Hukum Ke-10 Membangunkan Setiap Orang (1)

Hukum Ke-10 Membangunkan Setiap Orang (1)

“Jangan mengingini …….apapun yang dipunyai sesamamu.” (Keluaran 20:17).

Sepuluh Hukum adalah Kabar Baik tentang apa yang Juruselamat lakukan.
Sebagian besar orang melihat Sepuluh Hukum sebagai peraturan keras yang tidak mungkin dituruti, meskipun demikian Allah memberikannya pada umat-Nya di Gunung Sinai sebagai sepuluh pesan mulia dari Kabar Baik.

Allah berfirman, “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. “ (Keluaran 19:4). Pikirkan bayi elang yang berusaha belajar terbang; bayangkan itu adalah anda. Anda mengepakkan sayap secara panik dalam ketakutan sewaktu anda melihat dasar tanah semakin mendekat; kemudian datanglah sang ibu dengan sayapnya yang terkembang gagah di bawahmu. Dia terbang di bawahmu dan membawamu pulang dengan aman. Inilah yang Juruselamat lakukan untuk setiap manusia yang bersedia membiarkan-Nya melakukan hal itu!

Itulah arti dari kata “succor” dalam Ibrani 2:18 : “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong (succour) mereka yang dicobai.” Ya, dosa telah menghancurkanmu; anda akan jatuh; tetapi inilah Aku, Aku telah membayar harga untuk menebusmu. Percayalah kepadaKu, dan Aku meyakinkanmu bahwa kamu tidak akan pernah melakukan perbuatan jahat yang telah diperingatkan oleh Sepuluh Hukum untuk kamu lawan.

Orang-Orang perlu tahu hal ini!

Jutaan orang tertangkap seperti seekor lalat di sarang laba-laba dalam keputusasaan, berpikir bahwa tidaklah mungkin mengalahkan godaan untuk berdosa. Mereka perlu tahu kebenaran tentang Penyelamat ini yang telah membawa kita keluar dari perbudakan!

Hukum ke-sepuluh adalah yang terkuat dari seluruh Sepuluh Hukum, hukum yang membidik tepat ke tingkat paling sensitif dari kesadaran kita. Dikatakan,
“Jangan mengingini …….” apapun atau siapapun yang dipunyai sesamamu.”

Untuk memperjelas hal ini, Allah menjelaskan beberapa hal yang kita tidak boleh “ingini.” (Kata itu berarti berhasrat, mau memiliki, mau menikmati apa yang bukan milik kita). Ide tersebut merangkum keseluruhan dari sembilan hukum yang lain, tapi menuju ke akar masalahnya – hasrat yang membakar jauh di dalam hati jauh sebelum sesuatu diucapkan atau dilakukan untuk mengungkapkannya. Ketamakan adalah ”tindakan dalam sebuah telur.” Orang yang tamak adalah seorang pencuri di dalam rumah; seorang pencuri adalah seorang yang tamak di luar rumah.

Sebagai contoh, hukum ke-10 mengatakan, “Jangan mengingini….istri sesamamu.” (bisa saja sama halnya dengan mengatakan, “suami sesamamu”). Hal ini berbicara tentang berahi yang tertanam jauh di dalam hati dimana tidak ada orang lain yang bisa melihat atau menebaknya.

Yesus mengerti hukum ke-10 ini ketika Dia mendefinisikan apa itu perzinahan yang sebenarnya atau persetubuhan di luar nikah: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Matius 5:27,28). Itulah inti dari pornografi. Itulah ketamakan (menginginkan milik orang lain)!

Wow! Tidak ada kata yang terucap, tidak ada tindakan yang dilakukan; seluruhnya rahasia; “wanita” (atau pria) itu bahkan tidak tahu apa yang ada di hatimu; meskipun demikian, menurut Yesus, dosa telah dilakukan!

Banyak orang “baik-baik” membayangkan bahwa mereka bukan pelanggar hukum Allah yang jujur karena tindakan mereka (mereka pikir) adalah baik. Mereka membual tentang “kebenaran” mereka. Tetapi hukum ke-10 ini adalah hukum yang membangunkan mereka pada kebenaran tentang diri mereka sendiri. Mereka belum pernah melihat itu sebelumnya, tetapi ada kanker jauh di dalam hati mereka.

Saulus dari Tarsus adalah seorang yang demikian sebelum dia menjadi Paulus sang rasul.

Allah memberitahu kita bahwa “tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, …….tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat, aku tidak bercacat” (Filipi 3:5,6). Dia bukan hanya baik-baik saja, tetapi bangga karenanya. Tetapi suatu hari dia menemukan hukum ke-10 ini. Hukum ini sudah ada di sana jauh sebelumnya, dia hanya tidak melihatnya. Ini bukanlah seperti sebuah kapak yang memotong rubuh sebuah pohon atau beberapa dahan terlepas daripadanya; ini adalah seperti menggali keluar akarnya sendiri. Ya, kerinduan rahasia itu, berahi itu berada jauh di dalam hatinya! Kanker itu berada di sana! Dia tidak pernah melihatnya sebelumnya.

Rasul Paulus memberitahu kita hasil penemuannya: ”Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian.” (Roma 7:9,10). Tiba-tiba saya menemukan diri saya sendiri terhukum, katanya. Semua khayalan diri saya hilang; Saya adalah seorang pendosa! Pada akhirnya saya melihat diri saya sendiri berdiri telanjang di hadapan penghakiman Allah.

”Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini (hukum ke-10!)” (ayat 7). Akhirnya Saulus dari Tarsus disadarkan dan ditobatkan.

Hasilnya adalah dia berlutut dan mengakui dirinya sebagai orang berdosa yang membutuhkan kemurahan Allah. Dia membaca kembali mazmur penyesalan dari Daud, karena perzinahannya dengan Batsyeba, dan pembunuhan suaminya, Uria orang Het. “Ya Allah, Aku pikir aku baik-bak saja sementara hatiku keras dan bangga karena tindakan luarku terlihat ‘benar’. Sekarang aku melihat dosa Daud sebagai dosaku; Aku tidak lebih baik dari dia. Ampuni aku, dan sucikan hatiku!”

Penemuan Paulus adalah penemuan setiap pria dan wanita juga.

Kita menjalani hidup dipenuhi dengan diri kita sendiri, merasa secara rohani bahwa kita “kaya, telah memperkaya diri dan tidak kekurangan apa-apa,” sementara secara tidak disadari dalam pandangan Surga kita “melarat, malang, miskin, buta dan telanjang” (Wahyu 3:17).

“Dosa…..yang ada di dalam aku……..Di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Dosa…….. yang diam di dalam aku……..Aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:17-24)

Di sinilah Paulus berdoa dengan segenap perasaan dan air mata, seperti Daud yang berdoa ”Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, ……….Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!” (Mazmur 51:7-12). Doa seperti itu tidak akan pernah tidak dijawab!

Penemuan kebenaran ini adalah sebuah pengalaman yang berharga. Tidak ada yang harus dihindari, tetapi disambut. Kehidupan kekal dimulai ketika kita melihat dan mengakui kebenaran itu. Bahkan para pendeta, gembala jemaat, dan rasul – semuanya berada dalam kondisi yang sama. Kita semua membutuhkan Seseorang yang ”akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka,…………….Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.” (Matius 1:21,23).

Hukum ke-10 mengkhotbahkan Injil kepada kita – ketika hal itu dimengerti sebagai sebuah jaminan di bawah Perjanjian Baru. Berjanji untuk memelihara hukum Allah tidak membawa kebaikan apa-apa bagi kita. Janji kita kepada Allah seperti sejerat pasir. Yang penting adalah percaya apa janji Allah bagi kita: “Jangan mengingini.” Dengan kata lain, Sang Juruselamat mengatakan:

– Aku akan mengambil alih nafsu egois yang ada di dalam hatimu;
– Aku akan membersihkan pikiranmu;
– Aku akan membebaskanmu dari perbudakan perzinahan atau apapun bentuk keinginan berahi;
– Aku tidak dapat membuatmu tidak mungkin dicobai, tetapi aku dapat memberikanmu kasih karunia yang akan ”mengajarimu untuk berkata ”Tidak” terhadap hasrat yang tidak suci dan duniawi, dan untuk menghidupkan pengendalian diri, kehidupan yang suci dan jujur di zaman sekarang ini” (Titus 2:11,12)

bersambung …

Published in: on April 2, 2007 at 10:52 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/hukum-ke-10-membangunkan-setiap-orang-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: