Kasih: I Want to Know what Love is

Kasih: I Want to Know what Love is

ADA APA DENGAN CINTA?

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai KASIH, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1 Korintus 13:1)

Isi : Dari masa ke masa di setiap bagian penjuru bumi selalu tercipta lagu-lagu baru dengan tema klasik mengenai cinta, lagu-lagu yang sering kali menggambarkan kerinduan seseorang untuk mengutarakan isi hatinya kepada seorang kekasih idamannya. Tidak jarang lagu-lagu tersebut juga dibubuhi syair-syair berbau cengeng, yang melukiskan penderitaan-penderitaan yang harus dilalui seseorang oleh karena: tertolaknya cinta, rasa duka gara-gara cinta yang bertepuk sebelah tangan, retaknya hubungan kasih yang mengakibatkan perpisahan, bahkan perceraian di dalam keluarga.

Di Amerika Serikat syair lagu-lagu semacam itu mudah sekali ditemukan melalui musik-musik berirama ‘Country Western’, yang sering kali menjadi bahan tertawaan para penolaknya. Di Jerman lagu-lagu tersebut dijuluki dengan suatu nama ejekan: ‘Die Schnulze’.

Yang paling menakjubkan, hingga sekarang lagu-lagu cengeng seperti itu masih mempunyai banyak penggemar di Indonesia. Pada zaman penjajahan pra-1945 lagu-lagu tersebut biasanya hanya diwakili oleh musik yang berirama ‘Keroncong’. Tetapi semenjak dasawarsa ke-70 mereka juga melanda dunia musik Indonesia melalui lagu-lagu yang berirama populer lainnya.

Apakah lagu-lagu bernada dan bersyair cengeng mengenai cinta, bahkan mengenai segala masalah yang dimulai oleh cinta, sebenarnya menjadi sukses oleh karena para penggemarnya bisa menghayati kesejajaran syair-syairnya dengan pengalaman-pengalaman atau masalah-masalah hidup mereka sendiri?

Pernahkah Anda mendengar dan memperhatikan syair sebuah lagu ‘rock’ berjudul ‘I Want to Know What Love is’ (Aku Ingin Mengetahui Arti Kasih) yang sangat ‘ngetop kurang-lebih pertengahan dasawarsa ke-80 yang lalu? Lagu tersebut memperdengarkan irama sangat manis dengan nada-nada minor, diiringi kata-kata lirih yang dengan jitu sekali dapat menyentuh dan menyayat-nyayat hati para pendengarnya.

Apakah lagu ‘I Want to Know What Love is’ sebenarnya melukiskan kehidupan seseorang yang sedang dilanda kesepian, lalu berupaya untuk menemukan MAKNA KASIH yang sejati dari seorang kekasih idamannya? Atau, … apakah syair lagu sangat ‘catchy’ tersebut mempunyai suatu arti yang jauh lebih dalam lagi, sehingga dapat membongkar rahasia kerinduan hati manusia akan MAKNA HIDUP yang lebih berarti, di tengah-tengah arus gelombang kehidupan yang bergejolak tak menentu ini?

Yang pasti irama refrein lagu ‘ballad’ ciptaan Mick Jones, pemain gitar utama rock group ‘Foreigner’, telah mengungkapkan suatu syair yang berulang kali memaparkan kerinduan hatinya untuk mengetahui kebenaran makna kasih yang sejati. Perhatikanlah dengan seksama arti sebenarnya yang tersembunyi di balik setiap kata kasih di dalam refrein lagu yang ditulis oleh pena pemusik berbakat ini:

I want to know what love is (Aku ingin mengetahui arti kasih)
I want you to show me (Aku ingin agar engkau menunjukkannya kepadaku)
I want to feel what love is (Aku ingin merasakan kebenaran kasih)
I know you can show me (Aku tahu engkau sanggup menunjukkannya kepadaku)

Perhatikanlah juga syair yang dipergunakan di dalam ‘bridge’ lagu tersebut, yang meneriakkan rasa putus asa yang diderita olehnya:

In my life there´s been heartache and pain (Di dalam hidupku ada kepiluan dan derita)

I don´t know if I can face it again (‘Ku tak tahu apakah aku mampu menghadapinya lagi)

Can´t stop now, I´ve travelled too far (Tak bisa berhenti sekarang, ‘ku t’lah berkelana terlampau jauh)

To change this lonely life (‘Tuk mengubah hidup yang kosong/sepi ini)

Tak dapat dibantah, lagu tersebut telah mengemukakan suatu kenyataan hidup masyarakat dunia pada masa itu. Bahkan yang pasti, inti syairnya masih tetap relevan sampai sekarang untuk menyingkapkan rahasia kehampaan hidup yang diam-diam selalu tersembunyi di dalam hati para penggemarnya!

Amsal raja Salomo yang menyinggung masalah ini, mengatakan: “Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka.” (Amsal 25:20)

Setiap generasi, baik yang sudah berlalu maupun masakini, pasti akan melewati masa-masa genting, di mana mereka terus berusaha untuk menelusuri di dalam kehidupan mereka arti kasih yang sesungguhnya. Kendatipun di luar kesadaran mereka sendiri, yang sebenarnya amat mereka dambakan adalah makna dan tujuan hidup itu sendiri!

Melalui media dunia, masyarakat mengajarkan kepada umat manusia untuk mencari makna hidup sesuai dengan standar-standar yang sudah ditentukan olehnya, yaitu: mendahulukan kepentingan diri sendiri, mengabaikan moral hidup, penampilan yang ‘sempurna’, harta kekayaan yang berlebih-lebihan, kedudukan karir yang dapat meningkatkan status di mata masyarakat, kekuasaan yang semena-mena, penghargaan dan sanjungan manusia, serta segala sesuatu yang dapat menaikkan harga diri sendiri. Semua itu merupakan syarat-syarat utama di dalam kesemuan arti makna hidup yang diajarkan oleh masyarakat dunia kepada ‘para’ penduduknya. Jadi makna hidup yang bersifat egosentris sekali!

Lagu ballada yang dialunkan oleh suara khas penyanyi tenar Lou Gramm, pelopor rock group Foreigner, telah jitu mengemukakan secara terbuka sekali kondisi hati manusia yang sebenarnya, yang terus-menerus berusaha menemukan sesuatu untuk memenuhi kekosongan hidup mereka yang tak pernah terpuaskan. Kehidupan hampa yang mengakibatkan rasa pilu dan sedih, yang tidak jarang memaksa mereka untuk bertindak nekat, mengambil jalan pintas sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi, atau mengakhiri kepedihan hati mereka.

Berbeda sekali dengan lagu-lagu cengeng mengenai cinta yang sering kali menimbulkan rasa jemu di dalam hati kala mendengarkannya berulang-ulang kali, lagu ‘I Want to Know What Love is’ mampu memberikan suatu ‘message’ yang amat relevan, dengan menuding secara jitu sekali masalah kehidupan umat manusia sepanjang masa. Terutama bagi kaum muda-mudi yang sedang memburu makna kasih yang murni, yang menurut dugaan mereka, adalah jawaban mutlak bagi kebahagiaan hidup yang sejati.

Oleh karena itu, pada saat diluncurkan untuk pertama kali di bulan Januari 1985, lagu ‘I Want to Know What Love is’ dapat segera menjamah hati setiap pendengarnya secara masal, yang mengakibatkan lagu tersebut dengan mudah serentak menduduki tingkat penjualan ‘single’ per keping tertinggi ‘music charts’ (No 1) di seluruh dunia. Selain meraih kedudukan itu di Australia, lagu tersebut juga berhasil melanda tangga lagu-lagu ‘ARIA (Australian Record Industry Association) – Top 50’ selama berpuluh-puluh minggu!

Sebuah lagu yang jelas dapat mengemukakan rahasia isi hati para pendengarnya, yang selalu merindukan KASIH yang dapat memuaskan serta membebaskan diri mereka dari rasa takut atau kuatir akan masa depan yang tidak terduga. Tetapi kenyataan yang harus diakui, usaha untuk menemukannya menggunakan standar-standar yang sudah ditentukan oleh masyarakat dunia sambil mengandalkan kekuatan diri sendiri, akan selalu berakhir dengan kekecewaan, karena semua itu sia-sia belaka.

Jadi, … ada apa sebenarnya dengan CINTA?

Salah satu dari tulisan-tulisan rasul Petrus yang dicatat di dalam firman Tuhan mengenai kesia-siaan dan kekosongan hidup manusia, mengatakan: ‘Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.’ (1 Petrus 1:24-25)

“sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (Yakobus 4:14)

MEMBURU KASIH

“Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas.” (Amsal 27:20)

Di dalam video berseri ‘The Alpha Course’, sebuah acara penginjilan populer yang paling modern dewasa ini di negara-negara barat, Rev Nicky Gumbel, seorang pendeta gereja Anglican di Inggris yang masih muda, menarik dan penuh karisma, berusaha mempelajari dan membahas sebab-musabab ketidak-puasan hidup yang selalu dialami oleh umat manusia pada umumnya.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia mengisahkan segala kesia-siaan tingkat-tingkat hidup yang harus didaki olehnya guna menemukan makna hidupnya. Suatu pengalaman yang pasti sudah dilalui oleh semua orang pra-kelahiran-baru mereka!

Rev Nicky Gumbel menceriterakan bagaimana cepat rasa jemu yang timbul di dalam hatinya, tatkala ia berhasil meraih sesuatu yang sudah lama diidam-idamkan olehnya.

Ia menyinggung peristiwa yang terjadi di masa kanak-kanaknya, ketika ia terpaksa harus terus-menerus bermain di halaman atau di dalam rumahnya, yang membuat dirinya selalu berkhayal: “Andaikan saja aku sudah mulai masuk sekolah dasar ….” Ketika masa tersebut tiba, dan ia memulai pendidikannya di sana, dalam jangka waktu yang amat singkat ia menjadi bosan, dan berpikir: “Pasti ada sesuatu lain yang jauh lebih berarti dari pada ini ….”

Ia mulai berharap, agar secepatnya ia bisa meraih usia belasan tahun! Dugaannya, masa yang diidam-idamkan itu tentu akan menjadi suatu masa yang lebih mengesankan dari pada masa yang sedang dilalui olehnya. Tetapi ternyata, ketika baru saja beberapa minggu berlalu semenjak ia mencapai usia tersebut, ia menjadi jemu lagi, dan mulai menggerutu tidak puas: “Tentu ada sesuatu lain yang jauh lebih berguna dari pada ini ….”

Kemudian ia menjadi tidak sabar dengan pendidikan sekolah menengahnya, karena ingin cepat selesai agar bisa memasuki masa remajanya di perguruan tinggi, yang menurut dugaannya tentu akan membuat dirinya merasa puas. Tetapi setelah beberapa minggu berlalu semenjak kakinya menginjak kampus-kampus universitas, kembali ia menjadi bosan dengan status hidup yang baru saja diraih olehnya!

Benak pikirannya dipenuhi oleh pelbagai pertanyaan tak terjawabkan, yang membuat pemuda yang baru saja menginjak usia dewasa tersebut menjadi bertambah penasaran serta menuntut: “Pasti ada sesuatu lain yang jauh lebih mengesankan lagi dari pada ini ….”

Ia mengira, bahwa mungkin dengan berpesta-pora setiap akhir pekan, berdansa dan bersosialisasi bersama sahabat-sahabat karibnya, ia bisa menemukan solusi bagi masalahnya. Tetapi ternyata setelah mengalaminya selama beberapa minggu berturut-turut, kembali ia merasa bosan dan tidak puas dengan hidupnya! Terpana hatinya bertanya-tanya: “Apakah mungkin kehadiran seorang gadis idaman di dalam hidupku dapat melengkapi perasaanku yang hampa ini?”

Di luar dugaannya, bahkan sesuai dengan harapannya, pemuda berwajah tampan tersebut berhasil menemukan seorang gadis yang seketika itu juga bersedia menjadi teman kencannya. Tetapi ternyata setelah beberapa minggu berlalu, penuh keheranan ia harus mengakui lagi, bahwa gadis cantik itu pun tidak dapat menghapus rasa bosan dan jemu yang terus menghantui dirinya!

Amsal Salomo mencatat: “Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik akan menjadi sia-sia.” (Amsal 10:28)

Ia bertanya-tanya tentang makna hidup yang tak henti-henti dikejar olehnya, melalui tingkat-tingkat hidup yang telah, sedang dan akan dilaluinya. Mengapa ia tidak bisa sekali pun merasa puas atau lengkap, dan hatinya selalu merasa terdorong oleh keinginan-keinginan untuk mencari ‘sesuatu’ yang baru? Apakah yang menyebabkannya?

Tentu saja dengan mudah kita dapat menghayati dan memahami frustrasi perjuangan hidup yang diuraikan oleh Rev Nicky Gumbel, karena setiap orang yang belum berhasil menemukan makna hidupnya, bersedia ataupun tidak, pasti harus melalui masa-masa yang serupa.

Semua insan di dunia mengalami masa-masa kritis seperti itu, karena mereka akan terus berusaha mengejar cinta atau kebahagiaan semu, sesuai dengan standar-standar yang ditentukan oleh masyarakat dunia, yang terbukti tidak akan pernah dapat memenuhi kekosongan hidup manusia!

Sebelum ia lahir baru dan menyadari panggilan hidupnya, yaitu untuk melayani Tuhan di ladang-Nya (Church of England), Rev Nicky Gumbel yang pernah bekerja sebagai seorang hakim yang berhasil, mengakui dengan terus terang, bahwa ia adalah seorang penentang agama Kristen yang ‘tergigih’. Bahkan ia mengakui gemar menyakiti hati teman-temannya, dengan mencemoohkan mereka yang menjadi pengikut-pengikut Kristus.

Berulang kali tanpa tedeng aling-aling ia mengutarakan rasa tidak senang akan acara-acara ibadah gereja yang pernah diikuti olehnya. Ia menyetarakan kedinginan ibadah-ibadah tersebut dengan suatu upacara penguburan, disebabkan oleh karena kekakuan program dan keseriusan para pembawa khotbah yang sering kali memberikan kesan buruk kepadanya, seakan-akan mereka adalah para ‘undertakers’ (orang-orang yang mengurus pemakaman).

Menurut dia, agama Kristen adalah sebuah agama yang tidak relevan lagi dengan keadaan dunia masakini, amat membosankan, dan yang diciptakan khusus untuk orang-orang yang berjiwa lemah, karena mereka tidak bisa menerima kenyataan hidup yang sesungguhnya.

Tanpa disadari olehnya, justru ia sendiri yang sedang berkelana, berputar-putar bagaikan seorang yang terjebak di dalam sebuah ‘labyrinth’ kehidupan, terus-menerus berusaha mencari jalan keluar, tetapi PINTU yang diperlukan untuk membebaskan dirinya masih belum ditemukan!

Nabi Yesaya melukiskan sebab-sebab kesia-siaan hidup umat Israel pada waktu itu seperti ini: “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, ….” (Yesaya 53:6a)

Diam-diam pemuda itu terus mempertanyakan di dalam hatinya: “Mengapa aku tidak pernah merasa puas dengan segala sesuatu yang sudah berhasil kudapatkan, tetapi selalu mengharapkan sesuatu yang lebih, yang belum aku miliki? Apakah yang menyebabkannya?”

“TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.” (Mazmur 94:11)

KASIH TAK SAMPAI

“Janganlah menyimpang untuk mengejar dewa kesia-siaan yang tidak berguna dan tidak dapat menolong karena semuanya itu adalah kesia-siaan belaka.” (1 Samuel 12:21)

Suatu pengalaman mengenai perjalanan hidup yang tak terpuaskan juga pernah dikisahkan oleh Count Leo Tolstoy, bangsawan Rusia abad ke-19 yang amat termasyhur di seluruh dunia sebagai seorang pengarang buku-buku kesusasteraan yang berbobot sekali. Di antaranya yang paling dikenal adalah: ‘War and Peace’ dan ‘Anna Karenina’. Sesuai dengan catatan ‘Encyclopedia Britanica’, kedua buku tersebut diakui oleh badan-badan sastera dunia sebagai buku-buku Rusia yang paling penting di dunia sepanjang masa.

Tolstoy melukiskan perjalanan hidupnya guna menemukan makna kasih di dalam sebuah buku filosofi yang berjudul ‘A Confession and What I Believe’ (Sebuah Pengakuan dan Apa yang Kuyakini). Buku ‘autobiographical’ tersebut tercatat di dalam sejarah benua Eropah, sebagai salah satu dari buku-buku kontroversiil, yang pada pertengahan tahun 1880-an telah dilarang beredar oleh pemerintah negaranya, karena dikuatirkan dapat mempengaruhi serta meracuni pikiran dan hidup para pembacanya.

Di dalam buku tersebut Tolstoy memulai kisah hidupnya dengan berterus-terang mengakui, bahwa semenjak kecil ia menolak dan menentang secara tegas pengaruh-pengaruh agama Kristen yang diberikan oleh kedua orang tua dan keluarganya.

Sebagai seorang pemuda intelektuil dengan harta warisan yang berkelimpahan, ia menyangka, bahwa makna hidupnya dapat ditemukan di tengah-tengah tempat mesum kota Moscow. Setiap malam ia mencari dan membeli di sana kenikmatan-kenikmatan insani melalui pelayanan para pelacur, disertai usaha untuk memabukkan dirinya sendiri melalui konsumsi minuman-minuman alkohol secara berlebih-lebihan. Dugaannya, … tindakan-tindakan tersebut akan memberi kepuasan pada hidupnya yang terasa hampa. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu!

Lalu Tolstoy berusaha mencari makna hidup di tempat-tempat perjudian ‘elite’ kota tersebut. Dengan mempertaruhkan kekayaannya di atas meja judi, ia berusaha membangkitkan gairah hidupnya lagi. Kembali ia harus mengakui, bahwa segala usaha untuk menemukan damai sejahtera di dalam hidupnya di tempat-tempat maksiat tersebut juga berakhir dengan sia-sia belaka. Tolstoy tetap merasa hidupnya amat kosong!

Semenjak kanak-kanak Tolstoy dan keluarganya selalu menyadari ketrampilannya di sekolah di bidang seni menulis dan kesusasteraan. Oleh karena itu, ia mengharapkan, agar melalui kesibukan-kesibukan yang akan dilakukan setiap hari dengan mengarang buku-buku ceritera fiksi, rasa hampa yang memilukan hatinya bisa teratasi.

Ternyata buku-buku hasil karya penanya mendapat sambutan sangat hangat dari masyarakat Rusia pada masa itu, bahkan diakui sampai sekarang sebagai buku-buku kesusasteraan yang paling berarti di dunia, karena sekaligus dapat melukiskan sejarah negara komunis tersebut dengan akurat sekali. Semenjak diluncurkan untuk pertama kali, mereka terjual dengan laris sekali di negaranya. Bahkan beberapa dari buku-buku hasil karyanya berhasil menerima ‘Awards’ penghargaan yang amat tinggi dari negara-negara lain di dunia.

Melalui kesuksesan penjualan buku-bukunya secara antarbangsa, harta kekayaan yang dimiliki oleh Tolstoy menjadi semakin bertambah. Tetapi di balik kenyataan, bahwa ia sukses, kaya dan termasyhur di Rusia, bahkan di seluruh dunia, Tolstoy juga harus menerima kenyataan yang lain, bahwa hidupnya tetap terasa kosong dan tak terpuaskan.

Lalu Tolstoy menduga, bahwa jawaban bagi semua kekecewaan yang tak henti-henti dialami olehnya, terletak pada pembinaan sebuah rumah tangga yang harmonis. Pada tahun 1862 ia menikahi gadis idamannya, … dan mereka dikaruniai 13 orang anak. Tolstoy sangat mengasihi keluarganya. Ia melimpahi seluruh kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Kesibukan sehari-hari yang dilewatkan bersama isteri dan anak-anaknya, ternyata berhasil mengalihkan perhatiannya dari masalah-masalah ketidak-puasan hidup yang diderita olehnya, kendatipun HANYA untuk sekejab saja!

Di mata para penggemarnya, yang mengenal dia sebagai seorang bangsawan Rusia yang amat kaya dan termasyhur di dunia, Tolstoy sudah berhasil meraih taraf hidup yang tinggi sekali, … yang ‘sempurna’. Padahal kenyataan yang sebenarnya sungguh berbeda, karena hanya dia saja yang mengetahui ‘keaslian’ keadaan dirinya. Tolstoy tetap merasa, bahwa SESUATU yang dibutuhkan untuk memenuhi kekosongan hidup dan menghibur kepiluan hatinya tidak pernah berhasil ditemukan olehnya. Ia merasa dirinya bagaikan sebutir debu tak berarti yang sedang melayang-layang di tengah-tengah kebesaran dan keluar-biasaan alam semesta. Sepanjang hidupnya sebuah pertanyaan selalu terngiang-ngiang di dalam hatinya: “Apakah sebenarnya tujuan hidupku, yang oleh karena kematian tubuhku tidak dapat dimusnahkan?”

Pertanyaan tersebut terus-menerus menghantui batin Tolstoy, sehingga akhirnya hampir saja dia tertipu oleh Iblis untuk membunuh dirinya sendiri, seperti yang dipaparkan olehnya di dalam buku: ‘A Confession and What I Believe’ dengan terus terang sekali!

Nabi Yesaya pernah menegur bangsa Israel karena kebodohan mereka yang telah meninggalkan TUHAN, Allah mereka, dengan menyembah berhala buatan tangan-tangan mereka sendiri: ‘Orang yang sibuk dengan abu belaka, disesatkan oleh hatinya yang tertipu; ia tidak dapat menyelamatkan jiwanya atau mengatakan: “Bukankah dusta yang menjadi peganganku?” (Yesaya 44:20)

Rasul Yohanes juga memperingati orang-orang percaya di dalam suratnya: “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1Yohanes 2:16)

Sepanjang akhir perjalanan hidup Tolstoy, tak henti-hentinya ia bertanya: “Mengapa hatiku terus-menerus terasa pilu? Apakah sebenarnya tujuan hidupku? Apakah makna kehadiranku di dunia?”

“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkhotbah 5:9)

BILIK KASIH

“Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.” (Pengkhotbah 1:8)

Kalimat yang dipergunakan oleh rock group Foreigner sebagai judul lagu mereka ‘I Want to Know What Love is’, ternyata bukan merupakan sebuah pernyataan ingin tahu yang tak terjawabkan bagi Rev Nicky Gumbel atau Count Leo Tolstoy saja, tetapi juga bagi banyak orang-orang lain pada umumnya.

Mereka semua mempertanyakan sebab-musabab ketidak-puasan hati, dan kesia-siaan segala sesuatu yang sudah berhasil dicapai sepanjang hidup mereka. Seperti yang dicatat oleh penulis kitab Pengkhotbah mengenai semua yang diperhatikan olehnya di dunia: “Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia belaka.” (Pengkhotbah 1:1-2)

Suatu analogi yang sederhana sekali bisa menjelaskan catatan Pengkhotbah tersebut, dan sekaligus memberikan pengertian secara gamblang sekali mengenai misteri kekosongan hidup yang tak terpecahkan, … disertai solusinya. Setiap orang yang sudah pernah mengalaminya, pasti dengan mudah dapat menghayati analogi ini.

Bagi mereka yang dilahirkan di negara-negara barat, dan dibesarkan dengan makanan-makanan pokok tradisi mereka sendiri, seperti roti, kentang, pasta dan lain sebagainya, tetapi bermukim di salah satu negara di benua Asia, mereka tentu memahami masalah yang akan mereka hadapi, jika setiap hari ‘diharuskan’ menelan nasi sebagai penggantinya.

Schapelle Corby, seorang narapidana muda berwajah cantik, berasal dari daerah Gold Coast, Australia, yang awal tahun 2005 telah dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun di pulau Bali, pernah mengeluh mengenai masalah yang sama, ketika ia diwawancarai oleh seorang wartawan dari negaranya. Schapelle diadili dan dinyatakan bersalah, karena ia terlibat di dalam usaha penyelundupan 4 kilogram ganja masuk ke Indonesia melalui bandar udara pulau Bali hampir 2 tahun sebelumnya.

Karena wajahnya yang menarik, dan juga proses pengadilannya di kota Denpasar yang menyebabkan terbongkarnya beberapa ‘hal-hal’ menghebohkan yang diduga terjadi di dalam lapangan udara kota-kota besar Australia, berita mengenai dirinya pada saat itu menjadi berita sensasi terhangat di sana. Dan oleh karena cara-cara penyampaian berita yang menunjukkan rasa simpati berlebih-lebihan dan yang amat memihak kepadanya, banyak sekali penduduk negara itu merasa yakin, bahwa ia tidak bersalah dalam kasus penyelundupan ganja tersebut.

Semenjak saat itu status diri Schapelle di mata masyarakat Australia menjadi berubah sekali. Ia bukan seorang narapidana yang bersalah lagi, tetapi seorang ‘celebrity’ yang amat disayangi media dan masyarakat negaranya. Oleh karena itu banyak sekali orang-orang yang tergerak hatinya untuk menolong wanita muda ini dengan bantuan moril maupun materiil, agar ia dapat membuktikan di hadapan para penegak hukum di Indonesia, bahwa ia tidak bersalah.

Melalui suatu wawancara singkat ia mengungkapkan rasa tidak senang akan jenis-jenis makanan yang setiap hari harus disantap olehnya di penjara. Selama ia terkurung di sana, dari hari ke hari nasi putih selalu menjadi makanan pokoknya, baik untuk sarapan pagi, makan siang, bahkan untuk makan malam. Schapelle mengatakan, bahwa ia sudah merasa muak menyaksikan nasi yang sama dihidangkan kepadanya di atas piring aluminium penjara! Ia rindu akan makanan pokok negaranya sendiri, yaitu: roti, yang menurut dia merupakan satu-satunya bahan makanan yang bisa membuat dirinya merasa puas!

Bagi orang-orang barat lainnya yang selalu berkelana di dunia, ungkapannya bukan merupakan sesuatu hal yang aneh, karena tentu saja sesuai dengan pengalaman yang mereka lalui sendiri, mereka dapat menghayati rasa jengkel yang diutarakan oleh Schapelle Corby.

Begitu juga kebalikannya, … setiap orang yang berasal dari salah satu negara di benua Asia, yang sebelum pergi merantau, sepanjang hidupnya memakan nasi putih pagi, siang dan malam, tentu akan mengalami kesulitan yang sama, jika sepanjang hari perut mereka tidak dipuaskan oleh makanan pokok tersebut.

Berdasarkan hasil percakapan-percakapan dan diskusi-diskusi mengenai pengalaman banyak orang dari pelbagai negara di Asia, yang sedang hidup dirantau orang di negara-negara barat, dapat disimpulkan suatu persamaan pendapat yang amat menakjubkan. Dengan penuh keseragaman mereka mengakui, bahwa seolah-olah di dalam tubuh mereka terdapat dua perut yang terletak berdampingan.

Perut yang pertama bisa menerima berbagai jenis santapan, yang seketika itu juga dapat memuaskan diri mereka, meskipun untuk jangka waktu sekejab saja. Tetapi perut mereka yang kedua, yang terpenting, hanya dapat dipuaskan oleh makanan pokok mereka sendiri, yaitu nasi putih. Setiap kali mereka merebahkan diri untuk beristirahat di waktu malam, tubuh mereka akan selalu merasa tidak lengkap, jika hanya perut yang pertama saja yang terisi oleh sayur, daging, roti, kentang, pasta, atau bahan-bahan makanan lainnya. Karena … perut yang kedua masih tetap menunggu kehadiran nasi putih di dalamnya!

Melalui keselarasannya, analogi sederhana tersebut tampak sangat mudah untuk dipakai sebagai suatu landasan guna menjelaskan sebab-sebab ketidak-puasan hidup umat manusia. Karena bagaikan kiasan dua bagian perut yang berada di dalam tubuh orang-orang Asia, ditinjau secara rohani, seolah-olah di dalam diri setiap orang juga terdapat dua ruang kehidupan yang terletak berdampingan, yang selalu rindu untuk diperhatikan.

Ruang kehidupan yang pertama adalah sebuah ruang yang mudah sekali dipuaskan oleh segala sesuatu yang telah dicapai seseorang, diukur dari standar-standar yang sudah ditentukan oleh masyarakat dunia, seperti: kesibukan atau kesuksesan karir pekerjaan, persahabatan yang sejati, perkawinan yang berbahagia, kemakmuran dan kesejahteraan hidup berkeluarga yang patut dijadikan teladan orang-orang lain, kekuasaan dan pengaruh di dalam masyarakat, harta kekayaan yang berkelimpahan, melakukan tindakan amal, penampilan yang ‘sempurna’, dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang ruang tersebut dijejali dengan kepuasan-kepuasan semu yang didapatkan melalui penyalah-gunaan obat-obat bius atau dari hubungan-hubungan tanpa moral yang sudah direstui oleh umum.

Semua itu dapat segera memenuhi dan memuaskan ruang kehidupan yang pertama. Tetapi rasa puas tersebut akan menjadi luntur, dan berlalu secepat berubahnya pendapat atau sikap manusia! Mereka akan merasa bosan, dan menuntut kesempatan-kesempatan lain yang belum terjangkau, seperti yang sudah diuraikan oleh Rev Nicky Gumbel dan Count Leo Tolstoy sebelumnya.

Tanpa sadar, mereka terus berusaha melengkapi hidup dengan memenuhi dan mengisi ruang yang pertama saja! Padahal ruang kehidupan mereka yang kedua tetap kosong, terbengkalai dan tak terpuaskan, karena ruang itu masih terus menantikan SESUATU yang paling penting, yang dapat mengubah sikap hidup mereka!

Apakah atau SIAPAKAH, yang satu-satunya dapat mengisi dan memuaskan ruang kehidupan yang kedua? Apakah ruang tersebut terus menanti-nantikan kehadiran KASIH sejati, yang dapat memenuhi dan memuaskannya, seperti teriakan memilukan syair lagu ‘I Want to Know What Love is’?

“Sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” (Mazmur 107:9)

SANTAPAN KASIH

“Mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” (Yeremia 2:13)

Sebelum peristiwa kecelakaan lalu lintas yang terjadi pertengahan tahun 1997 di kota Paris, Perancis, yang mengakibatkan kematiannya yang menggemparkan berbagai media di seluruh dunia, almarhumah Lady Di (Puteri Diana) pernah mengutarakan kepedihan hatinya di depan umum: “Ada suatu perasaan tidak berdaya, dan terasingkan, yang mencekam diri setiap orang, yang mengakibatkan mereka merasa tidak mampu untuk mengarungi arus kehidupan modern yang kompleks ini. Pada akhirnya mereka harus mengakui, bahwa di dalam diri mereka ada sesuatu yang kurang, yang menyebabkan hidup mereka terasa hampa dan tidak lengkap.”

Puteri yang sepanjang hidup mudanya selalu dirundung malang tersebut akhirnya bercerai dari calon raja Inggris, Pangeran Charles. Ia merasa gagal setelah berkali-kali berusaha untuk memenangkan kembali cinta kasih suaminya, yang ternyata lebih mengutamakan isteri orang lain dari pada isteri sendiri. Oleh karena itu, di samping kesibukan sehari-hari sebagai seorang ‘celebrity’ yang mempromosikan perbuatan-perbuatan amal di dunia, ia terus berusaha untuk menemukan KASIH di tempat-tempat yang keliru, yang akhirnya mengakibatkan kematiannya yang tragis tersebut. Sampai sekarang peristiwa kecelakaan fatal yang menghebohkan itu terus mengolah spekulasi-spekulasi baru mengenai sebab-musababnya, yang selalu diikuti oleh pelbagai teori isapan jempol.

Yang amat menakjubkan, sebelum perceraian mereka berdua resmi dilaksanakan, pada suatu kesempatan lain bekas suaminya juga mengungkapkan di depan umum perasaan hampa di dalam hidupnya yang senada sekali dengan ucapan Lady Di: “Di tengah-tengah kemajuan pesat ilmu pengetahuan dunia, terasa ada suatu tekanan yang memilukan jiwa, yang terus-menerus mengingatkan, bahwa di dalam hidup ini ada sesuatu yang kurang. Sesuatu amat berarti, yang dapat memberi makna bagi hidup ini.”

Bagaikan Count Leo Tolstoy dan ‘celebrities’ lainnya, yang ternama dan amat kaya di dunia, taraf ‘kebahagiaan’ hidup kedua bangsawan Inggris ini sudah mencapai suatu tingkat yang selalu menjadi idaman setiap orang. Mereka termasyhur, dikagumi, dielu-elukan, kaya dan berkuasa, bahkan pada waktu itu Lady Di diakui oleh masyarakat dunia sebagai salah seorang puteri bangsawan yang cantik dan paling menarik. Karena asal-usul, pengaruh dan kedudukan mereka yang tinggi, selama hidup mereka tidak akan pernah kekurangan. Tetapi semua yang sudah berhasil mereka raih sesuai dengan standar kebahagiaan hidup yang ditentukan oleh masyarakat dunia, tidak bisa menggantikan SESUATU sangat berarti yang masih KURANG di dalam hidup mereka.

Bernard Levine, salah seorang kolumnis yang diakui termahir di dunia masakini, sering kali menyatakan keinginan hatinya untuk memahami misteri kehidupan umat manusia melalui karya-karya penanya. Suatu teka-teki hidup yang biasanya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan spontan di dalam benak pikiran setiap orang: “Apakah yang kita lakukan di dunia ini? Kita berasal dari mana? Ke manakah kita akan pergi? Siapakah sebenarnya kita? Apakah guna hidup ini?” Beberapa waktu yang lalu ia mengakui dengan terus terang, bahwa ia belum berhasil memecahkannya.

Sebuah kolom surat kabar pernah menampilkan salah satu komentarnya yang terkenal: “Negara-negara seperti negara kita (Inggris) dipenuhi oleh penduduk yang memiliki segala kebutuhan materi yang mereka inginkan. Sebagai keluarga-keluarga berbahagia terkadang mereka berdiam diri saja, tetapi tidak jarang mereka juga mengeluh penuh keputus-asaan, karena menyadari, bahwa ada sebuah lubang yang besar di dalam hidup mereka. Betapa pun banyaknya makanan dan minuman yang mereka tuangkan ke dalamnya, betapa pun banyaknya kendaraan-kendaraan mewah dan set-set televisi baru yang mereka sumbatkan di dalamnya, bahkan berapa pun banyaknya anak-anak yang patut dibanggakan disertai sahabat-sahabat setia yang mereka paradakan di tepi-tepinya, semua itu memilukan.”

Jelas sekali, kolumnis yang mengaku bahwa ia bukan seorang pengikut Kristus ini, sedang memperbincangkan ruang yang kedua, ruang kehidupan manusia yang tak terpuaskan. Laksana perut kedua yang terus menantikan kehadiran makanan pokok yang dirindukan oleh setiap orang, yaitu satu-satunya bahan makanan yang dapat mengisi kekosongannya, serta memuaskan kebutuhan diri mereka.

Bukankah Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sendiri sebagai ROTI HIDUP yang dapat memuaskan rasa lapar yang diderita oleh setiap orang? Bahkan Ia berkata, bahwa semua orang yang percaya kepada-Nya tidak akan pernah merasa haus lagi. Injil Yohanes pasal yang ke-6 ayat 25-59 membahas secara detil pernyataan Yesus mengenai tema ‘Roti Hidup’ tersebut.

‘Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yohanes 6:35)

Seandainya perkataan Tuhan Yesus tersebut ditujukan kepada orang-orang Asia, tentu Ia akan mengumpamakan diri-Nya sendiri sebagai NASI HIDUP, satu-satunya makanan pokok yang mampu memuaskan kebutuhan diri mereka.

Juga di dalam Injil yang sama pasal 4, dikisahkan pertemuan Tuhan Yesus dengan seorang wanita Samaria di kota Sikhar. Suatu pertemuan yang telah mengubah hidup perempuan yang mempunyai 5 suami dan sedang hidup di dalam dosa perzinahan dengan seorang laki-laki bukan suaminya. Pada waktu ia menimba air dari dalam perigi Yakub, Tuhan Yesus menyapa dan menawarkan kepadanya AIR HIDUP, yang akan menjadi mata air di dalam dirinya dan terus-menerus memancar keluar sampai kepada hidup yang kekal.

Melalui ayat-ayat termashyur yang mengibaratkan diri-Nya sebagai Roti Hidup atau Pemberi Air Hidup, Tuhan Yesus memberi jaminan kepada kita, bahwa Ia-lah satu-satunya KASIH yang selalu dicari-cari oleh setiap orang. Ia menjamin akan memenuhi dan memuaskan ruang kehidupan mereka yang kedua, bagaikan analogi makanan pokok yang dibutuhkan oleh perut kedua setiap orang. Satu-satunya pernyataan paling berani, yang tidak pernah diucapkan oleh para pemimpin agama-agama lainnya sepanjang masa!

Dengan kata lain Tuhan Yesus memproklamirkan, bahwa Dia saja yang mampu memuaskan rasa lapar dan dahaga yang diderita oleh setiap orang! Karena sesuai dengan isi firman Allah, dan terbukti sampai detik ini melalui kesaksian-kesaksian mereka yang sudah ‘lahir baru’, hanya Tuhan Yesus Kristus yang mampu memberi makna dan tujuan hidup yang berarti kepada umat manusia.

Jadi, … apakah sebenarnya makna dan tujuan hidup setiap insan di dalam dunia ini? Apakah guna hidup umat manusia?

‘Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:13-14)

ALLAH ADALAH KASIH

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10)

Jika ditinjau dari asal-usulnya, kata ‘Love’ (Kasih/Cinta) di dalam bahasa Yunani mempunyai arti yang berbeda-beda. Berdasarkan dongeng kuno kebudayaan negara tersebut, ‘Eros’, si dewa Cinta, telah menjadi penyebab awal pengertian kata cinta/kasih (eros) yang bersifat seksuil.

Sedangkan ‘Philia’, yang berasal dari kata ‘philos’, memberi pengertian cinta/kasih yang lebih merujuk pada sifat-sifat menggemari, menyukai atau mengasihi dengan mesra. Jadi kasih yang mempunyai arti lebih dalam dari pada kasih yang hanya berkisar pada hasrat tubuh belaka.

Tetapi sebuah kata Yunani lain: ‘Agape’, yang tertera di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, telah memberikan kepada kata cinta/kasih arti yang paling berbeda. Kasih ‘agape’ di situ berarti: kasih Allah Bapa, kasih Tuhan Yesus Kristus yang sejati, kasih kristiani, kasih yang murni, kasih tanpa syarat atau batas, kasih tanpa mengharapkan balasan, kasih yang mau berkorban, kasih yang memberi bukan meminta, kasih sorgawi! Inilah kasih abadi yang dapat menembus hati setiap insan di dunia serta mengubah kehidupan mereka.

Kasih ‘agape’ adalah satu-satunya kasih yang memberikan makna bagi hidup, yang selalu dirindukan oleh setiap orang, yaitu mereka yang tak henti-hentinya mengalami rasa hampa di dalam hidup, seperti yang sudah diulas sebelumnya oleh Rev Nicky Gumbel, Count Leo Tolstoy, Lady Di, Prince Charles, Bernard Levine, Mick Jones, atau … oleh para ‘celebrities’ termasyhur lainnya. Bahkan kasih ‘agape’ adalah kasih yang dialunkan oleh suara lantang penyanyi tenar Lou Gramm di dalam syair lagu: ‘I Want to Know What Love is’, suatu jeritan pilu yang mewakili kerinduan hati setiap orang guna mengetahui rahasia makna hidup mereka di dunia.

Pada masa pelayanan-Nya, Tuhan Yesus menjelaskan melalui kiasan roti (atau nasi), yang merupakan satu-satunya makanan pokok manusia bagi perut mereka yang kedua, bahwa Ia adalah Kasih itu sendiri, satu-satunya Firman Allah, makanan pokok (rohani) manusia bagi ruang kehidupan mereka yang kedua, yang dapat memenuhinya, serta memuaskan diri mereka.

Semenjak kehadiran dosa di dalam hidup umat manusia, semua orang menjadi SANGAT tidak kudus di hadapan Pencipta mereka, Allah Bapa Yang Mahakudus. Dosa-dosa itu menghalangi hak mereka untuk bisa langsung menghadap kepada-Nya. Tanpa kehadiran Tuhan Yesus Kristus sebagai ‘Perantara’ (Firman/Kasih) di dalam ruang kehidupan yang kedua, semua orang akan selalu merasa tidak puas, karena mereka tidak pernah bisa mengetahui, atau mengerti makna dan tujuan kehadiran mereka di dunia.

Makna dan tujuan hidup umat manusia adalah untuk mengenal secara pribadi Allah Bapa di sorga, sebab Ia rindu untuk mengaruniakan kasih ‘agape’ kepada umat-Nya melalui persekutuan yang intim dengan mereka, seperti persekutuan mula-mula dengan umat ciptaan-Nya yang pertama, Adam dan Hawa, sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu tanpa kehadiran Tuhan Yesus Kristus melalui Roh Kudus, yaitu KASIH itu sendiri, guna melayakkan dan menguduskan diri mereka, semua orang tidak akan pernah bisa menghadap Pencipta mereka. Karena makna dan tujuan hidup umat manusia adalah untuk mengetahui kehendak Tuhan, serta melakukannya, seperti contoh yang sudah diperlihatkan oleh Yesus kepada para pengikut-Nya.

Suatu hal yang paling menyedihkan bagi mereka yang sudah ‘menyelesaikan’ masa hidup di dunia adalah kenyataan, bahwa mereka telah melalui semua itu tanpa mengetahui atau mengerti makna dan tujuan hidup mereka.

Helmut Thielicke, seorang ahli ilmu agama Kristen, pernah menyinggung masalah tersebut dengan menulis: “Tuhan telah menentukan di akhir kehidupan setiap orang suatu peran gilang-gemilang di dalam pertunjukan yang disutradarai oleh-Nya, tetapi mereka mengabaikannya, karena melewatkan semua kesempatan-kesempatan indah yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada mereka sebelumnya.”

Semenjak hadirnya dosa di dunia, dengan licin sekali Iblis berusaha mengelabui mata umat manusia untuk mengalihkan fokus tujuan utama hidup mereka. Tipuannya mengiming-imingkan kepada mereka kasih ‘eros’ yang bersifat sementara, supaya mereka gagal menemukan KASIH ‘agape’, kasih yang abadi. Mereka terjebak oleh ‘kenikmatan’ sejenak yang sering kali justru mengakibatkan hati terasa pilu, sedih, hampa dan putus asa, bahkan tidak jarang disusul oleh tindakan-tindakan nekat membabi-buta yang biasanya … berakhir di alam maut. Karena Iblis, bapa segala dusta, mempunyai rancangan-rancangan yang berlawanan sekali dengan rencana kasih ‘agape’ Allah Bapa, yaitu hidup yang kekal.

Tuhan Yesus mengatakan: “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” (Yohanes 8:44)

Ps Rick Warren, seorang pendeta senior sebuah gereja Baptis di Amerika Serikat, serta penulis buku kristiani terlaris di dunia masakini: ‘The Purpose Driven Life’, telah menamai bab pertama buku tersebut dengan judul: ‘Semuanya Dimulai dengan Allah’.

Kalimat-kalimat yang mengawali isi buku luar biasa tersebut berbunyi: “Semua itu bukan mengenai engkau. Makna hidupmu jauh lebih besar dari pada segala sesuatu yang telah engkau capai, damai sejahteramu, atau kebahagiaanmu. Semua itu jauh lebih besar dari pada keluargamu, karirmu, bahkan impian-impianmu yang paling mustahil dan ambisi-ambisimu. Jika engkau ingin tahu, mengapa engkau ditempatkan di atas planet ini, engkau harus memulainya dengan Allah. Engkau dilahirkan oleh kehendak-Nya dan untuk kehendak-Nya.”

Suatu kutipan yang menyimpulkan segala-galanya bagi setiap orang yang sedang menelusuri makna hidup mereka di dunia, karena kenyataannya tidak dapat disangkal lagi: Bukan kita atau kepentingan diri kita sendiri yang seharusnya menjadi pusat kehidupan, tetapi Allah! Dia-lah pusat hidup segenap umat manusia, karena semua yang diciptakan diawali dengan Dia, yang adalah Kasih itu sendiri!

Selain di dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pertama, yang membahas tema KASIH, yaitu pribadi Allah (1 Korintus 13:1-13), rasul Yohanes juga menulis mengenai tema yang sama di dalam suratnya yang pertama: “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16)

“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai KASIH, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (1 Korintus 13:3)

KASIH YANG MEMUASKAN

‘Kata Yesus kepadanya: “Akulah JALAN dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

Count Leo Tolstoy nyaris tersesat seperti yang telah diuraikan oleh Helmut Thielicke, karena kesalahan-kesalahan penerapan upayanya yang selalu berkisar sekitar kepentingan dirinya sendiri, dan bukan berpusat pada Tuhan seperti anjuran Ps Rick Warren di awal bukunya, ‘The Purpose Driven Life’.

Menjelang usianya yang lanjut, Tolstoy memutuskan untuk mengundurkan diri dari tekanan hidup yang ‘hectic’ di tengah-tengah kebisingan kota metropolitan, dan membawa keluarganya pindah dari sana untuk bermukim di desa. Di luar kesadarannya sendiri, ia hidup dikelilingi oleh para petani yang beriman pada Kristus, yang kemudian berhasil membimbing dia untuk mengetahui makna hidupnya. Akhirnya Tolstoy berhasil menemukan KASIH abadi, yang semenjak saat itu selalu menjadi pusat kehidupannya.

Membaur bersama para petani kristiani yang hidup sederhana, tetapi penuh sukacita, ia menyadari kesia-siaan harta kekayaannya, kemasyhuran namanya, bahkan segala sesuatu yang sudah berhasil diraih olehnya. Semua detil mengenai kesaksian pertobatan hidupnya yang amat kompleks tersebut dapat ditemukan di dalam buku klasik tulisannya: ‘A Confession and What I Believe’.

Raja Salomo menulis: “Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?” (Pengkhotbah 2:25) Di situ ia ingin mengajarkan, bahwa kehidupan yang tidak berpusat pada Tuhan adalah kehidupan yang tidak berarti, tidak memuaskan, dan tidak bermakna.

Di dalam semua Injil Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menyatakan di depan umum asal-usul kedatangan-Nya di dunia. Dan kepada murid-murid-Nya Ia memberitahukan, bahwa tidak lama lagi Ia akan kembali ke tempat itu. Suatu pernyataan kontroversiil yang pada masa itu tidak mudah untuk dapat dicernakan begitu saja oleh daya pikiran mereka yang amat terbatas. Menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tuduhan-tuduhan orang-orang Yahudi yang memendam rasa benci terhadap diri-Nya, Yesus berkata kepada mereka, bahwa Ia sudah ada jauh sebelum Abraham ada.

‘Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yohanes 8:58) Di dalam bahasa Inggris (NKJV), ayat tersebut memberikan suatu pengertian yang jauh lebih dalam lagi: ‘Jesus said to them, “Most assuredly, I say to you, before Abraham was, I AM.”

Selain pernyataan mengenai asal mula Tuhan Yesus yang diterangkan dengan jelas sekali di awal Injil Yohanes: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1), rasul Yohanes juga menambahkan: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” (Yohanes 1:18)

Pada malam perjamuan terakhir, sebelum Tuhan Yesus menubuatkan tindakan rasul Petrus yang akan menyangkal diri-Nya 3 kali, Ia menyatakan kepadanya: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” (Yohanes 13:36)

Yesus juga berusaha menghibur murid-murid-Nya pada malam yang sama: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” (Yohanes 14:1-2) Suatu pernyataan disertai janji luar biasa, yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri dengan penuh ketegasan kepada mereka!

Bahkan ketaatan hidup-Nya juga direkam di dalam Injil tersebut: ‘Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34)

Pernyataan-pernyataan Tuhan Yesus tersebut membuktikan, bahwa selama Ia melayani di dunia, Ia adalah satu-satunya orang yang mengetahui makna dan tujuan hidup-Nya. Karena Ia mengetahui asal-usul-Nya, apa yang harus dilakukan oleh-Nya di dunia, dan akhirnya, ke mana Ia akan pergi. Berbeda sekali dengan mereka yang selalu mempertanyakan: “Kita berasal dari mana? Siapakah sebenarnya kita? Apakah yang kita lakukan di dunia? Apakah guna hidup ini? Ke manakah kita akan pergi?”

“Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yohanes 16:28)

Yang paling menakjubkan, kejadian-kejadian luar biasa sekitar kelahiran, pelayanan, kematian, penguburan dan kebangkitan-Nya, telah diberitakan oleh para nabi Allah beribu-ribu tahun sebelumnya. Begitu pula kedatangan-Nya kembali ke dunia di akhir zaman. Tidak ada seorang pun yang (pernah) hidup di atas planet ini, baik orang-orang biasa, maupun pelopor-pelopor (agama) terpenting di dalam sejarah dunia, yang dinubuatkan dengan begitu detilnya oleh banyak orang dari berbagai masa, dan yang kemudian digenapi secara akurat sekali seperti semua peristiwa yang terjadi di dalam hidup Tuhan Yesus Kristus.

Berlainan dengan ajaran para pelopor agama-agama lain, yang menawarkan pelbagai-macam anjuran, wejangan, serta bimbingan-bimbingan penuh kebijaksanaan kepada pengikut-pengikut mereka untuk menemukan solusi bagi teka-teki hidup tak terpecahkan, Tuhan Yesus adalah satu-satunya pelopor agama yang berani mengikrarkan dengan tegas sekali kepada para pengikut-Nya, dan kepada umum, bahwa Ia adalah JAWABAN bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Selain Ia adalah KASIH itu sendiri, Tuhan Yesus juga tidak pernah membantah orang-orang di sekeliling-Nya yang menjuluki Dia sebagai: Nabi, Raja, Mesias, Anak Allah, Tuhan atau Allah. Bahkan Ia mengibaratkan diri-Nya sendiri sebagai JALAN KEHIDUPAN, satu-satunya jalan yang menghubungkan umat manusia kepada Allah Bapa di sorga, atau sebagai PINTU yang bisa membawa mereka kepada keselamatan hidup.

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” (Yohanes 10:9)

Mengakui Yesus di dalam hidup kita sebagai Tuhan, Mesias, Anak Allah, bahkan Allah, adalah kunci terpenting bagi kita untuk bisa bersekutu secara intim dengan Allah Bapa di sorga. Melalui pengakuan kita yang tulus dari hati nurani yang terdalam, dengan segera Ia menyatakan makna dan tujuan hidup kita bagi kemuliaan nama dan kerajaan-Nya. Perhatikanlah apa yang terjadi setelah rasul Petrus dengan tulus mengakui Yesus sebagai Juruselamatnya.

‘Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Matius 16:16-19)

Tuhan Yesus Kristus adalah KASIH yang dapat memberi kepuasan kepada mereka yang mencari makna dan tujuan hidup di dunia. Karena hanya melalui Dia yang bersemayan di dalam ruang kehidupan yang kedua setiap orang, asal-usul mereka, apa yang harus dilakukan di dunia, dan ke mana mereka akan pergi bukan merupakan suatu teka-teki hidup tak terpecahkan lagi. Tuhan Yesus sendiri yang akan membuka mata hati mereka, serta memuaskannya!

Nabi Yeremia menyampaikan pesan TUHAN kepada kaum Yehuda: “Sebab Aku akan membuat segar orang yang lelah, dan setiap orang yang merana akan Kubuat puas.” (Yeremia 31:25)

“Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Matius 11:27)

KASIH YANG MEMBENARKAN

‘Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan KEBENARAN dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

Banyak orang mempertanyakan arti kebenaran, bagaikan Pontius Pilatus, gubernur Romawi atas Yudea, yang bertanya langsung kepada Tuhan Yesus di gedung pengadilan, sebelum Ia dijatuhi hukuman mati atas paksaan permintaan orang-orang Yahudi: “Apakah kebenaran itu?” (Yohanes 18:38a)

Pertanyaan tersebut dilontarkan olehnya sebagai suatu tanggapan atas pernyataan Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” (Yohanes 18:37b)

Kebenaran kristiani adalah kebenaran umum! Jika benar, itu adalah kebenaran bagi semua orang. Tetapi jika tidak benar, maka itu sama sekali bukan kebenaran bagi mereka! Karena kepercayaan kristiani hanya dilandaskan pada kebenaran Injil tentang kelahiran, kehidupan, pelayanan, penyaliban, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, begitu juga kedatangan-Nya kembali ke dunia. Oleh karena itu, jika kekristenan terbukti benar, ‘takdir’ kehidupan abadi setiap orang setelah meninggalkan dunia, sangat tergantung pada sikap mereka di dalam menanggapi kebenaran tersebut. Suatu peringatan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri melalui Injil Yohanes 14 ayat 6!

Kebenaran firman Tuhan harus diterima seluruhnya, bukan hanya sebagian kecil atau sebagian besar saja. Karena Alkitab adalah kebenaran bersejarah yang dicatat oleh orang-orang yang mengenal Dia dengan akrab, dan juga oleh mereka yang dipanggil untuk menjadi saksi-saksi bagi kerajaan Allah setelah kenaikan-Nya ke sorga.

Rasul Petrus menulis tentang kebenaran yang dialami olehnya sendiri: ‘Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.’ (2 Petrus 1:16-18)

Begitu pula rasul Yohanes yang menulis pengalamannya di dalam Injil ke-4: “Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.” (Yohanes 19:35)

Sekali lagi, kebenaran kristiani adalah kebenaran umum! Tidak ada kebenaran yang hanya berlaku bagi sebagian orang saja, tetapi tidak berlaku bagi orang-orang lain. Kebenaran bagi seseorang adalah kebenaran bagi semua orang! Oleh karena itu, kebenaran bukan hanya berguna untuk sekelompok orang yang memerlukannya, yang mau menjadi pengikut-pengikut Kristus, tetapi juga untuk orang-orang lain yang belum mengetahuinya, bahkan … untuk mereka yang menolaknya!

C S Lewis, salah seorang ahli ilmu agama Kristen yang sangat termasyhur di dunia, pernah mengutarakan pendapatnya: “Agama Kristen adalah suatu pernyataan, yang jika salah, tidak mempunyai arti penting sama sekali, tetapi jika benar, adalah suatu kepentingan yang tidak ada batasnya! Satu hal yang tidak mungkin, adalah kepentingan yang asal-asalan saja.”

Apakah Alkitab memberitakan Injil yang benar-benar terjadi? Apakah Yesus, yang tercatat di situ telah melakukan begitu banyak mujizat-mujizat luar biasa 2000 tahun yang lalu, bukan seorang tokoh khayalan? Apakah pernyataan para pengikut Kristus mengenai KASIH yang mereka beritakan dapat dipertanggung-jawabkan? Dan oleh karena itu, … apakah kebenaran agama Kristen merupakan suatu kepentingan yang tidak ada batasnya, seperti salah satu kemungkinan yang sudah dikatakan oleh C S Lewis?

Para ahli ilmu pengetahuan yang amat termasyhur sepanjang masa, yang direkam di dalam sejarah sebagai penemu-penemu pelbagai-macam ilmu-ilmu baru yang berguna bagi segenap umat manusia di dunia, mengakui kekompleksan misteri alam semesta yang tidak dapat dipecahkan begitu saja dengan menggunakan tingkat kecerdasan (IQ) mereka yang sangat tinggi.

Banyak di antara para cendekiawan tersebut juga menolak mempercayai isi Alkitab. Keinginan mereka untuk melakukan penelitian pribadi guna membuktikan ketidak-benaran berita Injil, justru mengakibatkan banyak di antara orang-orang termasyhur itu akhirnya menyerahkan diri mereka kepada Tuhan, dan menjadi hamba-hamba-Nya (pendeta).

Tokoh-tokoh PALING cerdas di dunia sepanjang masa seperti Boyle, Calvin, Faraday, Galileo, Kepler, Koch, Lister, Lodge, Maxwell, Mendel, Newton, Pasteur, Simpson dan banyak ‘scientists’ lainnya mengakui kenyataan penemuan mereka sendiri, bahwa kebangkitan Yesus 2000 tahun yang lalu benar-benar terjadi!

Kebenaran tidak dapat diterima mempergunakan kecerdasan akal pikiran manusia saja, tetapi hanya bisa diakui sebagai suatu kebenaran, jika lubuk hati mereka yang paling dalam bisa ‘melihat’-nya melalui mata KASIH di dalam hidup mereka. Karena kebenaran bukan monopoli orang-orang ‘berotak’ saja, melainkan berlaku bagi semua orang dari berbagai-macam lapisan masyarakat, dengan latar belakang yang beraneka-ragam, dari orang-orang biasa sampai yang paling intelek. Kebenaran tidak pernah memandang bulu!

Rasul Paulus menulis di dalam suratnya kepada jemaat di Roma: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah sudah membangkitkan Dia dari antar orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Roma 10:9-10)

Dan kepada jemaat di Korintus ia juga memperingatkan: ‘Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa … tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.’ (1 Korintus 12:3)

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Matius 5:6)

KASIH (Kristus) adalah pokok seluruh kebenaran, yang dipakai sebagai standar untuk mengukur dan membandingkan bukti-bukti kebenaran-kebenaran lainnya di dunia. Menurut pengertian orang-orang Yahudi pada masa pelayanan Yesus, kebenaran bukan merupakan pengetahuan yang tertanam di dalam otak saja, tetapi yang ada dan yang dapat dirasakan di dalam hati. Ketika Yesus berkata: “Akulah KEBENARAN”, Ia mempunyai maksud untuk mengajar para pengikut-Nya, bahwa mereka bisa mengalami kebenaran melalui persekutuan yang intim dengan diri-Nya. Ternyata pernyataan Yesus tersebut terbukti sampai sekarang!

Untuk bisa memahaminya lebih dalam, sebuah kiasan yang amat sederhana menyimpulkannya secara gamblang sekali.

Akhir-akhir ini di Australia ‘Internet Dating’ merupakan salah satu industri yang paling menguntungkan para pengelolanya. Situs-situs semacam itu tumbuh pesat bagaikan jamur-jamur liar di kota-kota besar, untuk melayani kebutuhan orang-orang yang terlampau sibuk dengan karir mereka. Tidak jarang situasi tersebut menyebabkan mereka kehilangan waktu lenggang guna menemukan pasangan hidup secara tradisionil, baik bagi mereka yang sudah ‘terlambat’ usianya, maupun yang masih muda belia.

Bagi kasus-kasus perkenalan yang jujur dan berhasil, berkencan melalui surat-surat elektronik dunia sibernetika, melukiskan dengan kata-kata raut muka masing-masing, bentuk tubuh, pendidikan, tabiat, minat, kegemaran dan lain sebagainya, biasanya oleh karena rasa cocok yang timbal-balik, berakhir dengan terjalinnya tali persahabatan. Pada saat itu sikap ‘saling menyukai’ karena merasa cocok hanya tertanam di dalam benak pikiran mereka saja, berdasarkan semua data yang telah mereka baca!

Tetapi ketika mereka bertemu muka, dan menjalin persekutuan pribadi untuk pertama kalinya, rasa suka berdasarkan ‘pengetahuan’, yang awalnya berada di dalam benak pikiran mereka, langsung bersemi di dalam hati. Karena segala data mengenai kawan kencan yang telah mereka ketahui lewat layar komputer, dibuktikan kebenarannya melalui pengalaman yang mereka lalui bersama! Mengakui kebenaran adalah seperti memindahkan semua data yang kita ketahui dari dalam otak, melalui suatu pengalaman pribadi, ke dalam hati.

Jawaban Tuhan Yesus atas pertanyaan Pontius Pilatus mengenai kebenaran kedudukan-Nya sebagai Raja orang-orang Yahudi menegaskan penjelasan di atas: “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?” (Yohanes 18:34)

Analogi ‘Internet Dating’ sejati yang berakhir dengan berhasil, melukiskan pengalaman orang-orang kristiani yang mau menjalin persekutuan intim dengan Allah Bapa di sorga. Melalui pengalaman itu, pengetahuan firman Tuhan yang sebelumnya tertanam di dalam otak, dipindahkan dan diukir di dalam hati sebagai suatu kebenaran yang mutlak! Tuhan Yesus saja, melalui kuasa Roh Kudus, memungkinkan proses itu terjadi!

Agama Kristen tidak hanya menyatakan, bahwa Yesus sudah bangkit 2000 tahun yang lalu, karena kejadian tersebut dicatat oleh para saksi matanya di dalam Alkitab, tetapi kekristenan adalah suatu pernyataan di mana kebenaran kebangkitan-Nya dibuktikan melalui kesaksian-kesaksian para pengikut-Nya, yang hingga saat ini tanpa ragu-ragu mengatakan, bahwa mereka TAHU Yesus hidup! Mereka berani mengikrarkan kebenaran tersebut, karena mereka selalu bertemu dan bercakap-cakap dengan Dia!

Alkitab mengibaratkan hubungan Allah Bapa dengan umat-Nya laksana persekutuan intim dua insan yang saling mengasihi. Di dalam Perjanjian Lama, Ia memulainya dengan umat pilihan-Nya yang pertama, bangsa Israel, yang sering kali dikiaskan di sana sebagai seorang istri yang tidak setia. Tetapi … kendatipun perbuatan mereka jahat, dan sering kali menyakitkan hati-Nya, TUHAN tetap mengasihi mereka tanpa syarat, dengan kasih ‘agape’.

Di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru hubungan Tuhan dengan umat-Nya (gereja Tuhan atau mempelai wanita) diakhiri dengan klimaks KISAH CINTA tersebut, yaitu perkawinan yang akan mengikat persekutuan mereka secara abadi. Firman Tuhan di Wahyu 19:6-10 melukiskan peristiwa itu sebagai perjamuan kawin Anak Domba. Sepanjang sejarah dunia dari awal sampai akhir (nanti), KASIH dan hubungan kasih ‘agape’ telah menjadi dasar pokok seluruh kebenaran firman Allah. Tuhan Yesus menyatakan melalui ‘e-mail’ kepada jemaat di Laodikia, bahwa Ia-lah yang dari semula memprakarsai persekutuan intim dengan umat-Nya di sana.

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Wahyu 3:20)

Tantangan serupa juga ditujukan kepada umat-Nya sekarang. Apakah kita bersedia menyambut tawaran ‘e-mail’ Tuhan Yesus, membuka pintu hati kita, dan menerima Dia sebagai kebenaran KASIH di dalamnya?

Pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus melalui Roh Kudus, yang disebut ‘Lahir Baru’, akan membuka semua kebenaran Injil kepada kita mengenai kelahiran, kehidupan, pelayanan, penyaliban, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Bahkan kedatangan-Nya kembali ke dunia untuk kedua kalinya, terasa bagaikan suatu janji pribadi (perseorangan) kepada kita yang amat nyata! Karena Ia sendiri yang menjamin kebenaran tersebut kepada kita!

“Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Matius 24:30)

Tuhan Yesus tidak hanya ‘membenarkan’ kita di hadapan Allah Bapa, tetapi juga membukakan segala ‘kebenaran’ yang tidak kita sadari sebelumnya! Yesus berkata: “…, tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26)

Tuhan Yesus Kristus sudah bangkit 2000 tahun yang lalu! Saat ini Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa di sorga, tetapi melalui Roh Kudus, Ia bekerja di tengah-tengah umat-Nya, bahkan di dalam hati setiap orang yang mengasihi-Nya.

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3)

KASIH YANG MEMBEBASKAN

‘Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan HIDUP. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

Tuhan Yesus tidak hanya memberi kepuasan hidup, serta menjamin kebenaran setiap orang yang mau menerima Dia di hadapan Allah Bapa, Ia juga mengaruniakan kepada kita kebebasan HIDUP yang sejati. Hidup di dalam kebenaran KASIH, yang menghalau rasa takut, kuatir, duka, sesal dan lain-lainnya, semua yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan dosa yang pernah kita lakukan. Inilah kebebasan terpenting yang sangat diperlukan oleh setiap insan di dunia.

Rasul Yohanes yang membahas mengenai KASIH, menulis: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18)

KASIH membebaskan kita dari rasa menyesal, rasa bersalah, kecanduan, keinginan untuk melakukan dosa-dosa yang sama, bahkan rasa takut akan konsekuensi-konsekuensinya. Setiap orang selalu menyadari perbuatan-perbuatan dosa yang pernah mereka lakukan, meskipun tidak jarang ada di antara mereka yang sengaja berusaha meniadakannya, dengan berpura-pura seolah-olah mereka tidak pernah menyadarinya!

Melakukan kesalahan-kesalahan yang diketahui sebagai dosa berbeda dengan kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan oleh karena keteledoran para pelakunya. Kekeliruan bisa terjadi di dalam bank – ketika menghitung uang tunai, di dalam dapur – ketika memasak santapan makan malam, di dalam kantor – ketika mengetik tuts-tuts ‘keyboard’ komputer, di dalam gereja – ketika menyanyikan lagu-lagu pujian dengan nada yang sumbang, dan lain sebagainya. Melakukan hal-hal yang keliru tidak membuat hati nurani kita tertekan atau merasa tertuduh, karena kekeliruan adalah bagian dari hidup, itu bukan dosa!

Tetapi melakukan kesalahan-kesalahan dosa dan akibat-akibatnya, akan selalu menghantui diri setiap orang. Kendatipun kita berusaha untuk meniadakannya, perbuatan-perbuatan dosa akan tetap tertanam di dalam benak pikiran kita, yang mau tidak mau mempengaruhi hati nurani dan sikap hidup para ‘pemiliknya’.

Iblis, yang dijuluki di Wahyu 12:10 sebagai pendakwa umat Tuhan, akan selalu berusaha untuk memastikan, bahwa kita tidak pernah melupakan tindakan-tindakan dosa yang jahat dan ‘memalukan’ tersebut. Pada setiap kesempatan yang kita berikan kepadanya, dosa-dosa itu dan seluruh konsekuensinya akan diparadakan di ‘depan’ kita.

Perasaan bersalah dan hal-hal serupa lainnya yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan dosa, seperti takut akan hukuman, takut mati, takut miskin, takut kehilangan orang-orang yang kita kasihi, takut kesepian dan lain sebagainya, pasti akan menimbulkan fobi di dalam hati setiap orang sepanjang masa, yang menyebabkan hidup mereka selalu merasa tertekan oleh beban-beban yang berat!

Perasaan-perasaan itulah yang sering kali menjadi penyebab utama kekosongan atau ketidak-puasan hidup setiap orang. Jika kita perhatikan sebab-sebabnya dengan lebih teliti, bukan merupakan sesuatu hal yang mengherankan, bahwa mereka harus menanggung penderitaan itu, karena alasan-alasan terjangkitnya rasa-rasa takut tersebut selalu berkisar sekitar kepentingan diri mereka sendiri. Ironis sekali, karena … tidak jarang justru perasaan takut mati yang diderita oleh seseorang, adalah pendorong utama tindakan-tindakan nekat mereka untuk membunuh diri!

Iblislah yang menjadi provokator segala rasa bersalah atau takut yang dialami oleh setiap orang, karena berlawanan dengan kehendak Allah Bapa, tujuan utamanya adalah untuk membinasakan hidup kita! Firman Tuhan memperingatkan, bahwa hidup di dalam dosa adalah seperti bekerja ‘full-time’ untuk sebuah ‘perusahaan’ milik Iblis, karena sebagai budak-budaknya lambat laun mereka semua akan di-‘gaji’ dengan maut. Berbeda sekali dengan tawaran kasih karunia Allah Bapa yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita, melalui pengorbanan Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus. Kita tidak perlu mengerjakannya lagi, karena semua sudah ditanggung dan dibayar oleh-Nya sendiri.

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23)

Tujuan kedatangan Kristus di dunia, selain untuk memberi hidup yang kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, adalah untuk membebaskan kita dari belenggu-belenggu dosa yang pernah, sedang, bahkan … yang akan kita lakukan. Itulah yang dimaksudkan dengan ‘Yesus sudah mati untuk menebus dosa-dosa kita’, agar kita mempunyai hidup!

Mungkin berkali-kali sebelumnya kita berusaha untuk memahami arti pengorbanan Yesus di kayu salib 2000 tahun yang lalu, tetapi selalu gagal untuk memahami maknanya, karena kita tidak bisa melihat sangkut-paut pengorbanan tersebut dengan masa sekarang! Rasul Paulus menjelaskannya dengan indah sekali kepada jemaat di Roma: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8) Inilah yang dimaksudkan dengan keajaiban kasih karunia Tuhan: kita menerima KASIH, pada saat kita tidak berhak untuk mendapatkannya!

Pengorbanan Yesus di bukit Golgota baru tampak jelas, dan menjadi relevan, ketika Ia membuka mata hati nurani kita dari ‘dalam’. Pada saat Ia menyatakan diri-Nya secara pribadi kepada kita, makna pengorbanan-Nya di kayu salib menjadi nyata, seperti yang dicatat oleh rasul Yohanes: “Dan kamu tahu, bahwa Ia sudah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.” (1 Yohanes 3:5)

Melalui pengorbanan-Nya, Yesus mengutarakan kepada umat yang mau menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, bahwa segenap dosa kita telah ditanggung oleh-Nya di kayu salib 2000 tahun yang lalu, sekali dan untuk selama-lamanya!

Itulah yang dimaksudkan oleh Injil, ketika Yesus menyerukan kata-kata memilukan ini: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” – “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34), yang menggambarkan pada saat itu terputusnya hubungan Yesus dengan Allah Bapa untuk menggantikan kedudukan kita. Dan ucapan terakhir di atas kayu salib: “Sudah selesai.” (Yohanes 19:30), yang berarti, bahwa makna dan tujuan hidup-Nya di dunia, yaitu untuk menyelamatkan umat manusia dari segala dosa mereka dan konsekuensi-konsekuensinya, yaitu maut, sudah diambil alih oleh Dia sekali dan untuk selama-lamanya!

Dengan kata lain, pengorbanan-Nya untuk segenap umat manusia pada saat itu sudah rampung! Tidak ada seorangpun setelah itu yang mempunyai hak untuk mengatakan, bahwa mereka akan atau harus meneruskan tugas Yesus untuk menggenapi rencana Allah bagi keselamatan hidup manusia, karena Ia gagal menyelesaikannya! Yesus sudah menggenapi seluruhnya, bahkan Ia memproklamirkannya sendiri di depan umum pada saat kematian-Nya!

Selain itu, ucapan terakhir Tuhan Yesus tersebut juga meneguhkan, bahwa semenjak pengorbanan-Nya di kayu salib berakhir, Ia tidak ingin melihat umat-Nya menderita lagi, karena Ia sudah menanggung seluruhnya, yaitu semua penderitaan mengerikan akibat dosa-dosa kita!

Tuhan Yesus bisa menghayati perasaan-perasaan kita, karena Ia pernah mengalaminya sendiri. Ia pernah hidup di tengah-tengah umat ciptaan-Nya, sebagai manusia sepenuhnya, hanya tanpa dosa. Kitab Ibrani mencatat: “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” (Ibrani 2:18)

Lagipula kebenaran janji Tuhan tidak pernah berubah, karena firman-Nya berkata: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8)

Percayakah Anda, bahwa kebenaran KASIH yang telah membebaskan umat manusia 2000 tahun yang lalu, masih tetap berlaku sampai sekarang? Perhatikanlah pengikut-pengikut Kristus di sekeliling Anda, mereka yang sedang mempraktekkan kasih (Kristus) sekarang, karena mereka adalah saksi-saksi-Nya yang hidup di akhir zaman. Haleluya!

“Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” (1 Korintus 3:3)

EPILOKASIH

‘Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.’ (1 Korintus 2:16)

Kekosongan hidup yang dilukiskan oleh rock group Foreigner di dalam lagu ‘I Want to Know What Love is’ mengemukakan kerinduan hati setiap orang untuk mengetahui makna dan tujuan hidup mereka di dunia. Mencapai standar-standar yang ditentukan oleh masyarakat umum tidak akan pernah bisa memenuhi kehampaan hidup yang mereka derita.

Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, harta kekayaan yang berkelimpahan, kemasyhuran nama, penampilan yang ‘sempurna’, keberhasilan karir pekerjaan, persahabatan yang sejati, perkawinan yang berbahagia, kemakmuran dan kesejahteraan hidup berkeluarga, kekuasaan dan pengaruh di dalam masyarakat, melakukan tindakan amal, dan lain sebagainya, hanya mampu untuk memuaskan ruang kehidupan manusia yang pertama secara sementara.

Tetapi ruang kehidupan yang kedua akan terus mendambakan makanan atau minuman pokok rohani yang ditawarkan dari sorga. Tuhan Yesus Kristus mengibaratkan diri-Nya sendiri sebagai Roti (Nasi) Hidup – bagi setiap orang yang selalu merasa lapar, atau Air Hidup – bagi mereka yang selalu merasa haus, karena Ia-lah satu-satunya KASIH ‘agape’ yang mampu memuaskan kebutuhan mereka untuk selama-lamanya.

Yesus adalah JALAN kehidupan yang menghubungkan diri kita kepada Allah Bapa di sorga. Hanya Dia yang dapat memberi kepuasan kepada setiap orang yang sedang menelusuri makna dan tujuan hidup mereka di dunia. Melalui persekutuan yang intim dengan Bapa, asal-usul kita, tindakan-tindakan yang harus kita lakukan di dunia, dan akhirnya ke mana kita akan pergi bukan merupakan suatu teka-teki hidup yang tak terpecahkan lagi!

Yesus adalah KEBENARAN hidup yang bukan hanya membenarkan diri kita di hadapan Allah Bapa saja, tetapi juga memberi kemampuan pada kita untuk memahami isi firman Tuhan. Catatan-catatan bersejarah di dalam Injil mengenai kelahiran, kehidupan, pelayanan, penyaliban, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, bahkan kedatangan-Nya kembali ke dunia untuk kedua kalinya, menjadi suatu pengertian yang amat nyata bagi mereka yang mengasihi-Nya! Karena Ia sendiri yang akan menjamin seluruh kebenaran tersebut!

Yesus adalah HIDUP yang dapat membebaskan kita dari belenggu-belenggu dosa yang pernah, sedang, dan akan kita lakukan. Ia juga membebaskan umat-Nya dari rasa menyesal, rasa bersalah, kecanduan, hasrat untuk melakukan dosa-dosa yang sama, bahkan rasa takut akan konsekuensi-konsekuensinya. Ia tidak ingin melihat kita tertekan oleh beban-beban tersebut lagi, sebab Ia sudah menanggung semuanya untuk kita di kayu salib, … sekali dan untuk selama-lamanya! Rasul Yohanes mengatakan: “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36)

Karena inti seluruh kebenaran KASIH ‘agape’ yang ditawarkan oleh Injil Tuhan Yesus Kristus kepada mereka yang merindukannya, disimpulkan di dalam sebuah ayat sederhana yang mempunyai arti luar biasa: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Keinginan Allah Bapa bagi umat-Nya adalah kekudusan yang mutlak, yang hanya dapat dipenuhi syaratnya melalui kehadiran Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, di dalam hidup mereka. Karena Ia rindu untuk selalu bersekutu dengan kita (gereja-Nya), laksana persekutuan dua insan yang sedang dimabuk cinta, setia dan saling mengasihi dengan kasih yang murni. Suatu persekutuan yang begitu intim, sehingga tidak memungkinkan menyusupnya pihak ketiga di dalamnya.

Kasih Bapa sudah dibuktikan melalui pengorbanan dan penderitaan Anak-Nya di kayu salib bagi keselamatan hidup kita. Yesus bersedia menjalani semuanya dengan sukarela, karena Ia sangat mengasihi Anda dan saya! Terbukti dari segala usaha yang sudah direncanakan dan dilakukan oleh-Nya semenjak dahulu kala untuk memprakarsai pemulihan hubungan akrab dengan umat-Nya yang telah terhalang, oleh karena perbuatan dosa Adam dan Hawa. Nabi Yesaya menyampaikan pesan kasih TUHAN kepada bangsa Israel untuk meneguhkan janji, yang sudah diberikan melalui Yakub: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” (Yesaya 43:1b)

Imbalan dari kita yang diharapkan oleh-Nya hanya … percaya dan mengaku, bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita (Roma 10:9-10). Kita harus mengundang Dia untuk masuk ke dalam hidup kita, menjadikan Dia pusat kehidupan, serta penolong di dalam setiap langkah yang akan kita lakukan. Oleh karena kepribadian Roh Kudus yang amat lembut dan penuh KASIH, Ia tidak akan mengharuskan kita untuk menerima tawaran-Nya tersebut. Mau ataupun tidak, keputusan yang terakhir selalu berada di tangan Anda dan saya!

Kehadiran KASIH di dalam hidup setiap orang pasti akan mentransformasi pribadi mereka. Secara supranatural Ia akan mengarahkan fokus hidup kita kepada hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan-kebiasaan yang selalu kita lakukan sebelumnya.

Menyadari kehadiran KASIH di dalam hati kita, adalah bagaikan harapan yang diutarakan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Efesus: “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Efesus 3:18-19)

Sedikit demi sedikit kita diubahkan oleh-Nya menjadi orang-orang yang selalu kita inginkan, yang mengetahui makna dan tujuan hidup kita, merasa puas dengan segala yang ‘tersedia’, bersyukur dan menyadari karunia-karunia yang kita miliki. Bahkan yang terpenting, kita akan menjadi berkat bagi mereka yang memerlukannya! Pada saat kita merasa lemah, Ia akan menguatkan diri kita. Pada saat hati kita merasa bimbang, Ia-lah Pendorong dan Penghibur kita. Pada saat kita merasa gagal dan tidak layak sama sekali, Ia akan mengingatkan, bahwa kita adalah biji-biji mata-Nya yang paling berharga!

Dengan bantuan Roh Kudus, kita dapat ‘melihat’ penyebab-penyebab kehampaan hidup yang pernah kita alami sebelumnya, atau yang sedang dialami oleh orang-orang lain. KASIH-Nya (bukan ‘kasih’ kita) yang akan memampukan segalanya. Karena kehendak Allah Bapa di sorga adalah, untuk melihat diri kita diubahkan selalu, dan akhirnya … menjadi sama seperti Anak-Nya, kudus dan tidak bercela di hadapan hadirat-Nya! Itulah sebenarnya makna dan tujuan utama hidup segenap umat manusia!

Jawaban bagi orang-orang yang sedang mencari atau mempertanyakan makna dan tujuan hidup mereka, seperti yang sudah diutarakan oleh rock group Foreigner di dalam syair lagu: ‘I Want to Know What Love is’, adalah syair dari sebuah lagu kristiani terkenal karya Andrae Crouch: ‘Jesus is THE ANSWER’ (Yesus-lah JAWABANNYA)! Karena Yesus, Nama di atas segala nama, sanggup menjawab semua pertanyaan yang ada, dan akan memecahkan segenap teka-teki hidup manusia di dunia, bagi mereka yang mempunyai hasrat untuk menelusurinya.

Jesus is THE ANSWER, for the world today (Yesus-lah JAWABANNYA, bagi keadaan dunia masakini)
Above Him there’s no other, Jesus is THE WAY (Di atas Dia tidak ada yang lain, Yesus-lah JALANNYA)

“Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yohanes 14:20)

Jika Anda merasa tertarik pada artikel ‘Kasih: I Want to Know What Love is’, dan oleh karena itu, bersedia mengorbankan waktu Anda untuk mengikutinya dengan penuh kesabaran sampai bab yang terakhir ini, lalu merasa, bahwa beberapa di antara tema-tema yang saya uraikan di atas bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup yang sedang membebani diri Anda, saya yakin hal itu bukan kebetulan.

Apabila Anda membaca ayat ini: ‘Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yohanes 11:25-26), dan … Anda menjawab: “PERCAYA!”, maka Anda telah menerima kebenaran yang ditawarkan oleh firman Tuhan. Ingatlah akan uraian sebelumnya, bahwa kebenaran kristiani adalah kebenaran umum, dan kebenaran firman Tuhan tidak bisa diterima hanya sebagian kecil saja, melainkan harus diterima keseluruhannya.

Perhatikanlah poin-poin yang terdaftar di bawah ini. Kendatipun tidak lengkap mewakili semua perubahan yang akan terjadi di dalam hidup setiap orang yang mengenal Dia secara intim, perhatikanlah, apakah ada beberapa di antaranya yang bisa merangsang hasrat Anda untuk menemui KASIH secara pribadi?

Jika Anda memiliki DIA (KASIH) di dalam hidup Anda:

Anda akan merasa gentar terhadap Tuhan dan kedahsyatan Nama-Nya yang penuh kuasa
Anda akan mengasihi Dia melebihi segala-galanya, baik orang-orang yang Anda kenal maupun harta yang Anda miliki
Anda akan menjadi haus untuk mengetahui lebih lanjut makna dan tujuan hidup Anda, dengan terus mempelajari firman-Nya yang hidup, … bersama dengan Dia
Anda akan selalu berdialog dengan Tuhan melalui doa, mengungkapkan isi hati Anda, dan kemudian sabar menantikan jawaban-Nya
Anda akan menyadari, bahwa segala penderitaan dan pengorbanan Yesus di kayu salib, dilalui ‘khusus’ untuk menyelamatkan diri Anda
Anda akan berhenti berbuat dosa
Anda akan membenci dosa, dan bukan para pelakunya
Anda akan menghormati orang tua dan mengasihi keluarga Anda, lebih dari sebelumnya
Anda akan merasa yakin, bahwa Ia selalu menyertai, menghibur dan menjaga Anda, bahkan mengirimkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi diri Anda
Anda akan selalu rindu untuk memuji dan menyembah Dia melalui dendang lagu-lagu yang mendadak muncul dari dalam hati Anda
Anda akan selalu bersyukur kepada-Nya di dalam segala perkara
Anda akan memuja Tuhan, oleh karena kedahsyatan ciptaan-Nya, dan bukan kebalikannya
Anda akan mempunyai kerinduan yang besar untuk melihat orang-orang lain di sekitar Anda juga diselamatkan
Anda akan menyadari, bahwa semua yang Anda miliki adalah milik Tuhan
Anda akan ikut bekerja di ladang-Nya dengan sukarela, dan bukan untuk mencari keuntungan
Anda akan menyadari, bahwa Tuhan-lah yang mempromosikan diri Anda, itu bukan usaha manusia, atau usaha Anda sendiri
Anda akan selalu bersedia untuk mendukung pekerjaan gereja Tuhan, moril maupun materiil, tanpa ragu-ragu atau merasa sayang untuk melakukannya
Anda akan memberkati sesama manusia secara ‘tersembunyi’, karena merasa takut, bahwa Anda akan mencuri kemuliaan-Nya
Anda akan menyadari, bahwa segala ‘perbuatan baik’ Anda bukan untuk dikagumi manusia
Anda akan menghargai dan menghormati ‘authority’, meskipun tindakan-tindakan mereka menurut Anda keliru
Anda akan mengasihi saudara-saudara seiman Anda yang mengasihi Kristus, meskipun mereka berasal dari denominasi yang lain
Anda akan mengakui, bahwa kekurangan-kekurangan saudara-saudara seiman kita tidak berbeda jauh dengan kekurangan-kekurangan Anda sendiri
Anda akan menyetujui, bahwa hanya Tuhan Yesus Kristus saja yang sempurna!
Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, perubahan-perubahan hidup di dalam KASIH selalu terjadi secara bertahap, tergantung pada kedewasaan iman kita. Jika Anda merasa, bahwa salah satu (atau beberapa) dari poin-poin yang terdaftar di atas sudah terjadi setelah Anda menerima Dia sebagai Juruselamat Anda, … itulah tanda mula-mula kehidupan di dalam KASIH yang sangat mengesankan dan relevan sekali dengan keadaan dunia masakini, karena Anda sedang dipersiapkan oleh Tuhan untuk menghadapinya. Ingatlah selalu, hanya KASIH-Nya (bukan ‘kasih’ kita) yang memampukan diri Anda dan saya.

Apabila Anda mempunyai DIA (KASIH), semua peristiwa dan kejadian-kejadian yang menguasai media dunia dewasa ini tidak akan menyebabkan hati Anda merasa resah! Peperangan antar suku/bangsa, kekejaman terorisme yang semakin menggila, bencana-bencana alam dahsyat yang mengerikan, tindakan-tindakan kriminil yang membabi-buta, timbulnya berbagai-macam penyakit-penyakit ‘baru’ di dunia yang mengherankan, penyembahan-penyembahan berhala (mencintai diri sendiri, uang, kekayaan, materialisme), sikap yang suka memberontak terhadap ‘authority’ – terutama terhadap Tuhan, toleransi akan perbuatan-perbuatan dosa yang sudah ‘direstui’ oleh masyarakat, dan lain sebagainya, … peristiwa-peristiwa seperti itu tidak akan membuat hati Anda merasa takut atau gelisah!

Karena Anda tahu dengan pasti, bahwa DIA (KASIH) yang berdiam di dalam diri Anda, berkuasa di atas segala-galanya. Bahkan Anda bisa memahami masalah-masalah tersebut sebagai sebagian kecil saja dari pelbagai tanda akhir zaman yang harus terjadi. Ia akan menjelaskannya secara pribadi kepada Anda, membuka mata hati nurani Anda, karena semua itu sudah dinubuatkan oleh Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu, … dengan detil sekali.

‘Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah, jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru. Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, … .” (Matius 24:4-9)

“Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.” (Yohanes 16:2)

Jika Anda mempunyai hasrat untuk hidup selama-lamanya di dalam kasih Tuhan, mengetahui dengan pasti makna dan tujuan hidup Anda, maka Anda harus membuka pintu hati, mengundang dan menerima Dia yang sedari awalnya telah memprakarsai pemulihan hubungan intim dengan diri Anda. Ketahuilah, bahwa pada saat Anda merasa tertarik untuk mengikuti kesudahan ulasan artikel: ‘Kasih: I Want to Know What Love is’ ini, Yesus sedang berdiri di depan pintu hati nurani Anda, dan … Ia sedang mengetuknya! (Wahyu 3:20)

Apabila Anda mempunyai keinginan untuk hidup di dalam kasih karunia Tuhan yang dipenuhi oleh sukacita, hidup mengesankan yang sangat relevan dengan keadaan dunia masakini, ucapkanlah dari lubuk hati Anda yang terdalam doa di bawah ini:

“Bapa di sorga, aku mengakui, bahwa aku orang berdosa. Ampunilah aku dari segala dosa-dosaku. Aku percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan Ia sudah membayar lunas semua dosaku melalui curahan darah-Nya di kayu salib. Saat ini aku memanggil nama Yesus untuk keselamatanku. Dengan iman aku percaya, bahwa aku sudah menerima karunia hidup-Nya, Yesus berada di dalam hidupku, dan dosa-dosaku telah Kau ampuni. Aku percaya, bahwa sekarang aku sudah menjadi pengikut Kristus. Dan setelah kematianku, aku akan hidup bersama Dia untuk selama-lamanya. Terima kasih Bapa atas keselamatan yang telah Engkau karuniakan kepadaku. Di dalam nama Yesus Kristus, Juruselamatku. Amin!”

Jika Anda mengucapkan doa tersebut dari dalam lubuk hati Anda, maka Anda baru saja ‘Lahir Baru’. (Yohanes 3:3-8) Bersyukurlah, karena sekarang KASIH sudah bersemayan di dalam hidup Anda. Oleh karena itu, secara bertahap Anda akan menyaksikan sendiri perubahan-perubahan yang drastis pada gaya hidup Anda!

Selamat datang di dalam keluarga Kerajaan Allah! Marilah mulai sekarang kita bersama-sama ikut mengambil bagian di dalam pertumbuhan tubuh Kristus di akhir zaman, setia melayani di ladang-Nya sesuai panggilan hidup kita, rajin bersekutu dengan umat Tuhan yang lain, dan menjaga kekudusan hidup masing-masing sambil terus bersiap-siap, menantikan saat kedatangan untuk kedua kalinya Tuhan dan Raja kita, Yesus Kristus, Hakim Yang Maha-adil!

Datanglah segera, ya Tuhan Yesus! (Wahyu 22:20)

Haleluya, sebab Dia hidup! Saya berani mengatakannya, karena saya baru saja bertemu dan bercakap-cakap dengan Dia, ke-KASIH jiwa saya!

Amin!

Published in: on March 29, 2007 at 11:06 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/03/29/kasih-i-want-to-know-what-love-is/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: