Hormat Kepada Para Penguasa

Hormat Kepada Para Penguasa

“Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” (Rom. 13:5, LAI).
Sabbath, 7 August Perspektif David

PENDAHULUAN
1 Sam. 26:23

Tampaknya jauh lebih gelap dari dasar goa tempat persembunyianku. Bulan tampak keperakan. Langit berawan bermain petak umpet dengan kelipan bintang. Aku tidak mendengar apapun, bahkan tidak simponi jangkrik-hanya napas pendek dan dangkal dari orang yang terbaring di tanah. Dia berbalik. Jendral Abner terbaring dalama tumpukan tak jauh dari situ. Para pengawal menggorok dengan kerasnya, tubuh mereka yang kecapekan menutupi bebatuan.

Sebercak cahaya dipantulkan oleh emas yang melingkari kepalanya. Tombaknya tertancap di tanah. Panjinya terjuntai dan bergoyang oleh tiupan angin sepoi. Ya, ini adalah Raja Saul, orang yang memburuku seperti binatang buruan. Dia telah jatuh dari Allah. Bagaimana Allah kok ingin dia jadi raja? Samuel telah mengurapiku sebagai raja Israel. Sekarangkah waktunya?

Apa itu penguasa? Apakah Allah benar-benar awal dari semua penguasa? Apakah penguasa itu memilih untuk mengikuti Allah atau tidak itu adalah pilihan mereka. Allahku bukanlah Allah yang pemaksa. Aku tahu Dia menginginkan aku untuk mengikuti Dia, jadi menjadi yang paling baik dari kemungkin yang mungkin. Sekarang apa pilihanku?

Apakah Allah punya hak untuk jadi pengendali? Ya! (Maz. 100:3). Hak apa yang dipunyainya untuk jadi pengendali? Segalanya! (Kej. 1:1, Maz. 47:7). Bagaimana hal ini mempengaruhi hubunganku dengan Allah? Allah telah memberikan kita figur penguasa sebagai teladan dari apa yang diinginkannya. Raja Saul telah membuktikan bahwa dia tidak lagi ingin mengikuti Tuhan Allah kita. Saya tahu, walaupun begitu, bukanlah jadi alasan bagi kita untuk tidak menghormati dia atau, paling jelek, mencelakainya dalam hal apapun.

Ini adalah kali kedua aku menghadapi keputusan seperti ini. Disini dia tertidur. Tidak ada seorangpun yang tahu aku di sini. Aku tahu bagaimana cara membunuh. Banyak pertempuran telah mengajarkanku caranya. Sekali pukul maka akan selesai segalanya. Tetapi apa akibat dari pengambilan nyawa ini? Akhirnya aku akan jadi raja juga. Tetapi akan jadi seperti apa aku ini nantinya, dari kerajaan Allah? Dapatkah aku menjadi Raja yang diberkati Allah? Apa yang diinginkan Allah aku lakukan?

Disini saya berdiri. Ditanganku aku memegang tombak yang bukan milikku, buli-buli air yang bukan milikku. Aku berteriak. Aku memanggil. Dia mendengar. “TUHAN menyerahkan engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi TUHAN” (1 Sam. 26:23 LAI)

Bagi sobat-sobatku di tahun 2004 satu-satunya waktu seseorang tidak mesti mematuhi figur penguasa adalah pada waktu mereka memberikan perintah yang bertentangan dengan hukum Allah (Kis. 4:19 LAI). Kita (ya, kita juga) perlu untuk mengerti pentingnya mendengar dan mematuhi para figur penguasa bumi. “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,” Kita melakukan semuanya ini demi Tuhan. Allah ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah raja kita, seseorang yang dapat dipercaya dan dipatuhi. Allah menginginkanku untuk menjadi Teladan kepada dunia tentang bagaimana para pengikut Allah menghubungkanku dengan orang lain (ayat 15-17).. Allah menginginkanku untuk menunjukkan kepadaNya kesetianku dan melakukan apa yang dimintaNya karena kasihku kepadaNya (Yoh. 14:15)

Aku tidak sempurna, banyak kali aku berantakan. Ambillah kebenaran ini dariku untukmu: Allah menginginkau suatu hubungan yang padu, kasih, hidup, dan rajani dengan kamu. Aku tahu itu! (Maz. 9:9-11).

Dalam Kasih Allah, hambamu,

David bin Isai

Richard Gray, Mount Pearl, Newfoundland

Kutipan: Apakah Allah benar-benar awal dari semua penguasa?

Minggu 8 August Apakah saya Warganegara Model?

LOGOS

Matt. 5:13-16; 22:15-21; Kis 5:29; Rom. 13:1-5; 1 Pet. 2:13-15

Kota Di atas Gunung (Mat 5:13-16)

John Calvin menyatakan Genewa segagai “Kota diatas Gunung” (Mat. 5:14, LAI), dimana warganegara yang dipilih Allah mendemonstrasikan nasib akhir mereka dengan perbuatan baik. Pada tahun 1630, John Winthrop mengutip Mat 5:13-16 pada waktu dia mengungkapkan missinya dan teman-teman Puritannya di Massachusetts. Baru-baru ini administrator Gereja Advent telah mencoba untuk menciptakan masyarakat model di rumahsakit, industri, dan sekolah. Beberapa yang hidup di lingkungan ini menyenanginya. Tetapi seringkali usaha terbaik kita untuk menciptakan sorga di dunia ini melahirkan penolakan, kritik, dan kemarahan.

Mungkin penterjemahan pada waktu Calvin dan Winthrop dalam menghormati perikop ini salah. Mungkin Jesus tidak membicarakan tentang membuat masyarakat Kristen. Sisa dari kotbah di atas bukit kelihatannya diarahkan kehubungan individu manusia dengan masyarakatnya. Masyarakat model rohani mengarah ke Parisian, suatu kepercayaan yang dapat diciptakan untuk orang-orang benar dengan cara membuat dan memaksakan aturan-aturan ketat. Kota yang dinyatakan Yesus bukanlah diterangi oleh lampu yang dinyalakan oleh pemerintah. Gantinya itu diterangi oleh banyak lilin kecil, diletakkan di jendela individu-individu, setiapnya digerakkan oleh rasa kepribadian yang menyatakan mereka membutuhkan terang.

Kaisar versus Allah (Mat. 22:15-21; Kis. 5:29; 1 Pet 2:13-15)

Sepanjang pelayananNya, Kristus menunjukkan ketidakpedulian terhadap politik yang membuat banyak murid menjadi frustrasi. Itu adalah era yang disebut sebagai pemimpin revolusioner. Tetapi pada waktu tentara Roma memaksa sahabat Yahudi mereka untuk menjadi kuda beban, Yesus mengatakan kepada yang tertindas untuk berjalan mil yang kedua (Mat. 5:41). Pada waktu orang-orang bangkit untuk mengangkat dia menjadi pemimpin mereka, Yesus menolak (Yoh 6:15). Pada waktu ditanya apakah pajak Roma yang mereka benci mesti diboikot dengan dasar keagamaan, Yesus mengatakan, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar” (Mat. 22:21, LAI)

Bahkan dalam pengadilanNya Yesus menunjukkan hormat kepada Imam besar (Yoh. 18:21-23). Dan menurut Yesus, otoritas Pilatus untuk mengadili diberikan kepadanya oleh Allah (19:11). Baik imam besar maupun Pilatus menggunakan otoritas yang diberikan Allah dengan baik. Tetapi Yesus, melihat mereka sebagai alat Illahi, patuh sampai mati.

Tetapi sebaliknya pengikutnya, Petrus dan para rasul, berdiri tegak melawan otoritas lokal mereka. Diinstruksikan untuk tidak mengajar dalam nama Yesus, mereka mengatakan kepada Senat, “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kis 5:29 LAI). Petrus sendiri akan dihukum dan tentu, menurut tradisi, dihukum, karena ketidak patuhannya kepada otoritas dunia. Tetapi Petruslah yang menasehati kita bahwa Gubernus dikirim oleh Allah untuk menghukum orang yang salah (1 Pet. 2-13-17). Apakah ini membuat Petrus sebagai orang yang bersalah?

Lakukan apa yang dikatakan Paulus, bukan apa yang dilakukan Paulus? (Rom. 13:1-5)

Dalam cara yang sama tulisan Paulus tampaknya berlawanan dengan tindakannya. Dia memerintahkan orang Kristen Romawi untuk mematuhi otoritas yang berkuasa. Tetapi dalam buku Kisah, kita baca bahwa Paulus ditahan karena memulai huru hara (Kis 24:5). Walaupun orang Kristen mula-mula tampaknya ingin menjadi warganegara model yang patuh akah hukum, mereka mempunyai reputasi untuk menjadi pembuat masalah.

Tentu saja saya membesar-besarkan kontradiksi Paulus (dan juga Petrus) untuk penekanan argumen. Ada bukti bahwa Paulus bangga menjadi warganegara Roma (21:39). Dia naik banding ke sistem pengadilan Roma untuk menyelamatkan dia (22:25; 25:10, 11). Salam seperti banyak orang lain dalam masyarakatnya, dia rindu untuk mengunjungi kota terkenal itu, hanya saja dalam kasus Paulus adalah mimpinya untuk mengevangelisasi ibukota kerajaan itu (Rom 1:15).

Paulus (seperti Yesus) tidak ingin merubah dunia dengan revolusi massa, tetapi dengan perubahan individu. Sebagai warganegara dia mengagumi sistem Romawi, tetapi sebagai orang Kristen dia mempunyai iman akan otoritas Allah yang lebih tinggi. Pada waktu pengadilan Roma menjatuhkannya, iman Paulus akan Illahi dibangkitkan oleh kunjungan malam Yesus di penjara. “Kuatkanlah hatimu” kata Yesus kepadanya, “sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.” (Kis. 23:11, LAI)

Setia sampai Mati (Fil 1:19-21)

Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menjadi setia kepada figur otoritas pilihan Allah. Tetapi jika otoritas itu bertentangan dengan hukum Allah, HukumNya yang terutama.

Seperti Yesus, Petrus, dan Paulus, Orang Kristen dari seluruh generasi telah menemukan diri mereka ditangkap karena iman mereka. Tetapi sementara Petrus mengayunkan pedangnya di taman Yesus memperingatkan dia, kita tidak membela Tuha kita dengan paksaan. Sebagai gantinya penurutan kita akan otoritas mestilah penurutan sampai mati.

Mungkin seperti Pulus, kita dapat men356akan, “bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil” (Fil. 1:19-21).

REAKSI

  • Apakah salah untuk mencoba menciptakan suatu komunitas Kristen? Apakah ini bertentangan dengan apa yang Yesus nyatakan dalam Matius 5:13? Terangkan jawabmu.
  • Bagaimana caranya patuh kepada otoritas dunia dapat menjadi kesaksian? (1 Pet. 2:13-15). Dapatkah ketidak patuhan orang Kristen juga dapat menjadi saksi.
  • Adakah waktunya bagi orang Kristen untuk memprotes keputusan pemerintah? (Amos 5:12-15). Dapatkah anda pikirkan orang Kristen yang menyerah kepada otoritas dunia tetapi tidak kepada hukum yang tidak adil?
  • Apa yang akan terjadi jika Petrus dan Paulus patuh kepada instruksi otoritas dunia mereka? Dapatkah Yesus patuh kepada otoritas pemerintahnya?
  • Apakah lebih Kristen untuk ikut Pemilu atau absen dari Pemilu? Terangkan jawabmu. Kutipan: Kota yang dinyatakan Yesus bukanlah diterangi oleh lampu yang dinyalakan oleh pemerintahSenin 9August “Kita Mesti Mematuhi Allah”

    KESAKSIAN

    Kis 4:18-20; 5:27-29

    Prinsip yang mendasari para murid tidak takut bersaksi pada waktu menjawab perintah untuk tidak lagi berbicara atas nama Yesus, mereka menyatakan, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah” (Kis 4;19 LAI) adalah sama pada waktu Pengikut Injil berjuang untuk bertahan pada waktu Reformasi. Pada tahun 1529 para Pangeran Jerman berkumpul di DPR Spires, disana dinyatakan dekrit Emperor yang membatasi kebebasan beragama, dan melarang lebih lanjut semua bentuk penyebaran doktrin reformasi. Tampaknya harapan dunia akan dihancurkan. Apakah para pangeran akan menerima dekrit itu? Apakah terang injil akan dipadamkan dari banyak orang yang masih berada dalam kegelapan? Masalah dunia yang luar biasa dipertaruhkan. Mereka yang telah menerima iman reformasi bertemu bersama, dan keputusan mufakat bulat mereka adalah, “Marilah kita menolak dekrit ini. Dalam bentuk hati nurani si mayoritas tidak mempunyai daya”.1

    Kita mesti tegas dalam mempertahankan prinsip pada zaman ini. Panji-panji kebenaran dan kebebasan beragama yang ditegakkan oleh para pendiri gereja injil dan oleh saksi-saksi Allah selama berabad-abad telah lewat sejak itu, dan pada zaman akhir ini telah diserahkan kepada tangan kita. Tanggung jawab untuk pemberian besar ini terletak pada siapa yang Allah telah berkati dengan pengetahuan akan Firman Nya. Kita mesti menerima Firman sebagai otoritas utama. Kita mesti menghormati pemerintahan manusia sebagai bagian dari pilihan illahi, dan mengajarkan untuk menurutinya sebagai tugas suci kita, dalam lingkungan legitimasinya. Tetapi jika perintahnya bertentangan dengan perintah Allah, kita mesti mematuhi Allah lebih daripada manusia. Firman Allah mesti diyakini diatas semua hukum manusia. Jadi “demikianlah Firman Tuhan” jangan dikesampingkan menjadi “demikianlah menurut Gereja” atau “Menurut hukum negara”. Mahkota Kristus mestilah diangkat lebih tinggi diatas mahkota penguasa dunia.

    Kita tidak disuruh untuk menantang otoritas. Kata-kata kita, apakah lisan atau tulisan, mesti secara hati-hati dipertimbangkan, agar kita tidak menjebak diri kita sendiri dan tercatat sebagai pencetus yang membuat kita tampak sebagai antagonistik kepada hukum dan peraturan. Kita tidak boleh mengatakan sesuatu atau apapun yang tidak perlu yang akan menutup pintu bagi kita. Kita mesti maju dalam nama Kristus, memajukan kebenaran yang dinyatakan kepada kita. Jika kita dilarang oleh manusia untuk melakukan pekerjaan ini, maka kita boleh mengatakan, seperti para rasul, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” (Kis. 4:19-20).

    REAKSI

    • Bagaiman kita tahu inilah waktunya tegap berdiri menentang otoritas manusia?
    • Bagaimana kita dapat merasa pasti motif kita benar pada waktu “patuh kepada Allah lebih daripada manusia”? Seberapat besar peranan motif?

    1. Merle d’Aubigne, History of the Reformation, b. 13, ch. 5.

    2. Acts of the Apostles, pp. 68, 69.

    Trudy J. Morgan-Cole, St. John’s, Newfoundland

    Kutipan: Masalah dunia yang luar biasa dipertaruhkan

    Selasa 10 August Bagi Allah dan Negara

    BUKTI

    1 Pet. 2:13; 15

    Sebagai orang Kristen, kadang kita mungkin heran bagaimana orang Kristen yang lain dapat bekerja dalam pemerintahan dan politik. Melalui media kita sering melihat skandal pemerintahan dan kejatuhan pribadi banyak pemimpin. Aksi-aksi mereka dianalisa dan publik sering bereaksi dengan respon otomatis yang hampir sama: “Mereka semua sama seperti itu-dia hanya tertangkap saja,” “Ada sesuatu yang salah dengan system,” atau “Makanya aku menjauh dari hal seperti itu”.

    Pertanyaan bagi orang Masehi Advent yang tidak percaya akan sistem politik dan karenanya tidak ikut campur: Apa pengaruh, atau potensi pengaruh, dari tidak ikut serta? Tidak dapat diragukan lagi, banyak pendukung mantan wakil presiden AS Gore mempertanyakan diri mereka sendiri pada akhir tahun 2000. Dan mungkin juga lebih pada yang lega bagi pendukung presiden Bush.

    Pemerintahan dan pelayanan publik yang ideal adalah sesuatu yang perlu diikuti oleh orang Kristen. Demokrasi dibangun untuk memastikan bahwa kebutuhan dan keinginan masyarakat didengar dan dipenuhi. Sebagai orang Advent Hari Ketujuh, jika kita mengeluarkan diri kita dari proses politik publik, kita mengambil risiko untuk menjadi kadaluarsa dalam kemampuan kita mewakili diri kita sendiri dan yang kita layani. Jika kita sebagai gereja benar-benar mewakili kepentingan Allah, kita perlu memastikan bahwa kepentingan gereja dikenal dan dipertimbangkan oleh kelompok berkuasa dari masyarakat dunia kita.

    Ini bukan berarti kita mesti membuat partai politik sendiri, bergabung dengan lobbyist, atau meninggalkan pelayanan gerejani kita untuk melayani politik. Maksudnya dalah kita perlu mencari jalan sedemikian rupa untuk mempunyai pengaruh dalam semua tingkat pemerintahan. Jika kita bekerja di pemerintahan sebagai Pegawai Negeri, anda mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang disekitarmu dalam cara yang positif-dengan cara bagaimana anda mencerminkan Kristus dalam hidupmu. Engkau mempunyai cara untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan dengan cara mewakili kebutuhan mereka ke pengambil keputusan. Anda juga mempunyai kemampuan untuk mengajukan perubahan yang menguntungkan dalam hukum pada saat anda melayani pembuat hukum.

    Keikut campuran anda didalam politik dan pemerintahan dapat membuahkan tantangan. Tidak dapat diragukan ada tindakan-tindakan yang terjadi yang membuat kita sebagai gereja tidak dapat maafkan. Tetapi seseorang mesti kembali ke pilihan fundamental: Jauhi proses publik untuk menghindari pertanyaan moral potensial atau bekerja di dalam sistem untuk membuat perubahan efektif melalui teladanmu sebagai orang Kristen.

    REAKSI

    • Cara apa yang dapat kita lakukan untuk menyatakan kepercayaan Kekristenan kita kepada wakil terpilih kita?
    • Apakah aturan 80-20 berlaku bagi anda? Yaitu, jika anda setuju 80% dari apa yang seseorang lakukan, dapatkan anad bekerja mendukungnya, mengetahui bahwa anda mungkin tidak setuju 20% dari tindakannya.

    Craig Ennis, Mount Pearl, Newfoundland 2Kutipan: kadang kita mungkin heran bagaimana orang Kristen yang lain dapat bekerja dalam pemerintahan.

    Rabu, 11 August Apa arti Kewarganegaraan

    BAGAIMANA

    Rom. 13:1-7

    Orang Kristen diberkati sebagai bagian dari kerajaan sorga. “kewargaan kita adalah di dalam sorga” (Fil. 3:20 LAI). Kita telah dikirimkan kekerajaan oleh putra Allah (Kol. 1;13; Wah. 1:9).

    Tetapi sebagai musafir kita hidup dan bekerja dibawah pemerintahan manusia, yang termasuk berbagai sistem politik (demokrasi, kerajaan, kediktatoran), menawarkan berbagai tingkatan kebebasan dan tanggung jawab.

    Argumentasi Paulus tegas bagi kita untuk patuh kepada orang dalam kepempimpinan politik dan kita mesti membayar kewajiban pajak kita tanpa mengeluh. Sejak Allah telah menegakkan peraturannya, kita tidak dapat meminimumkan tugas kita, tanggung jawab, dan hormat kepada orang yang mempunyai otoritas didunia ini. Marilah kita tidak memikirkan peraturan dan hukum, tetapi angkatlah Tuhan kita sebagai pertimbangan utama kita (Rom. 13:1-7). Kita mesti mematuhi Allah diatas manusia dan menghindari terkait dengan masalah kehidupan yang dapat mengabaikan pelayanan kita kepada Allah (2 Tim 2:4). Apa yang diberkati Allah manusia akan korupkan dan binasakan untuk keperntingan mereka. Karena Allah yang mengangkat pemerintah dan wakil-wakilnya, jika kita menghormati dan memuliakan Allah, maka kita juga akan menghormati dan memuliakan pemerintahan ini (Amsal. 8:15; Dan 2:21).

    Kita diingatkan untuk mematuhi otoritas yang memerintah. Otoritas yang memerintah yang ada telah diangkat Allah (Rom 13:1). Allah telah menetapkan pemerintahan dan bahkan membawanya kepada kekuasaan untuk tujuan dan kemulianNya (1Pet. 2:11-17). Allah bahkan menggunakan pemerintahan yang jahat untuk tujuan keillahianNya (Kel. 1:9).

    Kita disuruh untuk membayar kewajiban kita. Sebagai tanda patuh, kita mesti membayar pajak (Rom 13;6,7) dan retribusi lainnya. Pajak dapat merupakah tanda kepatuhan kepada Allah karena patuh hukum merupakan perintah Illahi. Jadilah seorang warganegara yang baik dan bayarlah kewajiban anda dengan tepat tanpa mengomel (Mat. 22:21).

    Kita mesti menghormati dan terus menerus berdoa untuk orang yang berada dalam kekuasaan. Kita mesti menghormati Polisi dan otoritas lainnya, sama seperti menopang dan berdoa untuk mereka. Kita mesti mendoakan pemimpin kita apakah kita menyukai atau membenci mereka. Kita mesti memohon, berdoa, dan mengantara (1 Tim 2:1,2). Jika kita ingin hidup dalam damai, kita mesti mendoakan orang yang memerintah, agar Allah menuntun mereka kepada damai.

    REAKSI

    • Apa kewajiban kita kepada pemerintah kita?
    • Mestikah kita memasuki politik, mengabdi sebagai penegak hukum, mendaftar militer? Terangkan jawabmu.

    Katherine Robin MacBay, St. John’s, NewfoundlandKutipan: Kita diingatkan untuk mematuhi otoritas yang memerintah

    Kamis, 12 August Menjaga ucapan kita

    PENDAPAT

    Matt. 5:13-16

    Kita sebagai orang Kristen adalah garam dunia, sama seperti masalah politik adalah garam petugas pemerintahan. Sebagai orang kristen kita diharapkan untuk bertindak baik dan adil dan dapat dipercaya dan jujur terhadap orang lain.

    Pemerintah juga diharapkan untuk bertindak yang sama, adil dan dapat dipercaya pada waktu berhubungan dengan masalah politik tidak peduli masalah apapun itu. Petugas diharapkan untuk menepati ucapannya.

    Beberapa orang percaya bahwa pemerintah akan menepati janjinya untuk masalah politik. Tetapi kebanyakan pemerintah tidak mematuhinya. Inilah saat pemerintah kehilangan kepercayaannya. Para politisi tidak menepati janjiknya, dan sekarang susah bagi orang untuk mempercayainya. Ini juga dapat berlaku bagi kita orang Kristen. Jika kita melanggar janji, bagaimana teman kita dapat mempercayai kita kembali?

    Yesus mengatakan, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Mat. 5: 13 LAI).

    Inilah yang kita rasakan bila seseorang mengingkari janjinya, kita merasa kita ingin menginjak-injak mereka untuk apa yang telah lakukan kepada kita. Beberapa orang merasa seperti itu pada saat politisi ingkar janji untuk masalah politik yang telah dijanjikannya. Beberapa merasa politisi telah menginjak-injak mereka.

    Karena itu saya rasa anda dapat mengatakan bahwa kita sebagai orang Kristen dapat menghubung-hubungkan masalah politik saat ini. Kita juga mengingkari janji kita, karena dunia yang berdosa ini tempat tinggal kita, sama seperti pemerintah melanggar janjinya tentang masalah politik.

    Tetapi Yesus menantang kita untuk menjadi berbeda dari dunia ini. Kita adalah garam dunia.

    REAKSI

    • Dapatkah kita sebagai orang Kristen dihubungkan dengan masalah politik dunia saat ini? Jika ya, bagaimana?Terangkan jawabmu.
    • Pengaruh apa yang mesti kita punyai sebagai orang Kristen terhadap masyarakat mencakup masalah politik?
    • Jika politisi tidak dapat dipercaya, bagaiaman semestinya hubungan seorang Kristen dengan pemerintah?

    Vicki Hemeon, Botwood, NewfoundlandKutipan: Jika kita melanggar janji, bagaimana teman kita dapat mempercayai kita kembali?

    Jum´at, 13 August Saya menyatakan setia kepada domba.

    EKSPLORASI Rom. 13:5

    KESIMPULAN

    Menempel kepada otoritas dunia merupakah keputusan pribadi dan tidak dapat dipaksakan; bagaimanpun, kita mesti patuh dengan kehati-hatian, karena kalau tidak hukum manusia akan bertentangan dengan hukum Allah. Tugas kita adalah berpartisipasi dalam pelayanan publik dan pemerintahan, dengan penuh hati-hati mempertimbangkan tindakan dan kata-kata kita. Pemimpin yang memerintah diangkat illahi untuk tujuanNya. Karenanya, kita mesti patuh dan horamt, mendoakan mereka dan memenuhi kewajiban kita. Pada waktu memilih hukum Allah, kita mesti merendahkan diri, mencerminkan kasihNya, hormat, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari kita untuk memenangkan jiwa bagi sorga. Tantangan kita adalah mematuhi kata-kata kita, sehingga apapun kita pilih akan benar-benar memuliakan Allah.

    PERTIMBANGKAN

    • Hadirilah pertemuan kota, pertemuan legislasi, atau pertemuan persatuan orang tua murid dan guru. Dengarkan apa yang didiskusikan dan tawarkan umpan balik dalam cara yang akan mengangkat imanmu.
    • Ketahuilah semua nama pempimpin pemerintahan lokal anda. Catat nama mereka dalam jurnal doamu, pastikan untuk mengikut sertakan namamu dalam renungan harianmu.
    • Kunjungilah situs web pemerintah lokal anda untuk mengenal sturuktur dan fungsinya. Catatlah segala sesuatu yang mungkin bertentangan dengan kerohanian dan tulislah surat kepada perwakilan lokalmu.
    • Relakan waktumu untuk penegak hukum lokal atau pengumpulan dana pemadam kebakaran. Carilah kesempatan untuk mendapat teman baru dan bersaksi kepada semua orang yang anda temui.
    • Kirimkan kartu ucapan hari raya kepada petinggi pemerintah lokalmu. Buat mereka tahu anda mendukung usaha mereka dan mendoakan mereka.
    • Dengarkan nyanyian “I Pledge Allegiance to the Lamb” oleh Ray Boltz. Tuliskan pendapatmu terhadap nyanyian ini dan bagikan dengan anggota SS mu.

    HUBUNGKANHenry David Thoreau, Civil Disobedience Natasha L. Kohlhoff, Indianapolis, Indiana

Published in: on April 2, 2007 at 10:51 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/hormat-kepada-para-penguasa/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: