Putri Bambu

Putri Bambu

INI dia batang bambu yang kuperlukan! Betul-betul besar! Mungkin ini yang terbesar di lereng Gunung Fuji ini,” kata petani itu kepada istrinya. Maka, ditebangnya batang itu.

Tetapi, alangkah terkejutnya petani itu dengan istrinya. Di dalam rongga batang itu ternyata ada seorang bayi perempuan mungil seperti boneka. Dengan hati-hati mereka membawa bayi itu pulang dan merawatnya. Ia diberi nama Putri Bambu.

Putri Bambu memang ajaib. Hanya dalam beberapa tahun saja ia sudah tumbuh menjadi gadis cantik jelita dan lemah lembut. Dari pagi buta sampai jauh malam ia rajin membantu keluarga petani itu. Seluruh penduduk desa menyukai dia.

Kemudian hari, raja pun mendengar kabar tentang Putri Bambu. Lalu raja mengirim utusannya untuk meminta Putri Bambu pindah ke istana dan menjadi selirnya. Nah, kalau raja mencari selir, ceritanya jadi seru.

Cerita tentang Putri Bambu terdapat dalam beberapa versi di Jepang, Korea, dan Tiongkok. Budaya di negeri-negeri itu menjunjung tinggi keistimewaan, keindahan, dan kegunaan pohon bambu.

Coba kita lihat keistimewaannya. Mengapa bambu tidak tumbang atau patah batangnya ketika diterpa badai dan angin topan? Apakah karena akarnya dalam? Bukan! Akar pinus lebih dalam. Apakah karena batangnya kuat? Juga bukan! Pohon ek dan jati lebih kuat batangnya. Kalau begitu, apa sebabnya bambu bisa bertahan terhadap angin kencang?

Rahasia ketahanan bambu terhadap angin kencang terletak pada sikapnya. Ketika diterpa badai, pohon-pohon lain berdiri kaku dan tegak seakan-akan menantang kekuatan angin. Akibatnya, ranting dan batangnya bisa patah. Sebaliknya, bambu justru merunduk dan menunduk. Bambu membiarkan diri diarahkan oleh tiupan angin sampai termiring-miring atau melengkung.

Sifat lentur itu menyebabkan pohon bambu mampu bertahan dalam badai dan topan. Sifat lentur itu memulihkan kembali sikap tegak bambu setelah badai berlalu. Pohon lain berkonfrontasi terhadap angin, padahal bambu beradaptasi.

Itu bukan berarti bahwa bambu menyerah pada angin. Ia justru bertahan. Akarnya tetap berpegang pada pijakannya. Bahkan, akarnya justru kian mendalam. Badai justru membuat bambu menjadi lebih kuat.

AGAKNYA kita bisa belajar dari bambu. Bukankah kita pun bagaikan pohon yang sewaktu-waktu diterpa oleh badai dalam bentuk berbagai persoalan, kesulitan dan penderitaan? Apakah sikap kita menghadapi terpaan angin yang kencang? Apakah kita menantang atau melawan angin seperti pohon-pohon lain? Bisa jadi kita akan patah dan tumbang. Ataukah kita bersikap lentur seperti pohon bambu, yaitu merunduk dan menunduk sampai termiring-miring sekalipun?

Dengan sikap itu kita bisa bertahan dan kemudian pulih kembali. Sifat lentur yaitu berkeluk dan melengkungkan diri adalah rahasia untuk bertahan.

Sepanjang hidup berbagai persoalan, kesulitan dan penderitaan datang menerpa kita. Kristus menyuruh kita bertahan. Kepada para rasul Ia bersabda, “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Lukas 21:19). Pengarang anonim surat Ibrani pun menulis tentang “bertahan dalam perjuangan yang berat” (lihat Ibrani 10:19- 39).

Bambu bisa menjadi guru. Oleh sebab itu, bambu dijunjung dalam budaya Kung Fu Tse di Jepang, Korea, dan Tiongkok.

Dalam seni lukisnya, bambu adalah lambang estetika. Dalam filsafatnya, bambu adalah lambang ketahanan. Dalam pedadoginya, bambu adalah lambang ketekunan. Selanjutnya karena rongga kosong pada bambu, maka dalam agama Kung Fu Tse bambu adalah lambang pengosongan dan pemurnian batin. Pokoknya, bambu adalah bagus dan berguna. Sebab itu lahir cerita Putri Bambu.

Apa yang terjadi ketika raja menyuruh Putri Bambu pindah ke istana? Putri itu menulis surat, “Maaf Baginda, hamba lebih berguna di desa daripada di istana.”

Raja mengutus kembali utusannya dan memberi lebih banyak hadiah untuk Putri Bambu. Tetapi Putri Bambu tetap menolak. Kemudian raja menyuruh pasukannya untuk memaksa Putri Bambu. Tetapi Putri Bambu cepat-cepat bersembunyi di hutan. Ia masuk ke dalam rongga pohon bambu. Di manakah sekarang Putri Bambu? Sampai hari ini ia masih ada dalam rongga tiap batang bambu. Kadang-kadang ia menampakkan diri pada orang yang betul-betul mencintai bambu.

Published in: on April 2, 2007 at 11:30 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/putri-bambu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: