Izebel

Izebel

“…Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu. Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya…” (I Raja-Raja 19:2-3).

Perkataan diatas adalah suatu ancaman dari Izebel terhadap nabi Elia, karena Elia telah membunuh 450 nabi Baal yang mendapat makan dari meja istana Izebel. Peristiwa penyembelihan nabi-nabi Baal itu sendiri adalah rancangan Tuhan dan suatu perbuatan Tuhan yang besar, karena pada waktu itu Israel telah murtad dan melakukan penyembahan kepada Baal, ketika Raja Ahab, suami Izebel, memerintah Israel. Setelah peristiwa yang luar biasa ini, dimana Allah menunjukkan kuasaNya melalui nabi Elia, sesungguhnya Israel bertobat dan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang benar dan berkuasa. Mungkin Raja Ahab sendiri sudah mulai mengakui bahwa Allah Israel adalah Allah yang benar. Tetapi, ketika peristiwa ini disampaikan kepada Izebel, maka isteri yang berkepribadian kuat dan teguh ini tidak bertobat, bahkan mengancam nabi Elia seperti tertulis diatas. Nabi Elia yang baru saja mengalami peristiwa luar biasa dimana kuasa Allah dinyatakan kepada Israel, tidak siap dan mungkin juga tidak menyangka akan datangnya ancaman dari Izebel. Nabi Elia menjadi takut dan pergi menyelamatkan nyawanya.

Yang akan kita pelajari disini adalah respon Izebel, ketika diberitahukan bahwa nabi-nabi Baal telah dibunuh dan bahwa Baal sendiri tidak menjawab dengan api, sebagaimana Allah Israel. Seharusnya Izebel merasa kecil hati dan gentar ketika mengetahui bahwa allah yang disembahnya bukanlah allah yang berkuasa dan hidup, seperti Allah Israel. Tetapi, sebaliknya kita lihat bahwa Izebel menunjukkan keteguhan hatinya dan kesetiaannya kepada para allahnya, dan bahkan berani mengancam nabi dari Allah Israel. Semua ini menunjukkan kepada kita betapa kuatnya kepribadian Izebel.

Izebel adalah seorang wanita dengan kepribadian yang kuat, teguh, berani dan setia dengan sesuatu yang dipercayai dan disembahnya. Seandainya Izebel beribadah kepada Allah Israel, maka ia akan menjadi penolong yang luar biasa bagi suaminya. Apabila suaminya sedang lemah dan tawar hati dalam mengikut Tuhan, maka ia sebagai isteri dapat meneguhkan, mendorong serta menguatkan suaminya untuk terus maju dan beribadah kepada Tuhan. Sayangnya, Izebel tidaklah beribadah kepada Tuhan, melainkan kepada Baal. Bila seseorang beribadah kepada roh-roh jahat, maka ia sebagai pengikutnya tentu menjadi jahat pula. Demikianlah yang terjadi dengan Izebel. Izebel menjadi jahat karena ia menyembah sesuatu yang jahat.

Sekalipun Izebel adalah wanita yang jahat, tetapi fungsinya sebagai penolong bagi suaminya tetap berjalan dengan baik. Ketika suaminya berada dalam masalah karena kebun anggur Nabot, maka ia memberi jalan keluar bagi suaminya sekalipun itu jalan yang jahat [ I Raja- Raja 21 ]. Disini kita lihat kelebihan Izebel sebagai isteri yang berkepribadian kuat. Izebel bukanlah seorang isteri yang suka memberontak dan melawan suaminya. Sepanjang kita membaca kisah Izebel dalam Alkitab, tidak pernah sekalipun ia melawan dan memberontak kepada suaminya. Memang ia membujuk suaminya untuk beribadah kepada Baal, tetapi hal ini disebabkan karena ia berkepribadian kuat, dan karena keyakinannya terhadap Baal [ I Raja- Raja 21:25 ]. Jadi, Izebel adalah penolong yang baik bagi Raja Ahab yang jahat.

Didalam Wahyu 2:20 ada tertulis, “…Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel …mengajar dan menyesatkan hamba-hambaKu supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala”. Karena kepribadiannya yang kuat, memang Izebel cenderung mengajar, membujuk dan mengajak orang-orang untuk mengikuti keyakinannya akan berhala.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kisah Izebel ini ? Seorang isteri yang berkepribadian kuat dan beribadah kepada Tuhan, akan menjadi penolong yang sangat baik bagi suami yang juga beribadah kepada Tuhan. Seringkali kita temui isteri yang beribadah kepada Tuhan tetapi berkepribadian lemah, atau sebaliknya, isteri yang berkepribadian kuat tetapi kurang beribadah kepada Tuhan. Semoga para isteri Kristen adalah wanita-wanita yang berkepribadian kuat seperti Izebel, tetapi sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan.

Published in: on April 2, 2007 at 11:38 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/izebel/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: