Doa

Doa

Zanchius berkata “All beings whatever, from the highest angel to the meanest reptile to the minutest atom, are the objects of God´s eternal decrees” (The doctrine of absolute predestination).

Bavinck berkata “The final answer to the question why a thing is and why it is as it is must ever remain: ´God willed it´,according to His absolute sovereignty” (The Doctrine of God)

Berkhof mengatakan “reformed theology stresses the sovereignty of God in virtue of which He has sovereignly determined all things from all eternity whatsoever will come to pass” ( Systematic theology).

Seseorang bertanya dalam hati ketika membaca pernyataan para teolog calvinists diatas, “apakah fungsi doa jika memang Allah sudah menetapkan semua akan akan terjadi dalam sejarah sampai sedetail-detailnya?” atau “jika begitu untuk apa berdoa toh Allah sudah menetapkan segalanya. Jadi doa saya tidak akan merubah apa-apa”.

Pandangan calvinist (determinist)

C.Samuel Storms menggunakan contoh sebagai berikut: anggap bahwa Allah menetapkan bahwa Gary akan bertobat pada tanggal 8 agustus. Dan Allah sudah menetapkan untuk melahir-barukan Gary sebagai respon terhadap doa Storms pada tanggal 7 agustus. Apakah jika Storms tidak berdoa maka ketetapan Allah untuk menyelamatkan Gary bisa gagal? Storms menjawabnya sebagai berikut “Jika saya tidak berdoa pada tanggal 7 maka gary tidak akan diselamatkan pada tanggal 8. Tapi saya pasti akan berdoa pada tanggap 7 karena Allah sudah menetapkannya untuk menyelamatkan Gary pada tanggal 8, dan Allah telah menetapkan pada tanggal 7 saya akan berdoa untuk Gary.”

Jadi Storms ingin mengatakan kepada kita bahwa hanya karena Allah sudah menetapkan segalanya bukan berarti kita harus jadi malas berdoa. Tapi tetap saja pernyataan tersebut penuh konflik. Karena, jika saya tidak berdoa kesimpulannya berarti bahwa saya memang tidak ditetapkan Allah untuk berdoa. Ini sangat jelas karena menurut Storms dan para calvinists lainnya, Allah menggaransi bahwa ketetapan-Nya dari awal sampai akhir akan terlaksana tanpa gagal setitikpun. Jadi jawaban dari Storms untuk menguatkan para pembacanya untuk berdoa juga sudah ditetapkan oleh Allah. Dan jika para pembacanya merasa yakin dan termotivasi untuk berdoa, maka mereka pasti akan berdoa (karena memang sudah ditetapkan Allah). Tapi jika para pembacanya ragu dan malah tidak merasa perlu untuk berdoa maka kesimpulannya mereka inipun memang sudah ditetapkan Allah untuk tidak berdoa. Jadi walau mengelak bagaimanapun juga, mereka yang menganut determinisme tidak bisa lolos dari keberatan menganggap remeh pentingnya doa (atau penginjilan dll ! ).

Jadi dalam pandangan ini, tidak tepat jika dikatakan bahwa Allah merespon doa kita, karena sejak dari awalnya Allah sendiri sudah menetapkan doa kita. Paul Helm, teolog/filsuf reformed, mengatakan, walaupun doa tersebut sudah ditetapkan oleh Allah, kita tetap dapat mengatakan “God answers because men pray” (Allah menjawab karena manusia berdoa). Mungkin maksud Helm disini adalah: mengatakan bahwa Allah menjawab doa adalah berarti Allah, yang menetapkan permintaan (doa) tertentu dari orang tertentu, menetapkan untuk memenuhinya, SETELAH orang tertentu yang sudah ditetapkan tersebut memintanya (dikutip dari John sanders, The God who Risks). Jadi ´Allah merespon doa´ artinya bahwa Allah memutuskan terlebih dahulu orang tertentu meminta permintaan tertentu baru setelah itu Allah menjawab permintaan tersebut. ´Allah yang mendengar doa´ disini berarti Allah yang mendengar perkataan-Nya sendiri melalui manusia tertentu. Padahal sebenarnya Allah seperti itu sebenarnya tidak merespon doa kita. Kalau begitu, apakah maksud dari Yakobus ketika berkata “…kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa” Yak 4:2) ? Jika Allah sudah menetapkan seseorang berdoa maka ketetapan itu pasti akan terlaksana dan orang tersebut pasti akan berdoa. Jika semua keinginan Allah pasti terlaksana maka kita tidak akan gagal menerima sesuatu hanya karena kita tidak memintanya!

Model determinist adalah model ´causal relationship´, bukan ´personal relationship´. Allah bebas mengatakan ´ya´ dan ´tidak´ kepada kita karena kita tidak bebas mengatakan ´ya´ dan ´tidak´ kepada Allah.

Pandangan non-calvinist (non-determinist)

Menurut pandangan ini Allah benar-benar merespon doa kita. Ketika Allah marah pada bangsa israel (Kel 32:9-10), Musa meminta agar Allah mengurungkan niat-Nya dan Allah mau mengabulkan permintaan Musa (32:10-14). Ketika Allah berkata kepada nabi Yesaya bahwa raja Hizkia akan mati, Hizkia berdoa kepada Allah dan Allah mengabulkan doanya (2Raj 20:1-6). Hal ini sesuai dengan perkataan Yakobus diatas dengan sedikit diubah “mereka menerima karena mereka meminta”. Yakobus berkata “doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya”. Doa menggerakan Allah dan membuat perubahan pada dunia ini.

Tuhan Yesus berulang-ulang mengajarkan betapa pentingnya doa itu. Yesus menyuruh kita untuk meminta kepada Allah (Mat 7:7, 11; 18:19-20; yoh 14:1-16; 15:7, 16; 16:23). Pengajaran ini hanya ada artinya jika memang doa benar-benar membawa perubahan terhadap sesuatu.

Pengajaran Alkitab tentang pentingnya doa hanya berarti jika kita meminta kepada Tuhan sesuatu yang Allah tidak akan lakukan kecuali diminta (atau paling tidak, hanya terkadang saja). Peter Geach mengatakan “unless it is sometimes true that God brings about the course of events in a way that he would not had he not been asked, petitionary prayer is idle: just as it would be idle for a boy to ask his father for a specific birthday present if the father has made up his mind what to give irrespective of what the boy asks”.

Sebagai contoh, ada banyak kisah dimana Alkitab menceritakan bagaimana Allah berencana untuk menghakimi suatu bangsa atau kota tapi mengurungkan niatnya karena doa (Kis 32:14; Bil 11:1-2; 14:12-20; 16:20-35; Ul 9:13-14, 18-20,25; 2Sam 24:17-25; 1Raj 21:27-29; Yer 26:19 dll). Mazmur 106:23 berbunyi “Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihan-Nya tidak mengetengahi dihadapan-ya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka”.

Ayat seperti ini menjelaskan bahwa nasib sebagian orang ditentukan oleh ada tidaknya orang berdoa atau tidak. Ayat seperti ini tidak ada artinya jika memang masa depan itu semuanya sudah tertutup. Bagaimana mungkin Allah benar-benar mengurungkan niat-Nya jika Dia sudah mengetahui pasti apa yang akan terjadi dimasa depan dari sejak kekekalan? Apakah Allah disini jujur mengatakan kepada kita bahwa Dia memang merubah pikirannya atau Allah disini berpura-pura saja mengatakan kepada kita bahwa Dia merubah pikiran-Nya padahal sebenarnya tidak? Allah benar-benar merespon kepada kita. Respon Allah bukanlah sebuah ´kepura-puraan. Dia tidak berpura-pura merespon doa padahal Dia memang sedang melakukan sesuatu yang toh Dia akan lakukan tanpa doa kita.

Jika kita percaya bahwa masa depan itu sebagian terbuka, maka doa kita memainkan peran penting dalam bagian resiko yang Allah ambil ketika Dia menciptakan dunia yang Dia tidak tetapkan segala hal yang akan terjadi. Disini terlihat jelas fungsi doa, bukan sekedar ilusi, melainkan nyata. Peter Baelz menyebut fungsi doa sebagai “one of the central variables that make it possible for God to do something that he could not have done without our asking.”

Kita berdoa dengan sabar dan tekun karena kita merasakan bahwa doa kita bisa merubah sesuatu dan Allah bertindak karena doa kita. Tidak ada sesuatu yang darurat jika kita sudah berpikir bahwa allah sudah menetapkan segalanya atau jika masa depan tertutup. Jika begitu, kita berdoa hanya karena masalah ketaatan bukan karena pengharapan. Tapi jika rencana Allah bisa berubah dan masa depan tidak tertutup, maka doa baru mempunyai arti.

Apa yang terjadi dibumi mempengaruhi apa yang terjadi disurga. Yesus berkata “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat 18:18). Allah sungguh mengasihi kita dan menaruh perhatian kita dalam hati-Nya hanya karena hal tersebut menjadi perhatian kita. Inilah natur dari ´personal, loving relationship´. Relationship bukanlah hal mendominasi atau memanipulasi melainkan partisipasi atau kerja sama dimana kita menjadi kawan sekerja Allah (1Kor 3:9). Dalam doa, Allah memperlakukan kita sebagai subjek, bukan objek.

Allah menciptakan kita bukan hanya supaya Allah bisa mengatur seenaknya, walaupun Allah punya hak untuk itu, tapi Allah juga mau agar kita mempengaruhi Dia. Itulah sebabnya Allah mau kita berdoa. Mungkin ada yang berkeberatan bahwa kita tidak punya urusan untuk menasehati Allah yang maha bijaksana. Tapi Alkitab tidak menyuruh kita diam (Fil 4:6; 1Yoh 5:14-15) dan menyuruh kita berdoa dalam nama Yesus (Yoh 14:13-14). Abraham, Musa, Elia ´adu argumen´ dengan Allah. Mereka tidak selalu diam dihadapan Allah. Tokoh-tokoh Alkitab berdoa karena mereka tahu doa bisa merubah sesuatu, termasuk pikiran Allah. Mereka berbicara bersama Allah dalam rangka untuk menentukan bersama apa yang akan terjadi selanjutnya. Allah mau dialog seperti ini, bukan karena kita lebih bijaksana dari Allah sehingga bisa menasehati Allah, melainkan karena Allah memutuskan untuk menjadikan kepentingan atau keinginan kita menjadi kepentingan-Nya juga. Allah menginginkan kita menjadi partner-Nya, bukan karena Dia butuh nasehat kita, tapi karena Dia ingin persekutuan dengan kita.

Published in: on April 2, 2007 at 4:41 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/doa/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: