Keberhasilan dan Kegagalan Naomi

Keberhasilan dan Kegagalan Naomi

“Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku…” [ Rut 1:21 ].

“…Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki…namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud” [ Rut 4:17 ].

Kegagalan Naomi dimulai ketika keluarganya, yang dipimpin suaminya Elimelekh, pergi meninggalkan tanah Israel menuju daerah Moab untuk menetap disana sebagai orang asing, karena ada kelaparan di tanah Israel. Keputusan Elimelekh dan Naomi ini bertentangan dengan yang tertulis dalam Mazmur 37:3, “…diamlah di negeri dan berlakulah setia”. Umat Israel diharapkan tetap setia tinggal di Tanah Perjanjian, apapun yang terjadi disana. Meninggalkan Tanah Perjanjian, berarti meninggalkan Perjanjian yang ada antara Allah Israel dan UmatNya. Keputusan Elimelekh dan Naomi ini kelihatannya biasa saja, sebagaimana suatu keluarga pindah ke tempat lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Tetapi sesungguhnya keputusan ini membatalkan perjanjian Allah dengan mereka. Akibatnya, sebagai bentuk disiplin Tuhan pada keluarga ini, Elimelekh dan kedua anaknya laki- laki meninggal tanpa memiliki keturunan. Bagi Umat Israel, jika seseorang tidak memiliki keturunan, berarti nama orang itu terputus. Dan ini berarti, identitasnya sebagai umat pilihan Tuhan lenyap. Itu sebabnya, bagi umat Israel berlaku Hukum Penebusan ( Imamat 25 ), agar jangan ada seorang yang lenyap identitasnya sebagai Umat Tuhan, yaitu agar namanya dapat ditegakkan diatas milik pusakanya ( Rut 4:9- 10 ). Jadi, ketika Naomi kehilangan suami dan kedua anaknya laki-laki tanpa adanya keturunan, maka sebagai isteri, Naomi telah gagal karena tidak dapat menegakkan nama keluarganya.

Sekalipun Naomi telah gagal, ia bangkit dan mengambil keputusan untuk pulang ke tanah Israel, walaupun motivasinya tetap soal makanan ( Rut 1:6 ). Tetapi Tuhan menghargai keputusan ini, dan memberikan keberhasilan kepada Naomi. Melalui Rut, menantunya, dan juga Boas, sanak saudara suaminya, maka Naomi memperoleh anak laki-laki, yang menegakkan nama keluarganya. Bukan hanya menegakkan nama keluarganya, tetapi anak laki-laki Naomi ini adalah kakek dari Raja Daud.

Keberhasilan Naomi ini juga disebabkan ia dapat membangun hubungan yang baik dengan menantunya. Biasanya, mertua perempuan dan menantu perempuan sering tidak cocok, karena mungkin cara yang berbeda dalam melayani dan memperlakukan suami. Tetapi Naomi dapat membangun hubungan sedemikian sehingga menantunya dapat berkata, “…bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahku”.

Keberhasilan dan kegagalan Naomi ini dapat menjadi pelajaran bagi para isteri Kristen. Kegagalan Naomi ini nampaknya karena ia agak terfokus pada soal makanan jasmani. Tetapi, didalam kegagalannya, Naomi tidak menjadi putus asa dan ia tetap berbuat baik kepada orang- orang yang masih tertinggal bersamanya, yaitu kedua menantunya perempuan. Sebenarnya, ketika ia mengajukan usul tentang Hak Penebusan, ia tetap memperhatikan kebahagiaan menantunya ( Rut 3:1 ). Perbuatan baik Naomi ini mendatangkan hasil yang luar biasa bagi keluarganya. Penolong Ideal juga berbuat baik seumur hidupnya ( Amsal 31:12 ). Isteri yang tidak jemu-jemu berbuat baik kepada keluarganya, pada akhirnya akan mendatangkan hasil yang luar biasa.

Published in: on April 2, 2007 at 11:44 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/keberhasilan-dan-kegagalan-naomi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: