Kebangkitan: Sebuah Dasar Yang Sukar

Kebangkitan: Sebuah Dasar Yang Sukar

(1Kor 15:2; Roma 10:9) Mengapa Kebangkitan dikatakan sebuah dasar? Disebut sebuah dasar karena inilah awal kepercayaan kita. Jikalau Yesus yang kita sembah tidak bangkit, maka sia-sialah injil. Sia-sialah gereja. Sia-sialah hamba Tuhan harus sekolah di sekolah Teologi, mereka sudah menghabiskan bertahun-tahun digembleng tetapi hasilnya cerita bohong melulu. Sia-sialah juga Stefanus, Petrus dan Paulus mempertahankan iman kepercayaan mereka sampai mati. Mengapa Kebangkitan dikatakan sebuah dasar yang sukar? Disebut sukar karena tidak gampang orang mempercayai kebangkitan ini. Termasuk murid-murid Yesus sendiri, salah satunya Tomas.

Memang benar, peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus yang kita proklamirkan pada setiap Paskah menjadi perdebatan sejak dahulu; khususnya bagi mereka yang tidak percaya? Mereka mengatakan tidak mungkin, orang yang mati bisa bangkit kembali. Sudah mati ya mati, habis. Apa lagi yang perlu diharapakan? Di sinilah letak keunikan kepercayaan orang Kristen yang tidak dimiliki oleh kepercayaan yang lain; sebab Yesus yang kita sembah bukan Yesus yang senantiasa bercokol di atas kayu salib; lalu bangkai-Nya dimakan burung gagak dan habis. Tetapi Yesus yang kita sembah yaitu Yesus yang sudah mati di atas kayu salib, lalu dikuburkan dan bangkit pada hari yang ke tiga. Itulah saat-saat Kemenangan Yesus.

Salah satu bukti Yesus bangkit yakni kubur kosong, namun rupanya bukti ini tidak cukup kuat dan masih sulit dipercaya terutama oleh para murid-murid-Nya; sebab di sana-sini muncul berbagai teori dan tuduhan;

  • Ada yang mengatakan murid-murid itu datang pada kubur yang keliru, yakni kubur yang baru yang memang belum ada “penghuninya”. Tetapi hal ini bisa kita tolak sebab malaikat-malaikat juga ada di sana, dan perajurit-perajurit itu tidak mungkin begitu lalai sehingga menjaga kubur yang salah.
  • Serdadu-serdadu itu telah mengarang cerita bahwa seseorang mencuri mayat Yesus saat mereka sedang tidur. Apabila ini merupakan kasusnya, tentu para pengawal itu harus dihukum mati. Tetapi menurut catatan Matius, mereka disuap untuk menceritakan berita bohong. Sudah tidak dihukum dapat uang lagi.
  • Sangat kurangnya bukti dari orang-orang yang berkeberatan kalau Tuhan Yesus bangkit dari kubur, hal ini menjadikan kita boleh menerima bahwa Yesus benar-benar bangkit. Kebangkitan itu merupakan peristiwa yang penting; dan jikalau memang tidak dirasa penting; maka kebangkitan itu tentu tidak akan dipersoalkan.

Bagian Alkitab di dalam 1 Korintus yang kita baca, rasul Paulus merasa berkepentingan untuk menjelaskan kepada jemaat tentang sesuatu yang cukup dasar di dalam iman kepercayaan orang-orang percaya. Sebab apabila prinsip kebangkitan ini tidak dianggap penting atau dikesampingkan maka itu berarti meniadakan atau membatalkan seluruh Injil. Paulus mengatakan “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu”Rupanya di gereja Korintus ada beberapa orang yang telah menyangkal Kebangkitan Yesus Kristus. Paulus berusaha menasihati mereka. Di dalam Galatia 1:12, rasul Paulus mengatakan ia menerima Injil itu bukan dari manusia maupun dari rasul-rasul, melainkan dari Yesus Kristus sendiri. Karena itu, Paulus dapat memberitakan Injil dengan penuh percaya diri berdasarkan kebenaran itu.

Tema khotbah ini adalah Kebangkitan: sebuah dasar yang sukar. Mengapa saya katakan demikian?. Ada tiga alasan yang akan saya jelaskan di bawah ini, walaupun sebenarnya alasan tersebut lebih dari tiga.

  • Kebangkitan Yesus membuktikan Ia Hidup
    Bagi orang Palestina, Mesias itu merupakan pengharapan satu-satunya dari mereka; Mesias yang berarti Yang Diurapi atau Juruselamat akan datang kedunia ini lalu memerintah atas mereka, membebaskan mereka dari penjajahan kerajaan Romawi. Tetapi Mesias yang mereka harapkan itu ternyata sempat mengecewakan mereka termasuk oleh murid-murid Yesus; sebab Ia tidak datang dengan luar biasa maupun gagah perkasa; sekali lagi Ia tampil biasa-biasa saja. Bahkan mati-Nya tergantung di kayu salib.Gereja di Korintus rupanya ada dua kelompok orang yang cukup ekstrem yakni orang Saduki dan orang Farisi. Orang Saduki itu tidak percaya akan kebangkitan, sedangkan orang Farisi sebaliknya. Konsep mereka barangkali sempat menyusup ke gereja di Korintus, sehingga rasul Paulus mau meluruskan kembali konsep jemaat di sana. Paulus telah mengajarkan kepada jemaat di Korintus tentang Kristus yang telah mati karena dosa-dosa kita dan ini jelas sesuai dengan isi Kitab Suci. Lalu Ia menampakkan diri kepada Kefas, kepada keduabelas murid-murid-Nya bahkan ke lebih dari lima ratus orang; selanjutnya Ia menampakkan Diri ke Yakobus dan akhirnya Yesus menampakkan Diri kepada Paulus.

    Bagi rasul Paulus peristiwa penampakan Diri Yesus kepadanya merupakan momen penting. Disitulah ada sebuah hati jahat yang diubah 180 derajat (total). Padaa saat inilah Saulus yang jahat telah menjadi Paulus yang baik. Saulus yang “ikut setan” menjadi Paulus yang “ikut Tuhan.”

    Yesus yang hidup, sanggup merubah hati-hati yang keras dan mati. Itulah sebabnya, tatkala mengingat Kebangkitan Yesus; kita dingatkan kepada peritiwa Kasih-Nya yang Ajaib. Mengapa Ia bisa bangkit, karena Ia sudah mati. mengapa Ia mati, karena Ia mau menebus dosa kita. Kebangkitan memberi arti Yesus hidup, dengan demikan kita tidak mengerjakan sesuatu pekerjaan yang sia.

  • Kebangkitan Yesus membuktikan Ia berkuasa
    Secara manusia memang seakan-akan Yesus tidak memiliki kuasa apa-apa. Yesus yang diharapkan sebagai pembebas; tetapi telah mati konyol. Ia gagal sebelum berperang. Memang benar kematian Yesus akan konyol apabila Dia tidak pernah bangkit. Tetapi kenyataannya lain bukan? Yesus yang kita sembah itu sudah bangkit. Ia tidak ada di dalam kubur lagi. Dengan demikian maka Yesus telah mengalahkan maut. Inilah letak kuasa-Nya. Kuasa Yesus inilah yang merupakan pengharapan kita manusia baik pada saat kita masih hidup di dunia maupun setelah mati.

Kuasa atas maut, itulah yang dimiliki Yesus. Itu berarti Yesus telah memperoleh kemenangan itu. Satu kemenangan yang cukup Satria, ditandai dengan kematian seorang anak manusia yang disalibkan. Ia rela menyerahkan nywa untuk menyelamatkan kita. Kuasa tersebut juga diberikan pada kita, yakni kemenangan atas kuasa dosa; dengan modal penyerahan total pada Dia dan percaya kepada-Nya.

Pada musim dingin tahun 1981, di Amerika Serikat telah terjadi suatu tragedi yang timbul karena kecelakaan pesawat terbang, yang sangat tragis terjadi di sungai Patomac, Wangshington DC. Tatkala berita mulai menyebar keluar, diketahui bahwa ada seseorang yang merupakan orang “ke-enam”, oleh regu penyelamat, lima orang berhasil diselamatkan melalui tali-tali penyelamat dan pelampung yang dilemparkan ke arah mereka.

Melalui Helikopter yang terbang melayang-layang di atas mereka, para penyelamat dengan heran melihat seorang dari mereka berulang-ulang memberikan pelampungnya kepada teman-teman yang ada disekelilingnya. Akhirnya, ketika lima orang telah berhasil diselamatkan, helikopter itu kembali untuk menyelamatkan seseorang yang disebut orang “ke-enam” itu. Tetapi ia tidak kelihatan lagi. Ia telah tenggelam di bawah air yang dingin seperti es, dan mati lemas. Ia sungguh-sungguh menganggap orang lain lebih utama. Ia relah menyerahakan nyawnya demi nyawa orang lain.

Ayat Alkitab

Yohanes 15:13 “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

1 Yohanes 3:16 “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa IA telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.”

  • Kebangkitan Yesus membuktikan Puncak KaryanyaPuncak Karya Yesus adalah Kebangkitan. Injil menjadi berkuasa dan berkualitas karena adanya Kebangkitan ini. Rasul Paulus sekali lagi mau katakan bahwa (coba lihat ayat 14,15 dan dibaca), Ayat 20 yang merupakan suatu prinsip kebenaran.

    Kebangkitan disebutkan sebagai Puncak Karya Yesus karena tidak hanya menunjukkan Kuasa dan Keselamatan, tetapi sekaligus pembuka jalan menuju ke Sorga. Dengan Kebangkitan maka orang-orang yang mendengar berita Injil, mereka yang degil, mereka yang keras kepala dan sebagainya harus segera berpaling diri, karena karya yang besar yakni karya keselamatan akan diberikan kepada mereka.

    Dalam ruang Nama dan Peristiwa harian Kompas, dituliskan bahwa, tidak benar seorang lelaki lebih menghargai kecantikan fisik dan tubuh ketimbang kualitas lain wanita. Dalam survai yang diadakan surat kabar Amerika, Pittsburgh Post-Gazette, terhadap 200 penduduk Pensylvania, 52% pria mengatakan jika kapal penumpang Titanic tenggelam saat ini, mereka bersedia menyerahkan jatah tempatnya di perahu penyelamat kepada tokoh kemanusiaan Bunda Teresa. Hanya 8% pria yang mengatakan bersedia menyerahkan peluang keselamatan kepada penyanyi Madonna.

    Dalam survei yang disebut “Test Titanic” itu, 35% pria berse371 menyerahkan jatah kursi kepada pria yang bukan suaminya atau anaknya. Selain itu, 67% pria dan 41% wanita bersedia menyerahkan kursinya kepada pasangan mereka. Dari tes itu, terlihat bahwa responden ternyata lebih suka berkorban demi ibu ketimbang ayah. Sejumlah 74% pria dan 85% wanita bersedia menyerahkan kursinya kepada anak-anak mereka. Sejumlah 52% pria dan 40% wanita akan menyerahkan kursinya kepada ayahnya mereka, sedangkan 54% pria dan 55% wanita akan menyerahkan kursinya kepada ibu mereka.

    Menurut Mike Sigworth, salah satu responden, lelaki pada saat ini tidaklah begitu kesatria seperti dulu. “Jika terjadi bencana tenggelamnya Titanic sekarang, setiap pria akan segera berusaha meninggalkan kapal itu,”ujarnya. Hanya sepertiga pria saja yang mau menyerahkan kursi penyelamat kepada wanita yang bukan keluarga dekatnya.

    Tetapi Yesus yang kita sembah Ia tidak berbuat demikian. Di taman Getsemani memang dia bergumul secara berat atas penyaliban itu, bahkan Ia berdoa supaya kehendak Tuhan bisa berubah. Namun di dalam taman Getsemani juga Iman Yesus diteguhkan, doanyapun berubah, biarlah kehendak Tuhan yang jadi. Saya begitu yakin sekali bahwa di sinilah letak Puncak Karya-Nya.

    Seorang utusan Injil terkenal, yang bernama Dr. Alexander Duff kembali dari India ke Scotlandia. Ia adalah seorang hamba Tuhan yang berumur lanjut. Pada suatu hari ia berkhotbah dihadapan jemaat Presbyterian, ia menantang agar para pemuda bersedia menjadi misionari untuk di utus ke India. Tetapi sayang, tidak seorangpun yang tergerak pada tantangannya, berulang-ulang kali ia menantang terus, sampai mendadak ia jatuh pingsan.

    Orang-orang berdatangan untuk menolong dia dan seorang dokter memeriksa jantungnya. Akhirnya pahlawan Injil ini yang sudah tua itu membuka mata, ia bertanya: “Dimanakah saya ini?” Dokter menjawab: “Tenang, bapak tidak boleh terlalu banyak bergerak, keadaan jantung bapak sangat lemah.”Tetapi Dr. Duff terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk bangkit, lalu ia berkata : “Bawalah saya kembali ke surga, saya harus menyelesaikan tantangan saya.”

    Karena tekadnya yang bulat, maka akhirnya dokter mengizinkannya kembali ke mimbar. Dengan diapit oleh seorang dokter dan seorang majelis, ia berjalan tertatih-tatih menaiki tangga mimbar. Semua jemaat merasa terharu, ia kemudian melanjutkan tantangannya:”Ketika ratu Victoria memanggil sukarelawan untuk dikirim ke India, saya lihat begitu banyak pemuda yang menyerahkan diri memenuhi panggilan itu.”Kemudian dengan keras ia berkata:”Tetapi sekarang, Yesus Sang Juruselamat kita memanggil, mengapa tidak seorangpun yang mendengar panggilan-Nya?”Benarkah di Scotlandia tidak ada lagi pemuda yang mau di utus ke India? Kalau betul tidak ada lagi, maka saya yang sudah tua ini bersedia untuk kembali ke India. Walaupun saya sudah tidak sanggup berkhotbah, tetapi saya dapat berbaring dan mati di sungai Gangga; agar orang-orang India tahu bahwa paling sedikit ada satu orang Scotlandia yang masih mengasihi mereka.

    Dalam waktu singkat, banyak pemuda dengan mencucurkan air mata berdiri dan berkata: “Saya rela pergi ke India.” Beberapa lama kemudian Dr. Duff meninggal, dan sejak saat itu banyak sekali pemuda Scotlandia yang mau diutus ke India.

    Roma 10:14,15

    “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia. jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

    Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis; betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Published in: on April 2, 2007 at 10:58 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/kebangkitan-sebuah-dasar-yang-sukar/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: