Keberhasilan dan kegagalan Ribka

Keberhasilan dan kegagalan Ribka

“…Dan ia pergi meminta petunjuk kepada Tuhan”. [ Kejadian 25:22 ].“…Akulah yang menanggung kutuk itu, anakku; dengarkan saja perkataanku…” [ Kej. 27:13 ].

Ribka adalah cucu Nahor, dan Nahor adalah saudara Abraham. Sekalipun Nahor tidak terlibat dalam perjanjian antara Allah dengan Abraham, dan ia juga tidak ikut pergi ketanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham, namun Nahor adalah seorang yang percaya Tuhan. Ketika Laban mengikat perjanjian dengan Yakub, ia melibatkan, “Allah Abraham dan Allah Nahor…” [ Kej. 31:53 ]. Karena Ribka adalah keturunan orang yang percaya Tuhan, maka tidaklah mengherankan, ketika ia dalam pergumulan mengenai anak yang didalam kandungannya, maka ia meminta petunjuk kepada Tuhan. Dan Tuhan mendengarkan seruannya, serta berfirman kepadanya. Ini semua menunjukkan bahwa Ribka adalah seorang yang memiliki kesungguhan dan keteguhan hati.

Kita juga dapat mengenal Ribka, dari arti namanya. Ribka ( Ibrani, ribqa ) bermakna, “tali yang tersimpul di suatu titik, biasanya untuk mengikat binatang-binatang muda”. Dari arti namanya, Ribka, bukanlah tali yang terlepas sehingga tidak berguna untuk mengikat sesuatu. Ribka, adalah tali yang dapat diandalkan karena tersimpul dan terikat di satu titik. Jadi, Ribka adalah seorang yang memiliki kemauan yang kuat dan terandalkan, dan juga memiliki ambisi. Sifat ini terlihat ketika ia berani menanggung kutuk, asalkan rencananya terwujud [ Kej. 27:13 ].

Karakter Ribka ini sangat baik, sebagai seorang isteri dan penolong, sepanjang kemauannya diarahkan pada suaminya. Pada awalnya, kelihatan bahwa kemauan dan kesetiaan Ribka ini terarah pada Ishak. Ketika keluarganya bertanya padanya, apakah ia mau pergi dengan hamba Abraham dan menjadi isteri dari anak tuannya, maka Ribka langsung menjawab, “…mau”. [ Kej. 24:58 ]. Tetapi, perpecahan terjadi dalam keluarga Ishak, ketika Ishak lebih mencintai Esau, dan Ribka mencintai Yakub. Kesetiaan dan kemauan Ribka yang teguh itu, tidak lagi terarah pada suaminya, melainkan kepada anaknya. Sebenarnya, sah-sah saja seorang ibu mencintai anaknya, dan memang seharusnya demikian. Tetapi masalahnya disini ialah, Ribka mencintai anaknya Yakub sedemikian sampai ia berinisiatif dan merencanakan penipuan terhadap Ishak [ Kej. 27 ]. Sebenarnya, bukanlah Yakub yang menjadi “otak” peristiwa perampasan berkat Esau, melainkan Ribka. Ribka bukanlah penolong ideal, karena ia tidak berbuat baik kepada suaminya, sepanjang hidupnya.

Bagaimana dengan isteri Kristen, khususnya yang mempunyai keteguhan hati dan kemauan yang kuat ? Apakah kesetiaannya diarahkan pada suaminya, seumur hidupnya ? Ataukah, ada “orang ketiga”, entah itu anaknya, atau kedua orang tuanya, atau keluarga besarnya ? Masalahnya disini adalah “orang ketiga” itu akan membuat sang isteri melakukan penipuan dan tidak tunduk kepada suaminya. Memang tidak mudah bagi seorang isteri untuk berlaku setia, penurut dan berfungsi sebagai penolong bagi suaminya. Dapat dipastikan bahwa seorang suami mempunyai kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu dalam hal mendidik anak, mengatur keuangan, pelayanan, pergaulan dan sebagainya. Dapatkah seorang isteri berfungsi sebagai penolong dalam semuanya ini ? Ataukah, seperti Ribka, yang mempunyai “kebijaksanaan” sendiri dan menjalankannya, walaupun harus menipu suaminya ?

Published in: on April 2, 2007 at 11:46 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/keberhasilan-dan-kegagalan-ribka/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: