Maria

Maria

“Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” [Lukas 1:30 ]. “lalu kata ibu-Nya kepadaNya, Nak, mengapakah engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan cemas mencari engkau” [ Lukas 2:48 ].

Maria adalah seorang yang mendapat kasih karunia dihadapan Allah, sebab ia dipilih Allah dari sekian banyak wanita, untuk menjadi ibu dari Yesus, Juru selamat dunia. Elisabet yang penuh Roh Kudus berkata, “Diberkatilah engkau diantara semua perempuan”[ Luk. 1:42 ].

Kita tidak mengetahui dengan jelas bagaimana pengabdian Maria kepada Allah Israel, sebelum malaikat Gabriel datang menemuinya. Tetapi kita tahu dengan pasti bahwa ia dipenuhi Roh, ketika jiwanya memuji dan memuliakan Allah Israel [ Luk. 1:46-55 ]. Juga, kita dapat mengetahui sikap kerendahan ( lowliness, ay. 48 ) jiwanya sebagai hamba dari Allah Israel. Selain itu, Maria juga memiliki sifat yang sangat baik dalam menghadapi perkara-perkara Ilahi, sebab ia “menyimpan segala perkara itu didalam hatinya dan merenungkannya” [ Luk. 2:19 ].

Tetapi, dibalik semua itu, ada satu hal yang perlu kita perhatikan dalam kehidupan Maria, yang mana berkaitan dengan perannya sebagai seorang isteri atau ibu dalam satu keluarga. Ketika terjadi peristiwa dimana Yesus pada umur 12 tahun tinggal di Bait Allah dan tidak mengikuti kedua orang tuaNya pulang ke Nazaret, maka Maria berkata mendahului Yusuf, “Nak, mengapakah engkau berbuat demikian terhadap kami?”. Juga ketika peristiwa perkawinan di Kana, dimana Maria seolah-olah mendesak Yesus untuk melakukan sesuatu, sementara belum tiba waktuNya untuk bertindak, maka kita dapat sedikit melihat karakter Maria disini.

Melalui kedua peristiwa diatas, kita dapat melihat bahwa Maria kadangkala tidak berada pada peran dan fungsinya sebagai isteri yang mendahulukan suami, dan ibu yang tidak boleh lagi terlalu mencampuri urusan anak yang telah dewasa dan tidak tinggal lagi didalam rumah. Dalam perannya sebagai isteri bagi Yusuf, pada peristiwa di Bait Allah, sebenarnya Maria harus memberi kesempatan agar Yusuf yang lebih dahulu berbicara. Penolong ideal dalam Amsal 31 bertindak sedemikian sehingga suaminya dikenal di pintu gerbang. Tidaklah mudah bagi seorang isteri untuk selalu berada terus menerus “di belakang” dan mendorong suaminya sedemikian sehingga suaminya dikenal orang. Juga menjadi seorang ibu yang tidak “menguasai” anak laki-lakinya yang telah dewasa dan meninggalkan rumah, inipun perkara yang tidak mudah. Jadi, sekalipun Maria adalah orang yang dipilih Allah dan mendapat kasih karunia dihadapanNya, tetapi ia tidak terlepas dari segala kekurangannya sebagai isteri dan juga ibu.

Menjadi isteri dan ibu yang setia pada perannya sebagai penolong dalam suatu rumah tangga Kristen, tidaklah mudah. Sebagaimana Roh Kudus yang tidak memuliakan DiriNya sendiri, tetapi memuliakan Anak dan Bapa, maka demikianlah seorang isteri yang setia pada perannya, ia senantiasa bertindak sedemikian sehingga mendahulukan dan mengedepankan suami dan anak-anak.

Published in: on April 2, 2007 at 11:49 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/maria/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: