Hukum Ke-4 Perintah Hari Sabat Tuhan: Istirahat Bagi Jiwa-Keduniawianmu yang Letih

Hukum Ke-4 Perintah Hari Sabat Tuhan: Istirahat Bagi Jiwa-Keduniawianmu yang Letih

“Ingat dan kuduskanlah hari Sabat” (Keluaran 20:8)

Tidak ada yang negatif dalam Sepuluh Hukum, walaupun seperti demikian halnya bagi orang yang belum mengetahui “kebenaran Injil” (Galatia 2:5). Kita telah melihat bagaimana tiga hukum pertama membuka gerbang kebahagiaan,dan bukan sebaliknya. Demikian juga halnya dengan hukum yang keempat.

Bagaimana hukum keempat dapat menjadi satu kepastian perteduhan bagi jiwa-jiwa kita?
Ini adalah satu perintah yang diacuhkan oleh hampir semua orang di dunia. Mengapa? Apakah karena sulit untuk dituruti? Tidak; Tuhan menyanggupkan setiap orang untuk menerima berkat Sabat yang terkandung didalamnya. Ini adalah bagian dari kekayaan karunia Tuhan yang diberikan pada siapapun yang bersedia menerimanya.

Mari kita baca apa yang dikatakan:
“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya” (Keluaran 20:8-11).

Tiada berujung berkat yang terdapat dalam hukum ini! Ini hanya beberapa :

1. Berkat perhentian Sabat adalah untuk seluruh dunia.
Tidak ada seorangpun yang terkecuali. Tuhan sedang berbicara kepada anda dan saya, bukan kepada orang Yahudi. Yesus berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Markus 2:27; ”wanita” juga ”dibuat untuk laki-laki” tetapi perkawinan bukan saja ditujukan untuk orang-orang Yahudi!). “Laki-laki (man)” berarti semua orang.

“Istirahat” dalam pemeliharaan Sabat adalah kerinduan setiap hati manusia. Ini lebih dari sekedar tidur siang untuk beristirahat fisik dari pekerjaan. Ini adalah kedamaian hati. Para jutawan akan memberikan segala sesuatu untuk perhentian Sabat yang sebenarnya!

2. Tuhan beristirahat pada hari Sabat untuk memberkati dan menguduskannya bagi kita.
Karena Dia telah memberikan Sabat sebagai satu hadiah bagi dunia, hal ini dimaksudkan bagi kita untuk menikmatinya. Anda tidak pernah memelihara Sabat sendiri; anda bersekutu denganNya. “Aku menyertai engkau,” sabdaNya (Yesaya 41:10), dan Yesus berjanji, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu……Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.“ (Yohanes 14:18, 23). Yesus dan Bapa akan tinggal bersama anda! (dan itu berarti sukacita!).

Yesus berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20), tetapi hari Sabat membawa kita dalam satu hubungan yang intim denganNya. Ini seperti halnya Dia membuat janji dengan kita; dan bila Dia adalah obyek dari kebaktian kita yang penuh kasih, kita pasti akan memegang janji itu. Dan bukan saja sesekali; Sabat adalah hari khusus ketujuh dari setiap minggu.

Sabat seperti lem yang mengikat semua hari dalam minggu itu bersama. Ini memberi alasan bagi seminggu. Tidak ada satu manusiapun yang menemukan perhitungan satu minggu; Itu diberikan Tuhan untuk dunia pada awalnya saat Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, seperti yang diberitahukan dalam Kejadian 1. Sabat adalah memperingati pekerjaan penciptaanNya; Evolusi tidak akan pernah berada di dunia untuk menipu begitu banyak orang bila saja dunia “mengingat hari Sabat, menguduskannya”. Oleh karena itu Sabat menjadi “tanda” umat Tuhan, dimana sabdaNya, “Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka (Yehezkiel 20:12). “Tanda” Nya adalah seperti hal tanda tanganNya; ini seperti halnya Dia berkata, “Saya telah mencari mereka, dan di sini mereka – umatKu yang benar; mereka menyucikan SabatKu. Hal ini menandakan mereka sebagai khusus Kepunyaanku!”

3. Yesus sendiri menikmati persekutuan dengan umatNya setiap hari Sabat.
Kita jarang berpikir tentang sukacita yang dibawakan oleh kita kepadaNya karena memelihara hari Sabat! Yesaya berkata, “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas” (Yesaya 53:11). Hari Sabat adalah seperti sebuah pesta yang meriah; Dia mengundang kita setiap minggu untuk bertemu denganNya dan umatNya pada hari yang istimewa itu, dan bila anda tidak berada di sana, Dia sedih karena Dia merindukanmu.

Tidak ada gangguan pada hari “perayaan” itu”. Di dalamnya engkau tidak melakukan pekerjaan apapun” Dia berjanji pada kita. Yehezkiel menjelaskan hari-hari lain dari sepanjang minggu itu sebagai “enam hari bekerja” (Yehezkial 46:1). Ada bermacam-macam gangguan pada hari-hari duniawi itu – beban berat, bisnis, mencari nafkah, membeli dan menjual, TV dan radio, kekuatiran dan pekerjaan yang melelahkan kita, berita-berita bencana dan kejahatan. Tidak ada “kedamaian” dalam dunia.

Tetapi pada hari Sabat semua gangguan disampingkan; itu seperti halnya kita meluangkan waktu satu hari bersama dengan Yesus dalam rumahNya, kita adalah tamu-tamunya, satu hari dengan hati yang damai, bebas dari kuatir, pelabuhan berteduh dari amarah badai laut, “sebuah taman dilalui sungai dari Surga, mata air yang menyejukkan dalam kehidupan yang kering, melelahkan.”

4. Kita bahkan dibebaskan dari tagihan-tagihan yang jatuh tempo.
Kita mengesampingkan semua urusan-urusan kita pada hari Sabat; kita tidak mau membuat hal ini menganggu kedamaian kita dengan Tuhan karena kita percaya bahwa Dia akan memelihara kita, Dia akan memberkati pekerjaan kita selama “enam hari kerja” sehingga kita memiliki kecukupan untuk membayar tagihan-tagihan tanpa kuatir. Alkitab memberitahu kita untuk meninggalkan rencana keuangan dan pembukuan kita sampai setelah Sabat, dan melakukan semua pekerjaan ”pada hari pertama minggu itu” (lihat 1 Korintus 16:2). Jadi, hukum keempat yang indah ini menunjukkan pada kita bagaimana menikmati Sabat dengan Tuhan, bebas dari segala letih lesu, gangguan duniawi.

Sabat menjadi seperti satu hari dimana Surga berada di bumi. Teristimewa anak-anak yang menaruh hormat dalam rumah sangat menyukai Sabat; mereka tidak sabar menunggu sampai ”Sabat yang akan datang”. Saat Yesus berkata, ”Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 19:14), Yang dimaksudkanNya adalah: biarkan mereka datang pada hari Sabat. Tetapi apabila kita tidak memelihara kesucian Sabat, demikian juga mereka.

5. Hari ketujuh hari Sabat yang benar menjadi hari yang paling membahagiakan dalam minggu itu.
Pada kalender yang digunakan oleh hampir di seluruh dunia, hari ketujuh disebut Hari Sabtu. Agar lebih meyakinkan, kita bisa memeriksa kembali dengan membaca Lukas 23:54, yang menceritakan tentang penyaliban Yesus : “Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai”. Jutaan orang memperingati Jumat Agung sebagai penghormatan akan kematian Yesus; hal ini menunjukkan Sabat yang benar, karena keesokan harinya adalah hari ketujuh hari Sabat. (Sebelumnya, Tuhan tidak pernah meminta kita dalam Alkitab untuk memperingati Jumat Agung sebagai penghormatan pada penyaliban Kristus – Perjamuan Sucilah yang Kristus tunjukkan untuk diperingati).

Dan sekali lagi kita bisa menunjukkan hari Sabat yang benar dengan membaca ayat selanjutnya dalam Lukas : “Perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus…. melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat,” (ayat 55, 56). Ayat selanjutnya memberitahu kita kebangkitanNya pada hari Minggu : ”Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur……. tetapi mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu” (Lukas 24:1,2). Kristus telah bangkit!

Begitu jelas, bahkan seorang anak kecil pun bisa melihatnya segera : “Hari Sabat menurut hukum” adalah antara Jumat dan Minggu. (“Hari Tuhan” di Wahyu 1:10 adalah Sabat, sebab Tuhan menyebut Sabat “Hari KudusKu” Yesaya 58:13).

Itulah sebabnya mengapa hari ketujuh hari Sabat adalah hari yang paling menyenangkan dalam minggu itu: itu adalah hari dimana Tuhan menyebutnya “Hari KudusKu” KehadiranNya ada pada hari Sabat. Sejauh kita mengasihiNya, kita juga mengasihi hari suciNya.

Banyak orang-orang tulus yang tidak melihat kebenaran ini.
Apakah Tuhan telah merubah Hari suci SabatNya? Kita harus berhenti untuk memeriksa beberapa alasan mengapa hukum-hukum ini dikacaukan.

Tidak, Tuhan katakan, Dia tidak merubah hukumNya mengenai Sabat. ” Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah” (Maleakhi 3:6). Tidak ada dalam Alkitab yang menyarankan bahwa Dia telah membuat perubahan dalam hukumNya yang kudus. ”Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa!” (Mazmur 19:7). Mengapa Dia harus merubah sesuatu yang “sempurna?” Dia begitu mengasihi kita untuk merubah pemberian berkat ini!

Yesus selalu memelihara hari ketujuh Sabat, sebab kita membacanya dalam Lukas 4:16. “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat”. Ya, saat Dia berkata kepada orang Yahudi, “Aku menuruti perintah Bapa-Ku,” Dia memberitahukan kebenaran (Yohanes 15:10).

Semua murid-muridNya mengikuti contohNya dalam memelihara Sabat pada hari ketujuh. Contoh, Buku Kisah menceritakan 84 Sabat yang dipelihara rasul Paulus, tidak ada satupun pada hari Minggu!

“Tetapi” seseorang mungkin bertanya, “bukankah ada tentang hari pertama dari minggu itu yang dipelihara oleh Paulus?” Tidak, Kisah 20:7, 8 memberitahukan Malam minggu dimana Paulus bertemu dengan orang-orang Kristen di Troas untuk mengucapkan selamat tinggal, karena dia sedang merencanakan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 16 mil pada esok harinya (Minggu) ke Miletus, dan mereka tidak akan bertemu dengannya lagi. (Tidak ada rasul yang akan berjalan sejauh 16 mil pada hari Sabat yang kudus).

Lukas menjelaskan pertemuan malam itu sebagai “hari pertama dari minggu itu” karena Alkitab menjelaskan Sabat dimulai pada saat matahari terbenam Jumat malam dan berakhir pada matahari terbenam Sabtu malam (Imamat 23:32). Oleh karena itu, pertemuan pada “hari pertama minggu itu” adalah Sabtu malam. Dan Markus 1:32 memberitahukan pada suatu Hari Sabtu ”malam, saat matahari terbenam” Sabat telah selesai, orang-orang membawa banyak orang sakit kepada Yesus untuk disembuhkan.

Ini adalah cara yang menyenangkan memelihara Sabat, “dari malam ke malam” dari matahari terbenam sampai matahari terbenam. Bila anda mencoba memelihara dari tengah malam ke tengah malam, anda sedang tertidur dan tidak dapat menyambut hari Tuhan yang kudus dalam keadaan sadar! Bagaimana anda bisa menyambut seorang tamu yang istimewa yang datang pada tengah malam sementara anda tertidur? Pada Jumat malam saat matahari terbenam keluarga berkumpul untuk bernyanyi, membaca Alkitab dan dalam doa menyambut datangnya hari Sabat yang berharga.

Mengapa banyak yang memperingati hari Minggu, bukan hari Sabat yang suci yang Tuhan “berkati dan kuduskan”?
Kita harus memeriksa alasannya. Ini sangat sederhana: seseorang tanpa otoritas Tuhan telah merubahnya. Tuhan telah menginstruksikan nabiNya Daniel untuk menubuatkan bahwa hal ini akan terjadi. Dalam pasal 7, nabi ini menjelaskan munculnya empat kerajaan dunia dalam sejarah (Babilon, Medo Persia, Yunani dan Roma), setelah itu akan muncul satu kuasa yang besar, ”tanduk kecil…mengucapkan perkataan yang menentang” (ayat 8) yang akan menggabungkan gereja dan negara dan akan ”mengubah waktu dan hukum” (ayat 25). Baik Daniel dan Wahyu menyatakan bahwa dia akan menggunakan kuasanya yang besar selama 1260 tahun.

Paulus menjelaskan kuasa yang sama dalam 2 Tesalonika 2:4 yaitu “lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.

Yohanes dalam buku Wahyu menjelaskan kuasa yang sama: “Dan kepada binatang itu diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat;….. Dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa. Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih” (13:5-8).

Kita harus memutuskan “kuasa” yang mana yang akan kita ikuti – Yang Maha Suci yang menciptakan bumi dalam enam hari dan menguduskan SabatNya yang suci untuk kita pelihara, atau dia yang berani merubah hukum Tuhan dan menuntun orang-orang untuk memelihara hari Minggu sebagai gantinya.

Janganlah kita takut untuk berbeda dari mayoritas.
Yesus berkata:” Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”(Matius 7:13, 14). Sepanjang sejarah dunia, prinsip ini adalah benar; Yesus itu nyata, Dia hidup dan melihat, dan Dia selalu bersama mereka yang sedikit yang mengikutiNya.

Kabar Baiknya adalah Dia mengasihi kita melebihi dari yang kita pikirkan! Dia membayar harga yang tinggi untuk menebus kita; Dia tidak bisa melupakan kita. Dia masih mengasihi kita dan menginginkan agar kita bisa hidup kekal bersamaNya. Dia sepi tanpa umatNya! Kita hidup dalam hari-hari akhir. Sekarang, sementara sebagai Imam Besar di Kaabah Tuhan di Surga, Dia sedang bekerja siang dan malam, untuk menyiapkan orang-orang bertemu denganNya saat Dia kembali.

Tetapi mereka memerlukan persiapan khusus, seperti anak-anak yang akan berangkat ke sekolah.
Dia akan menjadi Guru kita, dan kita bisa berada dalam “kelas”Nya. Oleh karena itu, dari Sabat ke Sabat di seluruh dunia, Dia bertemu dengan umatNya yang mengikutiNya sebagai Domba Allah, dan dengan Roh KudusNya Dia mengajar dan menyiapkan mereka untuk hari besar itu saat Dia kembali. Tidak ada hal di dunia yang begitu penting daripada pekerjaan khusus yang sedang berlangsung sekarang!

Saat Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu Datanglah kepadaKu, engkau yang berbeban berat, dan Saya akan memberikanmu istirahat”, Dia sedang mengundang seluruh dunia untuk menikmati perhentian SabatNya. Setelah menciptakan bumi dan kita dalam enam hari, Dia istirahat pada hari ketujuh yang pertama di Eden. Tetapi ”kita” diciptakan pada hari keenam pada minggu yang pertama itu, jadi bagi ”kita” Sabat adalah sebuah perayaan bagi semua pekerjaan yang telah Tuhan lakukan dan ”selesaikan”. ”Kita” tidak melakukan apapun!

Sabat tetap menjadi satu “tanda” dari perhentian kita “dalam Kristus” dan ucapan syukur atas apa yang telah dilakukan bagi kita, bukan memuliakan apapun yang telah kita lakukan dalam menyelamatkan diri kita sendiri. Pemeliharaan Sabat yang benar hanya dimungkinkan saat kita mengerti dan menghargai harga pengorbanan Anak Allah yang begitu besar untuk menyelamatkan kita. Hanya saat kita mengizinkan kasih agape untuk “menguasai” diri kita maka pemeliharan Sabat kita dapat terhindar dari polusi cinta diri.

Untuk menghargai “lebarnya dan panjangnya dan dalamnya dan tingginya” kasih (agape) Kristus akan membuat kita memelihara Sabat yang suci dengan sukacita yang mendalam dalam kehidupan kita. Dan anak-anak juga akan menyukai Sabat. Bila “kuk” Kristus di hadapan mereka adalah “mudah” dan bebanNya adalah “ringan”, mereka tidak akan sabar menunggu Sabat yang akan datang. Mereka akan menikmati menjadi “tamu-tamu” dalam “rumah Tuhan”.

Karena pemberian berharga dari pertobatan diterima oleh umatNya, mereka akan disanggupkan untuk menyiarkan Sabat dengan lebih penuh, agar banyak orang yang terkasih yang sekarang terpencar seperti “Babilon” dalam sebutan Wahyu, akan dapat mendengar “suara” dari Surga yang berkata, “Keluarlah dari padanya, umatKu”.

Baru saja Roh Kudus memanggil seluruh manusia di dunia untuk memelihara hari SabatNya yang suci, karena hari itu adalah hari istimewa dimana Dia bertemu dengan mereka untuk mengajar mereka. Dan hukumNya yang keempat meyakinkan semua yang percaya, bahwa mereka akan mengerti sukacita pemeliharan Sabat “dalam Kristus”.

Published in: on April 2, 2007 at 10:54 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/hukum-ke-4-perintah-hari-sabat-tuhan-istirahat-bagi-jiwa-keduniawianmu-yang-letih/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: