Bahan yang digunakan : Pertama, Seratus potong kertas manila putih berukuran 28 x 28 cm, masing-masing pada salah satu mukanya ada DOTS atau bola merah dengan garis tengah 2 cm.
Bola-bola ini berjumlah dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=220&subd=hkbp&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="page-title">Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards</h2>
<p><!-- start main content -->      <!-- begin content --><strong>(Metode Glenn Doman)</strong></p>
<p><strong>Penulis : Drajat, (<em>Penulis buku Bersahabat dengan Matematika</em>)</strong></p>
<p><strong>Bahan yang digunakan :</strong> Pertama, Seratus potong kertas manila putih berukuran 28 x 28 cm, masing-masing pada salah satu mukanya ada DOTS atau bola merah dengan garis tengah 2 cm.</p>
<p>Bola-bola ini berjumlah dari SATU hingga SERATUS pada kartu terakhir. Dibalik kartu terdapat angka yang menyatakan jumlah bola yang ada.</p>
<p>Dots/bola digambarkan secara acak di atas kertas tsb.</p>
<p>Kedua, Seratus potong kartu yang lebih ringan 14 x 14 cm bertuliskan sebuah angka merah setinggi 12,5 cm mulai dari angka 1 hingga 100 pada kartu terakhir.</p>
<p>Warna merah dipakai karena memang menarik bagi seorang anak.</p>
<p><strong>Cara mengajarkan :</strong></p>
<p>Ambillah kartu yang ada SATU bola merahnya saja, Sekarang angkatlah kartu tersebut di luar jangkauan tangannya dan katakan kepadanya, &#8220;INI SATU&#8221;. (Jangan sampai si anak melihat benda-benda lain. )<br />
2<br />
Tunjukkan kepadanya sesingkat mungkin. Dua atau tiga detik.</p>
<p>Kemudian letakkan kartu tersebut terbalik di pangkuan kita. Pada mulanya anda akan merasa janggal. Namun demikian, semakin kita mahir menggunakan kartu-kartu itu, semakin cepat anak kita dapat memahaminya.</p>
<p>Perlu diingat bahwa angka hanyalah simbol yang mewakili nilai dari bilangan.</p>
<p>Sekarang angkatlah kartu kedua, dan katakan, &#8220;INI DUA&#8221;.</p>
<p>Lakukan seterusnya hingga kartu berjumlah SEPULUH BOLA.</p>
<p>Seluruh proses ini kurang lebih memakan waktu kurang dari satu menit.</p>
<p>Lakukanlah setiap hari. Dalam waktu lima hari ia telah mengetahui fakta-fakta nyata dari angka satu sampai sepuluh, tetapi jangan meyuruhnya untuk membuktikan hal itu lebih dahulu.</p>
<p>Pada hari keenam, kita singkirkan kartu 1 dari kesepuluh kartu di pangkuan dan menambahkan kartu 11.</p>
<p>Pada hari ketujuh, kita singkirkan kartu 2 dan menambahkan kartu 12.</p>
<p>Terus lakukan seperti itu hingga angka 100. Kegiatan ini kurang lebih akan memakan waktu tiga bulan.</p>
<p>Yakinlah, kegiatan ini akan menghasilkan kemampuan anak yang luarbiasa. Kini ia akan dengan cepat dapat membedakan empat puluh lima bola dan empat puluh enam.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya PENJUMLAHAN. </strong></p>
<p>Pada hari ke-30, anda telah memperlihatkan hingga 35 bola. Semakin banyak yang diperlihatkan bola-bola kepada anak berarti anda mulai mengajarkan penjumlahan.</p>
<p>Mulai kita melangkah mengajarkan penjumlahan dengan meletakkan bola-bola merah berjumlah dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, hingga sepuluh di pangkuan anda.</p>
<p>Semuanya menghadap ke bawah dan kartu berbola dua diletakkan paling atas di tumpukan itu.</p>
<p>Dengan semangat katakanlah, &#8220;satu tambah satu sama dengan dua&#8221;. Kemudian kita perlihatkan kartu berbola dua.</p>
<p>Perlihatkan tidak lebih dari satu detik. Jangan menjelaskan arti kata-kata &#8220;tambah&#8221; atau &#8220;samadengan&#8221;. Katakanlah &#8220;Satu tambah dua samadengan .&#8221; Jangan katakan &#8220;satu tambah dua menjadi&#8230;.&#8221;</p>
<p>Jika kita mengajarkan fakta-fakta kepada anak-anak, mereka akan menarik kesimpulan tentang hukum-huikumnya lebih tepat dan cepat. Kemudian katakan &#8220;Satu tambah dua sama dengan tiga&#8221; hingga &#8220;satu tambah sembilan sama dengan sepuluh&#8221; yang kemudian kita perlihatkan hasilnya.</p>
<p>Lakukanlah tiga kali pada hari pertama, sambil kita meneruskan untuk memperlihatkan kartu-kartu berbola sebanyak tiga kali sehari. Sebaiknya anda mengatur keenam waktu secara merata saat daya tangkap anak sedang memuncak.</p>
<p>Pada hari ke-31 anda mengajarkan dua tambah dua, tambah tiga, dan seterusnya hingga tambah delapan. Apa yang kita ajarkan adalah arti dari bunyi kata &#8220;tambah&#8221; dan &#8220;samadengan&#8221;. Percaya atau tidak, pada saat kita bertanya &#8220;dua tambah empat samadengan enam&#8221; kepada seorang dewasa maka akan terlintas 2 + 4 = 6. Tetapi pada seorang anak akan terlintas dua bola tambah empat bola samadengan enam bola.</p>
<p>Sampai hari ke-31 ia sudah mengenal jumlah yang sbeenarnya sampai dengan 40 dan telah dapat menambah dalam setiap kombinasi yang ada sampai dengan 10. Tahap ini yang terpenting adalah, bahwa ia telah mengerti &#8220;tambah&#8221; dan &#8220;samadengan&#8221; walaupun kita tidak membertiahunya.</p>
<p>Mulai hari ke-36 dst kita tidak perlu mengajarkan dengan urutan tertentu lagi. Ia sudah memahami. Berikanlah ia sekarang soal penjumlahan maka dengan cepat ia akan bisa menjawab.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya PENGURANGAN. </strong></p>
<p>Pola ini sama dengan pola penjumlahan. Katakan &#8220;sepuluh kurang satu samadengan sembilan&#8221; Dan perlihatkan sejenak kartu berbola sembilan. Kemudian katakan &#8220;sepuluh kurang sembilan samadengan satu&#8221;.</p>
<p>Pada hari ke-41 anda dapat mengajarkan mulai dari duapuluh kurang satu sampai dengan duapuluh kurang sembilan belas. Maka ia sekarang sedang menerima sembilan waktu belajar yang sangat ringkas setiap harinya dengan urut-urutan sebagai berikut: Kartu-kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan, kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan, kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan.</p>
<p>Di hari ke-42 mulailah dengan tigapuluh kurang satu hingga tigapuluh kurang duapuluh sembilan. Pada hari ke-43 mulailah dengan soal-soal pengurangan dalam bentuk dan urutan yang tidak teratur sampai jumlah empatpuluh delapan.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya MEMECAHKAN SOAL. </strong></p>
<p>Apabila apa yng kita sampikan sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang, Insya Allah akan menghasilkan buah yang &#8220;harum&#8221; baunya dan nikmat rasanya.</p>
<p>Kini kita siap mengajarkan memecahkan soal, ingat bukan mengujinya. Mulailah dengan bilangan-bilangan.</p>
<p>Berlututlah di lantai menghadap anak. Ambillah kartu dengan 18 bola dan 25 bola. Kemudian mintalah si anak untuk menunjuk pada 25. Permintaan ini diajukan sambil lalu dan riang. Jangan suruh dia mengucapkan duapuluh lima, sebab kita tidak sedang mengajar berbicara, tetapi sedang mengajarkan matematika. Jika ia tidak cukup cepat, katakan dengan gembira, &#8220;Yang ini, bukan?&#8221; sambil mengangkat kartu 25 bola. Inilah cara mengajar yang jujur.</p>
<p>Ulangi lagi hingga anak dapat menunjukkan dengan benar. Jika ia dapat mengetahuinya, pujilah dan peluklah. Bahwa ia adalah seorang anak yang terpandai yang pernah kita kenal. Hal ini memang betul bukan ?</p>
<p>Begitu kita meluapkan kegembiraan dia akan secepatnya menaruh minat pada matematika untuk selamanya. Ia menjadi yakin bahwa matematika lebih menyenangkan daripada &#8220;gula-gula&#8221;. Terus lakukan seperti itu, maka anak kita akan lebih cepat menunjukkannya. Lakukan setelah itu pengurangan.</p>
<p>Sebagai catatan jangan memberikan waktu khusus untuk memecahkan soal-soal, tetapi campuradukkan atau sewaktu-waktu saja. Hingga anak kita merasakan kesenangan. Toh tidak ada tekanan yang kita berikan kepada anak kita.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya PERKALIAN </strong></p>
<p>Katakan kepadanya kita mengajarkan perkalian. Lakukan hal yang sama seperti sebelumnya.</p>
<p>Mulailah dengan mengatakan &#8220;dua kali dua samadengan empat&#8221; sambil memperlihatkan kartu berbola empat. Teruskan sampai &#8220;dua kali lima samadengan sepuluh&#8221;.<br />
2<br />
Pada hari ke-51, mulai dengan &#8220;tiga kali tiga samadengan sembilan&#8221;. Akhirnya &#8220;tiga kali delapanbelas samadengan limapuluh empat&#8221;.</p>
<p>Sampai hari ke 58 kita sampai pada &#8220;sepuluh kali enam samadengan enampuluh&#8221;. Pada waktu mengajarkan perkalian kita bisa menyelipkan satu persoalan perkalian.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya PEMBAGIAN </strong></p>
<p>Pada hari ke-60 kita mengajarkan pembagian. Sampai langkah ini ia telah mengetahui nilai sebenarnya hingga enampuluh lima. Mulailah dengan mengatakan &#8220;empat dibagi dua samadengan dua&#8221; hingga enampuluh empat dibagi dua samadengan tigapuluhdua&#8221;.</p>
<p>Pada hari ke-68 kita sampai pada &#8220;tujuhpuluh dibagi sepuluh samadengan tujuh&#8221;.</p>
<p>Sewaktu-waktu kita selingi dengan soal pembagian.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya PERSAMAAN </strong></p>
<p>Pada hari ke-70 kita sudah menjadi seorang ahli matematika. Katakanlah kita sedang mengajarkan persamaan dengan riang gembira.</p>
<p>Sebetulnya ia sudah mengetahui semua persamaan dua langkah. Sebab, memang dua tambah tiga samadengan lima, tujuhpuluh dikurangi tigapuluhsatu samadengan tigapuluh sembilan, delapan kali delapan samadengan enampuluh empat. Sekarang berikanlah soal persamaan tiga langkah. Katakanlah &#8220;tujuh tambah tigabelas kali tiga samadengan .&#8221; Kemudian perlihatkanlah kartu berbola enampuluh.</p>
<p>Setelah kita mengajarkan tiga langkah persamaan maka lanjutkanlah dengan langkah-langkah yang lain.</p>
<p>Yakinlah apa yang kita ajarkan akan menghasilkan hasil yang memuaskan.</p>
<p><strong>Langkah selanjutnya ANGKA-ANGKA. </strong></p>
<p>Langkah ini amat mudah. Sekarang kita mengambil kartu-kartu yang bertuliskan angka (kartu dg ukuran 14 x 14 cm). Angkatlah kartu yang bertuliskan 1 berwarna merah, dan katakan &#8220;ini satu&#8221;.</p>
<p>Lakukan seterusnya hingga hari ke-99 ia akan mengetahui semuanya.</p>
<p>Selamat Mencoba !</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hkbp.wordpress.com/220/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hkbp.wordpress.com/220/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hkbp.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hkbp.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hkbp.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hkbp.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hkbp.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hkbp.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hkbp.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hkbp.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hkbp.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hkbp.wordpress.com/220/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=220&subd=hkbp&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/mengajarkan-matematika-pada-anak-balita-dengan-dot-cards/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3eb4b0a4e03f1668270b537504bc3827?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hkbp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Sekolah Minggu</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/sejarah-sekolah-minggu/</link>
		<comments>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/sejarah-sekolah-minggu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 07:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hkbp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/sejarah-sekolah-minggu/</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Sekolah Minggu
      Menurut sejarah, konsep Sekolah Minggu berawal dari Inggris di tahun 1780 dibawah seorang guru bernama Robert Raikes. Pada awalnya, Sekolah Minggu adalah merupakan sebuah sekolah sederhana untuk anak-anak miskin belajar menulis dan membaca, sehinga mereka bisa mengerti apa yang tertulis didalam Alkitab. Pelajaran tersebut juga termasuk menghafal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=224&subd=hkbp&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="page-title">Sejarah Sekolah Minggu</h2>
<p><!-- start main content -->      <!-- begin content -->Menurut sejarah, konsep Sekolah Minggu berawal dari Inggris di tahun 1780 dibawah seorang guru bernama Robert Raikes. Pada awalnya, Sekolah Minggu adalah merupakan sebuah sekolah sederhana untuk anak-anak miskin belajar menulis dan membaca, sehinga mereka bisa mengerti apa yang tertulis didalam Alkitab. Pelajaran tersebut juga termasuk menghafal ayat-ayat tertentu dan lagu-lagu rohani. Konsep ini ternyata sangat berhasil dan diikuti oleh banyak gereja. Kemudian suatu gerakan pendidikan muncul akibat dari Sekolah Minggu ini. Orang-orang semakin ingin belajar untuk membaca dan menulis.</p>
<p>Di Amerika, seorang Uskup dari gereja Methodist bernama Francis Asbury (1745-1816) menerapkan konsep dari Robert Raikes tersebut.</p>
<p>Sebagai seorang misionaris pada tahun 1771 di Amerika, ia mulai menginjil dengan metoda &#8220;Circuit Rider&#8221; yang dipelajarinya dari John Wesley. Pada tahun 1786, di Virginia, untuk pertama kalinya sebuah Sekolah Minggu yang modern dimulai.</p>
<p>Perkembangan Sekolah Minggu kemudian menjadi lebih pesat dengan adanya dukungan dari Lembaga Pendidikan Kristiani Dunia (The World Council of Christian Education), sebuah institusi internasional yang didirikan pada tahun 1947. Institusi ini juga yang mempromosikan berbagai pelatihan dan kurikulum pengajaran Sekolah Minggu.</p>
<p>John Wesley</p>
<p>John Wesley (1703-1791) adalah seorang pendeta evangelikal asal Inggris dan pendiri dari Gereja Methodist. Ia dinobatkan sebagai seorang pastor di Gereja Inggris pada tahun 1728, dan kemudian memimpin sekelompok mahasiswa dari Oxford. Mereka disebut &#8220;metodis&#8221; karena dedikasinya yang sangat sistematis terhadap pengajaran dan tugas-tugas kerohanian yang mereka lakukan.</p>
<p>Pada tanggal 24 Mei 1738, saat sedang berlangsungnya suatu pertemuan rohani di London, John Wesley merasakan hadirat Allah dan menyatakan bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh dari iman kepada Yesus Kristus. Itulah pesan yang disampaikannya selama sisa hidupnya dengan penuh semangat. Menurut catatan sejarah John Wesley telah menyampaikan lebih dari 40.000 kotbah dan sebagian besar kotbahnya diadakan di ruang terbuka dan rumah-rumah atas saran dari rekannya bernama George Whitefield.</p>
<p>John Wesly adalah seorang tokoh Kristiani yang sangat menjunjung tinggi kekudusan dalam hidup ke-Kristenan. Adiknya, Charles Wesley (1707-1788) kemudian meneruskan perjuangan John Wesley sebagai pendeta evangelikal Methodist dan pada saat itu Charles juga merupakan seorang pastor dari Gereja Inggris. Charles Wesley telah menulis sekitar 6.500 lagu-lagu gereja, termasuk lagu &#8220;Hark! The Herald Angels Sings&#8221; yang kerap dinyanyikan saat hari Natal.</p>
<p>Gereja Methodist</p>
<p>Gereja Methodist adalah suatu denominasi dari aliran Protestan yang dimulai oleh John Wesley dan adiknya Charles Wesley beserta dengan George Whitfield. Pada awal mulanya, kotbah-kotbah diadalah di tempat-tempat terbuka, di rumah-rumah dan gudang-gudang dan bukan di gereja-gereja.</p>
<p>Gereja ini berasal dari Inggris dan berkembang ke benua Amerika dibawah pimpinan dari Francis Asbury, walaupun mulainya masuk di New York melalui pendeta Philip Embury pada tahun 1766.</p>
<p>Gereja Methodist menempatkan Alkitab sebagai dasar ajaran iman satu-satunya. Ajarannya berpegang pada Trinitas, keilahian Kristus, kehidupan yang akan datang, keselamatan hanya oleh iman, pentingnya kehidupan suci, pekerjaan Roh Kudus dalam hati orang-orang percaya, dan gereja Methodist ini memberikan peluang yang besar bagi kaum awam untuk aktif dalam berbagai aktifitas pelayanan gereja.</p>
<p>Konferensi gereja Methodist pertama diadakan pada tahun 1773 dan kemudian pada tahun 1784 dibentuklah Methodist Episcopal Church. Di Inggris maupun di Amerika, Gereja Methodist terus berkembang menjadi banyak kelompok, dan pada abad 20 mulailah berbagai kelompok tersebut bersatu kembali. Salah satu kelompok dari Gereja Methodist yang terbesar didunia adalah United Methodist Church, dengan 9.000.000 anggota.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hkbp.wordpress.com/224/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hkbp.wordpress.com/224/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hkbp.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hkbp.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hkbp.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hkbp.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hkbp.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hkbp.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hkbp.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hkbp.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hkbp.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hkbp.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=224&subd=hkbp&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/sejarah-sekolah-minggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3eb4b0a4e03f1668270b537504bc3827?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hkbp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Pembelajaran Ulang Bagi Orang Tua</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/pentingnya-pembelajaran-ulang-bagi-orang-tua/</link>
		<comments>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/pentingnya-pembelajaran-ulang-bagi-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 07:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hkbp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/pentingnya-pembelajaran-ulang-bagi-orang-tua/</guid>
		<description><![CDATA[Pentingnya Pembelajaran Ulang Bagi Orang Tua
      

Dalam buku TANGAN YANG MENENUN, saya telah menceritakan dengan panjang lebar bagaimana anak sulung saya stress karena pola pengasuhan dan pendidikan yang saya terapkan. Berdasarkan test IQ, anak saya memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi (suprior). Waktu itupun saya berpikir bahwa dengan kecerdasan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=223&subd=hkbp&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="page-title">Pentingnya Pembelajaran Ulang Bagi Orang Tua</h2>
<p><!-- start main content -->      <!-- begin content --><strong><br />
</strong></p>
<p>Dalam buku TANGAN YANG MENENUN, saya telah menceritakan dengan panjang lebar bagaimana anak sulung saya stress karena pola pengasuhan dan pendidikan yang saya terapkan. Berdasarkan test IQ, anak saya memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi (suprior). Waktu itupun saya berpikir bahwa dengan kecerdasan yang begitu tinggi, anak saya bisa diprogram menjadi apa saja seperti yang saya inginkan. Ibarat menghadapi komputer pentium 4 yang super canggih, saya pun mengisi otak anak saya dengan berbagai pengetahuan.<!--break--> Saya pun menyusun jadwal ketat untuk anak saya, dari menit ke menit, mulai hari Senin hingga Minggu. Saya mengikutsertakan anak saya dalam berbagai kursus,mulai dari bahasa Inggris, melukis, matematika, dan kursus-kursus lainnya. Waktu itu saya ingin anak saya menjadi manusia super. Pada tahap-tahap awal atau kira-kira sampai kelas 2 SD, pertumbuhan anak saya sangat memuaskan hati saya. Nilai sekolahnya sangat bagus dan dia selalu masuk 3 besar di kelasnya. Lalu, apakah ana saya puas dengan prestasi yang diraihnya? Tidak ! Ternyata anak saya merasa wajib mengejar nilai bukan untuk keuasan dirinya, tetapi hanya sekedar untuk menyenangkan hati saya. Bagaikan robot, anak saya sering bilang bahwa segala sesuatu yang ia lakukan bukan untuk kepentingannya,melainkan untuk kepentingan saya. Anak saya mengejar nilai sekolah dan patuh dengan jadwal kursus dengan motivasi supaya saya tidak marah kepadanya.</p>
<p>Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya? Pada suatu waktu anak saya mengalami kejenuhan dan nilai sekolahnya menurun drastis. Saya pun kecewa dan mulai memacu belajar anak saya dengan lebih kuat lagi. Hasilnya justru semakin merosot dan kekecewaan saya pun semakin memuncak. Akhirnya, saya stress. Tidak jauh berbeda, anak sayapun mengalami stres.</p>
<p>Seperti kebanyakan orang tua pada umumnya, saya pernah mengalami ketegangan-ketegangan terutama ketika keadaan anak tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Waktu itu saya yakin anak bermasalah karena tidak menggunakan potensi kecerdasannya secara optimal. Saya pun mondar-mandir membawa anak saya ke seorang psikolog. Saya berharap &#8220;komputer&#8221; (otak) anak saya bisa direparasi supaya bisa berfungsi sesuai dengan kapasitasnya.</p>
<p>Dalam suatu kesempatan, Prof Dr. Singgih Dirga Gunarsa mengatakan bahwa sebagain besar anak-anak yang dibawa orang tuanya berkonsultasi kepada beliau, sesungguhnya tida bermasalah. Yang bermasalah dan memerlukan konseling justru orang tuanya. Hati saya pun bergejolak &#8220;Betulkah ada sesuatu yang salah dalam diri saya? Lalu, apa kesalahan saya?&#8221;</p>
<p>Sulit bagi saya untuk menemukan kesalahan diri sendiri. Sebaliknya, dulu saya justru merasa bahwa saya adalah ibu yang paling baik untuk anak saya. Saya merasa sudah menerapkan ilmu keguruan yang saya dapat dari bangku kuliah. Saya juga merasa sudah menerapkan Firman Tuhan dalam mendidik anak saya. Sampai suatu saat, anak saya berterus terang kepada saya &#8220;Dika nggak suka sama ibu karena ibu terlalu cerewet dan suka memaksa. Ibu galak, persis kayak nenek&#8221;</p>
<p>Saya serasa ditampar ketika mendengar keterusterangan anak saya. Namun saya berterima kasih karena hal itu bisa menjadi cermin bagi saya. Saya menyadari apa yang ditunjukkan anak saya adalah cerminan dari apa yang saya lakukan untuknya. Memang tidak bisa disangkali, sifat saya yang ambisius dan terlalu bangga dengan teori-teori yang saya telah kuasai, muncul ke permukaan, sehingga anak saya melihat saya sebagai ibu yang galak, cerewet dan suka memaksa.</p>
<p>Dulu, saya tidak tahu mengapa saya telah berusaha menjadi ibu yang baik tetapi ternyata &#8220;tampilan&#8221; saya tak lebih dari seorang ibu yang dominan dan otoriter. Yang saya hanya tahu, memang begitulah keadaan alami saya. Sampai suatu malam ketika hendak tidur, saya terngiang-ngiang dengan kata-kata anak saya &#8220;Ibu kayak nenek&#8221;.</p>
<p>Saya mencoba membuka kenangan masa kecil, seolah sedang memutar ulang film kehidupan saya. Saya mulai melihat satu persatu interaksi saya dengan ibu saya. Dalam hati masih terlintas kebencian saya terhadap ibu saya yang otoriter dan selalu menuntut anak-anaknya untuk menjadi yang nomor satu. Saya tidak pernah bisa melupakan bagaimana ibu saya menjambak rambut saya ketika nilai sekolah saya tidak mencapai 10. Saya begitu benci ketika ingat waktu dulu ibu selalu memukul jari-jari tangan saya dengan penggaris kayu setiap tulisan saya jelek. Saya sangat membeci sikap ibu yang selalu memaksakan kehendak dan selalu didekte saya.</p>
<p>Dari sederet sikap ibu yang saya benci, tanpa saya sadari ternyata semuanya ada dalam diri saya. Walaupun mulut saya mengatakan bahwa &#8220;Saya tidak mau otoriter dan galak seperti ibu&#8221;, namun jauh dari kesadaran saya, ternyata saya pun telah menjadi serupa dengan ibu saya.</p>
<p>Sadar atau tidak, suka atau tidak suka, sikap dan teladan ibu telah menjadikan saya pribadi dengan sifat-sifat yang sangat tidak saya sukai. Walaupun saya sangat membenci sikap ibu yang otoriter, namun tanpa disadari saya telah menjadi seorang ibu yang tidak kalah otoriternya. Seperti kata pepatah, &#8220;Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya&#8221;, sifat saya pun tidak jauh berbeda dengan sifat ibu saya.</p>
<p>Saya sangat cemas ketika menyadari bahwa saya telah menjadi pribadi yang saya sendiri tida sukai. Ketika saya menyadari bahwa sikap dan keteladanan orang tua saya, telah ada dalam diri saya, maka saya pun semakin cemas karena hampir bisa dipastikan anak-anak saya pun tida akan jauh berbeda. Saya menyadari, kalau saja saya membiarkan hidup saya mengalir tanpa arah dan tanpa perubahan-perubahan yang berati, maka saya tidak bisa memutus mata rantai, yaitu menurunkan sifat-sifat yang buruk kepada anak saya.</p>
<p>Belajar dari pengalaman masa lalu, saya mulai menata masa depan dengan memulai perubahan. Saya pun mulai menetapkan visi untuk menjadi orang tua yang bijaksana, efektif dan berkenan di hadapan Tuhan. Dengan sedikit memutar otak, saya berpikir dan berbuat supaya impian saya untuk menjadi orang tua yang bijaksana, efektif dan berkenan di hadapan Tuhan bisa tercapai.</p>
<p>Walaupun saya berdoa siang dan malam, perubahan tidak begitu saja terjadi. Sampai akhirnya Tuhan menggerakkan hati saya untuk mencari seorang konselor. Saya bersyukur karena Tuhan menolong saya lewat konselor Kristen yang saya datangi.</p>
<p>Dengan bantuan seorang konselor, saya mengingat kembali kesalahan-kesalahan orang tua yang teah meninggalkan kepahitan dalam diri saya. Konselor itu pun membantu saya membereskan kepahitan masa lalu saya. Dengan penuh kecintaan, saya berusaha mengampuni kesalahan orang tua saya. Kalaupun saya masih mengingat kesalahan orang tua saya, hal itu tidak membuat saya marah atau benci. Saya menggunakan pengalaman pahit saya sebagai peringatan dan pelajaran yang sangat berharga supaya saya tidak melakukan hal yang sama terhadap anak-anak saya. Memang tidak mudah, tetapi melalui seorang konselor Kristen, Tuhan telah mengobati luka batin saya.</p>
<p>Melalui konseling saya menyadari bahwa ternyata saya perlu belajar ulang bagaimana menjadi orang tua supaya menyenangkan hati anak-anak dan berkenan di hadapan Tuhan. Saya pun terus mencari sumber-sumber pembelajaran, baik melalui buku-buku maupun training pengasuhan dan pendidikan anak.</p>
<p>Ketegangan lain yang saya tuliskan dalam buku TANGAN YANG MENENUN adalah ketika anak saya berbicara cabul. Waktu itu anak saya duduk di kelas 3 SD mendapat informasi tentang seks dari teman sekolahnya. Serasa disambar petir ketika saya menhadapi kenyataan bahwa &#8220;malaikat kecil&#8221; saya yang dulu lucu dan menggemaskan, tiba-tiba bermulut tidak senonoh.</p>
<p>Kembali saya menggunakan keadaan anak untuk bercermin diri. Sayapun akhirnya menyadari bahwa saya telah lalai untuk memberikan pendidikan seks sejak usia dini. Sejak saat itu saya berusaha memperlengkapi diri dengan pengetahuan bagaimana saya harus memberikan pendidikan seks secara tepat sehingga anak-anak saya tidak terjerumus dalam praktek seks pranikah dan terhindar dari tindak pelecehan dan atau tinda kekerasan seksual seperti sodomi, pemerkosaan dan lain-lain.</p>
<p>Saya sangat beruntung, ketika menemukan LK3 (Layanan Konseling Keluarga dan Karir) yang memiliki kepedulian untuk memperlengkapi kemampuan orang tua dalam hal konseling dan parenting. Seminar pertama yang saya ikuti adalah &#8221; Mempersiapkan generasi pantang seks pranikah&#8221; yang dibawakan oleh Prof. Dr.dr.Wimpie Pangkahila,Sp.And, FAACS. Saya sangat terberkati dengan seminar yang dibawakan oleh seksiolog yang tidak hanya beridentitas Kristen, tetapi memang seorang kristiani. Melalui seminar tersebut mata saya dibukakan, bahwa mengajarkan seks kepada anak bukan saja merupakan pengajaran yang bersifat duniawi, melainkan merupakan bagian dari pendidikan iman juga.</p>
<p>Ketika LK3 menawarkan modul-modul CPE atau Conseling and Parenting Educatian, saya langsung tertarik untuk mengikutinya. Saya memang harus menginvestasikan sedikit dana dan waktu supaya saya bisa menjadi orang tua yang efektif dan berkenan di hadapan Tuhan. Hal ini harus saya lakukan karena kecintaan saya terhadap Tuhan dan ana-anak saya.</p>
<p>Karena begitu tertariknya saya terhadap visi LK3 dan program kursus CPE khususnya,94 ka saya pun memutuskan untuk bergabung secara fulltime di LK3. Ketika anak saya menanyakan mengapa saya harus pindah meninggalkan pekerjaan di kantor yang sudah mapan dan cukup prestisius, hanya untuk mendukung pelayanan LK3, saya pun hanya menjawab bahwa semua itu saya lakukan demi kecintaan saya terhadap Tuhan Yesus dan anak-anak saya.</p>
<p>Apa yang menarik dari CPE yang dipersembahkan LK3? Program CPE merupakan pembelajaran konseling dan parenting terapan, yang dipersiapkan bagi setiaporang yang peduli konseling dan parenting. Modul pembelajaran tersebut diolah dari pengalaman konseling LK3 dengan ratusan kasus keluarga yang aktual.</p>
<p>Selain mengintegrasikan teologi dengan psikologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya, CPE juga mengintegrasikan konseling dan parenting. Hal itu bertujuan supaya orang tua, calon orang tua, guru sekolah, guru sekolah minggu maupun aktivis gereja lainnya, dengan mudah bisa menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperolehnya, sebagai bagian dari self healing serta untukmenolong kerabat dan sahabat dekatnya.</p>
<p>Materi CPE dipersiapkan untuk membantu mempersiapkan dan memperkaya pernikahan serta melengkapi peran serta orang tua dalam mendidik anak-anaknya. LK3 tidak hanya menggunakan nara sumber yang profesional, tetapi juga terpangil untuk melayani. Nara sumber tersebut terdiri dari konselor, rohaniwan, psikolog, ahli pendidikan dan seksiolog Kristen, yang didukung oleh pakar media, ahli gizi dan kesehatan, motivator, lawyer, dokter dan psikiater. Pdt. Paulus Kurnia, Pdt. Yakub B. Susabda PhD, Pdt. Dr. Mesach Krisetya, Pdt. Julianto Simanjuntak, Prof. Dr. Dr. Wimpie Pangkahila, Pr. Dr. Taliziduhu Ndraha, Ir.Jonathan Prapak,MSC. Ibu Anne Parapak adalah sebagai nara sumber yang mendukung program CPE &#8211; LK3.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hkbp.wordpress.com/223/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hkbp.wordpress.com/223/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hkbp.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hkbp.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hkbp.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hkbp.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hkbp.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hkbp.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hkbp.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hkbp.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hkbp.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hkbp.wordpress.com/223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=223&subd=hkbp&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/pentingnya-pembelajaran-ulang-bagi-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3eb4b0a4e03f1668270b537504bc3827?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hkbp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengasuh Anak Adalah Pelayanan Terpenting</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Mengasuh Anak Adalah Pelayanan Terpenting/</link>
		<comments>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Mengasuh Anak Adalah Pelayanan Terpenting/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 07:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hkbp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Mengasuh Anak Adalah Pelayanan Terpenting/</guid>
		<description><![CDATA[Mengasuh Anak Adalah Pelayanan Terpenting
      

Sejak memutuskan pindah kerja ke daerah Grogol yang super macet, saya hampir
kehilangan kebersamaan dengan anak-anak. Jarak tempat kerja yang semakin
jauh, membuat saya harus meninggalkan anak-anak di rumah selama 14 jam
sehari. Enam jam sehari saya harus membuang waktu untuk perjalanan pergi dan
pulang dari kantor. Sesampainya di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=222&subd=hkbp&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="page-title">Mengasuh Anak Adalah Pelayanan Terpenting</h2>
<p><!-- start main content -->      <!-- begin content --><strong><br />
</strong></p>
<p>Sejak memutuskan pindah kerja ke daerah Grogol yang super macet, saya hampir<br />
kehilangan kebersamaan dengan anak-anak. Jarak tempat kerja yang semakin<br />
jauh, membuat saya harus meninggalkan anak-anak di rumah selama 14 jam<br />
sehari. Enam jam sehari saya harus membuang waktu untuk perjalanan pergi dan<br />
pulang dari kantor. Sesampainya di rumah, kelelahan fisik tidak memungkinkan<br />
saya memberikan kasih dan kehangatan yang memadai untuk anak-anak. Waktu yangtersisa sekitar 2 jam bersama anak-anak pun tidak sepenuhnya bisa kami isi dengan 120 menit kebersamaan. Seringkali fisik saya ada begitu dekat dengan<br />
anak-anak, namun pikiran saya masih ada di kantor, di depan komputer atau di<br />
buku yang baru saya beli. Tak jarang saya memangku anak-anak tetapi ujung<br />
jari saya ada di keypad HP dan hati saya entah ada di mana.</p>
<p>Jujur saja, ada perasaan bersalah yang terus bersarang di hati karena<br />
ketidakmampuan saya  memberikan perhatian dan kasih sayang kepada si bungsu<br />
Mika, sebagaimana saya dulu memperlakukan si sulung Dika. Perasaan bersalah<br />
itu semakin besar seiring dengan semakin gencarnya protes Dika untuk<br />
menyuarakan kepentingan Mika yang selama ini nyaris saya abaikan.</p>
<p>Sebelum Mika masuk TK, saya bisa menebus sedikit kesalahan dengan sesering<br />
mungkin mengajak Mika pergi. Tak jarang saya membawa Mika ke kantor.<br />
Walaupun Mika harus meninggalkan rumah selama 14 jam, namun ia sangat<br />
menikmati kebersamaan dengan saya. Walaupun harus naik turun kendaraan umum,<br />
namun Mika cukup antusias selama dalam perjalanan.</p>
<p>Sayang sekali, sejak Mika masuk TK, saya tidak bisa lagi mengajaknya ke<br />
kantor. Hari pertama Mika masuk sekolah, saya sengaja off dari kantor supaya<br />
bisa mengantar dan menunggui Mika. Karena saya lihat Mika cukup mandiri,<br />
hari kedua dan seterusnya saya minta pengasuh untuk menggantikan tugas<br />
mengantar dan menjemput Mika. Karena Mika tidak pernah protes, saya tidak<br />
mengambil alih tugas pengasuh walaupun saya sedang off. Dengan semangat<br />
melayani Tuhan, saya sering memanfaatkan waktu off  untuk melayani di gereja<br />
atau menyediakan waktu dan telinga untuk anak-anak Tuhan yang berbeban<br />
berat. Pelayanan,Ã‚Â itulah kata yang sangat saya banggakan untuk melegitimasi<br />
kesibukan saya.</p>
<p>Pengasuh Mika yang melihat betapa lelahnya saya sepulang dari kantor, selalu<br />
berusaha mendorong Mika untuk menyeselaikan PR dari sekolah sebelum saya<br />
tiba di rumah. Pendek kata, saya hanya terima jadiÃ‚Â dan saya cukup puas<br />
karena Mika tidak mengalami masalah dalam belajar. Mika yang tumbuh sebagai<br />
anak yang manis, sopan, mudah diarahkan pun saya pandang sebagai proses<br />
alami dari seorang anak yang tahu diriÃ‚Â dan menerima keadaan sebagai anak<br />
seorang janda.</p>
<p>Hari Sabtu minggu lalu, saya sengaja off dari kantor karena ada urusan di<br />
sekolah Dika. Rencana saya hanya satu, yaitu ke sekolah Dika. Tidak seperti<br />
biasanya, Sabtu itu saya bangun 1 jam lebih lambat dari biasanya. Melihat<br />
saya agak santai, Mika memberondong dengan beberapa pertanyaan Hari ini Ibu<br />
libur? Mau nggak Ibu nungguin Mika, sekali ini aja?Ã‚Â  Belum sempat saya<br />
menjawab, Mika terus bertanya Ibu sayang Mika, nggak? Ibu kepingin lihat<br />
Mika disayang bu guru, nggak? Ibu mau nggak ngeliatin Mika dari luar pagar<br />
sekolah terus-terusan sampai Mika selesai sekolah? Ibu seneng nggak kalau<br />
Mika pinter?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan Mika yang terus mengalir serasa menohok ulu hati saya.<br />
Belum juga saya mampu mengendalikan perasaan bersalah, Dika berdiri di<br />
belakang Mika untuk memberikan dukungan layaknya demonstran yang sedang<br />
menuntut hak-haknya! Selama ini Ibu belum pernah menunggui adik<br />
sekolah, padahal dulu setiap Sabtu Ibu nungguin Dika sekolah, dari TK kecil<br />
sampai kelas 2! Kasihan Bu, adik kan juga manusia! kata Dika semakin<br />
menyudutkan saya.</p>
<p>Tidak ada jawaban lain yang lebih bijaksana selain mengiyakan permintaan 2<br />
demonstran kecil itu. Jadilah pagi itu saya mengantar dan menunggui Mika<br />
sekolah terlebih dulu sebelum pergi ke sekolah Dika.</p>
<p>Sejak masuk ke mobil jemputan Mika sangat riang. Saat mobil berhenti di<br />
depan rumah teman sejemputannya, Mika berteriak GiovaniÃ¢â‚¬Â¦.Mika seneng dech,<br />
hari ini ibunya Mika mau nungguin Mika di sekolah! Mama Giovani, mau lihat<br />
ibunya Mika nggak? Ibunya Mika baik loh!</p>
<p>Ketika mobil menjemput teman yang lain, Mika berteriak kembali<br />
ArnoldÃ¢â‚¬Â¦..hari ini Mika asyik dech! Ibu Mika kan sayang sama Mika! Mama<br />
Arnold, hari ini Mika disayang sama Ibu!Ã‚Â. Seolah tak ada bosannya, Mika<br />
memamerkan kebahagiaannya kepada setiap temannya. Bahkan sesampainya di<br />
sekolah, Mika bilang kepada guru-guru kalau hari itu saya mengantarnya.</p>
<p>Sepintas, keceriaan Mika menampakkan bahwa ia adalah anak periang dengan<br />
tangki cinta yang penuh. Namun, ekspresi Mika yang berlebihan hari itu<br />
sesungguhnya mengisyaratkan bahwa ada keinginan Mika yang sudah lama<br />
terpendam, yaitu ingin seperti anak-anak lainnya yang diantar dan ditunggui<br />
ibunya. Sayangnya, selama ini saya kurang memperhatikan keinginan Mika,<br />
sementara ia terlatih untuk tahu diriÃ‚Â dan menahan keinginan tersebut.<br />
Walaupun ekspresi Mika membuat saya malu, tetapi tatapan Mika yang polos dan<br />
terkesan innocent meyakinkan saya bahwa ia tidak sedang mempermalukan<br />
saya. Sebaliknya, Mika menyadarkan saya untuk introspeksi diri. Seolah<br />
sedang bercermin, saya tidak boleh memecah cermin yang menyodorkan bayangan<br />
wajah yang buruk. Saya harus menyadari dan mengakui bahwa selama ini saya<br />
belum bisa menjadi ibu yang baik.</p>
<p>Melihat keceriaan Mika yang melebihi hari-hari sebelumnya, seorang ibu<br />
berkomentar: Hari ini Mika kelihatan sumringah karena ditunggui ibunya!<br />
Ibu-ibu disini suka menyanjung Mika karena dia baik, ramah dan suka<br />
menolong temannya. Tapi kayaknya dia lebih senang kalau ibunya sendiri tahu<br />
kalau Mika itu anak hebat kata orang tua murid yang lain.<br />
Sementara orang tua yang lain berkata: Biasanya Mika kelihatan dewasa! Tapi,<br />
yang namanya anak-anak, tetap saja sesekali masih kepingin dimanja ibunya.</p>
<p>Mendengar komentar dari para orang tua murid, saya semakin sadar bahwa Mika<br />
tetaplah anak-anak. Walaupun ia berusaha menjadi anak yang tahu diri dan<br />
mengerti kesulitan ibunya sebagai orang tua tunggal, tetapi Mika tetap<br />
membutuhkan sentuhan dan kasih sayang selayaknya anak-anak lain yang<br />
memiliki orang tua lengkap. Merasa telah melakukan pengabaian, sepulang dari<br />
sekolah Mika, saya bertekat untuk tidak melakukan pekerjaan lain, kecuali<br />
menemani Mika makan, belajar dan bermain. Sorenya, saya sengaja memangku<br />
Mika sambil mengelus rambut halusnya yang sengaja saya potong cepak ala<br />
tentara. &#8220;Bu, kita bincang-bincang yuk!&#8221;Ã‚Â ajak Mika sore itu. Mika memang<br />
sering mengucapkan kata-kata yang sok tuaÃ‚Â itu untuk memancing supaya saya<br />
tertawa.</p>
<p>Cukup lama saya dan Mika mendiskusikan acara TV, ngobrol tentang teman-teman<br />
TK Mika dan bicara dari hati ke hati, terutama tentang perasaan Mika selama<br />
ini. Melihat saya tidak melakukan pekerjaan yang lain, Dika bertanya: Hari<br />
ini ibu kok cuma peluk-peluk adik terus? Memangnya Ibu tidak mengisi acara<br />
pembinaan pemuda di gereja? Tumben nich, nggak pelayanan?!<br />
Dengan santai saya menjawab: Menyediakan waktu untuk memeluk dan mencium<br />
anak sendiri, itu juga termasuk pelayanan!Ã‚Â<br />
Apa hubungannya? Dika mempertanyakan.<br />
Pelukan dan ciuman yang hangat dan penuh kasih merupakan bahasa kasih. Ibu<br />
harus melakukan ini supaya adik bisa merasakan kasih dan bisa mengasihi<br />
orang lain. Kalau ibu tidak pernah memeluk atau mencium adik Mika, maka ia<br />
tidak bisa merasakan kasih. Kalau adik tidak pernah merasakan kasih,<br />
bagaimana ia mengenal kasih? Kalau adik tidak pernah merasakan dan mengenal<br />
kasih dengan baik, mana mungkin dia bisa mengasihi orang lain?! saya<br />
berusaha mengartikulasikan kesadaran yang baru muncul itu.</p>
<p>Minggu paginya, seperti biasa Mika bangun dari tidur langsung minta bantuan<br />
pengasuhnya untuk menyiapkan sarapan dan air hangat untuk mandi. Seperti<br />
biasanya juga, Mika bertanya Hari ini Ibu pergi ke gerejanya orang lain,<br />
atau ke gerejanya Mika?<br />
Ke gerejanya Mika! Ã‚Â jawab saya singkat.<br />
Asyik! Berarti Ibu anterin Mika sekolah Minggu ya? tanya Mika seakan<br />
menagih janji saya untuk mengantar ke sekolah Minggu bila sedang tidak ada<br />
pelayanan di gereja lain.</p>
<p>Walaupun pagi itu Mika hanya minta diantar sampai di halaman gereja, tetapi<br />
saya tetap mengikuti Mika dari belakang. Hari itu saya memang berniat untuk<br />
mengobservasi Mika dari balik kaca. Seorang teman yang melihat saya duduk di<br />
depan kelas Mika tiba-tiba berseloroh: Kok Cuma duduk-duduk di sini,<br />
memangnya nggak ada pelayanan?<br />
Sembari bercanda, sayapun menjawab: Lo, duduk-duduk di sini sambil mengamati<br />
tingkah polah anak di sekolah Minggu, itu juga termasuk pelayanan! Buat apa<br />
saya sibuk pelayanan di sana-sini, kalau kelakukan anak sendiri saja saya<br />
nggak tahu?!</p>
<p>Seperti biasa, hari Senin kantor off sehingga  saya bisa bangun agak siang.<br />
Namun tidak seperti biasanya karena pagi itu Mika minta saya kembali<br />
mengantar dan menungguinya di sekolah. Jujur saja, sebenarnya menunggui anak<br />
sekolah adalah kegiatan paling menyebalkan bagi saya. Tanpa bermaksud<br />
merendahkan ibu-ibu orang tua murid di sekolah Mika, namun kebiasaan mereka<br />
yang kongkow-kongkow sembari ngerumpi,  membuat saya serba salah dan tidak<br />
betah berlama-lama di sana. Kalau saya tidak ikut ngobrol terkesan angkuh,<br />
tapi kalau mau ikut ngobrol kelihatan pura-pura atau hanya basa-basi.<br />
Terlebih lagi topik yang  mereka bahas seperti arisan panci, kredit pakaian<br />
atau perhiasan, gossip artis, atau ngegosipin suami sendiri ataupun suami<br />
tetangga, sangat tidak nyambung dengan otak saya.</p>
<p>Untuk mengisi waktu yang kosong, saya pun mendatangi ruang kepala TK.<br />
Kebetulan saya cukup akrab dengannya sejak tahun 1996 waktu Dika masih TK<br />
kecil. Saya cukup terbelalak mendengar kesan kepala TK tentang sikap Mika.<br />
Menurutnya, Mika cukup matangÃ‚Â dan mandiri untuk ukuran anak-anak<br />
seumuranya. Selain itu, saya mendapat kabar kalau Mika termasuk anak yang<br />
ceria dan berusaha menyenangkan orang lain.</p>
<p>Saya lebih terbelalak lagi ketika guru wali kelas Mika memberitahukan bahwa<br />
sejak awal masuk sekolah, Mika selalu menyelesaikan tugas dengan baik, cepat<br />
dan antusias. Tanpa diminta, Mika sering membantu ibu guru menolong<br />
teman-temannya yang belum bisa menulis angka dan huruf. Bila ada temannya<br />
yang menangis Mika berusaha membujuk dan menghibur. Begitu juga ketika ada<br />
temannya yang berkelahi, Mika berusaha melerai dan melaporkannya kepada<br />
guru. Namun sayangnya, sikapnya yang kalem dan tidak suka membalas teman<br />
yang usil padanya, membuat Mika sering menjadi bulan-bulanan. Walau pipinya<br />
yang mirip bakpau sering memerah kena cubitan teman, Mika tidak mau<br />
membalasnya.</p>
<p>Sejenak saya bangga memiliki Mika yang begitu baik dan menyenangkan<br />
orang-orang di sekitarnya. Namun di lubuk hati saya yang terdalam tersimpan<br />
rasa malu, karena saya bukanlah orang pertama yang tahu perkembangan Mika<br />
yang cukup pesat. Semakin banyak kebaikan yang ditunjukkan Mika, rasa malu<br />
saya pun semakin besar karena sejujurnya, kemajuan yang dicapai Mika<br />
bukanlah hasil kerja saya. Itu semua adalah anugerah Tuhan lewat Dika,<br />
pengasuh, guru TK dan guru les Mika.</p>
<p>Sesampainya di rumah, saya bertanya kepada Mika: Kata teman-teman, Mika suka<br />
dicubit Jesi? Terus Mika suka membalas, nggak?<br />
Enggak! Kan nggak boleh sama Mas Dika.Ã‚Â Mika menjelaskan sikapnya.<br />
Memangnya Mas Dika bilang apa?  tanya saya penasaran.<br />
Kata Mas Dika, kalau ada teman yang usil, langsung ditinggal pergi saja!<br />
jawab Mika. Kalau adik Mika berasa sakit, bagaimana? tanya saya ingin tahu.<br />
Kata Mas Dika, Mika harus bilang ke teman yang usil: Ã‹Å“Terima kasih kawan,<br />
kau menyakitiku! Aku mengampunimu, tapi kamu jangan ganggu aku lagi Mika<br />
mengulang kata-kata yang diajarkan oleh kakaknya.<br />
Kalau temannya masih mengganggu Mika bagaimana? tanya saya lagi.<br />
Mika bilang saja: Aku tidak mau melihatmu! Ã‚Â kata Mika dengan nada keras.<br />
LohÃ¢â‚¬Â¦.kok kata-katanya jadi keras?!Ã‚Â saya masih ingin tahu alasan Mika.<br />
Habis, kata-kata yang diajarin Mas Dika suka nggak mempan! Ya, udahÃ¢â‚¬Â¦Mika<br />
ngarang sendiri saja!</p>
<p>Saat Dika kembali dari sekolah, saya sangat kaget melihat Mika yang<br />
cepat-cepat pergi ke dapur untuk membuat segelas sirup dingin untuk Dika.<br />
Lebih kaget lagi ketika saya melihat Mika juga membuat secangkir kopi susu<br />
untuk saya dan sebotol susu untuk dirinya sendiri. Perasaan bersalah dalam<br />
diri saya semakin besar karena selama ini saya tidak tahu kalau tangan kidal<br />
Mika ternyata cukup lincah membuat minuman untuk dirinya sendiri dan juga<br />
untuk orang lain. Saya menyesal karena ketidaktahuan ini membuat saya tidak<br />
memberikan apresiasi atas kemajuan yang dicapai Mika. Walau terlambat, saya<br />
berusaha mengekspresikan perasaan bangga terhadap Mika: WauwÃ¢â‚¬Â¦Ã¢â‚¬Â¦Ã¢â‚¬Â¦.Ibu senang Mika sudah bisa bikin minum sendiri. Ibu juga senang karena Mika mau membuat minum untuk ibu dan Mas Dika. Ibu bangga karena Mika sangat istimewa! kata saya sambil mencium pipi tembemnya.</p>
<p>Saat Mika tidur siang, saya bertanya kepada Dika Memangnya apa yang<br />
diajarkan Mas Dika kepada adik Mika, kok dia nggak mau membalas temannya<br />
yang usil?<br />
YailaÃ¢â‚¬Â¦..masak ibu nggak tahu sih? Kata Ibu, LK3 suka mengajari orang<br />
memaafkan orang lain yang melukai?! Seharusnya Ibu yang ngajarin adik<br />
memaafkan teman, tapi karena Ibu sibuk pelayanan melulu, ya udah Dika saja<br />
yang ngajarin sebisanya!</p>
<p>Saya cukup beruntung, saat saya lalai mengajarkan sesuatu kepada Mika, ada<br />
Dika yang mengisi. Untung saja saat-saat kosong itu belum dimasuki orang<br />
yang membawa pengaruh buruk. Saya sangat bersyukur Tuhan menjaga Mika dan<br />
Dia mengingatkan saya sebelum Mika masuk ke lingkungan yang lebih luas.<br />
Sejak saat itu saya komit untuk memberikan seluruh malam khusus untuk<br />
anak-anak. Kalaupun saya harus mencuri-curiÃ‚Â waktu untuk menulis atau<br />
membuka email, saya hanya akan mengambil sisa-sisa waktu setelah anak-anak<br />
tidur.</p>
<p>Melihat saya jarang membuka computer, Dika pun bertanya: Sudah beberapa hari<br />
ini Dika lihat Ibu tidak menyentuh computer? Memangnya nggak suka pelayanan<br />
lagi? Memperhatikan dan mengasuh anak dengan sepenuh hati itu justru merupakan<br />
pelayanan terpenting! jawab saya. LohÃ¢â‚¬Â¦.dulu Ibu bilang kalau pelayanan yang terpenting itu untuk Tuhan! Kenapa sekarang Ibu bilang bahwa pelayanan yang terpenting itu memperhatikan dan mengasuh anak? Dika meminta penjelasan.<br />
Kalau Ibu mengasuh anak dengan baik, berarti Ibu sedang melakukan<br />
pekerjaan Tuhan untuk menyiapkan generasi Kristen yang tangguh. Ini<br />
pekerjaan yang sangat penting karena anak-anak adalah pewaris kerajaan<br />
surga. Kalau Ibu tidak bisa mengasuh anak sendiri dengan baik, mana mungkin<br />
ibu bisa mengajarkan orang lain untuk mengasuh anak dengan baik? Kalau satu,<br />
dua, tiga dan akhirnya semakin lama semakin banyak orang tua Kristen yang<br />
tidak mengasuh anak dengan baik, lama-lama menghasilkan gerenasi yang<br />
amburadul yang mempermalukan Tuhan Yesus!  jawab saya diplomatis.<br />
Ha, ha, haÃ¢â‚¬Â¦..rupanya Ibu sudah bertobat !Ã‚Â teriak Dika dengan nada<br />
bercanda.</p>
<p>Sambil menyembunyikan wajah yang memerah karena malu, saya mencoba mengingat<br />
kembali etos kerja professional yang diajarkan oleh Jansen Sinamo. Dengan<br />
iseng  sayapun mencoba mengadopsi etos kerja professional itu dalam tugas<br />
mengasuh anak. Kalau pekerjaan kantor saja harus dilakukan secara<br />
professional, maka mengasuh anak untuk menyiapkan generasi Kristen yang<br />
tangguh, seharusnya dilakukan dengan lebih professional lagi kata saya<br />
dalam hati.</p>
<p>Sejak saat itu saya bertekad untuk menjadi orang tua dengan etos<br />
professionalÃ‚Â. Sejenak pikiran saya melayang dan otak sayapun menuliskan<br />
tekad sebagai berikut:<br />
ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬â€Ã‚Â   Anak adalah rahmat, aku harus mengasuhnya dengan tulus dan penuh syukur<br />
ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬â€Ã‚Â   Anak adalah amanah, aku harus mengasuhnya dengan benar dan penuh<br />
tanggung jawab<br />
ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬â€Ã‚Â   Menjadi orang tua adalah panggilan Tuhan, aku harus mengasuh anak dengan<br />
penuh integritas<br />
ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬â€Ã‚Â   Menjadi orang tua adalah aktualisasi diri, aku harus mengasuh anak<br />
dengan penuh semangat<br />
ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬â€Ã‚Â   Mengasuh anak adalah ibadah, aku harus melakukannya dengan serius dan<br />
penuh kecintaan.<br />
ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬â€Ã‚Â   Mengasuh anak adalah seni, aku harus melakukannya dengan kreatif dan<br />
penuh suka cita<br />
ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬â€Ã‚Â   Menjadi orang tua adalah kehormatan, aku harus mengasuh anak dengan<br />
tekun, penuh keunggulan<br />
ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬â€Ã‚Â   Mengasuh anak adalah pelayanan terpenting, aku harus melakukannya dengan<br />
sempurna, penuh kerendahan hati, demi kemuliaan nama Tuhan.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
* Penulis buku &#8220;Tangan Yang Menenun&#8221; yang mengisahkan perjuangan orang tua<br />
dalam mengajar anak-anak tentang kasih dan takut akan Tuhan (Kairos, April<br />
2005) dan buku &#8220;Melewati Lembah Air Mata&#8221; sebuah kesaksian hidup yang sulit<br />
dari seorang korban kekerasan yang akhirnya ditolong Tuhan  melewati lembah<br />
kekelaman depresi dan berdiri tegak di atas puing-puing kehancuran (Gradien,<br />
Juni 2006).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hkbp.wordpress.com/222/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hkbp.wordpress.com/222/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hkbp.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hkbp.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hkbp.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hkbp.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hkbp.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hkbp.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hkbp.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hkbp.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hkbp.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hkbp.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=222&subd=hkbp&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Mengasuh Anak Adalah Pelayanan Terpenting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3eb4b0a4e03f1668270b537504bc3827?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hkbp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards/</link>
		<comments>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 07:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hkbp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards/</guid>
		<description><![CDATA[Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards
      (Metode Glenn Doman)
Penulis : Drajat, (Penulis buku Bersahabat dengan Matematika)
Bahan yang digunakan : Pertama, Seratus potong kertas manila putih berukuran 28 x 28 cm, masing-masing pada salah satu mukanya ada DOTS atau bola merah dengan garis tengah 2 cm.
Bola-bola ini berjumlah dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=221&subd=hkbp&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="page-title">Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards</h2>
<p><!-- start main content -->      <!-- begin content --><strong>(Metode Glenn Doman)</strong></p>
<p><strong>Penulis : Drajat, (<em>Penulis buku Bersahabat dengan Matematika</em>)</strong></p>
<p><strong>Bahan yang digunakan :</strong> Pertama, Seratus potong kertas manila putih berukuran 28 x 28 cm, masing-masing pada salah satu mukanya ada DOTS atau bola merah dengan garis tengah 2 cm.</p>
<p>Bola-bola ini berjumlah dari SATU hingga SERATUS pada kartu terakhir. Dibalik kartu terdapat angka yang menyatakan jumlah bola yang ada.</p>
<p>Dots/bola digambarkan secara acak di atas kertas tsb.</p>
<p>Kedua, Seratus potong kartu yang lebih ringan 14 x 14 cm bertuliskan sebuah angka merah setinggi 12,5 cm mulai dari angka 1 hingga 100 pada kartu terakhir.</p>
<p>Warna merah dipakai karena memang menarik bagi seorang anak.</p>
<p><strong>Cara mengajarkan :</strong></p>
<p>Ambillah kartu yang ada SATU bola merahnya saja, Sekarang angkatlah kartu tersebut di luar jangkauan tangannya dan katakan kepadanya, &#8220;INI SATU&#8221;. (Jangan sampai si anak melihat benda-benda lain. )<br />
2<br />
Tunjukkan kepadanya sesingkat mungkin. Dua atau tiga detik.</p>
<p>Kemudian letakkan kartu tersebut terbalik di pangkuan kita. Pada mulanya anda akan merasa janggal. Namun demikian, semakin kita mahir menggunakan kartu-kartu itu, semakin cepat anak kita dapat memahaminya.</p>
<p>Perlu diingat bahwa angka hanyalah simbol yang mewakili nilai dari bilangan.</p>
<p>Sekarang angkatlah kartu kedua, dan katakan, &#8220;INI DUA&#8221;.</p>
<p>Lakukan seterusnya hingga kartu berjumlah SEPULUH BOLA.</p>
<p>Seluruh proses ini kurang lebih memakan waktu kurang dari satu menit.</p>
<p>Lakukanlah setiap hari. Dalam waktu lima hari ia telah mengetahui fakta-fakta nyata dari angka satu sampai sepuluh, tetapi jangan meyuruhnya untuk membuktikan hal itu lebih dahulu.</p>
<p>Pada hari keenam, kita singkirkan kartu 1 dari kesepuluh kartu di pangkuan dan menambahkan kartu 11.</p>
<p>Pada hari ketujuh, kita singkirkan kartu 2 dan menambahkan kartu 12.</p>
<p>Terus lakukan seperti itu hingga angka 100. Kegiatan ini kurang lebih akan memakan waktu tiga bulan.</p>
<p>Yakinlah, kegiatan ini akan menghasilkan kemampuan anak yang luarbiasa. Kini ia akan dengan cepat dapat membedakan empat puluh lima bola dan empat puluh enam.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya PENJUMLAHAN. </strong></p>
<p>Pada hari ke-30, anda telah memperlihatkan hingga 35 bola. Semakin banyak yang diperlihatkan bola-bola kepada anak berarti anda mulai mengajarkan penjumlahan.</p>
<p>Mulai kita melangkah mengajarkan penjumlahan dengan meletakkan bola-bola merah berjumlah dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, hingga sepuluh di pangkuan anda.</p>
<p>Semuanya menghadap ke bawah dan kartu berbola dua diletakkan paling atas di tumpukan itu.</p>
<p>Dengan semangat katakanlah, &#8220;satu tambah satu sama dengan dua&#8221;. Kemudian kita perlihatkan kartu berbola dua.</p>
<p>Perlihatkan tidak lebih dari satu detik. Jangan menjelaskan arti kata-kata &#8220;tambah&#8221; atau &#8220;samadengan&#8221;. Katakanlah &#8220;Satu tambah dua samadengan .&#8221; Jangan katakan &#8220;satu tambah dua menjadi&#8230;.&#8221;</p>
<p>Jika kita mengajarkan fakta-fakta kepada anak-anak, mereka akan menarik kesimpulan tentang hukum-huikumnya lebih tepat dan cepat. Kemudian katakan &#8220;Satu tambah dua sama dengan tiga&#8221; hingga &#8220;satu tambah sembilan sama dengan sepuluh&#8221; yang kemudian kita perlihatkan hasilnya.</p>
<p>Lakukanlah tiga kali pada hari pertama, sambil kita meneruskan untuk memperlihatkan kartu-kartu berbola sebanyak tiga kali sehari. Sebaiknya anda mengatur keenam waktu secara merata saat daya tangkap anak sedang memuncak.</p>
<p>Pada hari ke-31 anda mengajarkan dua tambah dua, tambah tiga, dan seterusnya hingga tambah delapan. Apa yang kita ajarkan adalah arti dari bunyi kata &#8220;tambah&#8221; dan &#8220;samadengan&#8221;. Percaya atau tidak, pada saat kita bertanya &#8220;dua tambah empat samadengan enam&#8221; kepada seorang dewasa maka akan terlintas 2 + 4 = 6. Tetapi pada seorang anak akan terlintas dua bola tambah empat bola samadengan enam bola.</p>
<p>Sampai hari ke-31 ia sudah mengenal jumlah yang sbeenarnya sampai dengan 40 dan telah dapat menambah dalam setiap kombinasi yang ada sampai dengan 10. Tahap ini yang terpenting adalah, bahwa ia telah mengerti &#8220;tambah&#8221; dan &#8220;samadengan&#8221; walaupun kita tidak membertiahunya.</p>
<p>Mulai hari ke-36 dst kita tidak perlu mengajarkan dengan urutan tertentu lagi. Ia sudah memahami. Berikanlah ia sekarang soal penjumlahan maka dengan cepat ia akan bisa menjawab.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya PENGURANGAN. </strong></p>
<p>Pola ini sama dengan pola penjumlahan. Katakan &#8220;sepuluh kurang satu samadengan sembilan&#8221; Dan perlihatkan sejenak kartu berbola sembilan. Kemudian katakan &#8220;sepuluh kurang sembilan samadengan satu&#8221;.</p>
<p>Pada hari ke-41 anda dapat mengajarkan mulai dari duapuluh kurang satu sampai dengan duapuluh kurang sembilan belas. Maka ia sekarang sedang menerima sembilan waktu belajar yang sangat ringkas setiap harinya dengan urut-urutan sebagai berikut: Kartu-kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan, kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan, kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan.</p>
<p>Di hari ke-42 mulailah dengan tigapuluh kurang satu hingga tigapuluh kurang duapuluh sembilan. Pada hari ke-43 mulailah dengan soal-soal pengurangan dalam bentuk dan urutan yang tidak teratur sampai jumlah empatpuluh delapan.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya MEMECAHKAN SOAL. </strong></p>
<p>Apabila apa yng kita sampikan sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang, Insya Allah akan menghasilkan buah yang &#8220;harum&#8221; baunya dan nikmat rasanya.</p>
<p>Kini kita siap mengajarkan memecahkan soal, ingat bukan mengujinya. Mulailah dengan bilangan-bilangan.</p>
<p>Berlututlah di lantai menghadap anak. Ambillah kartu dengan 18 bola dan 25 bola. Kemudian mintalah si anak untuk menunjuk pada 25. Permintaan ini diajukan sambil lalu dan riang. Jangan suruh dia mengucapkan duapuluh lima, sebab kita tidak sedang mengajar berbicara, tetapi sedang mengajarkan matematika. Jika ia tidak cukup cepat, katakan dengan gembira, &#8220;Yang ini, bukan?&#8221; sambil mengangkat kartu 25 bola. Inilah cara mengajar yang jujur.</p>
<p>Ulangi lagi hingga anak dapat menunjukkan dengan benar. Jika ia dapat mengetahuinya, pujilah dan peluklah. Bahwa ia adalah seorang anak yang terpandai yang pernah kita kenal. Hal ini memang betul bukan ?</p>
<p>Begitu kita meluapkan kegembiraan dia akan secepatnya menaruh minat pada matematika untuk selamanya. Ia menjadi yakin bahwa matematika lebih menyenangkan daripada &#8220;gula-gula&#8221;. Terus lakukan seperti itu, maka anak kita akan lebih cepat menunjukkannya. Lakukan setelah itu pengurangan.</p>
<p>Sebagai catatan jangan memberikan waktu khusus untuk memecahkan soal-soal, tetapi campuradukkan atau sewaktu-waktu saja. Hingga anak kita merasakan kesenangan. Toh tidak ada tekanan yang kita berikan kepada anak kita.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya PERKALIAN </strong></p>
<p>Katakan kepadanya kita mengajarkan perkalian. Lakukan hal yang sama seperti sebelumnya.</p>
<p>Mulailah dengan mengatakan &#8220;dua kali dua samadengan empat&#8221; sambil memperlihatkan kartu berbola empat. Teruskan sampai &#8220;dua kali lima samadengan sepuluh&#8221;.<br />
2<br />
Pada hari ke-51, mulai dengan &#8220;tiga kali tiga samadengan sembilan&#8221;. Akhirnya &#8220;tiga kali delapanbelas samadengan limapuluh empat&#8221;.</p>
<p>Sampai hari ke 58 kita sampai pada &#8220;sepuluh kali enam samadengan enampuluh&#8221;. Pada waktu mengajarkan perkalian kita bisa menyelipkan satu persoalan perkalian.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya PEMBAGIAN </strong></p>
<p>Pada hari ke-60 kita mengajarkan pembagian. Sampai langkah ini ia telah mengetahui nilai sebenarnya hingga enampuluh lima. Mulailah dengan mengatakan &#8220;empat dibagi dua samadengan dua&#8221; hingga enampuluh empat dibagi dua samadengan tigapuluhdua&#8221;.</p>
<p>Pada hari ke-68 kita sampai pada &#8220;tujuhpuluh dibagi sepuluh samadengan tujuh&#8221;.</p>
<p>Sewaktu-waktu kita selingi dengan soal pembagian.</p>
<p><strong>Langkah berikutnya PERSAMAAN </strong></p>
<p>Pada hari ke-70 kita sudah menjadi seorang ahli matematika. Katakanlah kita sedang mengajarkan persamaan dengan riang gembira.</p>
<p>Sebetulnya ia sudah mengetahui semua persamaan dua langkah. Sebab, memang dua tambah tiga samadengan lima, tujuhpuluh dikurangi tigapuluhsatu samadengan tigapuluh sembilan, delapan kali delapan samadengan enampuluh empat. Sekarang berikanlah soal persamaan tiga langkah. Katakanlah &#8220;tujuh tambah tigabelas kali tiga samadengan .&#8221; Kemudian perlihatkanlah kartu berbola enampuluh.</p>
<p>Setelah kita mengajarkan tiga langkah persamaan maka lanjutkanlah dengan langkah-langkah yang lain.</p>
<p>Yakinlah apa yang kita ajarkan akan menghasilkan hasil yang memuaskan.</p>
<p><strong>Langkah selanjutnya ANGKA-ANGKA. </strong></p>
<p>Langkah ini amat mudah. Sekarang kita mengambil kartu-kartu yang bertuliskan angka (kartu dg ukuran 14 x 14 cm). Angkatlah kartu yang bertuliskan 1 berwarna merah, dan katakan &#8220;ini satu&#8221;.</p>
<p>Lakukan seterusnya hingga hari ke-99 ia akan mengetahui semuanya.</p>
<p>Selamat Mencoba !</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hkbp.wordpress.com/221/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hkbp.wordpress.com/221/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hkbp.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hkbp.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hkbp.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hkbp.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hkbp.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hkbp.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hkbp.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hkbp.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hkbp.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hkbp.wordpress.com/221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=221&subd=hkbp&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3eb4b0a4e03f1668270b537504bc3827?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hkbp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meng(h)ajar Anak-Anak</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Meng(h)ajar Anak-Anak/</link>
		<comments>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Meng(h)ajar Anak-Anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 07:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hkbp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Meng(h)ajar Anak-Anak/</guid>
		<description><![CDATA[Meng(h)ajar Anak-Anak
      

Anak sebagai berkah Allah
Masyarakat Jawa mempunyai banyak pepatah menarik berhubugan dengan sosok yang disebut anak. Di antaranya adalah &#8220;sak galak-galake macan ora bakal mangan anakke dhewe&#8221;. Bila diterjemahkan secara bebas maka itu kira-kira akan berarti Ã¢â‚¬Ëœbetapa pun galak seekor macan ia tidak akan pernah memangsa anaknya sendiri&#8221;. Sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=219&subd=hkbp&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="page-title">Meng(h)ajar Anak-Anak</h2>
<p><!-- start main content -->      <!-- begin content --><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Anak sebagai berkah Allah</strong><br />
Masyarakat Jawa mempunyai banyak pepatah menarik berhubugan dengan sosok yang disebut anak. Di antaranya adalah &#8220;sak galak-galake macan ora bakal mangan anakke dhewe&#8221;. Bila diterjemahkan secara bebas maka itu kira-kira akan berarti Ã¢â‚¬Ëœbetapa pun galak seekor macan ia tidak akan pernah memangsa anaknya sendiri&#8221;. Sebagai pepatah tentu saja itu tidak menunjuk pada perilaku binatang yang bernama macan. Perumpamaan itu lebih menggambarkan satu ajaran moral tentang bagaimana orang tua selayaknya memperlakukan anaknya: tidak mencelakakan anaknya. Perumpamaan tersebut juga menyiratkan sebuah keyakinan bahwa sungguh mustahil bagi orang tua yang notabene adalah manusia melakukan hal yang bakal mencelakakan anaknya. Macan yang binatang pun tidak apalagi manusia, demikian kira-kira makna lanjutan dari perumpamaan orang jawa bijak.</p>
<p>Meskipun demikian, dalam keseharian kita sering menemukan kasus bagaimana seorang Ari Hanggara mati ditangan bapaknya, seorang ibu menjual kegadisan anak perempuannya, bayi-bayi mati terbungkus tas kresek di tempat-tempat sampah. Terhadap orang tua semacam itu serta merta orang Jawa akan mengatakan &#8220;kuwi dudu uwong&#8221;, yang arti bebasnya adalah Ã¢â‚¬Ëœitu bukan perbuatan manusiaÃ¢â‚¬â„¢. Hewan pun juga bukan. Orang itu sedang &#8220;kangslupan&#8221;, kerasukan setan. Setanlah sebenarnya yang sedang bekerja dengan meminjam wadag orang tersebut. Di sini tampak bahwa manusia sungguh mendapat tempat yang teramat luhur, sehingga meskipun seseorang telah berperilaku yang secara berlebihan dianggap mengganggu rasa Ã¢â‚¬ËœmanusiaÃ¢â‚¬â„¢, dia dianggap sedang tidak sabar dan sedang dalam kuasa setan.</p>
<p>Makna lain yang bisa kita hadirkan dari perumpamaan Jawa tersebut adalah betapa anak mendapat posisi khas dalam masyarakat Jawa. Anak adalah sosok yang harus di-ayem-i dan di-ayom-i. Kekhasan posisi anak akan lebih tampak dalam pengkategoriannya sebagai yang &#8220;durung uwong&#8221;, Ã¢â‚¬Ëœbelum orangÃ¢â‚¬â„¢. Pengkategorian tersebut membawa implikasi terhadap bagaimana seorang anak diperlakukan. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar ucapan yang ditujukan kepada anak &#8220;awas ojo metu bengi-bengi mengko ndak dipangan bethorokolo&#8221;, atau &#8220;cah cilik kok ngrokok&#8221;. Tampak di sini bahwa malam hari, merokok adalah wilayah milik para orang tua. Dan orang tua berkewajiban menjaga, ngemong, agar wilayah tersebut tidak dimasuki anak-anak sebab itu &#8220;ora ilok&#8221;. Anak dianggap mempunyai dunianya sendiri yaitu dunia sebagai yang &#8220;durung uwong&#8221;.</p>
<p>Bagi masyarakat Jawa ungkapan-ungkapan tersebut begitu akrab bahkan punya kekuatan sehingga orang harus berpikir dua kali untuk melanggarnya. Hal ini bisa kita maklumi sebab anak adalah titipane Gusti Allah, berkahing Allah. Artinya, anak hakikatnya adalah milik Gusti Allah. Orang tua hanya dititipi saja. Meski pun anak &#8220;hanyalah&#8221; titipan tapi itu adalah berkah sebab Tuhan telah berkenan mempercayai orang tua untuk dititipi. Maka semakin banyak anak dititipkan semakin banyak pula berkah Allah dihadirkan. Sebagai titipan dari Tuhan, orang yang dititipi (baca : orang tua ) tentu saja akan kuwalat kalau sampai mentelantarkan titipan tersebut. Sebaliknya orang tua wajib ngemong agar anak tidak terpolusi oleh hal-hal yang memungkinkannya berperilaku &#8220;dudu uwong&#8221; agar kelak anak mampu dadi uwong&#8221;.</p>
<p><strong>Anak sebagai bocoran kondom</strong><br />
Sejalan dengan kemajuan pembangunan Indonesia di segala bidang, keyakinan yang sudah begitu manjing tersebut tiba-tiba harus gonjang-ganjing berhadapan dengan keyakinan baru yang hadir mendompleng kemajuan pembangunan. Berkahing Allah yang berupa anak yang dititipkan ke orang tua tiba-tiba harus tunduk pada kemauan manusia. Berkah Allah akan hadir begitu kita tidak menggunakan alat-alat kontrasepsi. Semua itu dilakukan dalam rangka mengamini satu nilai baru yaitu nilai &#8220;keluarga sejahtera bercatur warga, dua anak cukup laki perempuan sama saja&#8221;. Tidak mengherankan bila di jamman baru ini kita menjadi begitu familiar dengan istilah &#8220;kecelakaan&#8221; atas hadirnya anak (baca: berkah Allah) yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Juga tidak mengherankan bila tiba-tiba kita merasa malu atas kehadiran berkah Allah yang ketiga, sebab hal itu akan menggiring kita dalam kategori mbalelo yang sangat mungkin akan berimplikasi &#8220;yuridis&#8221;. Pada era baru ini tampak bahwa alasan beranak pinak telah mengalami pergeseran. Alasan atau pertimbangan ekonomis telah menggeser peran Tuhan dalam urusan beranak-pinak. Atas pertimbangan ekonomis pula maka &#8220;dua anak cukup, laki perempuan sama saja&#8221; telah di-amin-i sebagai keluhuran baru. Ngemong titipane Gusti Allah telah mendapatkan bentuk barunya. Anak sekarang adalah aset ekonomis yang harus diÃ¢â‚¬â„¢emongÃ¢â‚¬â„¢ agar secara ekonomis pula menguntungkan. Segala macam hal yang memungkinkan terancamnya aset ekonomisnya harus sesegera mungkin dijauhkan. Kalau perlu orang tua membuat pagar-pagar agar anak tidak keluar dari pakem kesuksesan manusia modern. Maka menjamurlah kursus-kursus, mainanan jadi yang individual, klub-klub anak-anak yang dipercayai mampu menjawab kebutuhan orang tua untuk memaksimalkan investasi ekonomis mereka. Makna dadi uwong adalah menjadi orang yang secara ekonomis sukses.</p>
<p>Anak-anak kemudian di(h)ajar dengan segala cara untuk patuh mengikuti langgam berpikir manusia dewasa modern. Segala usaha untuk sedikit kreatif melenceng dari langgam tersebut niscaya akan mengundang cap sebagai anak nakal, bandel, mbalelo sehingga harus dijewer atau bahkan digebuk. Contoh konkrit manusia-manusia gagal segera menjadi alat ampuh untuk menakuti anak-anak. Ungkapan yang mengancam dan menakuti seperti Ã¢â‚¬ËœKamu tidak mau belajar, apa mau jadi tukang becak ?!&#8221;"sering kita dengan keluar dari mulut orang dewasa ditujukan kepada anaknya yang di&#8217;nakalÃ¢â‚¬â„¢kan. Golongan tukang becak, pemulung, dan sektor informal yang lain menjadi sosok tabu-manukutkan. Apalagi sering dihadirkan di media massa betapa mereka sering diburu petugas unruk ditertibkan dan kemudian dibina. Segala upaya untuk menjaga &#8220;investasi ekonomi&#8221; manusia dewasa tanpa sadar telah menciptakan satu masyarakat prefabricated yang patuh dan seragam.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Hal pertama yang bisa kita sepakati bersama dalam melihat persoalan anak adalah bahwa anak berada pada pihak lemah baik secara fisik mau pun psikologis. Karenanya, kemudian, adalah kewajiban manusia dewasa membantu untuk lebih berkembangnya potensi kemanusiaan mereka. Kedua hal tersebut diakui bersama baik ketika anak-anak masih dianggap sebagai sosok yang sakral maupun ketika anak hanya semata sebagai aset ekonomi keluarga.</p>
<p>Persoalan muncul ketika manusia dewasa memastikan diri sebagai yang paling tahu atas segala kebutuhan bahkan masa depan anak. Berbagai upaya kemudian dihadirkan agar anak kelak mampu hadir sebagai sosok seperti yang sudah diplotkan oleh manusia dewasa. Anak kemudian kehilangan ruang ekspresi karena segala aktivitas harus sesuai dengan petunjuk bapak-bapak yang notabene selalu menjadikan pertimbangan ekonomi sebagai satu-satunya cara pandang. Anak telah digiring tanpa sadar masuk ke dalam satu dunia yang melulu material hingga kehilangan sentuhan-sentuhan non-material yang sebenarnya memang menempel dalam keseharian hidup kita.</p>
<p>Segala bentuk pendampingan, pendidikan atau apa saja yang berhubungan dengan anak haruslah mempertimbangkan hal tersebut.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hkbp.wordpress.com/219/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hkbp.wordpress.com/219/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hkbp.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hkbp.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hkbp.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hkbp.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hkbp.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hkbp.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hkbp.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hkbp.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hkbp.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hkbp.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=219&subd=hkbp&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Meng(h)ajar Anak-Anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3eb4b0a4e03f1668270b537504bc3827?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hkbp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membesarkan Anak</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Membesarkan Anak/</link>
		<comments>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Membesarkan Anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 07:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hkbp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Membesarkan Anak/</guid>
		<description><![CDATA[Membesarkan Anak
      

&#8220;Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu&#8221; [ Amsal 22:6 ].
Yang dimaksud dengan orang muda dalam ayat ini adalah anak kecil. Pada umumnya istilah anak kecil yang dimaksud berumur sekitar 5 tahun. Alkitab mengajarkan supaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=218&subd=hkbp&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="page-title">Membesarkan Anak</h2>
<p><!-- start main content -->      <!-- begin content --><strong><br />
</strong></p>
<p><em>&#8220;Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu&#8221; [ Amsal 22:6 ].</em></p>
<p>Yang dimaksud dengan orang muda dalam ayat ini adalah anak kecil. Pada umumnya istilah anak kecil yang dimaksud berumur sekitar 5 tahun. Alkitab mengajarkan supaya anak kecil dididik menurut jalan yang patut baginya. Apabila hal ini dilakukan, maka akan genaplah janji yang indah ini yaitu, pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu. Seorang anak yang dididik dengan benar, akan menjadi setia sampai masa tuanya. Anak ini tidak akan menyimpang kekiri atau kekanan, ia tidak akan murtad, ia tidak akan meninggalkan Tuhan, ia akan setia sampai akhirnya. Betapa indahnya janji firman Tuhan ini, terutama bagi para orang tua. Ada suatu kepastian bahwa anak-anaknya tidak akan menyimpang dari jalan Tuhan.</p>
<p>Tetapi sering kita lihat dari pengalaman, bagaimana seorang anak yang rajin pergi ke sekolah minggu, ketika menjadi remaja hilang entah kemana. Atau seorang pemuda/i yang aktif dalam pelayanan kekristenan, ketika menikah tenggelam dalam rutinitas rumah tangga tanpa tujuan, misi dan visi yang jelas. Mengapa demikian ? Alkitab menjelaskan penyebabnya, yaitu karena ia tidak dididik menurut jalan yang patut baginya. Ia tidak setia di jalan yang seharusnya ia lalui, karena memang ia tidak dilatih untuk menempuh jalan itu.</p>
<p>Setiap anak mempunyai suatu jalan yang seharusnya ia lalui, jika ia ingin berhasil sebagai pelayan Tuhan, sebagai suami/isteri, dan sebagai profesional Kristen. Tetapi anak kecil tidaklah mengetahui jalan itu, juga ia belum dipersiapkan untuk melaluinya dengan tekun. Siapa yang bertanggung jawab untuk memberitahukannya, dan melatihnya agar ia dapat melaluinya dengan setia? Tentu saja Orang tualah yang bertanggung jawab dalam hal ini, karena kepada orang tuanya anak-anak ini dititipkan Tuhan. Ayat diatas dapat ditulis sedemikian, &#8221; Hai orang tua, didiklah anak-anakmu;&#8221;</p>
<p>Dalam pengalaman kita, sering dijumpai anak-anak dari &#8220;pelayan Tuhan&#8221; yang nakal dan susah diatur. Anak-anak ini bahkan terluka pada orang tuanya karena merasa kurang diperhatikan. Mereka merasa orang tuanya lebih memperhatikan &#8220;pelayanan&#8221; dari pada diri mereka.</p>
<p>Memang membesarkan anak, tidak langsung terlihat hasilnya. Banyak orang tua Kristen lebih senang mengerjakan sesuatu yang langsung dapat dilihat hasilnya, entah itu karier atau apa yang disebut pelayanan. Saatnya, orang tua Kristen perlu belajar memahami cara kerja Allah dalam penyelamatan dunia ini. Allah mulai dari satu orang bapa yaitu Abraham, dan penyelamatan ini baru akan dirampungkan oleh keturunannya berabad-abad bahkan berzaman-zaman kemudian. Bagaimana seandainya anak Abraham, nakal-nakal dan susah diatur? Bagaimana jika seandainya Ishak dan Yakub tidak setia di jalan yang harus ditempuhnya? Semoga perintah dalam Amsal 22:6 ini ditaati oleh para orang tua Kristen, dan semoga genaplah janji Tuhan dengan bangkitnya anak-anak yang setia menempuh jalan yang harus dilaluinya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hkbp.wordpress.com/218/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hkbp.wordpress.com/218/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hkbp.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hkbp.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hkbp.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hkbp.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hkbp.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hkbp.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hkbp.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hkbp.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hkbp.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hkbp.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=218&subd=hkbp&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Membesarkan Anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3eb4b0a4e03f1668270b537504bc3827?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hkbp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Pribadi Anak Yang Penuh Daya Juang</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Membangun Pribadi Anak Yang Penuh Daya Juang/</link>
		<comments>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Membangun Pribadi Anak Yang Penuh Daya Juang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 07:09:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hkbp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Membangun Pribadi Anak Yang Penuh Daya Juang/</guid>
		<description><![CDATA[Membangun Pribadi Anak Yang Penuh Daya Juang
      

Topik ini tercetus dari ayah saya waktu dia menonton talkshow Oprah Winfrey di TV beberapa bulan lalu. Oprah mewawancarai Lisa-Marie Presley, putri mendiang raja rock tahun 60-an, Elvie Presley. Sebagai anak orang yang terkenal, kehidupan Lisa-Marie pastilah tidak terkendala oleh uang. Tapi, apakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=217&subd=hkbp&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="page-title">Membangun Pribadi Anak Yang Penuh Daya Juang</h2>
<p><!-- start main content -->      <!-- begin content --><strong><br />
</strong></p>
<p>Topik ini tercetus dari ayah saya waktu dia menonton talkshow Oprah Winfrey di TV beberapa bulan lalu. Oprah mewawancarai Lisa-Marie Presley, putri mendiang raja rock tahun 60-an, Elvie Presley. Sebagai anak orang yang terkenal, kehidupan Lisa-Marie pastilah tidak terkendala oleh uang. Tapi, apakah dia bahagia? Ayahnya mati tidak wajar. Pernikahannya dengan Michael Jackson yang seumur jagung itu, terus-menerus menjadi sorotan pers. Oprah menanyai Presley bagaimana dia menjalani hidup sebagai anak orang terkenal dan apa akibat hal-hal itu bagi keluarganya saat ini.</p>
<p>Sekarang Lisa-Marie adalah single parent dari tiga anak (sorry, kalau saya salah mengingat jumlah anak ini). Sebagai bintang, mudah baginya meninggalkan ketiga anaknya di tangan pembantu dan baby sitter. Tetapi, dalam wawancara itu dia mengatakan, &#8220;Saya ingin anak-anak saya mengerti pekerjaan saya, bagaimana saya berjuang, bagaimana saya hidup. Saya tidak ingin membesarkan anak-anak saya seperti saya dibesarkan dulu. Saya ingin mereka punya daya juang yang besar dan tidak mudah putus asa.&#8221; Untuk itu Lisa-Marie membawa anak-anaknya ke mana pun dia pergi. Dia ingin anak-anaknya menyaksikan sendiri dan meneladani perjuangan hidup ibu mereka.</p>
<p>&#8220;Itu dia!&#8221; kata ayah kepada saya beberapa waktu kemudian, &#8220;yang diperlukan anak-anak zaman sekarang: menjadi pribadi yang berdaya juang dan tidak mudah menyerah.&#8221;</p>
<p>Saya sendiri sebagai anak, menyaksikan bagaimana ayah saya berjuang menjadikan dirinya &#8220;orang&#8221; (mengingat latar belakang keluarga ayah saya yang sangat miskin di Nias sana) dan bagaimana dia membangun keluarganya. Tentu saja ini tidak lepas dari peran ibu saya juga (secara status sosial ibu saya jauh di atas ayah saya). Tapi bagaimana ayah saya berjuang untuk sekolah, tidak putus asa walau tidak dihargai orang, jujur biarpun diancam, tetap bekerja walaupun tidak digaji. itu adalah cermin bagi kami. Tidak perlu lagi kata-kata.</p>
<p>Kalau dibilang hidup sekarang makin mudah untuk anak-anak kita, mungkin itu ada benarnya. Orang tua bekerja di luar rumah dan adanya pembantu yang membereskan semua kekacauan, mungkin salah satu penyebab. Saya baru menyadari bahwa hampir semua <em>tetek-bengek</em> di rumah, dikerjakan orang lain. Kalau pembantu cuti, ketahuan aslinya penghuni rumah!</p>
<p>Anak saya yang besar, laki-laki, 12 tahun, SMP 2, sampai sekarang belum bisa mencuci pakaian sendiri. Membersihkan kamar pun mesti tiap kali disuruh, termasuk membereskan hal-hal kecil, menaruh handuk atau membawa piring kotor ke dapur. Dia sedang belajar menggosok pakaian. Dia juga bisa masak makanan untuk dia sendiri. Tapi saya rasa bukan itu yang disebut daya juang.</p>
<p>Dalam sebuah seminar orang tua yang saya dengar beberapa hari lalu, psikolog menemukan bahwa daya juang anak-anak sekarang rendah. Orang tua yang bekerja menghasilkan cukup uang untuk anak-anak membeli apa yang mereka mau. Sebagian orangtua Kristen mengajari anak berdoa untuk meminta sesuatu. Tidak salah, tapi tidak cukup hanya itu. Anak-anak yang punya daya juang rendah juga cenderung menjadi anak yang <em>underachievement</em>, anak yang berprestasi di bawah potensinya. Di zaman yang makin lama makin penuh kompetisi ini, bagaimana membangun anak yang siap bersaing dalam segala hal?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hkbp.wordpress.com/217/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hkbp.wordpress.com/217/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hkbp.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hkbp.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hkbp.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hkbp.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hkbp.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hkbp.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hkbp.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hkbp.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hkbp.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hkbp.wordpress.com/217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=217&subd=hkbp&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Membangun Pribadi Anak Yang Penuh Daya Juang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3eb4b0a4e03f1668270b537504bc3827?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hkbp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Seorang Pencuri</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Kisah Seorang Pencuri/</link>
		<comments>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Kisah Seorang Pencuri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 07:07:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hkbp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Kisah Seorang Pencuri/</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Seorang Pencuri
      

Suatu ketika, tinggallah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu, terdiri dari orangtua, dan kedua anak laki-lakinya. Kekayaan mereka sangatlah berlimpah. Lumbung mereka, penuh dengan tumpukan padi dan gandum. Ladang mereka luas, lengkap dengan ratusan hewan ternak. Namun, pada suatu malam, ada pencuri yang datang ke lumbung mereka. Sebagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=216&subd=hkbp&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="page-title">Kisah Seorang Pencuri</h2>
<p><!-- start main content -->      <!-- begin content --><strong><br />
</strong></p>
<p>Suatu ketika, tinggallah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu, terdiri dari orangtua, dan kedua anak laki-lakinya. Kekayaan mereka sangatlah berlimpah. Lumbung mereka, penuh dengan tumpukan padi dan gandum. Ladang mereka luas, lengkap dengan ratusan hewan ternak. Namun, pada suatu malam, ada pencuri yang datang ke lumbung mereka. Sebagian besar padi yang baru di tuai, lenyap tak berbekas. Tak ada yang tahu siapa pencuri itu. Kejadian itu terus berulang, hingga beberapa malam berikutnya. Akan tetapi, tak ada yang mampu menangkap pencurinya.</p>
<p>Sang tuan rumah tentu berang dengan hal ini. &#8220;Pencuri terkutuk!!, akan kuikat dia kalau sampai kutangkap dengan tanganku sendiri.&#8221; Begitu teriak sang tuan rumah. &#8220;Aku akan menangkap sendiri, biar rasakan pembalasanku.&#8221;</p>
<p>Kedua anaknya, mulai ikut bicara. &#8220;Ayah, biarlah kami saja yang menangkap pencuri itu. Kami sudah cukup mampu melawannya. Kami sudah cukup besar, tentu, pencuri-pencuri itu akan takluk di tangan kami. &#8220;Ijinkan kami menangkapnya Ayah!&#8221;</p>
<p>Tak disangka, sang Ayah berpendapat lain. &#8220;Jangan. Kalian masih muda dan belum berpengalaman. Kalian masih belum mampu melawan mereka. Lihat tangan kalian, masih tak cukup kuat untuk menahan pukulan. Ilmu silat kalian masih sedikit. Kalian lebih baik tinggal saja di rumah. Biar aku saja yang menangkap mereka.&#8221; Mendengar perintah itu, kedua anaknya hanya mampu terdiam.</p>
<p>Penjagaan memang diperketat, namun, tetap saja keluarga itu kecurian. Sang Ayah masih saja belum mampu menangkap pencurinya. Malah, kini hewan ternak yang mulai di ambil. Ia sangat putus asa dengan hal ini. Dengan berat hati, di datangilah Kepala Desa untuk minta petunjuk tentang masalah yang dialaminya. Diceritakannya semua kejadian pencurian itu.</p>
<p>Kepala Desa mendengarkan dengan cermat. Ia hanya berkata, &#8220;Mengapa tak biarkan kedua anakmu yang menjaga lumbung? Mengapa kau biarkan semua keinginan mereka tak kau penuhi? Ketahuilah, wahai orang yang sombong, sesungguhnya, engkau adalah &#8220;pencuri&#8221; harapan-harapan anakmu itu. Engkau tak lebih baik dari pencuri-pencuri hartamu. Sebab, engkau tak hanya mencuri harta, tapi juga mencuri impian-impian, dan semua kemampuan anak-anakmu. Biarkan mereka yang menjaganya, dan kau cukup sebagai pengawas.&#8221; Mendengar kata-kata itu, sang Ayah mulai sadar. Pada esok malam, diijinkanlah kedua anaknya untuk ikut menjaga lumbung. Dan tak berapa malam kemudian, ditangkaplah pencuri-pencuri itu, yang ternyata adalah penjaga lumbung mereka sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>Teman, pernahkan Anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-cita dan harapan mereka? Ya, bisa jadi kita akan mendapat beragam jawaban. Suatu ketika mereka akan menjadi pilot, dan ketika lain mereka memilih untuk menjadi dokter. Suatu saat mereka akan mengatakan ingin bisa terbang, dan saat lain berteriak ingin dapat berenang seperti ikan. Walaupun pada akhirnya kita tahu hanya ada satu jawaban kelak, namun, pantaskah jika kita melarang mereka semua untuk punya harapan dan impian?</p>
<p>Begitulah, seperti halnya dalam cerita diatas, ada banyak pencuri-pencuri impian yang berkeliaran di sekitar kita. Mereka, mencuri semua impian, dan merampas harapan-harapan yang kita lambungkan. Mereka, selalu menghadang setiap langkah kita untuk mencapai tujuan-tujuan hidup.</p>
<p>Bisa jadi, pencuri-pencuri itu bisa hadir dalam bentuk orangtua, teman, saudara, atau bahkan rekan kerja. Namun, yang sering terjadi adalah, kita sendirilah pencuri harapan dan impian itu. Kita sendirilah pencuri yang paling besar menghadang setiap langkah. Kita sering temukan dalam diri, perasaan takut, ragu, dan bimbang dalam melangkah.</p>
<p>Terlalu sering kita mendengarkan suara kecil yang mengatakan, &#8220;Saya tidak bisa, saya tidak mampu.&#8221; Atau, sering kita berucap, &#8220;Sepertinya, saya tak akan mungkin mengatasinya.&#8221; &#8220;jangan, jangan lakukan ini sekarang, lakukan ini nanti saja. Terus seperti itu. Kegagalan, sering kita jadikan peniadaan dalam melangkah.</p>
<p>Namun, teman, seringkali bisa keliru. Kegagalan, adalah sebuah cara Allah untuk menunjukkan kepada kita tentang arti kesungguhan. Kegagalan, adalah pertanda tentang sebuah usaha yang tak akan berakhir. Kegagalan, adalah sebuah pelajaran tentang bagaimana meraih semua harapan yang terlewat.</p>
<p>Memang, tak ada kesuksesan yang diraih dalam semalam. Karena itu, yakinlah, dengan kesabaran kita akan dapat meraih semua harapan dan impian. Maka, yakinlah dengan semua impian kita. Jika kita mampu, dan nurani kita mengatakan setuju, jangan biarkan orang lain mencuri impian itu&#8211;terutama oleh diri kita sendiri.</p>
<p>Dan teman, jangan jadikan diri kita pencuri-pencuri impian orang lain. Yakinlah dengan itu semua, sebab Allah selalu akan bersama kita.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hkbp.wordpress.com/216/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hkbp.wordpress.com/216/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hkbp.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hkbp.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hkbp.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hkbp.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hkbp.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hkbp.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hkbp.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hkbp.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hkbp.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hkbp.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=216&subd=hkbp&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Kisah Seorang Pencuri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3eb4b0a4e03f1668270b537504bc3827?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hkbp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Einstein: Mendidik Manusia atau &#8230;?</title>
		<link>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Einstein: Mendidik Manusia atau ...?/</link>
		<comments>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Einstein: Mendidik Manusia atau ...?/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 07:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hkbp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Einstein: Mendidik Manusia atau ...?/</guid>
		<description><![CDATA[Einstein: Mendidik Manusia atau &#8230;?
      

SEPERTI umumnya para gadis remaja, anak kedua kami yang barusia 15 tahun ingin sekali rambutnya di-rebonding, padahal rambutnya sudah lurus. Berhubung tarifnya mahal, saya suruh ia pergi ke sebuah salon di daerah Cibubur yang relatif murah. Rupanya ia sudah mengetahui informasi melalui internet mengenai salon-salon [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=215&subd=hkbp&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 class="page-title">Einstein: Mendidik Manusia atau &#8230;?</h2>
<p><!-- start main content -->      <!-- begin content --><strong><br />
</strong></p>
<p>SEPERTI umumnya para gadis remaja, anak kedua kami yang barusia 15 tahun ingin sekali rambutnya di-rebonding, padahal rambutnya sudah lurus. Berhubung tarifnya mahal, saya suruh ia pergi ke sebuah salon di daerah Cibubur yang relatif murah. Rupanya ia sudah mengetahui informasi melalui internet mengenai salon-salon yang terkenal bagus, atau jelek dalam urusan rebonding, bahkan sampai dampak obat yang dipakai terhadap kualitas rambut. Ia menolak pergi ke salon tersebut, karena informasi yang ia baca dalam sebuah blog internet, kualitas rebonding di salon tersebut tidak bagus.</p>
<p>Berhubung saya hanya mau membayar 50 persen saja, ia melakukan browsing secara intensif, dan akhirnya ia memutuskan untuk memakai jasa sebuah salon yang ta-rifnya cukup murah, tetapi kualitasnya bagus.</p>
<p>Rupanya anak terkecil kami pun (usia 7 tahun), sudah mulai menjadi seorang yang tidak mudah dipengaruhi juga. Ia bersama kakaknya &#8220;berkonspirasi&#8221; untuk mempengaruhi kami agar mau memelihara anjing di rumah. Mereka sebut beberapa jenis anjing yang bagus, lagi- lagi belajar dari internet, dan akhirnya memutuskan untuk membeli anjing yang pintar untuk dilatih serta bersahabat dengan anak-anak, yaitu jenis Golden Ret River.</p>
<p>Saya sendiri baru mendengar nama jenis tersebut, tetapi menurut informasi harganya cukup mahal. Kemudian saya ajak mereka ke sebuah tempat di daerah Menteng untuk membeli anjing di pinggir jalan yang pasti harganya lebih murah.</p>
<p>Mereka mengetahui betul bentuk anjing jenis tersebut, sehingga ada 4 penjual yang gagal membohongi mereka. Sampai yang mirip sekali pun, tetapi karena bentuk kupingnya berbeda, mereka mengetahuinya.</p>
<p>Setelah bernegosiasi, dan kedua anak kami mau patungan menyumbang dari uang tabungannya Rp 500.000, akhirnya saya menyerah untuk membelinya di pet shop yang harganya Rp 2 juta, karena kemurnian ras anjing tersebut dijamin oleh sertifikat.</p>
<p>Dalam beberapa hal, saya akui anak-anak kami lebih pintar dan well- informed daripada orangtuanya, sehingga kami sering &#8220;kalah&#8221; ketika harus mengambil keputusan karena informasi yang diperolehnya lebih lengkap. Anak pertama kami yang sekarang sudah semester 7 di Fakultas Hukum UI, sejak kelas 1 SMA juga sudah memutuskan sendiri untuk masuk ke IPS, sehingga ia tidak mau &#8220;membuang&#8221; waktunya untuk belajar sesuatu yang ia tidak akan dipakainya, seperti Fisika, Kimia dan Biologi. Akibatnya, nilai yang diperolehnya hanya pas-pasan saja.</p>
<p><strong>Diminati Siswa</strong></p>
<p>Namun, waktunya ia lebih banyak gunakan untuk belajar sesuatu yang lebih menarik minatnya, seperti belajar komputer, organisasi, dan membaca segala macam buku yang tidak ada hubungannya dengan tugas sekolah. Kelas 1 SMA (tahun 1999) ia mengajak beberapa kawannya untuk merintis bidang ekstra kurikuler baru di sekolahnya, yaitu FORTEK (forum teknologi), yang semuanya diusahakan melalui survey kelayakan (ada 100 kuesioner tersebar), seminar, dan presentasi di depan sponsor, sehingga memperoleh 6 perangkat komputer. Bidang tersebut sampai sekarang masih ada, bahkan paling banyak diminati siswa.</p>
<p>Rasanya tidak ada satu pun guru yang memujinya, karena memang angka rapornya biasa-biasa saja, bahkan ada juga nilai merahnya (boro-boro dapat ranking). Namun baginya tidak ada masalah, dan ia memang berpikir strategis. Menurutnya, apabila sistem ujian nasional dan masuk perguruan tinggi adalah seperti sekarang, maka dengan sistem kebut drilling beberapa bulan terakhir sebelum ujian, katanya masih bisa ia kejar.</p>
<p>Jadi, ketika hampir seluruh kawan-kawannya sudah sibuk ikut les sekolah dan bimbingan tes sejak kelas 1 SMA, bahkan sampai banyak yang stres, ia menolak untuk mengikutinya karena mau memakai waktunya untuk mempelajari hal-hal yang diminatinya sendiri. Baru ketika 6 bulan menjelang ujian akhir SMA, ia mau ikut les.</p>
<p>Sejak SMP ia memang sudah senang membaca buku-buku serius seperti karangan Maurice Bucaille, buku-buku filsafat Jabariah dan Badariah, bahkan sekarang ia sedang senang-senangnya mengikuti perkembangan harga pasar saham dan pasar uang, karena ia menginvestasikan semua tabungannya yang Rp 3 juta di reksadana. Semuanya ini ia peroleh dari belajar sendiri, bukan dari sekolahnya.</p>
<p>Perjalanan anak-anak kami masih panjang, sehingga kami belum tahu apakah mereka berhasil nantinya. Namun paling tidak, kami telah berusaha untuk mempersiapkan mereka untuk menjadi manusia yang berpikir kritis dan mandiri, tidak mudah percaya dan diprovokasi, bisa mencari informasi dan mengolahnya sendiri, sehingga nantinya bisa mencari solusi terhadap berbagai masalah dalam hidupnya, serta mudah beradaptasi dengan lingkungan yang cepat berubah.</p>
<p>Tentunya juga dengan membekali mereka tentang prinsip-prinsip nilai dan etika. Terus terang, kami memang &#8220;melarang&#8221; anak-anak kami untuk mendapatkan ranking, karena sistem ini akan membuat seseorang terperangkap untuk mempertahankannya, sehingga mereka hanya mampu berpikir dangkal, pragmatis, dan tidak kritis, akibat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal yang jawabannya sudah baku sesuai dengan rumus.</p>
<p>Menurut Albert Einstein, dengan hanya mengajarkan anak menghafal mata pelajaran, tidak ada bedanya dengan melatih seekor anjing. Menurut Einstein, &#8220;With his specialized knowledge-more closely resembles a well-trained dog than a harmoniously developed person.&#8221;</p>
<p>(Ternyata benar, dengan cara mengulang berkali-kali, anak kami sudah dapat melatih anjingnya yang berusia 4 bulan untuk duduk, loncat, dan salaman). Bukan berarti metode menghafal dan drilling tidak perlu (kognitif), tetapi dimensi lainnya juga harus dikembangkan (sosial, emosi, motorik, spiritual, dan kreativitas), sehingga seluruh dimensi manusia dapat berkembang secara seimbang (harmonis).</p>
<p>Namun, semua metode pelajaran di sekolah hanya diarahkan agar anak- anak dapat menjawab ujian, yang bentuknya memang hafalan, sehingga potensi-potensi lainnya tidak berkembang secara harmonis.</p>
<p>Albert Einstein sudah memberikan warning akan bahayanya sistem pendidikan yang terlalu menjejalkan anak dengan banyak mata pelajaran, yang menurutnya dapat membuat anak berpikir dangkal, bukan seorang yang independent critical thinker (New York Times, October 5, 1952).</p>
<p>Menurutnya, &#8220;It is also vital to a valuable education that independent critical thinking be developed in the young human being, a development that is greatly jeopardized by overburdening him with too much and with too varied subject (point system). Overburdening necessarily leads to superficiality. Teaching should be such that what is offered is perceived as a valuable gift and not as a hard duty.&#8221;</p>
<p>Kalau kita melatih seseorang untuk mempunyai fisik kuat, baik dengan olahraga atau berjalan kaki, maka dengan kekuatan fisiknya ia akan fit bekerja di mana saja yang memerlukan kekuatan fisik. Begitu pula, apabila kita mempersiapkan seorang anak untuk dapat berpikir kritis, selalu ingin tahu, dan mampu mengolah informasi, maka ia akan berhasil dalam pekerjaan apa saja yang memerlukan orang berpikir.</p>
<p>Apalagi di masa depan apabila semakin banyak orang yang mempunyai akses terhadap internet (lima tahun yang lalu mungkin kita tidak membayangkan kalau hand phone bisa dipakai secara massal sampai ke desa-desa. Hal yang sama sangat mungkin terjadi dengan internet, seperti yang sudah terjadi di Korea).</p>
<p>Artinya, tanpa menghafal pun, segala informasi dengan mudah dapat  diakses.</p>
<p>Mungkin ilmu yang didapat di sekolah banyak yang tidak terpakai dalam kehidupan anak kita nanti. Apalagi jaman akan terus berubah dengan cepat, sehingga apa yang dipelajari sekarang ini, mungkin saja tidak terpakai dalam kehidupannya di masa depan nanti. Padahal sudah dipelajari dan dihafalkan mati-matian, sampai banyak yang stres dan mengalami masalah kejiwaan.</p>
<p>Menurut Peter Senge, sekolah-sekolah yang mendidik siswanya untuk patuh begitu saja kepada pihak otoritas dan mengikuti peraturan tanpa mempertanyakannya &#8211; tidak bersikap kritis &#8211; akan gagal menyiapkan para siswanya untuk menghadapi dunia tempat tinggal mereka yang kerap berubah.</p>
<p>Jadi, kalau kita mau menyiapkan anak-anak kita untuk cakap hidup di zamannya kelak, jangan biarkan mereka terperangkap dengan cara yang hanya bisa berpikir sesuai dengan yang telah diprogram (hafalan dan drilling), yaitu tidak kreatif, tidak kritis, tidak berani mengambil risiko, tidak proaktif, dan apatis.</p>
<p>Kasihan mereka, karena mereka harus hidup di masa depan yang begitu cepat berubah, sangat kompleks, serta penuh tantangan dan beban. Seperti kata Einstein, mereka adalah manusia, bukan well-trained dog.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hkbp.wordpress.com/215/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hkbp.wordpress.com/215/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hkbp.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hkbp.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hkbp.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hkbp.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hkbp.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hkbp.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hkbp.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hkbp.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hkbp.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hkbp.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hkbp.wordpress.com&blog=928900&post=215&subd=hkbp&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/Einstein: Mendidik Manusia atau ...?/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3eb4b0a4e03f1668270b537504bc3827?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hkbp</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>