Misi

Misi

” Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; Jika satu anggota dihormati , semua anggota turut bersukacita. Kamu semua Adalah tubuh kristus dan kamu masing2 adalah anggotanya. * kita , yang kuat, Wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari Kesenangan kita sendiri. * dan janganlah tiap2 orang hanya memperhatikan Kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Setiap orang di Antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk Membangunnya. Karena kristus juga tidak mencari kesenangan-nya sendiri. * Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang2 lain mendapat keringanan, tetapi Supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu Mencukupkan kekurangan mereka , agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan Kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis : ´orang Yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan Sedikit, tidak kekurangan´ ” (I Korintus 12:26-27 ; Roma 15:1-3a ; Filipi 2 ; 4 ; II Korintus 8:13-15)

Prinsip Berperikehidupan Kristiani.

Firman Tuhan di atas diinspirasikan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada rasul Paulus dan selanjutnya diteruskan melalui surat kepada jemaat di Korintus dan Roma serta Filipi. Kondisi jemaat2 ini tentu memiliki perbedaan dan keunikannya, dan sudah barang tentu surat2 ini ditujukan dengan maksud dan tujuan yang berbeda dari jemaat yang satu kepada jemaat yang lain dikarenakan konteks yang berbeda pula. Namun pada hakekatnya jikalau kita mencermati firman Tuhan yang dipaparkan kepada rasul Paulus ini yang selanjutnya dia ajarkan kepada orang2 kristen, maka kita akan menemukan sebuah prinsip berperikehidupan yang sejati yang seharusnya mewarnai konteks hidup dan kehidupan orang2 percaya di sepanjang zaman ini.

Apakah prinsip berperikehidupan itu ? Prinsip yang satu ini memiliki gap pemisah yang amat lebar dan dalam dengan prinsip hidup kekinian yang telah dirasuki roh individualistik dan egoistik yang melahirkan bayi2 asosial, dan mau enaknya sendiri. Prinsip hidup yang dimaksud adalah prinsip hidup orang Kristen yang kental sifat altruistik kristianinya yaitu memiliki sifat belarasa, empatik , rasa memiliki yang dalam, serta penuh kasih terhadap sesama saudara seiman yang lain.

Teramat jelas Tuhan berbicara bahwa orang2 kristen itu tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya, di manapun mereka berada dan apapun statusnya; kaya atau miskin, pandai atau tak pandai, berpangkat atau tak berpangkat, popular atau tak popular, pejabat atau rakyat , mereka semuanya terikat pada satu tubuh Tuhan Yesus Kristus dan mereka itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dari Tubuh itu. Dengan singkat orang Kristen dari suku, warna kulit, jenis rambut dan bentuk mata apa pun dia, mereka merupakan satu kewarganegaraan kerajaan Allah.. Kita adalah WNA ; warga negara Allah bukan WNI : warga negara iblis . Inilah konsep yang harus kita pegang bersama.

Apa implikasi dari kekentalan dan keeratan hubungan anggota tubuh itu ?

Pertama, firman Tuhan dengan tegas mengatakan: “KARENA ITU JIKA SATU ANGGOTA MENDERITA, SEMUA ANGGOTA TURUT MENDERITA; JIKA SATU ANGGOTA DIHORMATI , SEMUA ANGGOTA TURUT BERSUKACITA”. Ini merupakan suatu rahasia hidup kristiani yang begitu agung, begitu mulia, dan begitu uniknya, tiada tertandingkan dan terbandingkan dengan ajaran apapun yang telah ada dan yang akan lahir dari rahim bumi ini. Banyak orang dari berbagai kalangan agama baik secara terang2an maupun malu2 kucing dan diam2 mengakui solidaritas kristiani yang dipancarluaskan dalam komunita kristiani di berbagai tempat. Paling tidak dalam komunita keluarga Kristen yang sejati.

Jikalau orang Kristen yang satu mati rasa dengan penderitaan orang Kristen lainnya maka solidaritas dan keselarasaannya sebagai satu tubuh Kristus sangat perlu dipertanyakan bahkan perlu diverifikasi keabsahannya sebagai warga kerajaan Allah di mana Yesus sebagai Rajanya. Bilamana penderitaan gereja desa dan gereja terisolir jauh di pedalaman (gereja sebagai organisasi & organisma) yang begitu hebat tidak menyentuh dan tidak menggentarkan hati gereja kota sedikit pun maka sudah saatnya kesolidaritasan sesama anggota tubuh Kristus perlu ditinjau ulang, apakah benar mereka adalah anggota dari tubuh yang satu itu ? dan apakah betul mereka adalah W N A serta masih pantaskah mereka berseru-seru : Tuhan, Tuhan ? Bukankah Tuhan Yesus berkata : “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Matius 25:40). Bila hati kita tersentuh kepedihan yang dialami sesama saudara seiman di desa dan tergerak melakukan sesuatu, itu jelas kita telah melakukan untuk Yesus. Tolok ukur kita mengasihi Yesus adalah sejauhmana solidaritas kristiani kita terejawantah di dalam pergumulan bersama saudara kita di desa. Di luar itu kita tidak sedang melakukan sesuatu untuk Tuhan malah hanya membesarkan jargon kosong : kita adalah umat pilihan. Umat pilihan siapa ?

Mengapa cenderung saya menekankan solidaritas itu dimulai dari gereja kota ? Jawabnya sederhana saja; bukankah gereja kota telah banyak mengecap karunia2 rohani dan jasmani yang begitu melimpah ruah? Mungkin gereja desa baru satu, dua kali bahkan mungkin belum pernah mendengar berita kedatangan Yesus yang pertama sedangkan gereja kota sudah ribuan kali mendengar kedatangan Yesus yang kedua kali. Adilkah ini ? Dan bukankah gereja kota memiliki lebih banyak akses dan kairos dalam pertumbuhan rohani, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, hukum, iptek, komunikasi dan informasi ? Tetapi bagaimanakah dengan gereja desa ? Sebagai contoh kecil saja, dari 70.000 desa di Indonesia hanya 3 % yang telah menerima akses telepon. Dari 3 % desa2 itu, ada berapa (desa yang ada orang Kristennya atau desa Kristen) yang sudah menikmati fasilitas telepon ? Belum lagi bila kita mau melihat bagaimana miskinnya desa2 kristen di bagian timur Indonesia.

Dalam perjalanan pelayanan ke desa2 di mana ada jemaat Tuhan, hati ini terharu nian, sulit untuk mengungkapkan secara detail bagaimana pergumulan dan perjuangan saudara(i) seiman menghadapi ganasnya hidup di dunia ini. Tidak sedikit anak2 jemaat bahkan jemaat dewasa yang tidak bisa bersekolah, buta huruf, dan berpenyakit. Banyak di antara mereka yang telanjang tanpa pakaian, tidak punya makanan pokok, beras, jagung, umbi2an, mereka hanya pasrah kepada alam. Saya bertemu dengan satu keluarga dengan tiga orang anak yang masih kecil2 dan seorang bayi di salah satu suku di Sumatera, hidup mereka amat memprihatinkan. Kalau ada singkong, ya makan singkong, kalau ada babi hutan, ya hanya makan babi hutan sampai babi itu habis. Sewaktu saya di sana keluarga ini hanya makan pisang mentah yang dibakar. Saudara bisa bayangkan kalau bayi saudara harus makan pisang mentah bakar tokh dan keras , apakah hatimu tidak terenyuh ?

Ini baru satu aspek saja, belum lagi dari segi kesehatan, pendidikan, perumahan , air bersih, lingkungan dan lain sebagainya. Dan ini terjadi di desa2 di seluruh tanah air, di Irian Jaya, N T T, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan di 18.160 pulau dan ratusan suku di Indonesia.

Kembali pada solidaritas kristiani, adakah hati nurani gereja kota bergetar terhadap luka parah yang melekat di sekujur tubuh gereja desa ? Adakah air mata gereja kota menetes ketika melihat air mata gereja desa tertumpah karena kemiskinannya sebagaimana Tuhan Yesus meneteskan air mata-Nya melihat kesusahan yang di alami Maria dan Martha yang kehilangan Lazarus, kakak mereka yang merupakan tulung punggung ekonomi keluarga ? (Yohanes 11 : 35). Dan Tuhan Yesus begitu sedihnya tatkala melihat orang2 yang sakit dan penuh kelemahan , mereka dilihat-nya sebagai orang yang lelah dan terlantar ibarat domba yang tak bergembala! (Matius 9:36).

Hati seperti inilah yang HARUS gereja kota minta kepada Tuhan supaya jiwa solidaritas , altruis , dan empatik gereja kota terhadap saudaranya gereja desa semakin tajam

Kedua, KITA ,YANG KUAT, WAJIB MENANGGUNG KELEMAHAN ORANG YANG TIDAK KUAT. Memang ayat ini menekankan pengertian orang kuat secara iman atau rohani, namun ayat ini tidak bermaksud melarang bila diinterpretasikan sebagai orang Kristen yang kuat dalam pengertian seutuhnya (rohani dan jasmani). Jika kita melihat kepada maksud Tuhan yang lebih luas sejak penciptaan-Nya, maka DIA memberikan sebuah mandat budaya kepada manusia dalam rangka mengelola bumi materi ini dalam koridor kemuliaan nama-Nya sendiri, bukan ? Bahkan ketika kita melihat gaya hidup pelayanan Tuhan Yesus selama ia bermukim di planet bumi ini, Ia pun melakukan pelayanan seutuhnya. Ia memproklamasikan Injil kerajaan Allah sekaligus memberi makan secara jasmani kepada yang lapar dan menyembuhkan orang yang sakit. Bahkan yang menarik untuk diteladani sekaligus menjadi pecut bagi para hamba Tuhan yang suka meng”kavling2kan” dan yang doyan meng”spesialisasi2″kan teritorial pelayanannya, yaitu pelayanan holistik yang dikembangkan Tuhan Yesus. Matius 9 : 35-38 menjabarkan dengan jelas tentang motivasi, strategi, dan model pelayanan Tuhan Yesus yang up to date , relevan, kontekstual untuk dikembangkan di tengah2 multi krisis masyarakat, bangsa , dan negara kita yaitu model pelayanan holistik dalam aspek ruang (kota – desa) dan aspek bentuk (rohani – jasmani).

Tidak sedikit alumni sekolah2 teologia yang terperangkap dalam dikotomi pelayanan. Sebagai contoh; sering terdengar, jemaat suka memberi label kepada hamba Tuhannya; oh si dia itu spesialisasi khotbah, kalau besuk wah parah ! Dia itu raja mimbar lho ?! Oh si Anu spesialisasi besuk, kalau khotbah cocok sekali untuk jemaat yang insomnia ! Saya pernah mendengar seorang hamba Tuhan berkata : “Almamater saya khusus mencetak hamba Tuhan perkotaan karena itu yang berbau desa bukan ladang saya”. Secara sadar atau tidak sadar hamba Tuhan yang mendapat cap2 itu turut mengamininya, ada yang merasa benar2 superior mimbar lalu melupakan sama sekali visitasi dan tugas2 lainnya dipandang rendah, sekaligus melecehkan rekan2 sekerjanya yang khotbahnya “memble”. Dan ada pula yang menjadi inferior mimbar dan memperkuat visitasi dan seringkali dicampur tugas tambahan , gossip kiri-kanan sembari mobilisasi massa karena sakit hati dicap seperti itu. Mungkin ini salah satu faktor penyebab lahirnya serbaneka masalah di dalam gereja kota , tumpulnya pisau pelayanan dan mandulnya peran gereja di tengah2 konteksnya. Dan parahnya acapkali justru para majelis gereja menyuburkan diskriminasi di antara para hamba Tuhan. Kalau hamba Tuhan itu jago mimbar, maka ia dilayani baik2 dan honor khotbahnya melambung tinggi. Pernah terjadi di sebuah gereja di mana terjadi pertukaran mimbar pelayanan, pendeta dari kota kecil akan berkhotbah di gereja besar di kota yang besar pula. Apa yang terjadi ? Pendeta ini subuh hari sudah tiba di gereja bersangkutan namun tak satu pun majelis yang menjemputnya sehingga ia harus tertidur di depan gereja di mana sesaat lagi ia harus berkhotbah. Tapi coba lihat kalau pendeta yang jago mimbar akan berkhotbah, jauh2 hari acara penjemputan telah mantap dipersiapkan bahkan hotel pun disiapkan, jangan tanya soal makannya dan honornya. Lalu saya bertanya pada diri sendiri bagaimana dengan guru2 injil yang melayani di desa ? Adakah orang mau mempedulikannya ? Saya bertemu banyak guru2 injil di desa dan saya mengamati ternyata sebagian besar anak2 mereka putus sekolah dan menjadi penganggguran bahkan ada yang masuk penjara karena mencuri. Adakah gereja kota menangisi kondisi ini ?

Saya juga pernah berdiskusi dengan seorang pendeta mengenai kondisi desa2 kristen yang telah dilanda proyek “reboisasi” , “penghijauan”, saya katakan sekarang semakin banyak orang2 kristen perdesaan yang beralih agama karena urusan “kampung tengah”, perut dan modal usaha. Pendeta ini dengan tenang dan senyum berkata pada saya : ” nggak apa2 itu pak, justru itu baik karena ketahuan mereka bukan umat pilihan”. Saya tersentak, astaga ! Acapkali kita suka menyederhanakan masalah, tentang siapa yang menjadi umat pilihan, itu bukan urusan kita, urusan kita adalah menjalankan mandat injil dan mandat budaya. Acapkali kita suka mencampuri urusan Tuhan tetapi melalaikan tanggung jawab kita dan ironisnya tugas kita , kita serahkan semuanya kepada Tuhan lalu kita ongkang2 kaki kayak bos saja. Ini namanya egois.

Jadi jelas sekali, pesan firman Tuhan, bahwa orang yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dalam seluruh aspek kehidupan. Gereja kota yang kuat aspek administrasi organisasi nya wajib membantu gereja desa yang kurang baik administrasi organisasinya. Gereja kota yang kuat aspek doktrin teologianya wajib membantu gereja desa yang lemah pengajarannya. Gereja kota yang berlimpah2 pelayan Tuhan yang berkualitas wajib mengutus para misionaris nasional ke gereja2 desa yang tidak punya pelayan Tuhan. Menurut data dan informasi yang kami terima, ada ratusan (mungkin ribuan) gereja perdesaan di Indonesia yang tidak memiliki pelayan Tuhan karena tidak sanggup memberi tunjangan hidup pada pelayan Tuhan. Tidak terbayangkah kita bahwa saudara(i) seiman kita di desa kering kerontang secara rohani ? Gereja kota yang memiliki buku2 rohani yang baik dan Alkitab serta kidung pujian yang berlimpah wajib mengirimkan kepada gereja desa yang sama sekali tidak punya semua itu. Gereja kota yang melimpah air bersih wajib membantu gereja desa membangun fasilitas air bersihnya. Gereja kota yang memiliki jemaat yang kaya raya secara finansial wajib meminjamkan modal usaha dengan bunga kecil bahkan sama sekali tanpa bunga bahkan memberikan secara cuma2 kepada gereja desa yang memiliki jemaat yang dicengkeram tengkulak. Untuk cari makan saja begitu susah. Gereja kota yang jemaatnya sehat2 tanpa penyakit wajib menolong gereja desa dengan jemaat yang penuh sakit penyakit melalui pengiriman obat2an dan secara teratur mengadakan pengobatan cuma2. Gereja kota yang berlimpah2 dengan pakaian wajib memberikan kepada gereja desa dengan jemaatnya yang tanpa pakaian. Gereja kota yang anak2 jemaatnya bersekolah dengan fasilitas pendidikan yang baik wajib menolong gereja desa yang anak2 para hamba Tuhan dan anak2 jemaatnya yang tidak mampu bersekolah bahkan yang putus sekolah. Menurut data, di Indonesia ada sejuta anak yang putus sekolah dasar setiap tahun dan ada 600.000 anak yang belum tertampung di sekolah dasar. Gereja kota yang kaya dengan kerlap-kerlipnya lampu wajib membantu generator pembangkit listrik untuk gereja desa. Gereja kota yang gedungnya berdiri kokoh dan megah wajib membantu gedung gereja desa yang telah lapuk dan hampir ambruk. Gereja kota yang selalu tersedia makanan hewani dan nabati wajib menyediakan benih2 dan alat2 pertanian kepada gereja desa yang jemaatnya membanting tulang memproduksi makanan untuk kehidupan orang di kota. Gereja kota yang sarat tenaga2 ahli di berbagai bidang wajib memberdayakan gereja desa agar mereka memiliki SDM yang handal, dalam jangka pendek sekali2 diberikan ikan dan dalam jangka menengah dan panjang berilah kail dan ajarlah mereka membuat kailnya sendiri. Dalam rangka otonomi daerah, sudah siapkah SDM gereja desa berkiprah , atau justru siap untuk dilindas ? Tanggung jawab siapa ini ?

Masih banyak kewajiban2 gereja kota kepada gereja desa yang harus terus menjadi pergumulan di dalam perjalanan pelayanannya di bumi ini.

Ketiga, DAN JANGANLAH TIAP2 ORANG HANYA MEMPERHATIKAN KEPENTINGANNYA SENDIRI, TETAPI KEPENTINGAN ORANG LAIN JUGA. SETIAP ORANG DI ANTARA KITA HARUS MENCARI KESENANGAN SESAMA KITA DEMI KEBAIKANNYA UNTUK MEMBANGUNNYA DAN SUPAYA TERJADI KESEIMBANGAN. Tidak akan pernah dijumpai filosofi hidup yang sedemikian baik dan indahnya di tempat lain, kecuali hal yang diajarkan firman Tuhan ini. Di sini kita menemukan filsafat hidup yang amat agung yaitu penghancuran sikap egocentrisme dan individualisme yang telah merasuki pikiran dan jiwa manusia sejak kejatuhan manusia pertama dan yang menghebat di era ini. Termasuk di negeri tercinta kita ini.

Firman Tuhan ini mengajarkan bagaimana orang Kristen seharusnya menjalani hidup dan kehidupannya di dunia, dengan sebuah pola hidup bijaksana yaitu hidup bukan hanya untuk diri sendiri (egocentris) tapi juga demi orang lain (altruis) , seiman dan tak seiman (Galatia 6 :10). Dalam hal ini Paulus tak hanya mengajarkan firman yang ia dapat dari Yesus namun ia buktikan di setiap lapisan hidupnya dalam memelihara jemaat dengan makanan rohani dan jasmani , ia melayani secara holistik dan rela menderita demi keselamatan jiwa orang lain (II Korintus 11:7-33). Dan puncak karya teragung dan termulia dalam hal pengorbanan diri demi kesenangan, kebahagiaan dan demi harta termulia yaitu keselamatan kekal orang lain bahkan seantero bumi ini telah dilakukan oleh satu pribadi yang tak akan pernah lagi bisa dijumpai baik di dunia yang kasat mata maupun dunia yang tak nampak mata ini, DIAlah Tuhan Yesus Kristus. Yesus rela tubuh dan jiwa-Nya tercabik2 tanpa bentuk bahkan mati demi manusia hina dina berlumuran dosa demi mendapatkan pengampunan dan penyucian dosa untuk masuk ke dalam kerajaan Sorga yang maha mulia tak terlukiskan betapa indahnya.

Yesus teladan hidup sebuah solidaritas sejati bagi umat manusia sejagad Yesus rela menjadi miskin demi memperkaya orang lain (II Korintus 8:9). Bahkan Yesus rela mati pada saat kita masih lemah, pada saat kita masih berdosa, pada saat kita masih seteru dengan DIA (Roma 5 : 6-9). Adakah manusia di bumi seperti Yesus ?

Indonesia tidak akan memiliki potret wajah seperti saat ini yang penuh dengan carut marut dan kebobrokan di semua aras, apabila filosofi kristiani yang telah diajarkan dan dilakukan Yesus “mencari kesenangan, kebaikan, dan membangun serta keseimbangan bagi orang lain” menjadi gaya hidup dan budaya orang Indonesia khususnya para pejabat negeri ini. Namun sayang sejuta sayang hal ini tidak terjadi dan mungkin tidak akan pernah terjadi sampai Indonesia ini benar2 kolaps mengenaskan. Indonesia semakin parah sebab sifat korup dan ketamakan telah menjadi darah daging sebaliknya sifat untuk membuat orang lain senang, baik, bahagia, berhasil tidak dimiliki oleh sebagian besar para pejabat dan para pengusaha dan konglomerat tertentu. Sekali mereka menciptakan preseden buruk maka cepat atau lambat seluruh masyarakat yang rentan itu akan meniru gaya hidup mereka. Gaya hidup mereka adalah bagaimana mengumpulkan sebanyak2nya apa saja yang bisa dikumpulkan dengan cara korup pun tak masalah, orang lain ditindas pun bukan soal. Tanah2 petani dirampas paksa pun bukan sebuah dosa. Hutan dibabat demi kekayaan diri sendiri, bukan masalah.

Hal2 ini semakin memperlebar gap antara si kaya dan si miskin. Dengan kata lain hubungan itu telah kehilangan keseimbangannya. Jika keseimbangan sosial itu hilang maka cepat atau lambat tindakan anarkis , tindakan amoral, dan tindakan setan dari si tertindas, si miskin, si tercecer pasti muncul sebagai reaksi mencari keseimbangan baru itu. Namun jangan salah sangka upaya ke arah keseimbangan baru itu tidak serta merta terjadi, ia butuh waktu bukan saja satu dua bulan, tetapi bisa terjadi puluhan tahun bahkan pergantian beberapa generasi bangsa ini. Pergerakan ke arah titik keseimbangan baru itu membutuhkan waktu ratusan tahun dan pengurasan energi besar2an yang amat melelahkan. Ini yang mengerikan.

Indonesia niscaya hancur berkeping2 dalam tempo yang tidak terlalu lama bila filosofi Kristus di atas terus menerus sengaja dilawan dan dicampakkan dalam arena bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kita tunggu saja apakah 10 atau 20 tahun ke depan kita masih bisa bernyanyi “Dari sabang sampai merauke berjajar pulau2, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia.”

Bagaimana dengan gereja di kota ? Tidak tertutup kemungkinan ia pun telah melakukan kebobrokan yang sama. Saya pernah mendengar seorang majelis gereja berkata bahwa uang gereja tak boleh dikorupsi, kalau uang pemerintah tak masalah. Dan masih banyak kebobrokan gereja dan orang2 kristen yang bisa kita inventarisir lebih jauh lagi, mulai dari pencurian uang kolekte, peminjaman uang kas gereja untuk bisnis , pembalikkan nama sertifikat gereja kepada nama gembala sidang, penjualan aset2 gereja demi segelintir elite sinode, pembungaan uang kas gereja di Bank2 besar tanpa memakainya untuk pelayanan sampai pada korupsi dana bantuan gereja2 luar negeri dan lain-lainnya. Kita tahu semua itu !

Tuhan Yesus berkata ; “Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (Lukas 6 :31). Adalah sikap abnormal bila kita menghendaki yang buruk terjadi pada kita. Orang normal pasti menghendaki sesuatu yang baik terjadi pada dirinya, demikianlah gereja kota yang menghendaki kebaikan bahkan yang sudah menerimanya seharusnya berjuang agar gereja desa dapat merasakan “cicipan sorgawi” itu.

Seorang gembala sidang senior berkata kepada saya : “Gereja kami dapat membantu gereja desa asalkan ada hasilnya” dan ada juga gembala sidang pernah berkomentar : “Di gereja saya saja masalah begitu banyak untuk apa susah2 urus urusan gereja lain, memangnya gue pikirin ?” Sampai kapan masalah di dalam gereja bisa selesai ? Sampai Tuhan Yesus datang, masalah tidak akan selesai. Yang perlu dikoreksi adalah masalah apa yang terjadi di gereja kita ? Apa penyebabnya ? Apakah yang terjadi adalah masalah sikut menyikut, iri hati, dendam, di antara sesama hamba Tuhan , apakah masalah tunjangan hidup dan berbagai fasilitas para hamba Tuhan yang dipersoalkan? Kalau hal2 itu yang terjadi, maka itu berarti kita yang bikin masalah lalu kambing hitamnya tidak perlu memikirkan gereja2 desa.

Gereja kota jangan terlalu sibuk demi kepentingan dan kesenangannya sendiri. Dan gereja kota jangan lupa mempersempit bahkan menghilangkan gap yang lebar supaya ada keseimbangan di antara gereja kota dan gereja desa. Ini bukan alternatif tapi keharusan dari Tuhan. Gereja kota perlu membuka kuping selebar2nya bagi jeritan gereja desa dan ia harus proaktif membuang diri ke gereja desa, buka mata, lihatlah dan lakukanlah yang bisa dilakukan.

Maksud persembahan ataupun bantuan gereja kota kepada gereja desa bukan untuk merugikan atau membebani pihak gereja kota dengan menguntungkan gereja desa, tetapi supaya terjadi keseimbangan di antara mereka. Gereja kota harus belajar dari pengalaman bangsa Israel sewaktu ke luar dari Mesir (Keluaran 16 : 1-36). Allah menyediakan segala sesuatu dengan persis sesuai dengan kebutuhan kita masing2. Kalau Tuhan berkenan memberi kelebihan kepada kita, maka sebetulnya Tuhan mau supaya kita membagi hal itu kepada orang lain yang berkekurangan. Jikalau kita menyimpan kelebihan2 itu untuk diri sendiri maka itu tak akan berguna sama sekali. Mahatma Gandhi berkata bahwa jikalau kita menyimpan barang2 yang tidak kita butuhkan maka itu sama dengan kita mencuri milik orang lain. Seorang Mahatma bisa memiliki pandangan yang indah seperti itu, bagaimanakah dengan kita anak2 Tuhan ? Keluaran 16 : 19 menunjukkan kepada kita bahwa janganlah kita terlalu egois menyimpan kekayaan kita untuk masa depan diri dan keluarga kita sendiri , itu hanya membuat harta yang kita simpan akan menjadi busuk tanpa makna apa2. Musa berkata kepada mereka : “Seorang pun tidak boleh meninggalkan dari padanya (manna) sampai pagi. Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan daripadanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka”.

Tentu kita tidak inginkan ini terjadi pada perbendaharaan2 kita, bukan ? Kita berpacu dengan kronos untuk meraih kairos, sesal kemudian tiada berguna, itu kata pepatah bijak. Firman Tuhan pun mengingatkan : “Kita harus mengerjakan pekerjaan DIA yang mengutus Aku, selama masih siang ; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja” (Yohanes 9:4). Maukah kita menjadi orang yang selalu dan selalu terlambat ?

Penutup Kini yang menjadi soal dalam solidaritas kristiani gereja kota terhadap gereja desa yang multi krisis saat ini, bukanlah soal kemampuan daya dan dana dan bukan pula bagaimana mengatur implementasi manajemen lapangannya tetapi yang menjadi soal utama adalah adakah gereja kota memiliki kemauan yang keras dan punya rasa memiliki (sense of belonging) dan punya rasa krisis (sense of crisis) yang tinggi yang sedang terjadi di gereja desa atau tidak. Juga apakah gereja kota punya sensitifitas rasa sebagai satu tubuh Kristus dan satu anggota kerajaan Allah atau tidak sama sekali terhadap gereja desa.

Jikalau semua itu tidak pernah ada maka jangan bermimpi mandat budaya dan mandat Injil akan menjadi kenyataan di dalam hidup anak2-NYA dan jangan pernah bermimpi akan ada kemajuan kekristenan di Indonesia dan pula jangan berkhayal kekristenan Indonesia dapat menjadi saluran berkat bagi bangsa ini. Malah kita akan menjadi warga asing di negeri sendiri , menjadi sasaran tembak yang empuk dan akan menjadi serupa anjing kurap yang dikejar2 dan ditendang ke sana ke mari.

Mari kita minta hati yang memiliki rasa-rasa itu kepada Kristus, karena DIAlah satu2nya pribadi yang punya hati yang berbelarasa dan berbelas kasihan, amin !

Published in: on April 2, 2007 at 11:59 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/misi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: