Kristus Bangkit, Soraklah, Haleluya!

Kristus Bangkit, Soraklah, Haleluya!

Hari ini, 27 Maret ‘05 saya bersyukur dipercayakan untuk melayani sebuah kebaktian paskah berbentuk KKR di sebuah Gereja megah di ibukota, Jakarta. Sekitar lima ratusan lebih umat bersorak sorai merayakan hari kebangkitan Kristus tsb. Setahun yang lalu, saya juga menikmati keindahan dari peristiwa yang sama, di mana hari raya paskah dirayakan pada dini hari di sebuah gereja yang sangat megah di Singapura, dihadiri oleh sekitar 400 orang jemaat. Ketika pada umumnya masyarakat setempat tertidur lelap, ratusan jemaat tsb dengan gegap gempita mengumandangkan nyanyian-nyanyian kemenangan! Jadi, kemegahan dan keagungan ibadah bukan saja karena kondisi Gerejanya yang sedemikian megah, tetapi juga karena umat yang bersorak sorai menyanyikan “Kristus Bangkit, Soraklah, Haleluya!” Suasana memang menjadi saling mendukung karena sekitar 40 orang anggota paduan suara, yang mayoritas adalah mahasiwa/i dari universitas terkenal, dgn pakaian seragam putih hitam berdiri di depan jemaat dengan posisi saling berhadapan.

Sungguh sangat indah dan bahagia, saya sulit melukiskannya dgn kata2, ketika lagu tsb dikumandangkan secara bersama dan bersahut-sahutan antara ratusan jemaat dgn paduan suara tsb. Kebaktian yg berjalan 2 jam tsb diakhiri dgn suasana ceria, penuh sukacita sambil bersalaman mengucapkan, “Selamat Paskah”, “Kristus Bangkit”. Menyaksikan hal itupun memberi sukacita tersendiri, yaitu ketika melihat jemaat dari berbagai usia spt remaja, pemuda hingga orang tua, dan latar belakang tingkat pendidikan dan sosial, spt siswa mahasiwa, alumni… serta Ph.D(cand)/Ph.D yg memiliki reputasi tinggi menyatu di dalam semangat persaudaraan. Semua bersama-sama menikmati betapa indahnya berita kebangkitan Kris tus itu. Dalam hati saya berpikir, berita kebangkitan bukan hanya milik orang sederhana atau orang2 terpelajar, miskin atau konglomerat, melainkan milik mereka yang beriman.

Dasar Yang Teguh

Jika demikian halnya, mengapa masih ada orang yang meragukan peristiwa tsb? Seperti saya sebut di atas, jawabannya sederhana: krn mereka tidak mau beriman, atau barangkali mrk tidak mampu beriman. Apakah menerima fakta kebangkitan Kristus merupakan suatu kebodohan? Saya harus menjawab dengan tidak! Buktinya? Banyak orang terpelajar di bawah kolong langit ini, termasuk jemaat tersebut di atas, yg dengan segenap hati dapat menerima kebangkitan itu dan mensyukurinya. Memang kita harus mengakui dengan jujur bahwa ada juga orang2 yg ahli meragukan dan menolak berita tersebut. Sebutlah misalnya seorang yg bernama Gerd Ludemann, professor PB dari Univ. Gottingen yg pemikirannya dipengaruhi oleh David Hume, di mana Ludemann menolak peristiwa kebangkitan Kristus tsb. Bagi Ludemann, kebangkitan itu tidak lebih dari halusinasi saja, atau visionary. Krn itu, dia menulis: “We can no longer take the statements about the resurrection of Jesus literally… the tomb of Jesus was not empty, but full, and his body did not disappear but rotted away”[1]

Adakah dasar yang logis untuk menerima kebangkitan tsb? Tentu ada. Masalahnya adalah, apakah orang/ahli tsb memiliki kesediaan utk menerimanya? Atau, apakah yg dpt dikelompokkan ke dalam “masuk akal” tsb. Bagi David Hume, the Socttish philosopher yg terkenal itu semua yg namanya mukjizat, yg tdk dpt dijelaskan dengan rasio atau “science” tdk masuk akal. “Miracle is a violation of the laws of nature…” demikian Hume.[1][2] Karena itu tdk ada gunanya mengatakan bhw Allah telah membangkitkan Yesus yg mati itu dari kubur. Hume menuntut penjelasan ‘ilmiah’ bgmn tubuh Yesus yg sdh mati tsb ‘berubah’ menjadi tubuh lain (yg disebut kebangkitan). Karena itu, tdk ada gunanya mulut sampai berbusa atau tangan sampai ‘lumpuh’ menulis penjelasan2 tentang mukjizat kepadanya. Itu hanya membuang2 waktu yg sangat berharga. Mengapa? Karena apa yg kita anggap ilmiah dan logis, bagi Hume dan pengikutnya bisa jadi tidak logis. Bagi Hume, realita tsb hanya ada di dalam logika dan science. Tdk ada realita yg lain di luar itu. Allah terlibat dalam alam semesta? Tdk mungkin. Krn jk demikian, kita harus mengurung Allah dan menjelaskannya ke dalam kategori ilmiah/logis. Itu berarti Allah yg tdk terbatas itu harus juga ‘dimasukkan’ ke dalam rasio yg terbatas! Apakah itu logis? Bagi kita tidak, tapi Hume itulah yg logis!

Karena itu, mari kita lupakan Hume, Ludemann dan semua pengikut2nya. Mari kita maju di dalam pengenalan dan iman kita secara bersama-sama. Kembali kepada pertanyaan di atas, adakah dasar yg teguh bagi kita yg dpt dinikmati baik iman maupun akal? Sekali lagi saya jawab dengan penuh keyakinan dgn, ada. Dan sebenarnya itulah yg dijelaskan oleh penulis2 Alkitab. Sebenarnya, jk kita mengamati semua tulisan2 mrk, baik PL maupun PB, mk kita akan melihat bhw mrk itu menulis bukan hanya dgn iman, tapi juga dengan akal; bukan hanya dengan akal, tapi juga dengan iman.

Barangkali ada yang berkata: “Ah, Alkitab? Bukankah laporan Alkitab ttg kebangkitan, berbeda-beda?” Memang itu jugalah reaksi Ludemann, dan pengikut2nya. Baginya keempat Injil tdk dpt dipercaya, krn mrk menceritakan hal2 yg berbeda-beda, masing2 dgn versinya. Pandangan yg sama juga pernah ditegaskan oleh almarhum Wismoadi, guru besar STT Jkt, dlm bukunya “Di Sini Kutemukan” itu. Namun, bagi saya, tentu juga bagi banyak orang, perbedaan penulisan dari penulis2 Injil, termasuk rasul Paulus sebenarnya tidak cukup kuat utk menyangkal kebangkitan tsb. Seharusnya, sebaliknya yg terjadi. Mari kita ambil sebuah contoh, tentang Perdana Menteri dari S’pura yg datang ke Indonesia. Apakah kita mengharapkan bhw semua koran akan menulis peristiwa yg sama dgn cara yg ! sama? Apakah tdk mungkin terjadi bhw Kompas menyoroti percakapan politik di Cendana, Suara Pembaruan menyoroti percakapan business di hotel Hilton, dan pos Kota menceritakan makan ikan di Muara Angke? Jika terjadi perbedaan laporan seperti itu, apakah itu pertanda bhw pemimpin S’pura tsb sebenarnya tdk benar2 datang ke Indonesia? Atau sebaliknya, perbedaan laporan tsb meneguhkan fakta kedatangannya?

Secara jujur saya mengatakan bhw setelah meneliti dan mengamati kisah kebangkitan Kristus yg disampaikan oleh keempat Injil, tidak ada masalah bagi saya untuk menerimanya. Sebaliknya saya sangat diteguhkan olehnya. Dan ternyata saya tdk sendiri, krn banyak ahli yg jauh lebih senior dari saya dan yang telah lama ‘menyelam’ di ‘samudera raya’ Perjanjian Baru, dengan segenap hati mereka menerima pernyataan Alkitab tsb. Prof. William Lane Craig secara khusus telah meneliti hal tsb dan hasil karyanya dapat dibaca di dalam bukunya, “Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus”, yg merupakan volume ke 16 dari Studies in the Bible and Early Christianity tsb. Buku setebal 442 halaman tsb sepenuhnya m! erupakan pertanggung jawaban imannya kepada peristiwa kebangkitan tsb yg dpt dibaca oleh mrk yg menerima atau menggugat berita penting tsb. Mk wajarlah jk pd 18-9-1997 di St Thomas More Society of Boston College, Lane lah yg diundang utk menjawab serta menantang kembali Gerd Ludemann yg menolak kebangkitan tsb. Dlm buku tsb di atas dia menegaskan betapa akurat dan dapat dipercayanya laporan keempat Injil tsb.

Karena itu, marilah kita lihat fakta-fakta yg sangat penting mengapa kita menerima kebangkitan Yesus tsb. Kita dapat mencatat fakta kubur kosong, batu yg terguling serta adanya perempuan2 yg menjadi saksi kubur kosong tsb. Keempat penulis Injil menyoroti hal itu bersama-sama. Di dalam penulisan tsb, mrk juga memiliki keunikan masing2. Injil Markus misalnya mencatat kekwatiran perempuan2 tsb, tentang siapa yg akan menggulingkan batu besar yg menutup kubur Yesus tsb. (Mark.16:3). Sedangkan Injil Matius menjelaskan bagaimana batu yg besar itu bisa terguling krn adanya gempa bumi yg hebat dan turunnya malaikat Tuhan dari langit. Yg menarik adl, bhw Matius mencatat bukan saja batu itu terguling MELAINKAN MALAIKAT MENDUDUKINYA! Apa gerangan yg mau disampaikannya? Biarlah orang yg percaya merenungkannya. Sedangkan Injil Yohanes sendiri mencatat hal yg kelihatannya kecil namun penting, yaitu adanya kain kapan terletak di tanah dan kain peluh yg mengikat kepala Yesus, berada dekat kain kapan itu (Yoh.20:5,6). Apa pula yg mau disampaikan oleh fakta tsb? Bahwa kebangkitan adalah metaphora? Biarlah orang yg beriman merenungkan dan memikirkannya. Apakah dengan demikian kita dpt mengatakan bhw kain kapan yg mengikat tubuh Yesus yg mati serta kain peluh pengikat kepala itu kempes karena tubuh tsb telah bertransformasi menjadi tubuh kebangkitan? Banyak perenungan dpt terjadi bagi kita yg memang mempercayai Alkitab dgn segenap hati.

Sebagaimana telah saya tuliskan di atas, apakah penerimaan kpd kubur kosong itu adalah bukti kelemahan intelektual dan hanya mengandalkan apa yg disebut dgn iman atau percaya saja pdhal sebenarnya dia hanyalah “dongeng dan kisah ciptaan hasil imaginasi para rasul yg frustrasi dan perlu mengalami pemeriksaan ilmu jiwa?” Saya harus menjawab dgn tegas, tidak! Karena kita dpt mencatat pandangan orang2 yang benar-benar ahli, di mana keahliannya diakui oleh seluruh ahli sejagad. Untuk itu, kita dapat menyebut beberapa nama spt John A.T. Robinson, N.T. Wright dari Cambridge University atau seorang ahli dari Austria yg bernama Jacob Kremer, yg telah mengkhususkan dirinya meneliti kebangkitan tsb. Menurut Kremer, “By far most exegetes hold firmly to the reliability of the biblical statements concerning the empty tomb”.[5] (Hampir semua ahli berpegang teguh dan percaya kpd pernyataan2 Alkitab mengenai kubur kosong). Prof J.A.T Robinson malah menegaskan lebih jauh lagi ketika dia mundur ke belakang terhadap fakta penguburan Yesus yg dipertanyakan oleh sebagian ahli sbgmn John Dominic Crossant dan Barbara Thiering tsb di atas. Dia menulis, “The burial of Jesus in the tomb is ´one of the earliest and best attested facts about Jesus´ “[6] Demikian juga, N.T. Wright, jagoan Perjanjian Baru dari Inggris tsb dalam bukunya setebal 817 halaman itu secara khusus membahas tentang kebangkitan Yesus secara ilmiah dan pendekatan Alkitabiah. Menarik sekali, dalam buku yg berjudul “The Resurrection of the Son of God” tsb dia malah mengacu kepada seorang theology dan penulis Yahudi yg bernama Pinchas Lapide yang mengakui kebangkitan Yesus secara tubuh (hal.721).

Jika hal tsb di atas digabungkan dgn nubuatan Alkitab, baik di PL maupun PB, mk iman kita akan semakin diteguhkan. Bukankah hal itu telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya kira2 700 thn sebelumnya? “Ia akan meniadakan maut utk seterusnya dan Tuhan Allah menghapuskan air mata…” (Yes.25:8). Bahkan Yesus sendiri telah berkali-kali menubuatkan hal itu, bhw Dia akan diserahkan… akan mati dan akan bangkit pada hari yg ketiga. Setidaknya hal itu telah dicatat empat kali oleh Injil Matius: 16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2.

Selanjutnya, Alkitab, khususnya keempat Injil mencatat penampakan Yesus yg bangkit itu. Hal itu dilakukanNya secara berulang-ulang dan kepada orang yg berbeda-beda. Injil Yohanes secara khusus mencatat penampakan Yesus kpd Maria Magdalena yg terus menerus setia mendampingi dan melayani Yesus (20:11-18). Maria inilah yg setelah dilepaskan dari perbudakan roh jahat, dengan setia mengiring Yesus hingga Yesus disalibkan dgn begitu mengenaskan di bukit Golgota. Pdhal, ketika itu murid2 Yesus sendiri, kecuali Yohanes, begitu ketakutan dan pergi entah ke mana.

Injil Lukas yg kelihatannya telah mengantisipasi keraguan orang2 di kemudian hari telah mencatat tantangan Yesus kpd murid2Nya utk melihat tangan dan kakiNya. “Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, krn hantu tdk ada daging dan tulangnya spt yg kamu lihat pdKu” (24:39). Tidak cukup di sana, Lukas masih mencatat satu pembuktian secara ilmiah lainnya ketika Yesus makan ikan di hadapan murid2 (24:42-43).

Tentu fakta inipun dpt ditolak oleh seorang yg bernama Ludemann, krn baginya itu adl karangan Lukas semata.

Karena itu dia menulis setengah melawak bhw di sana Lukas toh tdk menjelaskan apakah Yesus masih perlu pergi ke toilet setelah makan ikan itu! Tapi kita tidak perlu pusing dgn orang2 spt itu, termasuk para pengikut2nya yg membeo saja. Pd kenyataannya, William Lane Craig sendiri yg telah melakukan research ilmiah secara jujur telah mengungkapkan karyanya sbgmn kita sebutkan di atas. Dalam buku tsb dia menegaskan,

“The majority of New Testament scholars today -not conservatives, not fundamentalists- concur with the facts of Jesus honorable burial, his empty tomb, his postmortem appearances… and the best explanation for those four facts is that God raised Jesus from the dead”.Itulah sebabnya kita melihat perubahan yg sangat besar dan mendasar dlm diri para rasul, sekalipun sebelumnya mrk tdk dpt membohongi diri bhw mrk sempat kecewa krn kematian Yesus yg sedemikian tragis dan memalukan!

Namun setelah kebangkitan Yesus itu dan setelah penampakan Yesus kpd diri mrk, dgn berani mereka, khsusnya rasul Petrus yg pernah menyangkal gurunya itu berkhotbah di hadapan ribuan orang2 Yahudi yg baru bbrp wkt yl menyalibkan Yesus tsb.

Mari kita perhatikan kenyataan ini: tema khotbah paling awal rasul Petrus ketika itu bukanlah berpusat kpd kematian Yesus, tetapi kepada kebangkitanNya. Dia bahkan menggabungkankebangkitan itu dgn nubuatan Mazmur yg dpt kita lihat pd Kis.2:25-28. Di tengah2 ribuan massa yg menyalibkan Yesus, Petrus dgn berani mengkhotbahkan kebangkitan Mesias! (Kis.2:31) Sekiranya Yesus tdk bangkit, jk kubur Yesus masih ada pd orang2 Yahudi itu, apakah Petrus berani berkhotbah ttg kebangkitan tsb? Jika pemberitaan tentang kebangkitan adl kebohongan di mana sebenarnya orang2 Yahudi memiliki dan mengetahui tempat kuburan Yesus, tentu dengan sangat mudah orang2 Yahudi akan mentertawakan Petrus serta orang2 Kristen. Mereka akan dengan mudah membantah pemberitaantsb serta mempermalukan orang2 Kristen dgn menunjukkan kubur Yesus yg mereka miliki tsb. Tp kenyataannya, tidaklah demikian.

Apakah yang kita lihat di dalam Alkitab? Bukannya orang2 Yahudi berhasil mempermalukan orang2 Kristen dgn menunjukkan kuburan Yesus, tetapi sebaliknya, orang2 Yahudi yang mengarang cerita bahwa kubur Yesus dicuri oleh murid2 (Mat.28:11-15). Sekalipun tentu sangat sulit menerima cerita bohong tsb, karena kubur Yesus dijaga sedemikian ketat (Mat.27:62-66) sementara murid2 sedemikian lemah dan tak berdaya, namun demikian cerita itu tetap diciptakan demi melepaskan diri dari kondisi kepepet. Inti yang mau saya sampaikan adalah ini: bukannya orang2 Yahudi dan musuh2 Kristen berhasil menunjukkan kuburan Yesus, tetapi, mengarang cerita yg sangat sulit diterima akal.

Jk kita beralih dari Petrus kpd rasul Paulus, mk kita juga melihat penegasannya ttg kematian dan kebangkitan Yesus tsb. Dia bahkan mengatakan hal itu sbg berita yang “sangat penting…” (1Kor.15:3-4). Untuk itu, dia juga menjelaskan bukti2 dari peristiwa Yesus menampakkan diriNya kpd orang yg berbeda-beda pd wkt yg berbeda-beda, termasuk kpd dirinya sendiri (ay.5-8). Dari semua penampakan itu, salah satu kalimat yg SANGAT PENTING DIAMATI adl kalimat berikut, “Sesudah itu Ia menampakkan diri kpd lebih dari LIMA RATUS saudara sekaligus; KEBANYAKAN DARI MRK MASIH HIDUP SAMPAI SEKARANG, ttp bbrp telah meninggal” (1Kor.15:6).

Pernyataan di atas sangat penting. Penegasan itu melawan teori halusinasi sbgmn dituduhkan oleh theolog tertentu termasuk Ludemann. Apakah mungkin terjadi halusinasi kepada 500 orang pd saat yg sama? Jawabnya tentu tidak. Selanjutnya, jk sekiranya ada keraguan terhadap kebangkitan Yesus, mk ketika rasul Paulus menulis kitab tsb, mk berhentilah segala keraguan itu dengan menanyakan langsung kpd saksi mata yg MASIH HIDUP tsb. Dengan perkataan lain, segala debat, keberatan dan tantangan terhadap kebangkitan Yesus telah dipatahkan oleh rasul Paulus dgn tulisannya tsb. Jika demikian halnya, boleh dikatakan bahwa debat meragukan dan menolak kebangkitan Yesus SDH DITUTUP pada abad pertama dengan KEMENANGAN DI PIHAK PRO KEBANGKITAN.

Apa yg terjadi dgn sekarang? Ketika saya dgn seorang teman (ketepatan pendeta dari sebuah gereja besar) berdebat berjam-jam ttg kebangkitan Yesus, mk dengan emosi tinggi dia berkata: “Buktikan kpd saya bahwa Yesus bangkit…” Tentu saya mengalami kesulitan melakukan itu, khususnya jk kita bicara dari segi saksi mata. Itulah sebabnya dia merasa menang. Karena itu, saya memintanya untuk tidak terlalu cepat tertawa dan merasa menang karena saya kemudian balas menantangnya: “Masalahnya, bukan pada saya, tapi pada diri anda. Buktikan kpd saya bahwa Yesus tdk bangkit”. Hasilnya? Dia pun bungkem dan hanya bisa mengarang cerita spt pemimpin2 tsb di atas.

Tapi lain halnya pd abad pertama ketika rasul Paulus menulis kitab di atas. Kebangkitan dpt dibuktikan oleh saksi mata yg MASIH HIDUP KETIKA ITU. Sebaliknya, pemikiran ketidakbangkitan Kristus dipatahkan.

Ada lagi tuduhan yang aneh yang sengaja diberikan oleh mrk yg meragukan kebangkitan Yesus tsb. Mereka mengatakan bhw hal itu adl dongeng ciptaan orang2 Kristen. Tp sesungguhnya, tuduhan spt ini pun dpt dgn mudah ditolak, karena dalam masa kurang dari 30 thn sejak kematian dan kebangkitan Kristus, berita itu telah dituliskan oleh keempat penulis Injil: Mat, Mark, Luk dan Yohanes. Dalam kurun wkt singkat spt itu tidak mungkin menciptakan sebuah dongeng, di mana saksi mata masih cukup banyak yang hidup. Bahkan jika kita perhatikan surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, dia menulis: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, … bhw Kristus mati karena dosa-dosa kita… ia telah dibangkitkan pada hari yg ketiga…(1 Kor.15:3-4). Menarik sekali membaca kalimat tsb di atas, di mana itu termasuk merupakan pengakuan kepercayaan paling awal dari Gereja mula-mula. Menurut para ahli, pengakuan itu diduga sdh menyebar di berbagai jemaat mula-mula pada thn 35 M. Jadi, jk rasul

Paulus bertobat pd tahun 32, maka 3 thn kemudian, pengakuan tsb diterima oleh rasul Paulus dan kemudian dituliskannya. Selang waktu tiga tahun sungguh merupakan waktu yang terlalu dekat untuk menciptakan sebuah dongeng.

Bagaimana caranya orang2 liberal menjelaskan hal itu? O… ´gampang´ saja. Dengan ringan Ludemann dpt mengatakan bhw Paulus itu aneh dan mengalami gangguan jiwa yg perlu dibawa ke RS jiwa. Mengapa? Krn tdk mungkin seorang yg tadinya begitu keras menentang kekristenan tiba2 berubah sedemikian jadi pembela nomor satu! Tdk heran jk mrk ini akan membuat berbagai teori, spt rasul Paulus stress berat krn berbagai hal, mengalami visionary, terancam hidupnya, dstnya…

Tapi kita juga punya penjelasan yg cukup kuat utk menyanggah tuduhan tsb di atas. Krister Stendahl, theolog Swedia yg boleh dikatakan tdk seinjili orang2 Injili pada umumnya (utk tdk mengelompokkannya juga kpd theolog liberal spt Ludemann) pernah menulis bhw Paulus tdk mengalami masalah spt dituduhkan tsb, krn itu tdk perlu dia menulis hal2 yg aneh2. Stendahl menulis:

“… he experiences no troubles, no problems, no qualms of conscience. He is a star pupil, the student to get thousand dollar graduate scholarship in Gamaliel´s Seminary… Nowhere in Paul´s writings is there any indication… that psychologically Paul had some problem of conscience”.[7]Setelah melihat betapa kuatnya dasar yang kita miliki untuk menerima kebangkitan tsb, sekarang kita melihat apa makna praktis dari kebangkitan tsb kepada kita. Bagi saya secara pribadi, kebangkitan Yesus mengandung makna yg sangat penting, yang berhubungan dgn doktrin- doktrin penting kekristenan.

Pertama, kebangkitan Yesus berhubungan dengan ajaran Kristologi. Kebangkitan tsb menyatakan identitas diri Yesus Kristus. Seluruh pendiri agama, betapapun besarnya mereka itu, mereka memiliki nasib dan kondisi yang sama: mereka semua berada di dalam kuburan. Tetapi Yesus mengosongkan kuburan. Ini kembali membuktikan keAllahanNya. Di dalam Kristologi, dikenal dua macam pendekatan: pendekatan dari atas, yaitu Kristologi dari atas (Christology from above) dan pendekatan dari bawah, yaitu Kristologi dari bawah (Christology from below). Pendekatan Kristologi dari bawah melihat kebangkitan Yesus sebagai klimaks penyataan diri Yesus sbg Tuhan. Rasul Petrus menulis: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus) (Kis.2:36). Pemimpin-pemimpin agama Yahudi menyalibkan Dia, tetapi Allah membangkitkanNya. Itu berarti bhw pernyataan Tuhan Yesus selama hidupNya benar adanya. Jk sekiranya Yesus adl pembohong spt tuduhan mrk yg memusuhiNya, mk Allah akan membuktikan ‘kebohongan’ tsb dgn membiarkanNya tetap di dalam kuburan. Tetapi Yesus tdk bohong, Dia benar2 bangkit; Dia membuktikan diriNya sbg Allah yang melampaui nabi-nabi. Karena itu, biarlah kita menyembah dan melayani Dia seumur hidup kita.

Kedua, kebangkitan Yesus berhubungan dengan bibliology (ajaran ttg Alkitab). Sejak PL sdh dengan sangat jelas dinubuatkan bahwa ttg kematian dan kebangkitan Yesus tsb. Itulah sebabnya rasul Paulus menulis bahwa hal itu “sesuai dengan kitab suci” (1Kor.15:3-4). Ketika rasul Paulus mengatakan bhw maut telah ditelan oleh kematian Yesus, dia mengacu kepada nubuatan nabi Yesaya dan Hosea (1Kor.15:54-55; Yes.25:8; Hos.13:14). Demikian juga, ketika rasul Petrus berkhotbah tentang kebangkitan Yesus, dia mengacu kepada nubuatan2 yang telah ditulis di dalam Perjanjian Lama (Kis.2:23-36). Sebagaimana telah sy tulis di atas, Injil Matius sendiri mencatat berkali-kali tentang kematian dan kebangkitan Yesus tsb (Matius: 16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2. Lihat juga Yoh.10:17-18). Jadi, dengan kebangkitan Yesus tsb, maka pernyataan2 Alkitab di dalam PL terbukti benar, semua digenapi. Dengan demikian, kita dapat semakin mengandalkan firman Tuhan sbg landasan yg teguh bagi iman dan hidup kita.

Penutup

Secara jujur saya mengatakan bhw kita dpt menulis secara panjang lebar tentang kebangkitan Kristus tsb. Sy bersukacita memberitahukan bahwa di dalam perjalanan menjelajah di dalam dunia theologia yang sedemikian rumit, sy mengamati bhw sekalipun ada segelintir org yg meragukan dan menolak kebangkitan Kristus tsb, namun sangat banyak ahli-ahli theologia di bawah kolong langit ini yang membangun iman dan hidupnya di atas dasar Kristus yg bangkit tsb. Sy telah berjumpa dgn mrk secara pribadi dan mengamati sorot mata mrk yg dgn jujur menyatakan iman dan kepercayaan mrk. Jd, kita tidak sendirian mengimani tema yg sangat penting tsb. Banyak hal yg dpt kita bicarakan ttg iman dan pengajaran mrk. Tetapi kita akhiri di sini saja pembahasan tema, yang oleh rasul Paulus ditegaskan sebagai tema “yang sangat penting” tsb.

apa yg sedang terjadi. Dia hanya dpt berteriak dengan sedih mengatakan, “Dari mana datangnya hidup dan kemana dia pergi…?” Ilmu filsafatnya BUNGKEM DAN TDK BERDAYA menghadapi kematian Anne. Tdk demikian dgn Injil yg diberitakan oleh rasul Paulus.

Akhir kata, jika kita berada di kapal Titanic yg besar itu, kita dpt menari dan bermain sepuasnya tanpa perlu memikirkan apa yg terjadi bbrp jam lagi atau esok hari. Lain halnya ketika diberitahukan bhw Titanic bbrp jam lagi akan tenggelam! Orang2 akan terlalu bodoh terus bermain-main dan menari-nari. Mrk semua, ya semua harus segera bertindak, berhenti dari segala permainan mrk…. berlari keluar secepat-cepatnya dan mencari kapal kecil yg dpt memberi harapan agar terlepas dari maut (sekalipun usaha itu tetap tdk pasti)!

Berita kebangkitan bukan sekedar harapan. Itu adl kepastian. Ya kepastian kehidupan kekal bagi mereka yg percaya dan menerima Dia, dan kepastian kebinasaan bagi mereka yg mengeraskan hati dan menolak!

Published in: on April 2, 2007 at 11:01 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/kristus-bangkit-soraklah-haleluya/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: