Perempuan dan Keluarga

Perempuan dan Keluarga

2.A. PERAN IBU DALAM RUMAH-TANGGA

Ibu adalah salah satu tonggak penting dalam keluarga. Sejak awal penciptaan manusia, Hawa melengkapi kebutuhan Adam. Ia melengkapi kebutuhan emosi, intelektual, dan sosial Adam. Kekosongan dalam diri laki-laki diisi oleh peran perempuan, demikian sebaliknya. Itulah yang menjadi dasar suatu pernikahan. Didalam Alkitab tidak pernah disebutkan bahwa perempuan adalah makhluk ciptaan kelas dua dan menurut pandangan kristiani, perempuan mempunyai martabat yang setara dengan laki-laki.

Tetapi dalam kehidupan berkeluarga Firman Allah mengajar kepada kita demikian :

Efesus 5:22-33 KASIH KRISTUS ADALAH DASAR HIDUP SUAMI-ISTERI

5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Dr. Wayne Grudem, seorang profesor yang cukup terkenal saat ini mengatakan: “Penundukan seorang isteri kepada suaminya bukanlah penundukan yang membabi-buta melainkan penundukan yang menjadi naturnya dia untuk mau takut dan taat kepada Kristus.” Konsep tunduk yang dijabarkan oleh Rasul Paulus itu adalah:

2.A. 1. TUNDUK KEPADA ALLAH ( Efesus 5: 22)

Penundukan yang bukan karena dipaksakan melainkan penundukan dari spiritual. Tunduk bukanlah hal yang mudah. Setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk memberontak, ingin berkuasa dan menentukan tujuan hidup sendiri. Namun salah satu kunci rahasia kebahagiaan kehidupan adalah dengan mengizinkan Allah menjadi Tuhan dalam kehidupan kita.

Markus 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Uangan 6:24 TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini.

Wahyu 14:7 dan ia berseru dengan suara nyaring: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”

Bila hal ini dilakukan maka seorang istri akan merasa mudah tunduk kepada suami, sebagaimana seharusnya dalam Tuhan.

Kolose 3:18-19, 3:18. Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

2.A.2. TUNDUK KEPADA SUAMI ( Efesus 5: 22)

Seorang istri yang tunduk kepada suami tidak berarti mencampakkan kecerdasan, ketrampilan, dan segala potensi yang dimiliki oleh seorang istri. Seorang suami atau istri jika tidak menjalankan fungsinya sesuai dengan perintah Allah, akan menghadapi kesulitan dalam kehidupan rumah tangganya.

1 Korintus 11:3 11:3 Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

Seorang isteri yang sejati harus kembali kepada fungsinya yang sejati serta memiliki kerelaan untuk taat kepada Allah. Ketika ia mulai mau menundukkan diri kepada Kristus sebagai pusat kehidupannya maka itu akan memunculkan sikap penundukan kepada suaminya dan kondisi kenaturalan kewanitaan itu disebut Womanhood. Konsep ini sudah muncul sejak di jaman Abraham, dimana Sarah begitu tunduk kepada Abraham dan memanggil suaminya sebagai tuannya.

Seorang istri harus menghormati suaminya sekalipun ia tidak layak menerimanya. Dalam Petrus 3:1-6, Petrus menekankan agar para istri menghargai dan tunduk kepada suami mereka yang “tidak taat kepada Firman” (ayat 1). Hal ini kedengarannya tidak masuk akal tetapi Petrus menambahkan bahwa suami yang demikian ini bisa dimenangkan oleh kelakuan istrinya yang saleh.

1 Petrus 3:1-6 HIDUP BERSAMA SUAMI-ISTERI 3:1 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, 3:2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. 3:3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, 3:4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. 3:5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, 3:6 sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.

Tunduk disini adalah tunduk yang tidak mengorbankan iman Kristen dan ketaatan kepada Firman Tuhan dan kesetiaan kepada Kristus. Dalam hal ini istri bisa menolak ajakan atau perintah suami apabila ajakan atau perintah tersebut bertentangan dengan Firman Tuhan dan merusak kesetiaan kepada Kristus. Harus diingat, walaupun sudah seorang perempuan telah menjadi istri seorang seorang laki-laki, namum tetaplah perempuan itu sebagai “hamba Allah”

1 Korintus 7:23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.

1 Petrus 2:16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.

Ketika seorang wanita bisa memposisikan dirinya secara tepat terhadap suaminya, itu justru membangun satu kebahagiaan di dalam keluarga. Dan disini bagaimana seorang wanita menampilkan, menyatakan dan memproses diri, taat dan berpusat pada Kristus yang direfleksikan kepada suaminya.

Konsep tunduk seorang istri bukan berarti tunduk secara pasif (semua beban dilempar kepada suami) karena itu merupakan satu bentuk dari pemberontakan, tetapi tunduk aktif dengan memberikan ide dalam mencari pemikiran, yang dipikirkan dari sudut pemikiran suami. Ketika sang suami sedang memikirkan suatu gagasan/masalah, bagaimana sang istri memberikan input yang terbaik buat suaminya, sehingga suaminya dapat mengaktualisasikan apa yang ia gumulkan. Sehingga peran istri disini mengisi, khususnya bagian-bagian detail yang tidak terpikirkan oleh suami.

Seorang pria cenderung untuk berpikir secara global, oleh sebab itu seorang istri harus mempunyai ketajaman analisa alternatif, kesulitan dan dampak yang lain yang akan dihasilkan dari pergumulan tersebut. Dan itu menjadikan seorang isteri support kepada apa yang suaminya inginkan secara positif.

Memang kita akan melihat bahwa suami yang memutuskan tetapi dibelakangnya ada isteri yang memberikan pertimbangan terbaik bagi keputusan tersebut. Didalam otobiografi tokoh-tokoh penting di dunia akan kita dapati bahwa keputusan-keputusan tersebut terjadi karena mereka memiliki istri yang sangat mendukung, namun sebaliknya dibalik para penjahat yang hebat juga terdapat isteri yang sangat merusak. Sehingga kita sekarang mengetahui bagaimana posisi seorang isteri akan sangat berpengaruh bagi suaminya. Seperti Sarah yang selalu memberikan input, dan dukungan didalam Abraham menjalankan ide dan pelayanannya, dan ia tidak pernah menghalangi apa yang menjadi garis perjalanan dan tugas Abraham.

2.A.3. MENGASIHI KELUARGA

Titus 2:4 2:4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya,

Seorang ibu harus mengutamakan keluarganya. Jika seorang ibu terlalu dibebani oleh tekanan ekonomi sementara peluangnya untuk karier terbuka lebar, maka ia dengan mudah akan mengabaikan keluarganya. Namun seorang ibu yang bijaksana haruslah dapat meluangkan waktu dan menyimpan energi untuk keluarganya. Perlu diingat bahwa salah 353u karakteristik dari keluarga yang berhasil adalah daya tarik cinta kasih seorang ibu. Kasih ini tak dapat digantikan oleh siapapun.

Dalam mengurus rumah tangganya, Seorang ibu akan menunjukkan teladan tentang penguasaan diri, kebaikan, dan kekudusan dalam pikiran serta hati (Titus 2:5)

Titus 2:5 2:5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.

Hal-hal tersebut tidaklah mudah dilaksakan. Namun hal itu akan dapat terwujud jika kita memelihara hubungan dengan Allah melalui aktivitas-aktivitas seperti doa, pembacaan Alkitab, dan menerima pengajaran Alkitab yang benar.

Keindahan seorang istri bukan dari dandanan/ keindahan lahiriah yang tampak diluar saja. Alkitab banyak mengajarkan bagaimana seorang perempuan dapat menjadi seorang perempuan yang sejati.

2.B. PERAN SUAMI DALAM RUMAH-TANGGA

Keluarga harus mencerminkan prinsip Kerajaan Allah. Bila cermin pemerintahan Allah ada dalam suatu rumah tanggga, berarti Yesus ada di atas suami. Dalam hal ini wewenang yang dimiliki suami bukan wewenang untuk digunakan semena-mena. Tetapi wewenang yang dibungkus dengan kasih Kristus demi kemuliaan Allah dan tegaknya rumah tangga Allah atau pemerintahan Allah dalam keluarga. Untuk ini seorang suami harus menjadi imam. Dalam hal ini harus ditegaskan bahwa hubungan suami istri dapat menjadi lambang hubungan Kristus dengan jemaat (Efesus 5:32).

Allah menentukan suami harus menjadi imam dalam keluarga. Seperti Kristus berkorban untuk jemaat, demikian pula suami harus berkorban bagi keluarga. Hal ini juga ditegaskan oleh Allah Bapa dalam Kejadian 3:19, bahwa manusia (laki-laki) akan berpeluh dalam mencari nafkah. Sebagai “penolong”, istri dapat membantu suami mempertahankan ekonomi keluarga, tetapi suami tidak boleh menjadikan istri “sapi perahan” guna menunjang kebutuhan keluarga.

Dalam Efesus 5:25, disebutkan bahwa suami harus mengasihi istri seperti “Kristus mengasihi jemaat”. Dalam hal ini, suami harus melihat kasih Kristus sebagai prototype atau teladan kasih yang harus dikenakan terhadap istri. Untuk itu kita harus mengerti tempat Kristus bagi jemaat. Kristus adalah kepala atau pemimpin yang memimpin kepada kebenaran

Ibrani 12:1-5 NASIHAT SUPAYA BERTEKUN DALAM IMAN

12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. 12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. 12:3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. 12:4 Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. 12:5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;

Ini berarti supremasi suami terhadap istri bukanlah kewenangan untuk berlaku sewenang-wenang, tetapi memimpin istri kepada kebenaran. Dalam hal ini suami harus menjadi teladan iman dan pemimpin rohani dalam keluarga. Suami sebagai kepala istri maksudnya adalah bahwa suami harus menjadi terdahulu dalam membawa anggota keluarga termasuk istrinya kepada Tuhan. Jadi kewenangan suami diatas istri bukanlah alat untuk memperalat atau memanfaatkan istri guna pelampiasan keinginan pribadi, sebab bila hal ini terjadi, maka hubungan suami istri sudah menjadi sebuah “perbudakan”. Idealnya suami harus mampu menjadi “gembala sidang keluarga”.

2.C. ISTRI YANG DOMINAN

Tidak jarang kita jumpai ada keluarga dimana Suami tidak ditempatkan sebagai “kepala” atau sebagai “imam” dalam keluarga. Seorang Istri bisa menjadi sangat dominan penentu keputusan dalam keluarga. Ini banyak terjadi ketika si istri mempunyai karir lebih hebat, punya kemampuan intelektual lebih dari sang suami. Atau mungkin karena sang istri memang mempunyai sifat “dominan”.

Sikap istri yang terlalu dominan membawa suasana rumah-tangga menjadi tidak sehat. Lazimnya memang laki-laki yang memegang kendali keluarga (sesuai Firman Allah). Sikap dominan istri akan menimbulkan konflik bagi jiwa si suami dan anak-anaknya. Mungkin konflik ini kadang tidak terlihat nyata karena mungkin sang suami tidak mempermasalahkan bahwa istri yang memegang “perintah”. Tetapi ini tetap saja akan menjadi suatu konflik sebab “nature” laki-laki adalah diciptakan untuk menjadi “imam”.

Hakekat perempuan sejak semula diciptakan adalah sebagai “penolong yang sepadan” bukan untuk menguasai suami, janganlah menuntut yang berlebihan akan merusak seluruh tatanan kehidupan

Roma 12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

Hirarkhi yang benar adalah :

1 Korintus 11:3 Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

Sekalipun pria menjadi kepala, ini bukan berarti istri tunduk membabi buta. Tetapi istri tetap harus tunduk sejauh mana keputusannya tidak melenceng dari Firman Allah

Memang kadang-kadang kita jumpai ada ketimpangan diantara suami-istri. Sang istri mungkin jauh lebih pandai, lebih pintar mencari uang, lebih cakap dan sebagainya. Apabila suami “memiliki kekurangan”, maka sebaiknya istri lebih banyak bisa menopang suaminya dalam kasih dan doa. Sebab istri akan memiliki kepekaan yang lebih atau waktu yang lebih untuk perkara-perkara rumah-tangga. Namun apabila istri memiliki “kekurangan” dibanding suami, maka sang suami akan menjadi pelindung yang penuh kasih.

Dalam keluarga kehidupan “doa” sangat penting, seorang istri yang suka berdoa dan bersekutu dengan Allah dan menjadikan hal itu sebagai gaya hidupnya, dengan sendirinya akan bersikap “taat dan kasih” terhadap suaminya. Karena ketika kita bersekutu dengan Allah, kita ditempatkan sebagai “murid dan anak-anak Allah” yang mencintai kedamaian.

2.D. KETURUNAN DALAM KELUARGA

Dalam masyarakat kita, masih ada faham “keluarga belumlah lengkap atau sempurna, apabila belum mendapatkan anak laki-laki”. Sekalipun keluarga tersebut sudah dikaruniai lebih dari dua anak perempuan, mereka masih berusaha keras mendapatkan anak laki-laki. Dalam hal ini sepertinya kita menganggap anak-anak perempuan bukanlah anugerah Allah yang istimewa. Tidak jarang juga keluarga ini kemudian menempuh cara “artifisial medis” untuk mendapatkan anak laki-laki.

2.E. PROFESI IBU RUMAH TANGGA

Syukur bahwa sudah menjadi hal yang lazim, perempuan Indonesia mengenyam pendidikan tinggi. Tidak jarang perempuan menjadi peraih nilai terbaik di kelasnya. Setelah mendapat derajat sarjana para perempuan terjun di dunia kerja. Cukup banyak perempuan yang menjadi tenaga andalan perusahaan atau lembaga pemerintah. Akan tetapi ketika tiba giliran ia menikah dan mempunyai anak-anak, banyak diantara mereka yang akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga.

Menjadi ibu rumah tangga, itu juga merupakan “profesi mulia”, saya tidak pernah meremehkan profesi ini. Secara kodrati perempuan lebih unggul dalam kehidupan sebagai pemelihara keluarga. Ketika Perempuan memutuskan dirinya untuk menjadi “ibu rumah tangga” dalam artian tidak ada paksaan dari suami. Disinilah tercermin sebuah “pengorbanan” dari pihak perempuan yang komit terhadap keluarganya dan melepaskan kegiatan diluar rumah dan memberikan semua waktunya untuk suami dan anak-anak. Namun sayang, banyak tokoh-tokoh perempuan tidak mau mengakui “pekerjaan ibu rumah tangga sebagai profesi” dan menganggap profesi ini adalah “inferior” atau pelecehan terhadap kemampuan intelektualitas perempuan.

Ibu rumah tangga bukanlah profesi inferior!. Dalam mendidik anak dalam keluarga juga diperlukan intelektualitas, maka faham yang mengatakan “buat apa sekolah tinggi-tinggi, jika akhirnya diam dirumah menjadi ibu rumah tangga” itu salah besar. Rumah adalah pusat pendidikan bagi anak-anak kita, rumah adalah pusat pelatihan etika dan intelektualitas bagi anak-anak. Siapakah yang mengajari anak-anak kita misalnya mengucapkan “terima-kasih” saat menerima sesuatu dari seseorang. Tentu peran seorang ibu yang memberikan andil besar dalam pendidikan dasar ini, bukan?. Maka sangatlah penting sebuah pendidikan dan intelektualitas yang dimiliki oleh seorang ibu sebagai modal mendidik anak-anaknya nanti.

Jangan pernah dilupakan peran perempuan sebagai ibu telah masuk ke dalam “rekan sekerja373354an Bapa kita di Surga untuk memberikan kasih dan pendidikan/ pengajaran kepada kepada anak-anak yang semuanya adalah umat Allah sebagai pewaris kerajaan Surga.

Besarnya peran perempuan sebagai ibu dalam rumah tangga tergambar dalam kutipan berikut :

Jantung masyarakat dan jantung suatu bangsa ialah rumah tangga. Kesejahteraan masyarakat, kemajuan jemaat, kemakmuran bangsa tergantung atas pengaruh-pengaruh rumah tangga. Rumah haruslah menjadi tempat yang paling menarik kepada anak-anak dalam dunia ini Kehadiran ibu haruslah menjadi penarikan yang paling besar di keluarganya. Kesejahteraan masyarakat, kemajuan jemaat dan kemakmuran bangsa sangat tergantung pada seorang ibu.

Menjadi ibu rumah tangga, tanggung jawabnya adalah tanpa batas waktu. Dari generasi ke generasi. Karena apa yang sekarang diajarkan oleh seorang ibu kepada anak-anaknya, hal itu juga yang akan diturunkan kepada generasi-generasi selanjutnya.

Layaknya seorang presiden, seorang ibu juga bertanggung jawab atas masa depan suatu Bangsa dan masyarakat. Dengan demikian menjadi seorang ibu rumah tangga sama penting artinya dengan menjadi seorang presiden di suatu negara.

2.F. KONFLIK DAN MASALAH DALAM KELUARGA

Tidak ada keluarga tanpa konflik dan masalah. Konflik dan masalah hanya akan berhenti di saat seseorang meninggal dunia. Artinya selama kita hidup pasti mengalami masalah. Persoalan utamanya adalah bisa atau tidaknya kita mengatasi masalah tersebut. Karena kita bertumbuh atau tidak hanya ditentukan oleh faktor tersebut. Seseorang diukur kedewasaannya ketika dia mampu mengatasi konflik-konflik yang dihadapi. Semakin kita dapat mengatasi konflik, semakin menentukan pertumbuhan kita untuk menjadi sekarakter dengan Kristus.

Masalah akan bertumbuh hebat ketika masing-masing anggota keluarga terlalu menuntut satu-sama lain menjadi sosok sempurna seperti keinginannya. Menuntut seseorang menjadi sempurna seperti yang kita idolakan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik yang sesuai dengan kemauan kita, sebaliknya kita akan semakin frustrasi ketika apa yang kita harapkan itu tidak kunjung tiba.

“There is no perfect life” kata orang bijak, agaknya pengertian ini sangat tepat. Kehidupan sempurna hanya akan kita terima saat kita kembali ke Rumah Bapa hidup bersama-sama dengan Allah dalam tubuh kemuliaan. Selama kita di dunia ini akibat dari dosa warisan sejak zaman Adam, kita tidak akan menemukan kehidupan yang benar-benar sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna!

Rakyat Amerika walaupun terkenal dengan kehidupan seks bebas, tetapi selalu menuntut presiden-nya “immune” dari dosa susila. Kita semua tahu dari kasus-kasus Presiden Clinton, yang akhirnya kita ditemukan kepada suatu konklusi bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Demikian juga dalam keluarga, sehebat apapun kata orang tentang kesempurnaan keluarga itu, akan selalu ditemukan ada “hal yang tidak beres” yang pernah terjadi atau yang sedang terjadi.

Lalu bagaimana mengatasi konflik/ masalah dalam keluarga? Yang pertama adalah “Mencegah Konflik/ masalah”, dan yang kedua adalah “Mengatasi/ mengobati Konflik/ masalah”. Pada dasarnya mencegah tentulah lebih baik daripada mengobati.

Konflik dan masalah bisa terjadi ketika masing-masing tidak menjadi pendengar yang baik, saat pasangannya berkeluh kesah. Ketika salah satu pihak tidak mengargai pembicaraan dalam suatu dialog. Konflik di antara suami istri adalah merupakan target iblis. Waktu suami istri konflik, iblis pun bertepuk tangan, suami istri harus meenyadari hal ini dan saling mengingatkan. Jangan serang pasangan (jangan saling melukai) tetapi utarakan perasaan. Perasaan yang kita utarakan adalah netral.

Kalau anda punya problem dalam mengutarakan perasaan secara lisan, lakukan secara tertulis (surat cinta). Kadang-kadang kalau sudah lama menjadi suami-istri, masing-masing akan merasa “risi/ enggan” untuk melakukan ini. Namun cara ini kadang bisa menghasilkan hal yang baik.

Buat komitmen ajaklah keluargamu “berdoa bersama” (berpegangan-tangan) ketika sudah sulit berkomunikasi. Ini cara yang sangat baik dimana masing-masing mencari kehendak Tuhan, dan bukan memaksakan keinginan pribadinya (egois). Kehendak dan kepentingan Tuhan ditempatkan di tempat yang utama.

1 Korintus 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Pengungkapan kasih secara verbal dan tindakan fisik sangatlah penting dalam berkeluarga; mengatakan “aku mengasihimu/ I love you” atau memeluk dan memegang tangan adalah suatu pengungkapan perasaan yang sederhana sekali. Namun sayang hal yang mudah ini sering terlupakan untuk dilakukan. Sehingga kemudian sebuah keluarga mudah jatuh dalam suatu konflik.

1 Yohanes 4:7-8 4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Published in: on April 2, 2007 at 11:51 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/perempuan-dan-keluarga/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: