Bagaimana Menjadi Persembahan yang Hidup

Bagaimana Menjadi Persembahan yang Hidup


Belum lama berselang saya membaca ulang novel indah karya Charles Dickens yang berjudul A Tale of Two Cities. Kota yang dimaksud tentunya adalah Paris dan London, dan menceritakan kejadian pada Revolusi Perancis, dimana ribuan orang yang tidak bersalah dihukum mati dengan pemenggalan kepala oleh pendukung pendukung revolusi. Sebagaimana biasa dengan cerita Dickens, alur ceritanya sangat kompleks, tapi mencapai klimaks yang tidak terlupakan dimana Sydney Carton, satu tokoh yang tidak disukai dalam cerita ini, menggantikan temannya Charles Darney, yang seharusnya dihukum mati di Bastille.

Darney, yang telah dijatuhi hukuman mati, pergi dengan bebas, den Carton yang menggantikannya di tiang gantungan, berkata, “Ini adalah hal yang jauh, suatu tindakan yang jauh lebih baik yang kulakukan dari apapun yang pernah kuakukan; Ini adalah hal yang jauh, tempat peristirahatan yang jauh lebih baik yang kudatangi, dari apapun yang pernah kuketahui.” Cerita itu ditulis dengan sangat indahnya sehingga tetap dapat membuatku menangis setiap kali membacanya, walaupun telah dibaca berulang kali. Ada perasaan terpesona yang dalam timbul sedemikian besarnya karena mengetahui pengorbanan hidup seseorang untuk orang lain. Itu adalah bukti paling besar dari cinta yang sejati.

Jika kita mencintai Yesus, kita akan mengorbankan hidup kita bagi-Nya. Yesus berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya” (Yoh.15:13), dan la melakukannya bagi kita. la secara harafiah benar-benar melakukannya. Pengorbanan Sydney Carton bagi temannya hanyalah sebuah kisah belaka, sekalipun sangat menggugah, tapi Yesus sungguh-sungguh mati di kayu salib bagi penyelamatan kita. Sekarang, karena la mencintai kita dan menyerahkan diri-Nya bagi kita, demikian juga kita yang mencintai-Nya memberikan diri kita kepada-Nya sebagai “Persembahan yang hidup / living sacrifices”.

Tapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengorbanan yang Yesus lakukan dengan pengorbanan yang kita lakukan. Yesus mati menggantikan tempat kita untuk menanggung penghukuman Allah atas dosadosa kita sehingga kita tak perlu lagi menanggungnya. Pengarbanan kita, tidak sedikitpun sama seperti itu. Pengorbanan kita tidak merupakan penebusan atas dosa dalam arti apapun. Melainkan dalam arti bahwa kita sendirilah yang memutuskan pengorbanan kita yaitu mengorbankan diri kita sendiri. Itulah yang dikatakan Paulus ketika ia menulis, “karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). Dalam pelajaran ini saya hendak mengungkapkan arti lebih dalam, dengan pertanyaan: Apa sebenarnya yang dimaksudkannya dan bagaimana kita melakukannya

Persembahan yang hidup.

Hal yang pertama sangat jelas. yaitu mempersembahkan yang hidup dan bukan yang mati. Ini merupakan ide baru di zaman Paulus, dan jelas telah dilupakan di zaman kini karena telah menjadi istilah yang sangat biasa. Di zaman Paulus, pengorbanan selalu berarti pembunuhan. Di dalam praktek-praktek agama Yahudi, korban dibawa kehadapan imam, dosa dari orang yang membawa persembahan tersebut diakui atas korban dan dengan demikian secara simbolik memindahkan dosa-dosanya kepada korban yang dipersembahkan tersebut.

Kemudian korban tersebut dibunuh. Ini merupakan gambaran yang hidup yang mengingatkan kepada setiap orang bahwa “Upah dosa adalah maut” (Roma 6:23) dan bahwa keselamatan para pendosa digantikan secara substitusi. Di dalam gambaran pengorbanan tersebut, korban yang dipersembahkan mati menggantikan tempat manusia yang mempersembahkannya. Korban tersebut harus mati agar orang tersebut tidak mati mati. Tetapi sekarang, dengan ledakan kreativitas Iliahi yang diinspirasikan, Paulus mengatakan bahwa persembahan yang kita persembahkan adalah persembahan yang hidup, dan bukan yang mati. Sehingga sebagai hasilnya kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah, sehingga kita “tidak lagi hidup untuk diri sendiri tetapi untuk Dia, yang telah mati untuk kita dan telah dibangkitkan kembali” (2Kor. 5:15).

Persembahan yang dengan kehidupan yang hidup, ya. Tapi dengan kehidupan lama yang penuh dengan dosa dimana ketika kita hidup didalamnya, kita telah mati. Melainkan kita mempersembahkan kehidupan rohani yang baru yang telah diberikan kepada kita oleh Kristus. Robert Smith Candlish seorang pastor Skotlandia yang pernah hidup lebih dari 100 tahun yang lulu (1806-1873) telah meninggalkan beberapa pengajaran Alkitab yang indah. Satu set pengajarannya adalah mengenai Roma 12, dan didalamnya ada beberapa alinea yang akan kita refleksikan ke dalam kehidupan yang kita persembahkan kepada Allah. Kehidupan apa? tanya Candlish. “Bukan sekadar kehidupan binatang belaka yaitu kehidupan yang umum dari seluruh ciptaan dan termasuk ciptaan yang bergerak; Tidak sekadar, sebagai tambahannya, kehidupan yang inteligent (cerdas), yang menggambarkan kehidupan seluruh makhluk yang mampu berpikir dan mampu melakukan pemilihan yang bebas; tapi kehidupan rohani yaitu kehidupan yang memiliki arti yang tertinggi yang sebenarnya membutuhkan pertobatan yang dicapai melalui pengorbanan namun dinyatakan tak cukup, ketika mereka merasakan hal ini, maka mereka membutuhkan pengorbanan yang bersifat menebus.

Apa artinya ini, diatas segala hal, adalah bahwa kita harus menjadi orang-orang percaya jika kita ingin memberikan diri kita kepada Allah sebagaimana yang Ia inginkan. Orang lain mungkin memberikan kepada Allah, uang mereka atau waktu bahkan mungkin bekerja di lapangan pekerjaan agamawi, tapi hanya orang Kristen sajalah yang dapat memberikan kembali kepada Allah kehidupan barunya di dalam Kristus karena ia telah menerima terlebih dahulu. Sesungguhnya, ini hanya dapat terjadi karena kita telah dihidupkan di dalam Kristus sehingga kita dapat melakukannya atau bahkan kita dapat menginginkannya.

Mempersembahkan Tubuh

Hal kedua yang perlu kita lihat mengenai hakekat persembahan yang Allah kehendaki adalah meliputi pemberian tubuh kita kepada Allah. Beberapa buku-buku tafsiran kuno memberikan penekanan bahwa mempersembahkan tubuh berarti mempersembahkan seluruh totalitas kehidupan kita, seluruh aspek yang kita miliki. Calvin menulis, “Tubuh yang dimaksudkan bukan hanya kulit dan tulang-tulang, tapi seluruh totalitas yang membentuk tubuh kita.” Walaupun ini benar bahwa kita harus mempersembahkan seluruh totalitas yang kita miliki, banyak buku tafsiran saat ini menolak kata tubuh ini dengan demikian mudahnya, padahal mereka mengetahui bagaimana Alkitab menekankan pentingnya tubuh kita. Sebagai contoh. Leon Morris berkata, “Paulus dengan sesungguhnya mengharapkan orang-orang Kristen mempersembahkan kepada Allah bukan hanya tubuh mereka saja tapi seluruh keberadaan mereka.Tapi harus selalu diingat bahwa tubuh adalah hal yang penting dalam pengertian kekristenan mengenai banyak hal Tubuh kita mungkin merupakan ‘senjata-senjata kebenaran’ (6:13) dan ‘anggota Kristus’ (1Kor. 6:15). Tubuh kita adalah ‘bait dari Roh Kudus’ (1Kor.6:19); Paulus dapat berkata untuk menjadi “kudus baik di dalam tubuh maupun di dalam jiwa” (1Kor. 7:34). Ia mengetahui bahwa ada kemungkinan adanya yang jahat di dalam tubuh (tubuh dosa) tapi di dalam orang-orang percaya “tubuh yang penuh dosa” telah dibersihkan (6:6).

Di dalam arti yang lama, Robert Haldane berkata, “Yang dibicarakan oleh para rasul di sini adalah mengenai tubuh, dan tidak perlu menggalinya lebih dalam dari arti yang sebenarnya.Ini menunjukkan bahwa kepentingan melayani Tuhan dengan tubuh sama dengan melayani-Nya dengan jiwa”. Paulus tidak menguraikan Roma 12 lebih mendalam kepada pengertian dari mempersembahkan tubuh kepada Allah “sebagai persembahan yang hidup,” tapi kita tidak ditinggalkan di dalam kegelapan mengenai pengertian ini karena pemikiran ini bukanlah ide yang baru, bahkan tidak di Roma. Pemikiran ini telah muncul di pasal enam surat Roma. Di pasal itu Paulus berkata, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.

Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia” (vv, l2-14). Ini adalah kala pertama dimana Paulus berbicara soal persembahan, dan point yang ia buat ini sama dengan point yang dibuatnya kini yang berjudul, bahwa kita melayani Allah dengan mempersembahkan tubuh kita kepada-Nya.

Dosa dapat menguasai kita melalui tubuh kita, tapi hal ini tidak perlu terjadi Sehingga, daripada mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita sebagai alat dosa, kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai senjata-senjata untuk melaksanakan kehendakNya. Secara praktikal kita perlu memikirkan hal ini dengan melibatkan anggot119ubuh kita yang spesifik

  • Akal kita.
    Saya memulainya dengan akal karena, walaupun kita berpikiran bahwa keberadaan kita sebesar akal kita dan memisahkan akal kita tersebut dari tubuh kita, sebenarnya akal kita merupakan bagian dari tubuh kita dan kemenangan yang kita perlukan dimulai disini. Saya mengingatkan saudara bahwa ini adalah titik permulaan dimana Paulus sendiri memulainya di ayat 2: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (penekanan pada kata mu).Apakah saudara pernah mempertimbangkan bahwa apapun yang saudara lakukan dengan akal saudara akan sangat menentukan pembentukan saudara sebagai seorang Kristen? Jika saudara hanya mengisi akal saudara dengan produk-produk kebudayaan sekular, saudara akan tetap bersifat sekular dan berdosa. Jika saudara mengisi kepala saudara dengan novel-novel “pop” yang tidak bermutu, saudara akan mulai hidup seperti karakter tak bermutu yang saudara baca. Jika saudara tidak melakukan apapun dan hanya menonton acara televisi, saudara akan mulai bertingkah seperti penjahat-penjahat dilayar televisi. Di lain pihak, jika saudara mengisi pemikiran dengan Alkitab dan buku-buku Kristen, melatihnya dengan percakapan-percakapan yang bermutu, dan mendisiplinkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang apa yang saudara lihat dan dengan membandingkannya dengan kebenaran Alkitab di dalam praktekpraktek dunia, saudara akan bertumbuh dalam kebajikan dan bertambah berguna bagi Allah. Untuk setiap buku sekular yang saudara baca, buatlah itu menjadi pendorong semangat saudara. Untuk membaca satu buku kristen yang bermutu, buku yang dapat membangun pemikiran rohani saudara.
  • Mafia dan telinga kita.
    Akal bukanlah satu-satunya bagian dari tubuh kita yang menerima dan menyaring pengaruh-pengaruh dan yang harus dipersembahkan kepada Allah sebagai senjata-senjata kebenaran. Kita juga menerima pengaruh-pengaruh dunia melalui mata dan telinga kita, dan ini juga, harus dipersembahkan kepada Allah. Seorang sosiolog mengatakan kepada kita bahwa pada abad ke 21 pemuda-pemuda rata-rata telah diserang oleh 300.000 pesan-pesan sponsor komersil, dimana seluruhnya mengatakan bahwa kesenangan individu adalah merupakan tujuan hidup. Alat-alat komunikasi moderen kita menampilkan perolehan “hal-hal tersebut” mendahului kebajikan. Kenyataannya, mereka tidak pernah menyebutkan tentang kebajikan sama sekali. Bagaimana saudara dapat bertumbuh dalam kebajikan jika saudara secara tetap menonton televisi atau membaca iklan-iklan tertulis atau mendengarkan siaran radio yang sekular ?Saya tidak mengarahkan kepada sistim penginjilan biara dimana saudara mundur dari segala bentuk kebudayaan, karena berpikir adalah jauh lebih baik menjaultinya daripada harus mati karenanya. Tapi kadangkadang masukan sekular harus diseimbangkan dengan masukan rohani. Tujuan lain yang sederhana untuk saudara adalah untuk menghabiskan waktu dengan mempelajari Alkitab, berdoa, dan pergi ke gereja sebanyak yang saudara habiskan untuk menonton televisi.
  • Lidah kita.
    Lidah juga merupakan bagian dari tubuh, dan apa yang kita lakukan dengannya adalah penting untuk kebaikan atau kejahatan. Yakobus, saudara Tuhan menulis, “Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat diantara anggota-anggota tubuh kita sebagai suatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka” (Yak.3:6). Jika lidah saudara. tidak diberikan untuk Allah sebagai senjata kebenaran ditangan-Nya, hal pada konflik persenjataan untuk melakukan kejahatan dengan menggunakan lidahmu. Cukup lakukanlah dengan sedikit gosip atau fitnah maka semuanya akan tercipta.Yang saudara perlu lakukan adalah menggunakan lidah saudara untuk memuji dan melayani Allah. Untuk satu hal, saudara harus belajar bagaimana menceritakan Alkitab dengan menggunakannya. Saudara mungkin menghafal banyak nyanyian-nyanyian populer? Dapatkah saudara juga menggunakan lidah saudara untuk memberitakan perkataan Allah? Dan bagaimana dengan penyembahan? Saudara harus menggunakan lidah saudara untuk memuji Allah dalam lagu-lagu pujian dan lagu-lagu kristiani lainnya. Di atas seluruhnya, saudara harus menggunakan lidah saudara untuk menyaksikan kepada orang lain mengenai Pribadi dan Pekerjaan Yesus Kristus. Ini adalah tujuan untuk saudara jika saudara ingin bertumbuh dalam kebajikan: Gunakanlah lidah saudara sebanyak mungkin untuk menceritakan tentang Yesus kepada orang lain setiap saat.
  • Tangan dan kaki kita.
    Ada beberapa ayat-ayat penting dalam Alkitab mengenai tangan dan kaki. Dalam I Tes.4:11, Paulus mengatakan untuk bekerja dengan tangan kita sehingga kita dapat mencukupi diri sendiri dan tidak perlu bergantung pada orang lain: “Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah karni pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan dimata dunia luar dan tidak bergantung pada mereka.” Dalam Ef 4:28, ia juga mengatakan kepada kita untuk bekerja sehingga kita dapat memberikan sesuatu kepada yang berkekurangan: “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang kekurangan.”Sedemikian jauh kaki kita juga diperhatikan. Dalam Roma 10 Paulus menuliskan tentang pentingnya orang lain mendengar penginjilan, dengan berkata “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya,jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rm. 10: l4-15). Apa yang saudara lakukan dengan tangan saudara? Ke mana kaki saudara membawa saudara? Apakah saudara mengijinkannya jika mereka membawa saudara ke tempat dimana Knstus ditolak dan dihina? Ke tempat dimana secara terbuka praktek-praktek dosa dilakukan? Apakah saudara menghabiskan lebih banyak waktu luang saudara di bar-bar yang panas atau tempat-tempat tercela lainnya? Di sana saudara tidak akan bertumbuh dalam kebaikan.

    Malah sebaliknya, saudara akan jauh dari kelakuan yang benar. Sebaliknya, biarkanlah kaki saudara memimpin saudara ke perkumpulan orang-orang yang mencintai dan melayani Tuhan. Atau, bila saudara pergi ke dalam dunia, biarlah hal tersebut menjadi pelayanan kepada dunia dan menjadi saksi bagi nama Kristus. Gunakanlah kaki dan tangan saudara bagi Dia. Untuk setiap pertemuan-pertemuan sekular yang saudara hadiri, jadikanlah menjadi dorongan untuk menghadiri pertemuan-pertemuan Kristen juga. Dan jika saudara pergi ke pertemuan sekular, lakukanlah sebagai kesaksian bagi Firman-Nya dan lakukanlah untuk Tuhan Yesus Kristus.

Kata ketiga yang Paulus gunakan untuk menjelaskan arti persembahan pengorbanan yang kita lakukan untuk Allah adalah “suci”. Pengorbanan apapun yang kita lakukan haruslah kudus. Yaitu, harus tanpa noda atau cacat dan hanya berpusat pada Allah. Yang kurang dari hal tersebut adalah merupakan penghinaaan kepada yang Terbesar, Allah yang Kudus kepada siapa setiap orang harus menyembah. Tapi seberapa jauh kita harus kudus — kita yang telah ditebus “bukan dari barang-barang yang fana seperti perak atau emas …. melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1Pet l:18- 19). Petrus menjelaskan. “tetapi sebagaimana Ia yang memanggilmu adalah Kudus, maka kuduslah kamu dalam segala perbuatanmu; sebagaimana tertulis: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (VV. 15-16). Pengarang Ibrani berkata, “Tanpa kekudusan tidak seorangpun melihat Allah” (Ibr 12:14). Ini adalah pusat dari perbincangan kita ketika kita berbicara tentang persembahan yang hidup. Atau dengan kata yang lain lagi, kekudusan adalah tujuan dari seluruh arahan kitab Roma. Kitab Roma berbicara tentang penyelamatan. Tapi, keselamatan tidak berarti bahwa Yesus mati menyelamatkan kita di dalam (in) dosa kita tetapi menyelamatkan kita dari (from) dosa.

Handley C.G. Moule melukiskan hal ini lebih baik. “Sebagaimana kita sedang mendekati peraturanperaturan tentang kekudusan dihadapan kita, biarlah kita sekali lagi mengumpulkan apa yang telah kita lihat di dalam zaman rasul-rasul, bahwa kekudusan adalah merupakan tujuan dan persoalan dari seluruh Injil. Hal ini merupakan “bukti hidup” merupakan pembuktian tentang seberapa jauh seseorang mengenal Yesus sebagai satusatunya jalan ke Surga. Bahkan lebih lagi; hal ini adalah ekspresi dari hidup; merupakan dasar dan tindakan dimana hidup seharusnya dijalankan.Kita yang sudah merupakan “orang-orang pilihan” dan “ditetapkan” untuk “menghasilkan buah” (Yoh 15:16), buah yang banyak dan tetap. Apakah ada subjek-subyek lain yang lebih banyak ditinggalkan / dilupakan dalam penginjilan di Amerik139120m zaman kini ketimbang kekudusan? Saya tidak berpikir demikian. Memang ada waktu dimana kekudusan merupakan hal serius yang dikejar oleh siapapun yang menamakan dirinya Kristen, dan bagaimana seseorang hidup dan apa yang ada di dalam seseorang merupakan hal yang sangat vital.

J.I. Packer menuliskan sebuah buku berjudul “Rediscovering Holliness” dimana ia meminta perhatian untuk hal ini. “Kaum Puritan mendesak agar seluruh aspek kehidupan dan hubungan-hubungan didalamnya harus “kudus bagi Allah”. John Wesley mengatakan kepada dunia bahwa Tuhan telah membangkitkan kaum Metodis “untuk memercikkan kekudusan Alkitab keseluruh dunia”. Phoebe Palmer, Handlev Moule, Andrew Murray, Jessie Penn Lewis, F.B. Meyer, Oswald Chambers, Hotrauus Bonar, Amy Carmichael dan L B.Maxwell hanyalah sedikit dari figure-figure yang memimpin kepada “kebangkitan kekudusan” yang menyentuh seluruh penginjilan kristiani antara abad pertengahan 19 dan pertengahan 20. Tapi sekarang? Didalam zaman kita, kekudusan adalah hal yang sangat dilupakan sebagai kualitas yang sangat penting bagi umat Kristen. Sehingga kita tidak mencoba untuk hidup kudus. Kita dengan pasti tahu apa artinya kudus. Dan kita tidak melihat kekudusan pada diri orang lain. Pendeta Robert Murray Mc.Cheney berkata, “keperluan terbesar dari umatku adalah kekudusan pribadiku.” Tapi kekudusan seperti apa yang dilihat jemaat-jemaat pada diri pastor-pastor zaman kini? Pastinya ada. Mereka melihat kepada kepribadian yang menyenangkan, kepada kemampuan komumkasi yang baik, kemampuan administrative, dan hal-hal secular lainnya.

Seperti untuk diri kita sendiri, kita tidak mencari buku atau kaset agar menjadi kudus atau menghadiri seminar yang dapat membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita lebih menginginkan informasi mengenai “Bagaimana menjadi bahagia,” “Bagaimana membesarkan anak.” “Bagaimana memperoleh kehidupan sexual yang indah,” dan lain-lainnya. Untunglah kekurangan ini telah diperhatikan oleh pemimpin-pemimpin rohani yang merasa terganggu dan telah memulai membahas pokok persoalannya. Saya menghargai buku karangan Packer sebagai buku yang sama baiknya dengan buku yang ditulis beberapa tahun sebelunuiya oleh Jerry Bridges yang berjudul “The Pursuit of Holiness / Pengejaran dari Hidup Suci”. Ada juga cerita klasik yang sama dari seorang Bishop lnggris John Charles Ryle.

Menyenangkan Allah

Kalimat terakhir yang digunakan Paulus untuk menerangkan arti dari persembahan yang hidup adalah “menyenangkan Allah”. Tapi ini juga merupakan kesimpulan dari apa yang telah dibicarakan dalam pelajaran ini, karena tujuan utamanya adalah jika kita melakukan hal yang Paulus usulkan –sebutlah, mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus untuk Allah” — kita juga akan menemui bahwa apa yang telah kita lakukan adalah menyenangkan hati Allah atau diterima. Sangatlah mengagumkan saya bahwa Allah menemukan sesuatu yang mungkin dapat kita lakukan untuk menyenangkan-Nya. Tapi itulah kenyataannya. Perhatikan bahwa kata menyenangkan muncul dua kali dalam kalimat yang pendek itu. Kali pertama, yaitu apa yang kita lihat disini, menyatakan bahwa mempersembahkan diri kepada Allah adalah menyenangkan-Nya. Kali kedua, muncul di akhir ayat kedua, menyatakan bahwa ketika kita melakukan hal ini kita akan menemukan kehendak Allah dalam hidup kita yaitu untuk menyenangkan Allah sejauh dan sesempurna mungkin. Saya sadar bahwa kehendak Allah bagi saya merupakan hal yang menyenangkan – yaitu menyenangkan saya. Bagaimana mungkin tidak jika Allah adalah Allah yang Bijaksana dan Sumber kebaikan? Kehendak-Nya pasti adalah hal yang baik untuk saya. Tapi persembahan tubuh saya kepada-Nya juga menyenangkan hati-Nya — ketika saya menyadari diri sebagai yang sangat berdosa, bebal dan yang tidak tulus hati walaupun didalam usaha yang terbaik sekalipun kenyataan ini sangat mengejutkan.

Namun inilah kenyataannya! Alkitab berkata bahwa untuk kebaikan kita harus berpikir sebagai hamba yang tidak berharga (Luk.17:10). Tapi juga dikatakan bahwa jika aku hidup bagi Yesus, mengembalikan kepada-Nya apa yang telah Ia berikan dulu kepada saya, maka suatu hari aku akan mendengar-Nya berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia! …. masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu!) (Mat.25: 21,23).

Published in: on April 2, 2007 at 8:17 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/bagaimana-menjadi-persembahan-yang-hidup/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: