Bagaimana Allah Menyembuhkan Luka Emosi Kita

Bagaimana Allah Menyembuhkan Luka Emosi Kita

Langkah 1: Akuilah kebutuhan Anda untuk disembuhkan… Bagi banyak orang hal ini bukan masalah.Tetapi jika kita terluka dan tidak mengakui bahwa kita mempunya kebutuhan, maka jelas tidak ada tempat untuk kesembuhan atau pertolongan dalam hidup kita.Mengakui kebutuhan kita merupakan suatu tAnda kesehatan mental yang baik dan bukti dari sikap yang jujur.

Setiap orang membutuhkan kesembuhan dan pertumbuhan emosi dan kepribadian.Jangan pikir Anda adalah perkecualian.Kerelaan untuk belajar dan kerendahan hatilah yang akan mengijinkan kesembuhan dimulai dalam hidup Anda.Beberapa dari antara kita bergumul untuk mengakui kebutuhan kita karena takut ditolak.Tetapi sebaliknyalah yang benar;Jika kita mengakui kebutuhan kita, orang lain lebih menghargai kita atas kejujuran kita itu.Kita semua mungkin dapat mengingat suatu saat ketika kita menceritakan kebutuhan itu dan kemudian dilukai seseorang yang tidak menanggapi kita dengan kasih atau bijaksana.Namun janganlah pengalaman itu menahan kita dari kesembuhannyang ingin Allah berikan.Jangan biarkan pengalaman masa lalu menentukan tindakan atau sikap kita untuk masa depan.

Mulailah dengan bersikap jujur dengan Allah.Lagipula Ia mengenal Anda dengan baik sekali dan ia tidak akan menolak Anda.Sesungguhnya Ia rindu dan sedang menunggu Anda untuk bersikap jujur sehingga Anda dapat menerima kasih dan pertolonganNya.Ceritakanlah kepadaNya segala sakit hati, kekecewaan Anda –pokoknya segalanya.

kemudian, Anda dapat membuka diri terhadap orang lain yang dapat membantu Anda mengikuti langkah-langkah kesembuhan ini.Pilihlah seorang teman kristen yang DAPAT DIPERCAYA dan yang mau BERDOA dengan Anda serta MEMBESARKAN hati Anda.

Jika Anda telah berbuat salah terhadap orang lain, Anda juga perlu menemui mereka dan membereskannya .Ini adalah bagian dari pengakuan akan kebutuhan Anda Anda. Kita lakukan ini bukan supaya diampuni Allah, tetapi justru karena kita telah diampuni. Buah hubungan yang benar dengan Allah ialah menghendaki dipulihkannya juga hubungan yang retak dengan orang lain.

John Stot, teolog Anglikan yang terkenal, memberi peringatan yang berharga mengenai bidang ini dalam bukunya, Akuilah dosa-dosamu. Ia bicara tentang lingkaran pengakuan terbuka: dosa tersembunyi, dosa pribadi, dan dosa di depan umum. Kita harus mengakui dosa menurut tingkat kejadiannya. Jika dosanya adalah dosa yang tersembunyi, yaitu dosa hati atau pikiran yang tidak pernah dilakukan atau diucapkan kepada orang lain, maka itu hanya perlu diakui kepada Allah saja. Tentunya Anda bebas mengungkapkannya kepada teman dekat atau saudara seim an karena ingin jujur dan bertanggung jawab tetapi kita tidak harus melakukan hal itu. Itu adalah pilihan kita sendiri. Sesungguhnya kita dapat melakukan hal itu hanya jika kita yakin akan seseorang, dan apabila kita rasa Tuhan memimpin kita secara khusus untuk melakukan hal itu dan jangan sekali-kali karena kita merasa terpaksa melakukannya. Demikianpun kita harus bijaksana dan hati-hati dalam menyampaikannya.

Sungguh tidak bijaksana untuk mengakui dosa kita kepada orang lain. Jika orang terhadap siapa kita berdosa tidka mengetahuinya, jangan bebani orang itu dengan dosa kita kecuali ada alasan yang jelas mengapa hal itu dapat menolong mereka. Jika ragu, carilah dahulu nasihat dari orang-orang yang dewasa rohani.

Ada beberapa dosa yang dilakukan pada tingkat rahasia atau pribadi dalam kehidupan kita yang amat memalukan. Saya percaya harus ada pemulihan dari rasa malu — khususnya untuk dosa-dosa kenajisan dosa seks. Jika kita harus meminta maaf kepada seseorang karena berbuat dosa terhadapnya dengan cara itu, janganlah menguraikannya secara terperinci, atau menggunakan kata-kata yang tidak bijaksana. Katakan seperlunay saja. Akui bahwa Anda mengecewakannya atau berbuat dosa terhadapnya dan mintalah maaf. Itu sudah cukup…

Pedoman yang baik untuk diikuti adalah: Jika bertalian dengan dosa tersembunyi, akuilah kepada Allah; jika menyangkut dosa pribadi, mintalah maaf kepada orang yang bersangkutan; dan jika berhubungan dengan dosa kepada umum, mintalah maaf kepada kelompok bersangkutan.

Sebagai kesimpulan, langkah-langkah untuk kesembuhan dan pemulihan yang utuh bertalian dengan kejujuran akan kebutuhan kita ini adalah sebagai berikut:

  • Akuilah kebutuhan dan dosa kita. Kejujuran akan mendatangkan kasih karunia Allah ke dalam hidup kita.
  • Terimalah kasih karunia Allah. Kasih karuniaNya adalah pemberian kasihNya, penerimaanNya dan pengampunanNya bagi kita, dan hal itu membuat kita merasa aman di dalam Dia. Rasa aman itu membangun iman.
  • Percayalah kepada Tuhan dan orang lain. Iman mendatangkan kepercayaan dan memungkinkan kita mempunya hubungan akrab dengan Allah dan sesama.
  • Bangunlah hubungan hati ke hati dengan Allah dan sesama. Hubungan tersebut dimungkinkan jika kita telah merendahkan hati. Maka Allah dapat menyalurkan kasih dan pengampunan kepada kita secara pribadi dan di dalam hati kita kepada orang lain. Maka Allah dapat menyalurkan kasih dan pengampunan kepada kita secara pribadi dan di dalam hati kita kepada orang lain.

Kebalikan dari proses ini akan mengarah kepada kepedihan yang lebih besar dan keterlukaan emosi.

  • Hubungan yang retak. Ketika hubungan menjadi retak, kita sulit mempercayai org lain.
  • Legalisme. Jika hubungan kita dengan orang lain salah, kita cenderung menghakimi dan mengritik. Kita hidup dibawah “hukum”, bukan dibawah kasih karunia. Hal ini menyebabkan kita tidak mempercayai orang (curiga)
  • Curiga. Jika kita tidak mempercayai orang lain seringkali kita memproyeksikan kecurigaan itu, dan sebaliknya mereka tidak mempercayai kita. Maka bertumbuhlah suasana penolakan dan tembok diantara kita dan orang lain.
  • Tembok. Tembok menghasilkan keterpisahan, kebalikan dari hubungan hati ke hati.

Dalam bersikap jujur mengenai kebutuhan kita, pentings eklai untuk membedakan antara dosa, luka hati dan ikatan. Untuk dosa perlu ada pengampunan, untuq luka perlu kesembuhan dan untuk ikatan rohani kita perlu pembebasan. Kadang-kadang kita membutuhkan pertolongan dalam ketiga bidang tersebut.

Anda tidak dapat mengakui luka sebagai dosa, sebab luka bukanlah dosa. Namun, jika sebagai akibat terluka Anda mengembangkan sikap atau respons yang berdosa, meskipun orang lain itu yang bersalah, Allah tetap minta pertanggungjawaban Anda atas respons Anda. Sesungguhnya-Allah tidak menganggap orang itu bersalah 80% dan Anda hanya 20 %, tetapi keduanya , baik Anda maupun orang itu , 100% bertanggungjawab atas perbuatan masing-masing. Jika Anda tidak menerima tanggung jawab sepenuhnya atas perbuatan Anda, kesembuhan akan terhambat. Mengapa demikian? Jika sikap Anda penuh kekesalan, kepahitan, atau tidak mengampuni, kesembuhan dan pengampunan Allah akan terhambat. “lkarena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang disurga akan mengampuni kamu juga… Tetapi jikalau kamu tidak mengmapuni orang,Bapamu juga tidak akan mengapuni kesalahanmu”(Mat 6:14,15)

Saya ingin menekankan bahwa penting sekali untuk mengakui kebutuhan kita akan kesembuhan dalam hidup kita. SAYA TELAH MELIHAT BANYAK ORANG YANG SIBUK MELAKUKAN PEKERJAAN BAGI TUHAN, tetapi kegiatan mereka DICEMARI OLEH KEINGINAN MEREKA UNTUK MEMBUKTIKAN DIRI, ATAU UNTUK DITERIMA, ATAU UNTUK MENGATASI RASA TIDAK AMAN MENGENAI APA YANG MEREKA LAKUKAN.

Pelayanan kita kepada Allah dan sesama harus mengalir dari rasa aman dan kesejahteraan kita , bukanlah karena ingin membuktikan diri atau ingin menjadi “SESEORANG”. Dalam jangka panjang kita akan mampu bertumbuh semakin dekat kepada Bapa kita yang penuh kasih, kita akan merasa lebih baik mengenai diris endiri, kita akan lebih menikmati pekerjaan kita dan akan menjadi berkat yang lebih besar bagi orang lain JIKA KITA MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK MENERIMA KEUTUHAN DAN KESEMBUHAN BATHIN.

Langkah 2:Akuilah emosi yang negatif

Beberapa diantara kita mengarungi hidup ini dengan mengumpulkan emosi yang negatif. Kita tidak diajar bagaimana mengenali atau MENGKOMUNIKASIKAN perasaan kita, sehingga kita menimbun kemarahan , kekecewaaan, ketakutan, kepahitan, dan emosi negatif lain sejak kanak-kanak. Menindih emosi yang satu diatas yang lain sama seperti menumpuk sampah, lapis demi lapis di dalam kantong sampah. Sesuatu yang akhirnya harus dibuang.

Proses penimbunan emosi yang tidak dapat dikenali dan dikomunikasikan itu menghasilkan akibat-akibat yang tragis, dari tukak lambung(penyakit maag) sampai bunuh diri. Kebanyakan kita tidak diajarkan bagaimana mengatasi kesulitan. Kita bertumbuh secara secara fisik sedangkan batin kita mengalami kemandegan. Kita menyimpan penghalang emosi yang menghalangi kita untuk memberi dan menerima dalam hubungan kita dengan orang lain dan dengan Bapa kita.

Dr. Phil Blakely, menyatakan bahwa untuk menangani masalah ini kita perlu “diuraikan kembali”, yaitu mengeluarkan uneg-uneg yang tertimbun di dalam diri kita. Untuk melakukan hal ini kita memerlukan pertolongan seseorang.

Bagi orang Kristen, itu berarti dimulai dengan DOA. JIKA BUKAN KEPAD561ESUS KITA BERPALING SEBELUM BERPALING KEPADA ORANG LAIN, maka kita TIDAK AKAN PERNAH disembuhkan. Dialah pencipta kita, Dia merindukan kita untuk membagi perasaan dengan-Nya, sebab Ia sangat mengasihi kita

Dr. Phil Blakely, menyatakan bahwa untuk menangani masalah ini kita perlu “diuraikan kembali”, yaitu mengeluarkan uneg-uneg yang tertimbun di dalam diri kita. Untuk melakukan hal ini kita memerlukan pertolongan seseorang.

Bagi orang Kristen, itu berarti dimulai dengan DOA. JIKALAU BUKAN KEPADA YESUS KITA BERPALING SEBELUM BERPALING KEPADA MANUSIA-, maka kita TIDAK AKAN PERNAH disembuhkan. Dialah pencipta kita, Dia merindukan kita untuk membagi perasaan dengan-Nya, sebab Ia sangat mengasihi kita.

Tentu saja, kita perlu berbicara dengan orang lain. Penting sekali untuk membina persahabatan dengan orang lain yang mengijinkan kita untuk bersikap sebagaimana adanya kita, tetapi YANG CUKUP MENGASIHI SEHINGGA MAMPU UNTUK MENEGUR JIKA KITA BERBUAT SALAH.

Menyuarakan emosi itu sendiri bukanlah obat yang manjur. Mengkomunikasikan perasaan HANYALAH membersihkan saluran mental kita sehingga akar penyebab masalah kita dapat ditangani. Jika kita mengungkapkan rasa bersalah yang tertimbun, itu bukan berarti kita sudah menangani penyebab rasa bersalah itu. Disinilah psikologi relativisme gagal. Membuat orang membicarakan perasaan bersalah mereka -akan melegakan mereka. -tetapi dalam jangka panjang-, jika mereka tidak menerima tanggung jawab atas pelanggaran hukum moral Allah, rasa bersalah itu akan muncul kembali(kecuali tentunya jika seseorng memadamkan sama sekali hati nuraninya dan kehilangan kemampuan untuk merasakan apa-apa)

Meskipun emosi itu sendiri bukanlah dosa, emosi dapat menghasilkan sikap berdosa jika diarahkan dengan cara yang negatif kepada Allah, diri sendiri, atau orang lain. Disitulah kita memerlukan norma-norma alkitabiah untuk menilai apakah sikap kita telah berdosa. Jika benar demikian, kita harus menganggapnya tidak sehat atau salah.

Allah tidak bermaksud supaya kita hidup menurut perasaan-atau demi perasaan. Beberapa orang hidup dengan dalih bahwa jika mereka merasa sesuatu itu baik, maka itu pasti baik, dan jika mereka merasa sesuatu itu tidak baik, itu berarti tidak baik. Mungkin saja itu adalah filsafat yang baik, tetapi jelas tidak alkitabiah. Kebenaran yang disingkapkan kepada kita di dalam alkitab itulah yang mengarahkan hidup kita, bukan perasaan. Allah memberi kita kemampuan untuk berperasaan dan maksudNya ialah untuk mendorong kita membuat pilihan yang benar. Jika kita tidak hidup menurut ketetapan Allah, maka kita merusak maksud Allah yang sebenarnya dalam memberi kita perasaan, dan memakai perasaan itu untuk mengukuhkan gaya hidup yang penuh kesenangan dan mementingkan diri. Beberapa orang benar-benar dikendalikan oleh emosi mereka, sedangkan beberapa lainnya sama sekali tidak tahu bahwa mereka sampai kepada titik dimana mereka berpikir bahwa sama sekali tidak menunj ukkan perasaan itu sangatlah “kristiani”. Hal itu bukanlah tAnda kedewasaan atau “kerohanian”. Allah menciptakan kita untuk menjalankan kehidupan yang seimbang dimana kita mengekspresikan dan menikmati perasaan kita, dan bebas memanfaatkanya dengan jujur dan membangun.

Para suami, ayah dan pemimpin rohani dapat menjadi penolong yang sangat berarti dengan mendorong keluarga mereka dan jemaat untuk mengungkapkan perasaan mereka secara terbuka.

Keinginan kita untuk membimbing seseorang dapat menjadi tidak efektif, atau bahkan merugikan jika mereka yang kita bimbing tidak diberi kesempatan tersebut. Dengan menciptakan peluang bagi mereka yang ada disekitar kita untuk BERLAKU JUJUR, kita dapat membimbing mereka ke dalam hubunga yang lebih akrab dengan Allah. Mereka akan lebih mempercayai kita dan akan merasakan kesungguhan kita terhadap mereka-yang pada gilirannya memberi kita kebebasan untuk berbicara terus terang dalam hidup mereka.

Dimana tidak ada kepercayaan, disitu kita tidak mempunyai otoritas. Dengan memberi kesempatan kepada orang untuk berlaku JUJUR, kita memberi “kasih karunia”. Pada gilirannya hal ini memberi mereka rasa aman untuk berlaku jujur, bukan saja mengenai perasaan mereka, tetapi juga kebutuhan mereka. Jika orang yang kita bimbing mempunyai kecurigaan yang besar terhadap orang lain, khususnya tokoh-tokoh yang berotoritas, mungkin itu karena mereka belum pernah belajar mengungkapkan perasaan dengan jujur dalam suasana kasih dan penerimaan.

Pada suatu petang, isteri Saya -Sally-menceritakan kepada Saya beberapa masalah pribadi yang ia alami. Saya segera mulai memberi nasehat. Saya tidak akan melupakan responsnya terhadap Saya,”Aku tidak datang kepadamu supaya kamu menasihatiku dan berkhotbah kepadaku. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Jika kamu menasihatiku, rasanya kamu tidak mendengarkan atau memperdulikanku. Aku butuh seseorang yang mau mendengarkanku. Jika aku tidak dapat berbicara kepadamu, lalu aku harus berbicara kepada siapa? ”

Hari itu saya ambil keputusan untuk menjadi jenis suami yang memberi kebebasan dan rasa aman kepada Isteri (dan juga kepada orang lain dalam hal tersebut) — untuk mengungkapkan perasaan mereka tanpa rasa takut dihakimi, dikhotbahi atau diserang.

Untuk memutuskan lingkaran penindasan emosi dan kecurigaan ini, mintalah Allah untuk memberi seorang tokoh yang memberi dorongan untuk berlaku jujur mengenai perasaan Anda. Juga , ampunilah mereka yang di masa lalu tidak memberi Anda kebebasan untuk itu. Motivasi Anda untuk mengungkapkan perasaan seharusnya BUKAN untuq meyakinkan orang lain terhadap pAndangan Anda melainkan untuk berlaku jujur. Kejujuran Anda HARUS timbul dari keinginan untuk mengakui emosi yang negatif sehingga Anda menjadi orang yang dikehendakiNya.

Jika kita pernah disakiti oleh seorang tokoh yang berotoritas, atau berselisih dengan mereka, kita wajib mencari Allah terlebih dahulu sebelum kita datang kepada mereka, Jika setelah berdoa kita masih tidak memahami keputusan yang mereka buat, maka kita dapat meminta mereka untuk menerangkan pAndangan mereka itu.

Kita bebas untuk tidak sependapat dengan seorang pemimpin, tetapi kita tidak boleh membiarkan hal itu mempengaruhi sikap kita terhadapnya. Kita dapat berbeda pendapat tanpa menghakimi atau memutuskan hubungan. Perpecahan tidak pernah terjadi karena perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat YANG MEMBANGUN adalah sehat. Pada saat perbedaan pendapat menyebabkan kritik atau penghakiman, maka perpecahan dapat terjadi. Setiap masalah yang mengancam kesatuan dapat diatasi dengan kerendahan hati dan pengampunan yang lebih besar. Allah sangat mempedulikan sikap hati kita, juga menolong kita bertumbuh dengan bersikap terbuka dan jujur mengenai perasaan kita.

Langkah 3: Ampuni mereka yang TELAH menyakiti Anda

Mengampuni bukanlah sekedar melupakan kesalahan yang dilakukan seseorang terhadap kita, juga bukan semacam perasaan rohani yang mistique. Mengampuni berarti memaafkan orang untuk kesalahan yang telah diperbuatnya. Mengampuni berarti menunjukkan kasih dan penerimaan meskipun disakiti.

Mengampuni seringkali merupakan proses dan bukan suatu tindakan “sekali jadi”. Kita terus mengampuni SAMPAI rasa sakit itu hilang. Semakin dalam lukanya, semakin besar pengampunan itu diperlukan. Sama seperti seorang dokter harus membersihkan luka di tubuh kita dan menjaga agar jangan sampai terkena infeki supaya dapat sembuh dengan baik, begitu pula kita harus menjaga kebersihan luka-luka batin kita dari kepahitan supaya luka-luka itu juga dapat sembuh. SETIAP KALI ANDA TERINGAT ORANG TERTENTU DAN MERASA SAKIT, AMPUNILAH DIA. Katakan saja kepada Tuhan bahwa Anda memilih untuk mengasihinya dengan kasih-Nya. Terimalah kasihNya untuk orang itu dengan IMAN. Lakukanlah hal itu setiap kali Anda teringat orang tersebut sampai Anda merasa benar-benar sudah mengampuninya.

Pengampunan Allah terhadap kita harus menjadi motivasi kita untuk mengampuni. Jika Anda merasa sukar mengampuni orang lain cobalah pikirkan sejenak seberapa banyak Dia TELAH mengampuni Anda. Jika Anda merasa tampaknya tidak banyak, maka mintalah kepadaNya untuq menyingkapkan hidup Anda sebagaimana Ia melihatnya. Ia akan menjawab doa Anda JIKA Anda berseru kepadaNya dengan sungguh-sungguh.

Langkah 4: Terimalah Pengampunan.

Jika Anda telah disakiti oleh orang lain dan telah berdosa dalam reaksi Anda terhadap mereka, maka penting sekali tidak hanya untuk mengampuni mereka yang menyakiti Anda, tetapi juga minta ampun kepada Allah atas tindakan Anda yang salah terhadap mereka. Jika Anda lakukan ini, mungkin Anda akan merasakan suatu kebutuhan untuk MENGAMPUNI DIRI SENDIRI. Ada kalanya, musuh terbesar kita adalah kegagalan kita sendiri. Sering kali kita lebih keras terhadap diri sendiri daripada terhadap siapapun. Jika Anda mengalami kegagalan, curahkanlah rasa gagal itu kepada Tuhan didalam doa, akui dosa Anda, dan katakan kepadaNya bahwa Anda TELAH mengampuni diri sendiri. Setiap kali rasa gagal itu muncul berterima kasihlah kepada-Nya buat pengampunan-Nya.

Ada perbedaan besar antara penyesalan terhadap dosa dan penghukuman. Penghuan 562berasal dari suatu perasaan gagal. Penyesalan IALAH karena kita telah berdosa. Penyesalan itu spesifik dan jelas, dan berasal dari Tuhan, penghukuman itu samar-samar dan umum, dan berasal dari diri kita sendiri atau iblis.

Jika Anda telah berbuat dosa, tetapi Anda tidak yakin, mintalah supaya Tuhan supaya Tuhan memberi penyesalan. Sebagai Bapa yang penuh kasih Ia akan mendisiplin Anda. JIka penyesalan itu tidak datangsementara Anda menanti dihadapanNya dalam doa, bersyukurlah kepadaNya atas kasihNya dan pengampunanNya dan lanjutkan kegiatan Anda pada hari itu. tetaplah terbuka bagiNya untuk menunjukkan sikap salah apapun pada diri Anda, tetapi jangan menjadi lumpuh oleh sikap mawas diri(introspeksi). Jangan berkubang dalam perasaan kasihan pada diri sendiri. Hal itu sangat merusak.

Jika Anda mempunyai sikap yang salah terhadap siapapun yang telah menyakiti Anda, maka penting sekali mengakui hal itu kepada Allah. Tetapi hati-hatilah: kasihan diri DAPAT menjadi TIRUAN dari pertobatan yang sejati.

Menangani bagian kita dalam suatu masalah, seringkali melepaskan Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang lain. Bahkan jika hal itu tidak terjadi, kita tetap mempunyai TANGGGUNG JAWAB untuk menjaga hati kita bersih di hadapanNya. Jika Anda menjadi kritis…, keras hati, iri, membangkang, sombong, enghakimi, atau pahit hati, maka Anda perlu berurusan dengan respons Anda. Jika Anda rendah hati di hadapanNya, Ia akan mengampuni dan menyebuhkan luka-luka Anda. ADA KESEMBUHAN MELALUI PENGAMPUNAN.

Langkah 5: Terimalah kasih Bapa…

Di dalam hidup kita ada kekosongan yang hanya dapat diisi oleh Allah sendiri. Ketika Anda berdosa dan minta ampun, atau bergumul dengan rasa tidak aman dan rendah diri, maka ada kemungkinan bahwa KEKOSONGAN ITU TIDAK PENUH. Mintalah kepadaNya pada saat-saat tersebut untuk memenuhi Anda dengan Roh-Nya. Lawanlah kesadaran untuk berpusat pada diri sendiri dengan berpusat kepada-Nya. Perlu saya tekankan betapa pentingnya langkah ini dalam proses kesembuhan. Kasihna diri dan berpusat kepada diri sendiri mendukakan Roh Kudus.

Pusatkan pikiran dan doa Anda pada karakter Allah dan berbagai aspek dari hati Bapa. Sembah Dia:Bicaralah kepadaNya, pujilah Dia, dan pikirkanlah Dia. Renungkan kesetiaanNya, kekudusan-Nya, kemurnian-Nya belas kasihan-Nya, kemurahan-Nya, pengampunan-Nya.

Mengembangkan sikap menyembah merupakan bagian vital untuk menerima kasih Allah. Kembangkan sifat tersebut diatas segalanya. Hafalkan ayat-ayat atau lagu-lagu yang memerangi kesepian dan kehilangan semangat. Penyembahan adalah pintu masuk ke hadirat bapa yang menjauhkan Anda dari depresi dan kasihan diri. Ada orang yang mengatakan bhw mereka tidak dapat menyembah Allah jika mereka tidak merasakan keinginan itu, sebab hal tius ama saja dengan kemunafikan. Jawaban saya adalah bahwa kita tidak menyembah Allah karena apa yang kita rasakan, tetapi karena siapa Dia. Saya sering menyembah Allah karena apa yang kita rasakan, tetapi karena siapa Dia. Saya sering menyembah Allah, bagaimanapun perasaan Saya. Saya tidak mau menjadi seorang tawanan perasaan Saya , jadi saya tetap menyembah Dia. Jika Saya merasa susah hati, Saya berusaha mengungkapkan perasaan Saya dengan jujur, tetapi kemudian Saya berfokus kepada siapa Dia dan bukan kepada apa yang saya rasakan.

Apakah Anda mau menerima kasih Bapa? luangkanlah waktu Anda dihadirat-Nya. Kita bermandikan kasih-Nya ketika menghabiskan waktu bersama-Nya dan meberi kepada-Nya. Apa yang dapat kita berikan kepada-Nya? melalui perkataan dan pikiran kita dapat memberi kepadaNya hormat, perhatian, pujian dan penyembahan. Jika hal ini sulit bagi Anda, selidikilah alkitab dan garis bawahi ayat-ayat yang bicara secara khusus tentang sifat dan karakter Allah. Mazmur adalah bagian yang terbaik untuk memulai. Lalu berdoalah dan nyanyikanlah ayat-ayat tersebut kepada Bapa pada waktu Anda berdoa. Jika Anda lakukan ini setiap hari, Anda akan mendapati diri Anda semakin mengasihi Bapa. Anda akan merasakan kehadiran-Nya yang akrab di dekat Anda sebagai tanggapan atas kata-kata pujian Anda. Jangan terkejut apabila Ia mengutarakan kata-kata penghargaan, persetujuan dan kasihNya sepanjang hari. Ia senang mengasihi anak2-Nya.

6. Pikirkanlah pikiran Allah.

Sebagai tanggapan terhadap hal-hal yang menyakitkan , khususnya sebagai kanak-kanak , kita membangun kebiasaan berpikir yang merusak tentang diri sendiri. Misalnya -jika orangtua Anda perfeksionis dan sangat menuntut, mungkin Anda sering gagal untuk hidup menurut harapan mereka. Orang yang dibesarkan dengan cara semacam itu seruingkali “memprogram diri sendiri” untuk gagal. Dengan menentuka sebelumnya bahwa mereka akan gagal, mereka berusaha melindungi dirimereka dari kekecewaan. Sayangnya dugaan seperti itu seringkali menjadi kenyataan. Pola berpikir yang negatif seperti itu sering tidak akurat dan dilAndasi oleh ketakutan atau penolakan. Jika kita berpikir kita jelek, kita bukan saja merasakannya demikian, kita juga akan bertindak demikian.

Alkitab mengatakan bahwa kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan kita, dan bahwa kita harus mengasihi sesama seperti diri sendiri (Im 19:18, Mat 19:19). Allah ingin supaya kita mengsihi diri sendiri, bukan secara egois, tetapi dengan kasih-Nya. Ia ingin supaya kita berpikir menurut pikiran-Nya tentang diri kita-pikiran yang penuh kebaikan, penghargaan, hormat dan kepercayaan.

Jika Anda mempunyai pola berpikir negatif tentang diri sendiri, saya sarankan agar Anda berhenti sekarang dan menulis dua atau tiga cara berpikir negatif yang paling umum bagi Anda. Setelah itu, tulis pikiran Allah terhadap diri Anda yang berlawanan dengan pikiran negatif itu berdasarkan firman atau sifat-Nya. Misal-nya jika Anda menulis bahwa Anda berpikir Anda akan selalu gagal, tulislah: “Saya ahli dalam… ” dan sebutkan satu hal yang Anda lakukan dengan baik. Tuliskan juga apa yang dikataklan Alkitab tentang bidang kehidupan Anda tersebut. Misalnya Flp 4:13, ” Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. “Setiap kali Anda mulai berpikir negatif, berhentilah dan ucapkanlah pikiran yang positif bersamaan dengan ayat dari alkitab. Diperluka waktu tiga(3) minggu untuk mematahkan suatu kebiasaan buruk dan menggantinya dengan yang baik. Katakan terus kebenaran kepada diri sendiri sampai Anda menghancurkan pola berpikir yang negatif tersebut…

Jangan menyerah kepada kebohongan dan pikiran yang menghukum. Bertekunlah — dengan pertolongan-Nya Anda dapat melakukannya. Berserulah kepada-Nya setiap kali Anda gagal, dan mulailah lagi… Pernahkah Anda perhatikan did alam alkitab bagaimana Allah sering mengulang-ulang suatu kebenaran ketika Ia berusaha memberi semangat kepada seseorang ? Dalam Yosua 1, Tuhan berkata empat kali kepada Yosua supaya jangan takut… Mengapa? Karena Yosua perlu diingatkan untuk berpikir menurut pikiran Allah tentang dirinya. Ia siap untuk maju berperang dan ia perlu diberi semangat. Saya yakin ia pasti mengulang-ulang firman Tuhan ini kepada dirinya sendiri.

Penyebab depresi yang paling umum ialah memikirkan pikiran-pikiran yang merendahkan diri dan menghukum diri. Untuk mematahkan lingkaran depresi ini kita perlu mengikuti langkah-langkah yang telah saya ikhtisarkan diatas, lalu menjadi muak dan jenuh karena menjadi jenuhn dan muak. Kita harus mematahkan kebiasaan berpikir negatif dengan memikirkan pikiran Allah.

Prinsip ini juga berlaku bagi reaksi yang melampaui pikiran dan sampai pada tindakan. Jika Anda menyadari adanya “pola reaksi” tertentu dalam hidup Anda yang negatif, defensif atau egois, tuliskanlah semua itu. Lalu tulis disampingnya bagaimana Allah ingin Anda bereaksi dalam situasi yang menyebabkan Anda merasa terancam atau defensif. Jika Anda bertindak dengan cara yang negatif atau egois, berhentilah dan berdoalah; kemudian pilihlah cara berespons yang Allah kehendaki agar Anda lakukan.

Mintalah supaya Ia memberi Anda kesanggupan untuk mewujudkan pikiran dan pilihan ini. Jika Anda gagal, mintalah ampun kepada-Nya dan lanjutkan usaha Anda. Jika iblis mengatakan Anda telah gagal lagi, setujui hal itu, tetapi katakan kepada iblis bahwa Anda menolak untuk mengasihani diris endiri!. terimalah tanggung jawab atas kegagalan Anda, minta ampun kepada Allah atau minta bantuan-Nya, dan lanjutkan usaha Anda! Terus kerjakan sampai Anda membangun kebiasaan baru yang benar. Bertahun-tahun Anda mengembangkan kebiasaan buruk, jadi jangan menyerah karena memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuq menggantinyadengan pola Allah. Mulailah dengan satu atau dua kebiasan pada saat yang bersamaan, dan kemudian yang lainnya. Jika kita lakukan apa yang mungkin, Allah melakukan apa yang tidak mungkin bagi kita.

Langkah 7: Bertekun…

Sembilan puluh persen dari keberhasilan ialah menyelesaikan! Alkitab berkata, “Jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia”(2 Tim 2:12). Ketekunan mempunya dua aspek: di satu sisi ketekunan berarti komitmen di pihak kita untuk tidak menyerah, suatu tekad untuk mengerjakanya sampai tunt disis563i lain ketekunan berhubungan dengan kesanggupan yang diberikan Allah. Allah memberi kasih karunia kepada kita untuk dapat menyelesaikannya apa yang Ia perintahkan untuk kita lakukan. PerintahNya juga merupakan janji kemenangan-Nya.

Kadang-kadang, mungkin Anda merasa tidak sangggup untuk bertahans ampai akhir. Mungkin itu memang benar !. Tetapi jika kita mencapai akhir dari apa yang mungkinbagi kita, maka kita akan melihat Allah melakukan apa yang tidak mungkin. Iman tidak dimulai sebelkum kita percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. KITA TIDAK MEMERLUKAN IMAN UNTUK MELAKUKAN APA YANG MUNGKIN BAGI KITA. Jadi, ketika kita menghadapi situasi yang tidak mungkin dalam hidup kita, pujilah Allah, sebab pada saat itulah Anda dapat mempraktekkan iman Anda.

Mengapa ketekunan itu merupakan salah satu langkah proses kesembuhan Allah dalam hidup kita? Menyerah membuat kita menjadi rentan terhadap perasaan jengkel, marah atau terluka, tertolak, nafsu, curiga atau apa saja yang memngganggu kita. Kadang-kadang kita ingin Allah melakukan mujizat dan mengangkat segala kesulitan kita sekarang juga. Akan tetapi, Bapa membawa kita melalui suatu proses yang menyiapkan kita untuk pada akhirnya memerintah bersama-Nya di surga. Karena Ia ingin membentuk dan menyempurnakan kita, Ia ijinkan kita mengalami pencobaan yang “memaksa kita” untuk membuat pilihan.

Sebagaimana dikatakan kawan saya, Joy Dawson, “Bagimana kita menyelesaikannya itulah yang penting!” Rasul Paulus mengatakan dalam surat pertamanya kepada jemaat di Korintus, “Tidak tahukah kmau, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah. Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhNya, supaya sesudah aku memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak”(I Kor9:24-27)

Ada saatnya kita gagal, tetapi ketika kita mengakui dosa-dosa kita, berpaling darinya dan memilih untuk membenci dosa sebagai tindakan iman, kita akan menerima pengampunan Allah dan suatu permulaan yang baru. Dialah Allah dari segala permulaan yang baru. Bagian kita ialah merendahkan hati dan berpaling dari dosa atau kegagalan; bagianNya ialah mengampuni kita dan memberi kita suatu permulaan yang baru. Ia senang melakukan hal ini, sebab Ia adalah Bapa kita dan Ia adalah kasih.

Ia sedang bekerja dalam diri Anda. Pergumulan adalah bagian dari proses kesembuhan yang berkemenangan. Anda sedang belajar sesuatu yang tak ternilai kerendahan hati; pengampunan; belas kasihan dan ketekunan. Majulah terus! Kita sedang berperang, tetapi kita ada di pihak yang menang! Yesus adalah Sang Pemenang!. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya yaitu Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”(Flp 1-6)

Allah sedang mencari orang-orang yang dapat memenuhi maksud-Nya yang mula-mula ketika Ia menciptakan umat manusia. Ia menghendaki persahabatan dengan kita. Dan Ia tidak menghendaki persahabatan dengan sekelompok orang yang egois; tujuan-Nya ialah mempersatukan mereka semua yang mengasihiNya ke dalam satu keluarga. Begitulah, ketika orang mengasihi-Nya. Ia mengumpulkan mereka bersama untuk menikmati persahabatan yang mendalam, saling mempedulikan dan mendukung dan merayakan kasih, pengampunan dan kesempurnaan yang Ia berikan kepada mereka. “unit keluarga” inilah yang seharusnya menjadi gereja.

Keluarga Bapa

Disamping langkah-langkah yang dapat kita ambil sebagai perorangan, “keluarga Bapa” juga merupakan saluran kasih-Nya dan kesembuhan bagi orang-orang yang “terluka”. Ketika kita saling mengasihi, menerima dan mengampuni sebagai saudara dalam Kristus, maka kasih-Nya akan mengalir melalui kita untuk menyembuhkan satu sama lain.

Melalui saudara-saudara kita dalam keluarga Allah, Ia menyediakan kasih dan penerimaan yang memerdekakan kita dari ketakutan, dan mengijinkan kita untuk mengalami keutuhan yang lebih sempurna sebagai manusia. Kita dapat berkomitmen kepada orang lain tanpa merasa takut untuk ditolak. Kita dapat menerima orang lain meskipun mereka mempunyai kelemahan. Kita bahkan sanggup mengampuni orang-orang yang menyakiti. Kita dapat menjadi sebagaimana adanya kita tanpa takut ditolak. Semua itu adalah karena kasih karunia Allah. Kasih akrunia-Nya, kasih yang tidak layak kita terima inilah yang melakukan semua itu bagi kita. Dalam diri kita sendiri, kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengasihi seperti itu, tetapi Allah memberi kesanggupan itu. Dari diri kita sendiri kita tidak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan orang lain, tetapi melalui kita Ia menyembuhkan orang lain. SETIAP orang Kristen mempunyai pelayanan ini. Kita SEMUA dapat menjadi “penyalur kasih karunia”.

Sampai disini pentings ekali untuk memberi sedikit peringatan. Jika kita terluka, BERHATI-HATILAH supaya kita tidak berFOKUS kepada ORANG sebagai “sumber” kesembuhan dalam hidup kita. Manusia tidak dapat memberi apa yang hanya dapat diberi apa HANYA dapat diberi oleh-Nya. Jika Anda ingin disembuhkan orang, Anda akan mudah kecewa.

Pusatkanlah perhatian Anda pada Bapa Surgawi; Dialah satu-satunya yangs anggup menyembuhkan Anda secara total. Seringkali Ia melakukan-nya melalui orang, tetapi Dia-lah sumbernya dan manusia hanyalah saluran-Nya.

Kesembuhan emosional hampir senantiasa merupakan proses. Proses itu memerlukan waktu. Ada alasan yang sangat penting untuk itu:Bapa Surgawi kita tidak saja ingin membebaskan kita dari sakitnya luka-luka masa lalu. Ia juga rindu membawa kita ke dalam kedewasaan, baik secara rohani maupun secara emosional. Ini memerlukan waktu dan pilihan-pilihan yang benar. Ia cukup mengasihi kita untuk MEMAKAI WAKTU berbulan-bulan dan bertahun-tahun yang diperlukan, tidak saja untuk menyembuhkan luka-luka kita, tetapi juga untuk membangun karakter kita.

TANPA PERTUMBUHAN KARAKTER — kita akan terluka lagi. Kita akan melakukan hal-hal bodoh dan egois yang akan melukai kita atau memancing orang lain untuk menyakiti kita. Karena Allah mengasihi kita, ia menunggu sampai kita menginginkan pertumbuhan karakter semacam itu; Ia menunggu SAMPAI kita menginginkan pertumbuhan karakter semacam itu; Ia menunggu sampai kita siap untuk disembuhkan. Seringkali, tanggapan kita yang benar terhadap orang lain -akan melepaskan kesembuhan itu di dalam hidup kita sendiri.

NOTE:PEDOMAN UNTUK MEMILIH SEORANG PSIKOLOG ATAU PENASIHAT.

Sayang sekali, banyak orang Kristen yang tulus menjadi korban dari orang yang kurang cakap yang menyebut diri sebagai counselor/penasihat. Seorang counselor atau penasihat yang terlatih dapat sangat membantu, tetapi penting sekali untuk memastikan bahwa mereka adalah orang yang memenuhi syarat dan pendukung iman Kristen. Dibawah ini ada 3 pedoman dasar untuk diikuti ketika memilih seorang counselor atau psikolog

Cara terbaik untuk memilih seorang penasihat atau psikolog ialah dengan mengAndalkan referensi dari seorang pemimpin gereja yang dihormati, dokter keluarga, atau teman yang telah mempunyai kontak sebelumnya dengan ahli tersebut dan mengenalnya secara pribadi. Para ahli yang berkompeten tidak akan merasa terancam jika seorang calon pasien menelepon dan dengan bijaksana menanyakan kualifikasi mereka, orientasi teoritis mereka, pengalaman mereka dengan masalah yang sedang dihadapi, dan jenis lisensi yang mereka miliki. Bayaran sebaiknya dibicarakan sebelumnya.

Jangan harapkan para counselor/psikolog memenuhi peran para pemimpin rohani, tetapi para ahli tersebut dapat menjadi efektif dalam proses penyembuhan sesuai keahlian mereka

Published in: on April 2, 2007 at 11:11 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/bagaimana-allah-menyembuhkan-luka-emosi-kita/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: