Berjuang dengan Maut Diatas Mobil

Berjuang dengan Maut Diatas Mobil

Malam itu hujan deras luar biasa membasahi dusun Wates, waktu telah menunjukan jam 7,30, jemaat baru sebagian yang hadir untuk kebaktian malam, hati ku bertanya-tanya, kenapa masih banyak keluarga yg belum hadir, apakah hujan yang menghalangi mereka? Ataukah terlalu cape mereka, karena siang harinya warga dusun Wates baru saja merayakan Saparan, dimana seluruh warga dusun tsb. Merayakan bulan Sapar seperti lebaran, tiap keluarga memasak paling tidak memotong seekor ayam dan membuat jenang, pokoknya hari itu aku kenyang sekali, tiap warga mengundangku untuk mencicipi masakan keluarga mereka, kita tidak etis kalau diundang warga tidak makan, walau aku sudah katakan, “kulo nembih mawon “(aku baru saja makan), tidak sopan kalau tuan rumah sudah menyediakan makanan kita tidak makan, biarpun sedikit kita harus makan.

Malam itu kebaktian agak terlambat dimulai, banyak yg tidak hadir usai kebaktian hujan masih turun, sampai jam 10 lewat masih belum berhenti, hawa dingin dilereng gunung Merbabu membuat tidurku malam itu tak bisa lelap seperti aku tidur di rumah, sekitar jam 3 pagi aku dikejutkan Tuan rumah Bp Hadi mengetok- ngetok pintu kamarku, rupanya ada warga yang sakit ingin melahirkan untuk meminta tolong aku menghantarkan ke rumah sakit, aku meloncat dari tempat tidur langsung kemobil untuk menghidupkan mobil, dengan susah payah karena jalan yang licin karena hujan semalam achirnya tiba juga didepan rumah Pak Selamet, kulihat orang2 desa sudah pada kumpul, isteri dan anak2 Pak Selamat lagi menangiskan kakanya yang akan melahirkan sejak jam 6 sore belum juga keluar bayinya, aku melihat ani ibu yg akan melahirkan digotong badannya sudah lemas kemobil, untung hari itu aku membawa mobil kijang yg bangku tengahnya bisa dilipat sehingga ibu ani bisa direbahkan didalam mobil, perjalanan dari dusun Wates kekota yang terdekat di Magelang memakan waktu 1,5 jam perjalanan, aku hanya berdoa Tuhan berikan kekuatan pada ibu ani, hatiku dak dik duk dijalan Keluar desa yang berbatuan dan menanjak mesin mobil berhenti tidak kuat menanjak, aku berteriak dalam hati “Tuhan tolong” aku serba salah kalau tancap gas, bagaimana nantinya ibu ani yg akan melahirkan pasti kesakitan karena jalannya bergelombang, aku hanya berdoa Tuhan tolong perjalanan ini dan kuatkan ibu ani , penumpang yg ikut berjumlah 7 orang, ketika mesin mobilnya mati 2 orang langsung turun mencari batu untuk mengganjal ban agar tidak turun kebelakang sangat bahaya sekali karena sebelah kiri adalah jurang, mobil kuhidupkan kembali untung mobil kuat sampai diujung jalan yg menanjak, dalam 20 menit perjalanan berbatuan yg bergelombang baru sampai dijalan raya beraspal ke Magelang, suasana pagi yg masih gelap dan banyak kabut yang membuat perjalanan tidak lancar, aku hanya berani menjalankan mobil sekitar 40km /jam, konsentrasi ku pusatkan kedepan jalan yg selalu menurun tajam, aku sudah hafal melewati jalan yg berliku2 menurun ini, sudah hampir 4 tahun aku lewati jalan ini setiap minggu, kali ini perjalanan yg sama aku tidak bisa menikmati pagi indah dengan pemandangan pegunungan, suasana sekitarnya masih gelap gulita, se-kali2 papasan dengan mobil yg dari bawah, dan tangisan2 kaum ibu yg mengantar dibelakang kemudiku meminta agar ibu ani jangan memejamkan matanya supaya eling, aku mempercepat larinya kendaraan dengan hati-2.

Tak kudengar teriakan kesakitan dari ibu ani seperti biasanya teriakan2 wanita atau isteriku yg akan melahirkan, aku menyuruh mereka yg dibelakang memijat jari2 tangan dan kakinya ibu ani, aku takut jangan2 dia pingsan, perjalanan yg menegangkan aku hanya dapat berdoa : tolong Tuhan, berikan ia kekuatan sampai dirumah sakit, kira2 � jam perjalanan, aku mendengar suara bayi menangis, rupanya ibu ani telah melahirkan dimobilku, aku berteriak bagaimananih? Berhenti atau terus jalan? Aku disuruh terus berjalan, waktu itu baru setengah perjalanan, hatiku berdebar-debar dan berdoa tolong Tuhan kuatkan ibu ani, lewat Tegalrejo aku baru mendengar suaru azan subuh, berarti jam 5 pagi baru sampai di Magelang, teriakan dan tangisan dari arah belakang kemudiku meminta ibu ani Eling menyebut Gusti, didekat Banyu Asin aku diminta berhenti dan rupanya ada rumah bidan, pintu diketok-ketok keluar seorang ibu rupanya ia bidannya, kemudian ia memotong tali pusarnya bayi, ibu ani digotong kedalam ruang prateknya dan setelah diperiksa oleh ibu bidan sebentar dan ia berkata ” maaf dibawah keluar lagi saya tidak sanggup menolongnya harus dibawah kerumah sakit segera” terpaksa kami gotong kembali ibu ani yg sudah tidak bergerak itu ke rumah sakit RSU Magelang, dalam seperempat jam aku sudah sampai diMagelang, dan ibu ani didorong keruang ICU, hanya sebentar dokter jaga keluar lagi menemui kami dan berkata, dia sudah tidak ada apakah ari-arinya mau dikeluarkan atau dibiarkan saja, ketika itu juga suami dan ibu2 yg mengantar meraung-raung menangis memecahkan kesunyian pagi diruang ICU, sampai aku yg menjawab kepada dokter itu utk mengeluarkan ari2nya, terpaksa pagi itu aku membawah kembali ibu ani yg sudah tak bernyawa itu kedusun wates, suaminya ber-teriak2 menangis, membuat aku teringat 20 tahun yg lewat, dimana aku menyaksikan sendiri bagaimana isteriku berjuang dengan maut ketika akan melahirkan Yosua anakku yg kini sedang kuliah, isteri ku mengalami takdir seperti ibu ani, tetapi aku percaya isteriku sudah berada dirumah Bapa disurga saat ini dibanding ibu ani yg belum mengenal Tuhan.

Disepanjang perjalanan pulang suaminya berteriak-teriak memanggil nama isterinya, aku dari balik stir hanya bisa menasehatkan Parwidi suaminya, “Tuhan mempunyai rencana indah buat kamu Par, Pakde telah mengalami sendiri seperti kamu, tabahkan hatimu”, hatiku bertanya-tanya sama Tuhan apakah ini rencanaMu Tuhan, semua boleh terjadi agar Parwidi bisa kembali lagi kepadaMu, dahulu sebelum menikah dengan ibu ani, Parwidi sebenarnya adalah anak Tuhan yg sudah mengenal Yesus, tetapi sejak dia mengenal dengan gadis ani, dia sudah jarang kegereja, bahkan meninggalkan Tuhan dan murtad menikah di KUA, aku bertanya- tanya dalam hati apakah ini semua rencanaMu Tuhan…? karena terus terang jemaat masih sering berdoa untuknya.

Hari itu aku benar2 cape sekali, pulangnya ke Borobudur , mobilku yg kurang fit hampir masuk jurang, untung Tuhan senantiasa menyertaiku, orang2 desa berbondong-bondong mengangkat mobil yg tinggal 15 cm dari tepi jurang. Itulah suka dukanya melayani dipedesaan.

Peristiwa kelahiran seorang bayi dan kematian ibu ani diatas mobil, sebagai hamba Tuhan mengingatkan kaum muda-mudi, jangan engkau tinggalkan Yesus karena “Cinta”, peristiwa ini juga mengingatkan saya, dimana saya yang saat itu melihat sendiri disaat-saat orang yg saya kasihi sedang berjuang dengan maut, dan achirnya dia menang kesurga, secara manusia saat itu juga aku ingin ikut dengannya, aku shock aku dipressi waktu itu, tetapi ada seorang yg menguatkan saya melalui firmanNya:

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firnman Tuhan, yaitu rangcangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” Yermia 29 : 11 Terima kasih Tuhan… karena sejak itu aku dididik oleh Tuhan untuk melayani Tuhan, bahkan Tuhan percayakan aku utk mengelola sebuah bukit doa di Borobudur dan melayani dipedesaan.

Published in: on April 2, 2007 at 6:43 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/berjuang-dengan-maut-diatas-mobil/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: