Jodoh

Jodoh

Memilih jodoh yang tepat bagi orang beriman, betul-betul suatu upaya penuh pergumulan. Mengapa tidak, karena hal menurut pimpinan Tuhan dalam hal jodoh, ternyata mempunyai sisi-sisi yang begitu kompleks. Allah adalah Allah yang hidup, dan ternyata tidak menginginkan pergumulan yang sama pada setiap anak-anak-Nya. Kepada yang diberi banyak Ia menuntut banyak (Lukas 12:48b), dengan kata lain, kepada yang diberi sedikit Allah juga menuntut pertanggungjawaban yang sedikit. Sulit dipahami jikalau pada individu-individu tertentu Allah seolah-olah begitu longgar sehingga pernikahan dengan yang “tidak seiman” (yang jelas-jelas tidak sesuai dengan prinsip Alkitab — 2Korintus 6:14) dapat dengan begitu mudah diselesaikan dengan membawa pasangannya kepada Tuhan. Sebaliknya, begitu banyak pasangan-pasangan seiman, bahkan dengan komitmen pelayanan rohani yang tinggi ternyata sepanjang hidupnya berurusan dengan berbagai masalah yang begitu sulit diselesaikan. Apakah mereka salah memilih jodoh? Mungkin juga tidak, tetapi coba perhatikan kasus di bawah ini.

Yuni (bukan nama sebenarnya) lahir dan dibesarkan dalam keluarga Kristen yang semuanya aktif di gereja. Yuni sendiri sudah ikut mengajar Sekolah Minggu sejak ia masih di bangku SMA, dan ia terus- menerus menduduki jabatan dalam kepengurusan di Komisi Pemuda gerejanya. Keluarga orangtua Yuni adalah keluarga yang akrab, saling mengasihi dan saling mendukung. Sejak kecil ia merasakan betapa keterbukaan dan berbagi perasaan adalah pengalaman hidup sehari-hari. Tidak heran jikalau Yuni tumbuh menjadi pribadi yang gampang bergaul dan mempunyai banyak teman.

Aneh, tetapi mungkin memang sudah jodohnya, karena Yuni tertarik dan kemudian menikah dengan Toni (bukan nama sebenarnya) seorang penginjil muda yang brilian yang baru menyelesaikan kuliah S-2. Pacaran mereka berjalan baik-baik saja, karena keduanya memang tak suka ribut. Pada tahun pertama pernikahan mereka, Yuni sudah sering mengeluh tentang Toni yang terlalu pendiam dan lebih suka duduk di depan komputer daripada ngobrol dengan Yuni. Ia melarang Yuni bekerja, karena takut menjadi batu sandungan bagi jemaat. Bahkan, bergaul dengan pemuda-pemudi di gerejanya dirasakan oleh Toni sebagai hal yang kurang pantas. Begitu juga kedekatan dengan ibu-ibu muda yang dianggapnya sebagai “kebiasaan ngerumpi” yang tidak baik. Toni ingin Yuni menjadi seperti ibu pendeta senior yang sehari-hari di rumah atau menemani suaminya dalam berbagai pelayanannya. Akibatnya, Yuni betul-betul tertekan dan tidak tahan. Ia kehilangan sukacita dan seringkali bertanya di dalam hatinya, “Apakah pernikahannya keliru? Apakah Toni sebenarnya bukan jodoh yang disediakan Tuhan baginya?”

Apakah yang dapat Anda lakukan untuk menghadapi teman dengan kasus seperti ini? Nah, beberapa prinsip di bawah ini mungkin dapat melengkapi Anda:

A. Mengenal siapa klien Anda.

Melihat kasus di atas, rasanya Anda dengan mudah dapat mengenal siapa sebenarnya Yuni. Mungkin dapat dikatakan bahwa Yuni lahir dan dibesarkan di tengah keluarga Kristen yang cukup harmonis dan sehat sehingga ia dapat mengembangkan bakat dan kebutuhan sosial yang cukup sehat. Ia melihat dan mendambakan hubungan suami istri sebagai hubungan yang sifatnya pribadi, yaitu hubungan antardua pribadi manusia yang utuh dan saling membutuhkan.

Tidak heran jikalau ia menginginkan kedekatan pribadi dengan Toni, suaminya. Ia mempunyai kebutuhan primer “social- relational” yang dalam istilah Abraham Maslow disebut “love and belongingness”. Ini adalah kebutuhan pribadi dari individu dengan fase kematangan yang cukup tinggi. Yuni mungkin mewarisi kebutuhan ini melalui pengalaman belajarnya sejak kecil. Dalam keluarga orangtuanya, hubungan antarindividu yang akrab, diwarnai dengan canda, pengalaman bersama, dan kebiasaan membagikan perasaan dan pikiran menjadi realita sehari-hari.

[Abraham Maslow`s hierarchial needs merupakan manifestasi fase-fase kematangan pribadi seorang. Individu dengan kematangan pribadi paling rendah mempunyai kebutuhan primer “physical”, kemudian lebih tinggi dari itu kebutuhannya adalah “security”, lebih tinggi lagi barulah “love and belongingness”. Di atas itu kebutuhan individu menjadi “self- esteem”. Lebih tinggi lagi dari “self-esteem” adalah kebutuhan “aesthetica”, dan paling atas adalah kebutuhan individu yang sangat matang yaitu kebutuhan “selfactualization”.]

Lain halnya dengan keluarga dimana Toni dibesarkan. Sayang sekali kita tidak mempunyai informasi cukup tentang itu. Mungkin kita dapat meraba jikalau Toni juga dari keluarga Kristen yang cukup baik dimana tanggung jawab sangat diutamakan. Mungkin dari kecil, ia dituntut untuk memikul tanggung jawab yang besar dengan risiko disiplin yang keras, yang… banyak dikaitkan dengan Tuhan. Suatu bentuk orientasi hidup yang biasanya disertai dengan kurangnya kedekatan-kedekatan antarpribadi dalam keluarga. Alhasil, lahirlah seorang Toni, yang penuh tanggung jawab, tak mau menjadi batu sandungan, karena memang kebutuhan primernya adalah “sukses dalan pelayanan”. Baginya, ngobrol, bertukar pikiran adalah pemborosan waktu. Toni tidak membutuhkan Yuni sebagai satu pribadi yang utuh yang dapat diajak bersekutu. Baginya, fungsi dan peran Yuni itulah yang terpenting.

Jadi, pasangan Toni dan Yuni ini adalah pasangan dari dua individu yang masing-masing mempunyai kebutuhan primer yang berbeda. Toni tak mungkin dapat membahagiakan Yuni, begitu juga sebaliknya, jikalau masing-masing tidak menyadari bahwa pernikahan adalah komitmen hidup bersama dengan tujuan-tujuan (objective pernikahan Kristen) yang hanya bisa tercapai melalui adaptasi. Dalam pernikahan, akomodasi hanya terbentuk melalui kerelaan menanggalkan bagian-bagian dari diri dan mengadopsi hal-hal baru yang selama ini belum dimilikinya. Tentu, Yuni tak perlu belajar untuk mengadopsi kebutuhan “aesthetica” dari Toni yang ternyata keropos tanpa mode “love and belongingness”. Yang diperlukan Yuni adalah kemampuan menyesuaikan diri, yaitu spirit empati penerimaan dan pengertian atas kekurangan Toni. Lain halnya dengan Toni, ia harus belajar untuk membutuhkan dan menerima Yuni sebagai satu individu yang utuh, yang perasaan dan pikirannya patut diresponi secara pribadi.

B. Mengenal area-area pertumbuhan.

Toni dan Yuni bisa ditolong untuk saling mengenal keunikan masing-masing dan bahkan dilatih untuk beradaptasi saling memberi kebutuhan primer masing-masing. Meskipun demikian, kesadaran tersebut tidak dengan sendirinya akan membuahkan pertumbuhan yang positif, kecuali mereka masing-masing mengenal area-area pertumbuhan yang sedang mereka kerjakan. Area-area pertumbuhan ini bisa menjadi pegangan bagi konselor untuk menemukan arah dari pelayanan konselingnya.

PERTAMA adalah area pertumbuhan yang sesuai dengan hukum alam atau hukum kewajaran hidup (laws of nature). Jikalau Toni berani menikahi Yuni, dia seharusnya tahu bahwa dia adalah tulang punggung, “bread winner” (pencari nafkah) yang dapat memberi kebutuhan kebutuhan primer untuk seluruh keluarga, bahkan memberi rasa aman dan bahagia pada Yuni. Begitu juga Yuni, jikalau ia berani menikah dengan Toni, dia harus rela untuk menjadi ibu rumah tangga yang merawat, menghormati dan melayani suaminya. Itulah hukum kewajaran hidup yang semua orang harus patuhi. Penolakan terhadap hukum ini biasanya menjadi pertanda perlunya terapi yang lebih profesional.

KEDUA adalah area pertumbuhan yang sesuai dengan hukum hati nurani (laws of conscience). Untuk menolong mereka, konselor juga harus mempunyai pegangan apakah mereka mematuhi hukum hati nurani atau tidak. Sebagai contoh, Toni, sebagai suami seharusnya mempunyai kesadaran hati nurani bahwa berada di depan komputer tanpa menghiraukan Yuni selama berjam-jam adalah hal yang tidak wajar. Begitu juga Yuni, seharusnya peka bahwa menunggu dan menuntut perubahan dari pihak Toni saja adalah tidak fair.

KETIGA adalah area pertumbuhan yang sesuai dengan tuntutan hukum Allah (God`s laws). Tuntutan ini hanya diberikan untuk orang- orang percaya, karena kepada mereka sajalah Allah memberikan Roh Kudus untuk menolong meresponi secara positif tuntutan yang sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Sebagai anak Tuhan, Toni seharusnya sadar bahwa sebagai kepala keluarga kepemimpinannya seharusnya dihargai dan menghasilkan dampak hormat dan kasih dari seisi rumah tangganya (1Timotius 3). Begitu juga Yuni, seharusnya ia sadar bahwa sebagai istri panggilannya adalah menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya (Kejadian 2:18).

C. Mengenal keunikan anugerah Allah yang disediakan bagi orang- orang percaya.

Sampai sekarang, banyak konselor Kristen yang masih belum menyadari hak istimewa yang Tuhan sediakan bagi orang-orang percaya. Akibatnya, tanpa disadari arah dan isi pelayanan konseling Kristen seringkali tidak berbeda dari konseling sekuler. Secara khusus dalam kasus Toni dan Yuni di atas, sebagian besar konselor akan memakai “kasih yang alami” sebagai pegangan untuk menyatukan mereka berdua. Toni mencintai Yuni dan begitu juga sebaliknya, dan konselor akan menstimulir kasih tersebut sebagai mo513 untuk membangun hubungan yang harmonis, saling menyesuaikan diri dan saling memberi kebutuhan masing- masing. Itulah kira-kira yang konselor-konselor selalu usahakan.

Apakah konseling dengan prinsip seperti ini akan berhasil? Ya, ada kemungkinan berhasil, khususnya bagi individu-individu yang sehat dan matang jiwanya. Individu yang sehat dan matang jiwanya hanyalah membutuhkan stimulan dan situasi yang baru dimana mereka dapat berinteraksi dengan peran-peran yang baru pula. Dengan kata lain, kalau mereka diingatkan dengan cepat mereka akan membenahi diri dan mampu beradaptasi. Karena masalah yang mereka hadapi hampir selalu hanyalah sistim yang terbentuk di luar kesadaran mereka.

Lain halnya dengan individu yang kurang matang jiwanya. Konseling dengan bermodalkan “kasih yang alami” saja akan sia- sia walaupun klien-klien tersebut merasa saling mencintai dan menginginkan kehidupan pernikahan yang harmonis. Nah, dalam konteks kemungkinan seperti inilah konselor perlu betul-betul menyadari dan menggantungkan diri pada keunikan anugerah Allah yang disediakan bagi orang-orang percaya. Mengapa demikian?

Sebagai orang Kristen kita mengenal empat macam love, yaitu Phileo (kasih antara saudara), Storge (kasih orangtua), Eros (kasih antara laki-laki dan wanita), dan Agaphe (kasih Allah). Semua natural love hanyalah perpaduan dari ketiga macam love yang pertama. Sehingga, apa pun dan bagaimanapun level kematangan love tersebut, tetapi sifatnya manipulatif dan pusatnya pada diri karena spiritnya adalah pemenuhan kebutuhan individu itu sendiri. Kalau individu klien berada pada fase kematangan terendah, misalnya, maka seperti yang dikatakan A. Maslow, kebutuhannya adalah physical. Nah pada level ini, kata “I love you”, tak lain daripada “I love you karena kamu bisa memberikan kebutuhan physical yang saya butuhkan”. Kamu cantik, sexy, atau kaya sehingga kamu bisa memberikan uang yang banyak, rumah yang bagus, mobil yang mewah, dan sebagainya. Lain halnya, dengan individu pada fase ke-2, yaitu fase dengan kebutuhan primer “security”. Kalau ia mengatakan “I love you”, artinya adalah “I love you karena kamu bisa memberikan kebutuhan rasa aman dalam jiwa saya”. Kamu pribadi yang setia, tak suka main perempuan, rajin bekerja, penuh tanggung jawab sehingga menikah dengan kamu jiwa saya aman. Begitulah seterusnya, semua natural love adalah manifestasi kebutuhan pribadi, bagaimanapun level kematangan jiwanya. Individu dengan kematangan jiwa paling tinggi pun rasa cintanya manipulatif. Mungkin ia bisa menjadi pemenang Nobel perdamaian, tetapi jikalau ia mengatakan “I love you” sebenarnya masih manipulatif karena artinya “I love you karena kamu bisa memberikan kebutuhan “selfactualization” padaku”. Kamu rela, bahkan mendukung keinginanku mati untuk prinsip kebenaran yang kuyakini. Sekali lagi arah dari natural love ini pun “centripetal” ke dalam, untuk pemenuhan kebutuhan jiwanya sendiri. Tidak heran jikalau Paulus mengatakan bahwa orang yang rela mati dibakar untuk orang yang dia cintai pun, tanpa kasih agaphe dari Allah dalam Kristus perbuatannya sia- sia, kosong, hanya seperti gong yang berdengung (1Korintus 13).

Memang kehadiran kasih agaphe juga ditandai dengan fenomena “kesabaran, kebaikan, penguasaan diri, dan sebagainya (1Korintus 13),” tetapi semua fenomena itu unik dan tak sama dengan yang muncul dari natural love. Oleh sebab itu, Paulus menyebut itu semua sebagai buah Roh Kudus (Galatia 5:22-23).

Nah, kembali pada kasus Toni dan Yuni, saya doakan supaya sebagai konselor Kristen, Anda dapat mensyukuri keunikan anugerah yang disediakan bagi orang-orang percaya. Toni dan Yuni tak perlu mempertanyakan “apakah pasangan mereka bukan jodoh yang Tuhan sediakan”, karena apa yang sudah diijinkan Allah untuk menyatu sebagai suami istri tak boleh diceraikan baik itu secara emosional maupun faktual (Matius 19). Persoalan mereka akan teratasi jikalau mereka dapat menerima dan meresponi kasih agaphe yang sudah dianugerahkan Allah pada mereka.

Tuhan memberkati setiap anak Tuhan yang rela berjerih payah di dalam kebenaran-Nya.

Published in: on April 2, 2007 at 11:16 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/jodoh/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: