Hak Beristirahat untuk yang Bekerja

Hak Beristirahat untuk yang Bekerja

“Beristirahat” adalah antonim dari “bekerja”. Seperti “mendorong” adalah lawan kata dari “menghela”, dan “masuk” adalah lawan kata dari “keluar”.

Karena itu wajar bila orang yang hobinya bekerja, tidak suka beristirahat. Dan sebaliknya, orang yang kegemarannya beristirahat, malas bekerja. Konon, menurut para ahli, perbedaan sikap ini menjadi salah satu pembeda utama antara sebuah “masyarakat tradisional” dan sebuah “masyarakat moderen”.

Pada sebuah masyarakat “tradisional”, orang yang tidak harus banyak bekerja dipandang berstatus lebih mulia, ketimbang mereka yang mesti banyak berpeluh karena terpaksa bekerja keras. Hanya “wong kasar” yang melakukan “kerja kasar”. Sementara yang berdarah biru tak pantas mengotori tangannya.

“Bekerja” dilakukan hanya bila terpaksa. Apalagi bekerja dengan mengerahkan otot dan tenaga. Kerja jenis ini-“kerja kasar”-diakui memang tidak terelakkan.

Bagaimana pun piring kotor harus dicuci; sampah harus diangkut; kayu harus dibelah; padi harus ditanam dan dipanen. Ya! Namun “kerja kasar” ini, sekali lagi, cuma pantas dikerjakan oleh “orang-orang kasar” pula.

Ini tidak berarti bahwa mereka-orang-orang “tradisional”-itu pemalas. O, sama sekali tidak! Mereka mau dan bisa bekerja sangat keras. Tengok saja petani-petani, nelayan-nelayan, dan kuli-kuli panggul kita! Mereka adalah pekerja-pekerja keras.

Cuma saja, “bekerja” itu sendiri-bagi mereka, dan bagi orang lain juga-bukanlah sesuatu yang terhormat. Karena itu mereka melakukannya, sebab tidak ada pilihan lain.

* * *

DALAM masyarakat modern, “kerja kasar ” disebut sebagai “blue collar job”. Artinya, “pekerjaan kerah biru”. Sedang “kerja halus” disebut sebagai “white collar job”. Pekerjaan “kerah putih”. Disebut “biru dan “putih”, kemungkinan besar adalah karena yang melakukan “kerja kerah putih”, tak perlu mengotori pakaiannya. Sedang yang lain perlu pakaian kerja yang “tahan kotor”-pakaian biru.

Tak dapat dipungkiri, pekerjaan “kerah putih” dianggap lebih prestisius ketimbang yang “kerah biru”. Pekerja kerah putih adalah mereka yang berdasi atau bergaun rapi, duduk di ruang yang sejuk berkursi empuk, sibuknya di belakang meja dengan pena, telepon, dan komputer mereka. Tak ada peluh menetes.

Karenanya, mana bisa dibandingkan dengan montir-montir yang berpakaian dekil, bekerja di ruang yang hiruk pikuk dan berbau penguk. Dengan juru parkir yang bekerja dipanggang terik matahari, mengumpulkan 1000 rupiah demi 1000 rupiah.

Dengan tukang sampah yang sehari-hari harus menahan bau dan mengais sampah tanpa pelindung hidung atau kaus tangan.

Dengan kuli-kuli pelabuhan yang memanggul beban yang lebih berat ketimbang berat badannya sendiri.

Tapi dalam masyarakat moderen, sikap terhadap “kerja” telah berubah secara radikal. Bekerja itu, untuk mereka, adalah mulia. Luhur. Orang- orang yang lebih gemar memandikan perkutut ketimbang bekerja keras, mereka pandang sebagai pemalas-pemalas dan benalu-benalu masyarakat yang menyebalkan.

Sebaliknya, semakin banyak tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan-dan karenanya semakin sedikit orang yang berminat melakukannya-diberi penghargaan yang relatif lebih tinggi. Karena itu, seorang anak di Amerika dengan tanpa merasa minder memperkenalkan ayahnya sebagai “garbage man” (= tukang sampah).

Perubahan sikap terhadap “kerja”, juga sangat jelas kita lihat melalui kisah berikut, yang konon benar-benar terjadi. Ketika pada suatu hari, sebagai tanda penghargaan dan kekaguman, perdana menteri Jepang berkenan berkunjung ke pabrik Honda. Sudah selayaknya, tamu terhormat ini disambut sendiri oleh pucuk pimpinan tertinggi pabrik tersebut. Dan itu tidak lain adalah sang presiden direktur, sekaligus pemilik dan pendiri Honda Corporation.

Ketika saat kunjungan kian mendekat, staf terdekat Pak Honda semakin gelisah. Bos mereka masih tetap bersantai dengan pakaian bengkelnya, yang di sana sini “kotor” terkena tumpahan oli dan sapuan gemuk.

“Pak, rombongan akan tiba lima menit lagi. Apakah bapak tidak sebaiknya berganti pakaian dahulu?”, kata mereka-setengah gugup setengah gemetar. “Mengapa aku harus tukar pakaian?,” sergah sang bos besar, “Pakaian kerja bagiku adalah pakaian yang paling terhormat yang bisa dikenakan oleh seseorang”.

* * *

SEDEMIKIAN terobsesinya orang-orang moderen terhadap kerja, muncullah sebuah “penyakit sosial” baru, yaitu penyakit kecanduan kerja. Atau lebih dikenal sebagai “workaholic”. Orang-orang yang mengidap penyakit ini melihat “bekerja” sebagai satu-satunya, bahkan semua- muanya, dalam kehidupan. “Beristirahat” bagi mereka adalah “siksaan” (= torture). Penyia-nyian waktu yang tak terampunkan.

Apakah bekerja melampaui batas tidak membuat mereka lelah? Tentu saja! Tapi kelelahan pun-selama masih bisa-akan mereka tekan, dengan maksud masih bisa bekerja lebih lama dari pada yang dimungkinkan oleh kekuatan tubuhnya.

Maka di toko-toko pun berjajar dijual pelbagai jenis “stimulan”, yang fungsinya adalah menghilangkan rasa lelah. Tapi awas, obat-obatan ini cuma menghilangkan rasa lelah, bukan menghilangkan kelelahan itu sendiri!

AKIBATNYA mudah diramalkan. Secara umum, produktivitas masyarakat meningkat hebat. Tapi dampak sampingnya adalah kualitas kesehatan yang menurun dan kehidupan keluarga yang rentan.

Suami dan istri-kedua-duanya hanya memikirkan pekerjaan- hanya “menyisakan”, bukan dengan sengaja “menyisihkan”, waktu bagi pasangannya, yaitu ketika tubuh sudah penat, tenaga sudah terkuras, dan emosi telah labil.

Anak-anak banyak yang bertumbuh liar, karena tak pernah merasakan perhatian dan tak pernah menikmati kasih sayang orang tua mereka. Kecuali barangkali diberi uang atau dibelikan “play station”, guna mengalihkan perhatian dan membungkam protes mereka.

Hari Minggu, bagi banyak orang, adalah satu-satunya hari di mana mereka bisa bangun siang dan tidak melakukan apa-apa, setelah seminggu lamanya tenaga mereka dipacu melampaui batas.

Karena itu, bagi orang-orang ini, ke gereja dianggap merugikan lagi pula tak ada manfaatnya. ” Sama-sama tidur, lebih baik tidur di rumah dari pada tidur di gereja!,” kata mereka.

Kebutuhan spiritual mereka pun, tanpa disadari, tertelantarkan. Dan dengan spiritualitas yang “tipis”, “miskin” dan “merana” itu, mana mungkin mereka punya kekuatan untuk menghadapi tantangan kehidupan moderen yang luar biasa berat.

* * *

“ENAM HARI LAMANYA ENGKAU AKAN BEKERJA DAN MELAKUKAN SEGALA PEKERJAANMU, TETAPI HARI KETUJUH ADALAH HARI SABAT TUHAN, ALLAHMU; MAKA JANGAN MELAKUKAN SESUATU PEKERJAAN .” (Keluaran 20:9-10)

Perintah ini bukan perintah untuk beristirahat, tetapi juga perintah untuk bekerja. Perintah untuk bekerja, dan perintah untuk beristirahat. Keduanya-“bekerja” dan “beristirahat”-ternyata tidak berlawanan, dan jangan dipertentangkan.

Keduanya bukan merupakan pilihan “ini atau itu”; “bekerja atau beristirahat”. Tapi komplementer. Saling melengkapi. Yang satu tak mungkin tanpa yang lain.

Tidak mungkin orang hanya terus-menerus bekerja, tanpa beristirahat. Tapi mustahil pula, bila orang hanya mau beristirahat tanpa bekerja- kecuali bila yang bersangkutan sakit parah. Kinerja yang bermutu hanya dapat dihasilkan oleh mereka yang cukup beristirahat. Sebaliknya, istirahat yang paling nikmat adalah untuk mereka yang telah bekerja paling penat.

Bukankah perintah Tuhan ini adalah koreksi terhadap gaya hidup banyak orang-khususnya sebagian besar pegawai negeri kita? Yaitu pada waktu semestinya bekerja, eee malah bersantai ria dan bermalas-malasan- sungguh menyebalkan! Sebaliknya tatkala seharusnya sudah bisa beristirahat, terpaksa bekerja keras untuk mengejar ketinggalan.

Yang Tuhan kehendaki adalah, hidup yang DISIPLIN dan SEIMBANG. Bekerja pada waktu bekerja. Beristirahat pada waktu istirahat. Baik dalam melakukan pekerjaan sekuler kita, maupun ketika melaksanakan tugas misioner kita.

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, ” kata Yesus, “selama hari masih siang; (sebab) akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja” (Yohanes 9:4)

Menurut Yesus, waktu tidak berjalan siklis (= melingkar) melainkan linear (= lurus). Untuk masing-masing ada waktunya. Ada waktunya bekerja, ada waktunya beristirahat. Setiap saat adalah kesempatan. Peluang yang kadang-kadang cuma sekali datang, lalu tak pernah terulang.

Jadi selama Anda masih diberi kesempatan bekerja, bekerjalah sekeras- kerasnya dan sebaik-baiknya! Sebab satu saat “akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja”. Dan bila “malam” itu datang, maka betapa pun Anda ingin, yang akan tersedia cuma penyesalan. Penyesalan tanpa obat.

Published in: on April 2, 2007 at 11:14 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/hak-beristirahat-untuk-yang-bekerja/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: