Alkitab dan Pelangi

Alkitab dan Pelangi


Dari waktu kewaktu, kita dapat melihat Pelangi dilangit. Pada umumnya Pelangi inilah yang ditafsirkan sebagai busur yang dimaksud dalam Kejadian 9:12-13 tersebut diatas. Dari kisah Kejadian 6 s/d 9 kita dapat tarik kesimpulan bahwa sebelum banjir Nuh tidak ada pelangi. Pelangi baru ada setelah banjir Nuh selesai. Adakah jejak-jejak dari arkeologi yang mendukung kesimpulan diatas? Mari kita pelajari hal ini lebih dalam.

PELANGI DITINJAU DARI SUDUT FISIKA
Apakah pelangi itu? Ditinjau dari sudut ilmu alam (fisika), pelangi adalah gejala alam yang termasuk cabang fisika yang disebut optika. Bila sinar matahari mengenai butir-butir air diudara, maka pada kondisi tertentu terjadilah pantulan, refraksi dan dispersi yang dapat dilihat orang sebagai Pelangi. Kadang-kadang ada dua pelangi, busur luar dan busur dalam. Busur dalam lebih terang. Pada bagian luar merah dan bagian dalam ungu. Pada busur luar urutan warna dibalik. Kalau kita asumsikan bahwa hukum alam tetap sama sebelum dan sesudah banjir Nuh, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa ada “sesuatu” yang berubah sewaktu terjadi banjir Nuh. Matahari dan hukum optika tidak berubah. Jadi apa yang mungkin dapat berubah? Tidak lain, butir-butir air itu. Sebelum banjir Nuh, tidak ada butir-butir air. Tanpa butir-butir air diudara, pelangi tidak akan terjadi. Tetapi mengapa dahulu tidak ada butir-butir air itu, dan kemudian ada?

STRUKTUR BUMI SEBELUM BANJIR NUH.
Seorang ahli hidrologi, Dr Henry M. Morris telah membuat suatu teori mengenai struktur bumi sebelum banjir Nuh. Morris mengatakan bahwa sebelum banjir Nuh, ada lapisan uap air yang mulai dari apa yang kini disebut lapisan ionosfeer, sampai jauh keatas. Lapisan uap air ini merupakan saringan yang sangat efektif terhadap sinar matahari terutama sinar ultra-violet. Lapisan uap air itu seperti selimut yang menutupi seluruh bumi. Terjadilah efek rumah kaca (greenhouse effect). Akibat efek rumah kaca ini, iklim diseluruh dunia hampir rata, sejuk menyegarkan. Air dilapisan udara ini berupa uap yang tidak kelihatan, dan bukan berupa butir-butir air. Karena tidak ada butir-butir air di-atmosfer, maka tidak ada pelangi. Awan juga belum ada waktu itu. Permukaan bumi juga lebih rata daripada sekarang. Laut hanya sedikit. Waktu itu darat jauh lebih banyak daripada laut. Tidak ada hujan, maka tidak ada banjir. Tidak ada bagian bumi yang kekeringan. Tidak ada bagian bumi yang terlalu dingin dan tidak ada yang terlalu panas. Diseluruh bumi ada Flora dan Fauna yang subur.

“Pada waktu itu orang-orang raksasa ada dibumi …….” (Kejadian 6:4a). Waktu itu, menurut Morris, juga ada dinosaurus diberbagai tempat dibumi. Banyak binatang seperti gajah waktu itu juga mempunyai ukuran yang lebih besar daripada sekarang.

BANJIR NUH
Pada saat yang tepat, seperti yang ditetapkan Allah, terjadilah letupan gunung berapi. Abunya menyebar jauh keatas, sampai kelapisan uap air ini. Abu itu menjadi inti dan uap air sekitarnya menggumpal menjadi butir air yang kecil. Butir-butir ini menjadi makin lama makin besar. Kemudian jatuh kebumi. Terjadi effek berantai, maka runtuhlah seluruh lapisan uap air itu. Terjadi lagi letupan gunung berapi diberbagai tempat didunia. Air yang tadinya ada dibawah tanah menyembur keluar. Terjadilah banjir Nuh seperti dimaksud kitab Kejadian 6 s/d 9. Seluruh permukaan bumi ditutupi air. Semua manusia dan binatang yang tidak dapat hidup diair musnah. Kemudian terjadi lagi letupan gunung-gunung berapi. Terjadi perbedaan yang lebih besar pada permukaan bumi. Ada gunung yang sangat tinggi dan ada jurang yang sangat rendah, termasuk jurang-jurang dilaut. Permukaan airpun menurun. Banjirpun mereda.

STRUKTUR BUMI SETELAH BANJIR NUH
Sebagian air kembali kebawah tanah menjadi air tanah. Sebagian lagi jadi uap air diatmosfir bumi. Kejadian 9 : 14 menyaksikan: “Apabila kemudian Kudatangkan awan diatas bumi dan busur itu tampak di awan, maka …………….. “. Sebelum banjir Nuh tidak ada awan. Setelah banjir Nuh ada awan, artinya ada butir-butir air diudara, jadi ada pelangi. Lautan menjadi jauh lebih luas. Kini 2/3 permukaan bumi terdiri dari permukaan air. Terjadilah permukaan bumi, lautan dan iklim seperti yang kita kenal sekarang. Permukaan bumi ini berlainan daripada permukaan bumi sebelum banjir Nuh. Ada hujan, petir, badai. Ada musim kering yang kadang-kadang terlalu panjang. Kadang-kadang ada hujan yang sangat besar, sehingga timbul banjir-banjir lokal. Tetapi banjir global tidak pernah lagi terjadi, sesuai dengan janji Allah.

JEJAK- JEJAK
Kalau teori Morris benar, apakah ada bekas-bekas yang menunjukkan hal ini ? Kalau betul cuaca diseluruh dunia hampir sama dimana-mana, tentu tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang hidup zaman dahulu juga hampir sama dimana-mana. Dapatkah hal ini dibuktikan dari penggalian- penggalian fosil-fosil dan bekas-bekas lain? Mari kita lihat referensi 4 halaman 27: ” …. Hooke percaya bahwa fosil-fosil membuktikan bahwa Inggris pernah punya iklim tropis …… “. Majalah Amerika Serikat yang sangat fanatik mendukung teori evolusi “Discover” pada penerbitan bulan Pebruari 1983 menulis dihalaman 6, bahwa ada tanda-tanda bahwa gurun pasir Sahara pernah mempunyai sungai-sungai dan hutan-hutan. Dari sumber lain dikatakan bahwa kutub Utara pernah mempunyai iklim yang tidak begitu dingin. Sumber-sumber tersebut diatas berasal dari sumber-sumber sekuler, bahkan sebagian dari mereka yang dengan fanatik membela teori evolusi. Penggalian-penggalian diberbagai tempat dibumi ini memang seperti mendukung pernyataan bahwa iklim zaman dahulu lebih merata diseluruh permukaan bumi ini.

Para kreasionis dan para evolusionis memang masih berbeda pendapat masalah waktu terjadinya iklim demikian. Para kreasionis berpendapat bahwa iklim yang merata itu terjadi setelah penciptaan, tetapi sebelum banjir Nuh. Jadi kurang dari 10.000 tahun tetapi lebih dari 4.600 tahun yang lalu.

Para evolusionis tidak percaya bahwa Allah yang menciptakan alam semesta ini dan bahwa ada banjir global. Mereka akui bahwa fosil-fosil membuktikan bahwa Inggris pernah punya iklim tropis, tetapi mereka katakan bahwa hal itu terjadi setelah dentuman besar (the big bang) kurang dari 4.5 milyar, tetapi sudah jutaan atau ratusan juta tahun yang lampau.

DISKUSI
Bagi beberapa orang studi-studi seperti diatas sangat menarik. Pertanyaan yang timbul dari diskusi diatas a.l. adalah sebagai berikut. Kalau di Inggris ada bekas-bekas flora dan fauna tropis, bagaimana halnya di Perancis, Jerman, Cina dll? Kalau digurun pasir Sahara ada bekas-bekas sungai dan hutan, bagaimana di gurun pasir Gobi?

Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa teori Morris hanyalah spekulasi- spekulasi metafisis. Kalau namanya teori, maka itu tidak pernah dapat dibuktikan benar. Maksimal dapat dikatakan ia belum terbukti salah. Ini berlaku untuk semua teori buatan manusia, termasuk teori-teori para evolusionis, tetapi juga termasuk teori-teori para kreasionis.

Yang pertama kali mengatakan bahwa sebuah teori tidak pernah dapat dikatakan benar adalah David Hume (1711-1776). Pada abad ke-20 ini hal ini ditegaskan dengan lebih jelas lagi oleh seorang filsuf yang sangat terkenal, Karl Popper (1902-1994). Popper adalah orang Yahudi yang lahir dan besar di Wina, Austria, yang berbahasa Jerman. Sewaktu Popper menyatakan pendapatnya pada tahun 1936 didepan “Aristotelian Society” di Oxford dalam bahasa Inggris yang patah-patah, orang tertawa terbahak- bahak dan bertepuk tangan mengira bahwa Popper sedang bersenda gurau, atau sedang mengucapkan suatu paradox. Tetapi Popper ternyata sangat serius. Kini praktis semua ilmuwan setuju bahwa berapa banyak pun pengamatan dan/atau percobaan yang mendukung sebuah teori ia tidak pernah dapat dikatakan benar, karena ia selalu dapat dibantah oleh pengamatan dan/atau percobaan yang lebih kemudian lagi.

Saya sebut teori para kreasionis seperti tersebut diatas sebagai tandingan teori para evolusionis. Tetapi sebaiknya orang-orang Kristen jangan terlalu menggantungkan imannya pada spekulasi-spekulasi demikian, baik spekulasi-spekulasi yang menguntungkan, maupun yang merugikan exegese yang sehat (sound exegeses) dari Alkitab. Percayalah bahwa apa yang dikatakan Allah melalui Alkitab adalah benar. Kalau ada teori yang mendukung, baiklah. Tetapi kalau ada teori yang membantah, kita tetap lebih percaya Firman Allah. Dihari kemudian teori yang membantah itu selalu mungkin akan terbukti salah.

SEBUAH KONFLIK ANTARA ALKITAB DENGAN SEBUAH TEORI BUATAN MANUSIA, BUKANLAH SEBUAH MALAPETAKA, TETAPI SEBUAH KESEMPATAN. SEBUAH KONFLIK DEMIKIAN MENUNJUK KAN BAHWA DIBELAKANG KONFLIK ITU ADA, ATAU AKAN ADA TEORI YANG LEBIH DALAM DAN LEBIH LUAS YANG AKAN MENGHAPUSKAN KONFLIK TERSEBUT. INILAH KESEMPATAN UNTUK MENCARI TEORI YANG LEBIH TINGGI ITU.

LITERATUR.
1. “ALKITAB”. Terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 1992.
2. “The Genesis Flood” oleh John C. Whitcomb dan Henry M. Morris, Presbyterian and Reformed Publishing Co, New Jersey, U.S.A..
3. “The Genesis Record” oleh Henry M. Morris, Baker Book House, Michigan, U.S.A.
4. “Evolution of the Earth” oleh Robert H. Dott dan Roger L. Batten, McGraw-Hill, U.S.A. 5. “Discover” U.S.A. February 1983.
6. “Optics” oleh Francis Weston Sears, Addison-Wesley, U.S.A.

Published in: on April 2, 2007 at 6:28 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/alkitab-dan-pelangi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: