Memahami Perceraian dengan Duka yang Dalam

Memahami Perceraian dengan Duka yang Dalam

SEMUA orang tahu, bahwa salah satu pilar “perkawinan kristiani”, adalah “indisolubilitas”-nya. Artinya, “sekali terikat, pantang ia terurai” “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6). Pertanyaannya adalah, apakah itu berarti bahwa “perceraian” lalu mutlak tidak dimungkinkan sama sekali? Dan bila begitu, bagaimana kita mesti menyikapi realitas terjadinya begitu banyak perceraian – dan yang cenderung semakin lama semakin banyak — termasuk di kalangan orang-orang kristen sendiri?

Dulu, dengan adanya larangan mutlak tersebut, orang yang semula berniat untuk bercerai, mungkin lalu mengurungkan hasratnya. Itu ketika rasa hormat orang kepada gereja masih lumayan tinggi. Tapi kini? Kalau mau cerai, ya cerai saja – apa pun kata gereja. Emangnya gua pikirin?

Kita tentu tidak boleh dengan mudah bertukar prinsip, semudah kita berganti baju. Ya! Namun, saya kira, kita juga tidak boleh secara membabi-buta, mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas tidak relevan dan tidak efektif lagi.

PADA suatu petang, saya kebetulan mendengarkan sebuah acara “talk show” sebuah radio amatir di Jakarta. Wah, geram sekali saya mendengarnya! Geram, bukan hanya karena bahasa si narasumber yang amat buruk, tetapi terutama karena pernyataan-pernyataannya.

Ia mengklaim diri sebagai seorang “teolog”, tapi lagaknya jauh lebih mirip seorang “ideolog”. Nada bicaranya seolah-olah jurubicara kebenaran, padahal yang saya dengar adalah banyak ketidakbenaran. Acaranya konon “interaktif”, tapi yang terjadi adalah, ia cuma mau bicara, tak mau mendengar.

Berulang-ulang narasumber tersebut mengatakan, “Masalah begini harus kita sikapi secara “teologis”, jangan cuma secara etis”. Waktu itu yang dibicarakan adalah masalah istri yang kebetulan juga seorang “wanita karir”.

Astaga, pikir saya. Dengan memisahkan — bahkan mempertentangkan – keduanya, saya betul-betul sangsi, apakah yang bersangkutan tahu benar apa itu “teologi” dan apa itu “etika”. Dugaan saya, tidak.

Sebab, apa gunanya “teologi”, bila tidak diterjemahkan secara “etis”, sehingga mampu memberi pegangan hidup yang kongkret? “Teologi” macam beginilah yang menghasilkan penganut-penganut fanatik, tapi tanpa “etika”. Contoh ekstremnya, adalah para teroris itu.

Sebaliknya “etika”, saya akui, juga tak akan bermanfaat bila tidak dilandasi oleh keyakinan “teologis” yang jernih dan pasti. “Etika” macam begini, tidak akan mampu memenuhi fungsinya, yaitu memberi pegangan apa bagi tingkah laku. Sebab semuanya tergantung “si-kon”.

Si narasumber memang banyak menyebut ayat-ayat alkitab. Tapi seolah-olah tidak mau tahu, bahwa alkitab tidak hanya terdiri dari satu-dua ayat “favorit”. Ia juga tidak mau tahu, bahwa di dalam alkitab sendiri, pemahaman teologis itu berkembang. Tidak se-“statis”, se”beku”, dan se-“mandek” seperti yang ia kehendaki. Bahwa Tuhan ternyata jauh lebih luwes dan penuh pengertian, ketimbang banyak penganut fanatiknya!

KESAN saya tentang si “teolog” tersebut saya tuliskan di sini, karena saya ingin agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Untuk menyikapi “perceraian”, o, dengan mudah saya dapat mengutipkan beberapa ayat alkitab untuk Anda. Dan percakapan selesai. Tapi selesai jugakah masalahnya?

Bahwa kita harus dengan sepenuh hati menghormati tradisi yang kita warisi, sikap saya tegas, “ya”. Bahwa karenanya kita tidak boleh gampang-gampang mengabaikannya, sikap saya juga tegas, “ya”. Namun, sikap tersebut toh tetap belum menjawab pertanyaan: apakah ada gunanya mempertahankan suatu aturan yang tak lagi dipatuhi dan dipedulikan orang?

Apakah kita mesti berkeras kepala mempertahankannya, semata-mata karena, seperti kata “teolog” di atas, kita harus bersikap “teologis” — bukan “etis”? Atau lebih bijak bila kita kerek turun saja bendera keyakinan kita, memenuhi tuntutan dunia?

Saya menolak kedua-duanya. Yang harus kita coba lakukan adalah menangkap inti pesan alkitab yang kita yakini bersifat mutlak dan apriori selalu benar. Tapi inti pesan itu masih harus kita perhadapkan dengan realitas yang ada. Sedemikian rupa, sehingga kita tidak begitu saja bersikap menyerah terhadap kenyataan atau menafikan kenyataan. Melainkan “menelanjangi” kenyataan di bawah terang kebenaran Firman.

Dengan begitu, kita “memahami” dan “menghayati” kebenaran Firman Tuhan itu, dalam perspektif konteks realitas kehidupan kita yang nyata – kini dan di sini. Kita tidak sekadar mengulang-ulang apa yang telah dikatakan sejak ribuan tahun silam, tetapi menghadirkannya untuk menyapa kita — sekarang.

TENTANG “perceraian”, alkitab agaknya punya satu suara. “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”. Matius menulis begitu (19:6). Markus menulis begitu (10:8). Seluruh alkitab secara implisit juga mengatakan itu.

Namun, di dalam kesamaan tersebut, toh kita mendapati ada nuansa yang berbeda-beda. Tidak bertentangan, tapi juga tidak persis sama. Misalnya, antara Markus dan Matius. Menurut versi Markus, “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan .” (10:11). Sedang menurut versi Matius, “Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah” (19:9).

Artinya, baik Markus maupun Matius, mereka sepakat mengatakan bahwa “perceraian” tidak dikehendaki Tuhan. Namun demikian, bagi Markus, larangan itu bersifat mutlak (= unconditional). Sedang menurut versi Matius, larangan tersebut masih membuka ruang – betapa pun kecil — bagi “pengecualian” (= exceptional).

Bagaimana menanggapi perbedaan tersebut? Menurut William Barclay, karena injil Markus itu lebih “tua” usianya dibandingkan dengan injil Matius, maka besar kemungkinan, Markus-lah yang lebih akurat. Bercerai itu salah. Mustahil. Titik.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa kesaksian Matius lalu tidak ada artinya. Adanya versi yang berbeda-beda, menunjukkan bahwa variasi pemahaman, perkembangan, dan perubahan, dihargai. Versi Matius menunjukkan, betapa dalam perjalanan waktu, terjadi perubahan sikap dan pemahaman. Yaitu dari sikap yang sangat ketat dan cenderung “kaku”, ke sikap yang lebih “terbuka” dan “fleksibel”. Karena itu, kini terbuka ruang bagi “pengecualian”. Ini wajar sekali, bukan?

Kecenderungan seperti ini, saya tahu, tentu ada bahayanya. Yaitu semakin lama, orang bisa semakin jauh dari “api” atau “semangat” yang asli dan mula-mula. Orang menjadi kompromistis. Standar moralnya semakin lentur; semakin rendah.

Tapi tidak boleh hanya ditafsirkan begitu. Sebab “akomodasi” atau “penyesuaian diri”, adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Tanpa akomodasi, orang akan terisolasi. Hanya akan menjadi sekumpulan orang-orang yang aneh dan nyeleneh; eksklusif dan eksentrik. Karena itu, tidak menarik. Padahal tugas kita adalah untuk membuat orang tertarik kepada Kristus. Nah, bagaimana kita dapat membuat orang tertarik, bila kita sendiri tidak menarik?

Dalam hal Matius, kita yakin, bahwa nilainya sebagai Firman Tuhan tidak jadi berkurang sedikit pun, hanya karena variasi tersebut. Mengapa? Oleh karena variasi tersebut masih berada dalam batas yang tidak melanggar prinsip yang mutlak dan universal. Masih dalam “zona” yang dapat ditorerir. Masih tetap berpegang pada prinsip, bahwa Tuhan tidak menghendaki perceraian.

PERTANYAAN kita adalah: bagaimana sesuatu yang tidak diperkenankan, kok dimungkinkan? Inilah, saudara, yang namanya “kekecualian” itu! Atau, meminjam istilah Karl Barth, suatu “possible impossibility”. Sesuatu yang pada hakikatnya tidak mungkin, tapi dalam kenyataannya mungkin – bahkan banyak — terjadi.

Sebut saja, sebagai contoh, adalah peperangan, penyakit, pencobaan, dan sebagainya. Semua ini jelas tidak dikehendaki Allah sejak awalnya. Sekiranya saja manusia tidak jatuh ke dalam dosa, semua itu pasti tidak akan ada. Tapi kini, setelah dosa hadir, bisa terjadi situasi-situasi ekstrem, yang tidak “pas” lagi bila dihadapi berdasarkan norma-norma yang lazim.

Misalnya, dengan sangat berduka kita mengatakan, bahwa bisa saja ada situasi tertentu, di mana melanjutkan perkawinan akan berakibat jauh lebih buruk ketimbang memutuskannya. Situasi “kekecualian”, di mana kita justru bersikap kejam dan tidak mencerminkan kasih, bila memaksakan perkawinan seperti itu terus berlanjut.

Menyaksikan perceraian, kemungkinan besar, Allah juga menangis. Seperti “sang ayah” dalam perumpamaan Yesus juga menangis, ketika anak bungsunya memaksa pergi meninggalkan rumah. Ia tahu tindakan itu amat salah. Namun begitu, ia tidak menghalang-halanginya. Ia — dengan hati hancur – membiarkan anak itu pergi. Seperti kita juga dengan hati hancur, terpaksa membiarkan sebuah perkawinan berakhir dengan perceraian.

Yang jelas salah adalah, bila “kekecualian” kita anggap sebagai “aturan umum”. Lalu orang dengan begitu mudahnya memutuskan tali perkawinan, seperti orang mematahkan sebuah ranting kering. Ini tidak membuat Tuhan sedih. Tapi murka.

Published in: on April 2, 2007 at 11:22 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/memahami-perceraian-dengan-duka-yang-dalam/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: