Sebuah Cerita Kecil

Sebuah Cerita Kecil


Siang hari ini terasa panas sekali. Duduk sendirian di dalam bus kota PPD Patas 2 jurusan Cililitan Kota. Walaupun penumpangnya bisa dihitung dengan jari dan hampir semua jendela yang ada di bis ini terbuka tetap saja udara panas di dalam bis tidak berkurang.Terlebih lagi kemacetan yang menggila di jalan Hayam Wuruk semakin membuatku pusing dan berkeringat.

Hari ini merupakan hari penting dalam hidupku karena hari ini aku mengikuti test masuk kerja. Setelah tamat STM Pembangunan enam bulan lalu. Aku sibuk mengirimkan surat lamaran ke berbagai perusahaan. Entah berapa puluh surat lamaran dan puluhan ribu rupiah ku habiskan untuk mengirim surat lamaran ke berbagai perusahan.

Selama enam bulan penantian tersebut. Baru kali inilah ada surat panggilan buatku. Surat panggilan itu berasal dari sebuah bengkel mobil yang berlokasi di kawasan kota. Bengkel itu tidaklah besar tapi mempunyai pelanggan yang banyak. Hal itu tampak dari jejeran mobil yang berada ditempat pakiran bengkel tersebut. Aku baru mengetahuinya setelah berada di lokasi tersebut.

Sebelum berangkat menuju ke test kerja. Malam harinya aku berdoa kepada Tuhan Yesus. “Tuhan Yesus, besok saya akan melakukan test kerja. Berilah hal yang terbaik bagi saya. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin,” itulah doaku. Aku berdoa singkat-singkat saja karena tidak pandai berdoa. Aku yakin Tuhan Yesus juga sudah tahu maksudku.

Berbekal ijazah dan surat panggilan kerja. Aku mendatangi bengkel mobil itu. Ada sekitar 15 pelamar lainnya yang mengikuti panggilan kerja tersebut. Aku mendapat nomor antrian 9. Belum sampai nomorku dipanggil wawancara, seorang pekerja dalam bengkel tersebut mengatakan bahwa 3 asisten montir yang dibutuhkan telah diperoleh.

Aku gagal mendapat kerja. Padahal belum juga dipanggil untuk diwawancarai. Menghilangkan perasaan kesal dalam diri. Aku pergi ke warung kecil tak jauh dari bengkel tersebut dan meminum the dingin. Secara kebetulan aku mendengar obrolan orang bengkel kalau yang diterima kerja masih ada hubungan saudara dengan pemilik bengkel.

“Ah, sial,” gerutuku dalam hati. Tampaknya Tuhan Yesus tidak mau mendengar doaku. Terbayang dalam mataku, wajah ibuku yang sudah menjanda sejak aku kecil. Ia berjuang dengan jualan kue untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Walaupun hanya berjualan kue, ibuku bisa membawaku tamat STM dan adikku bersekolah di SMP. Padahal cita-citaku, ingin membantu ibu dan membiayai adikku sekolah. Keinginanku gagal. Akupun segera naik bis PPD Patas 2 ke arah Cililitan,

Nanti, aku akan turun di Otista dan berjalan kaki selama 20 menit menuju rumahku. Di tengah jalan yang macet ini. Naiklah seorang anak kecil tukang penjual koran. “Koran…koran…koran,” teriaknya sambil berjalan dilorong yang ada dalam bis tersebut. Ia menyodorkan koran tersebut kepadaku. Aku menolaknya.Aku tidak butuh koran karena uangku pas-pasan.

Anak kecil penjual koran turun dari bis. Ia pergi keliling sekitar bis menawakan dagangannya. Bisa yang kutumpangi tetap tidak beranjak karena jalanan disepanjang jalan Hayam Wuruk macet total.

Eh… anak kecil penjual koran itu naik lagi. Koran…koran…koran… ia masih menjajakan dagangannya. Tetap saja penumpang dalam bis ini tidak ada yang mempedulikannya. Ia menghampiriku dan setengah memaksa untuk membelinya. Aku tetap tidak mau membelinya. Anak itupun turun dari bis.

Tidak lama kemudian tukang koran yang sama naik dari pintu depan dan menawarkan koran kepada penumpang. Aku melihatnya dan timbul perasaan iba. Aku berandai-andai, seandainya ia bernasib sama denganku. Keuntungan jualan Koran ini digunakan untuk biaya hidup, mungkin untuk uang sekolahnya. “Mungkin nasib kita sama,” ujarku dalam hati.

Anak itu kembali ke tempatku dan menyodorkan koran Pos Kota ke pangkuanku. Akupun terpaksa merogoh kantung untuk mengeluarkan beberapa uang logam seharga koran tersebut. Ia pun mengucapkan terima kasih dan tersenyum padaku. Anak itu turun dari bis dan tidak pernah lagi.

Di rumah setelah melepaskan lelah. Aku membaca berita yang ada di koran itu. Aku melihat sebuah iklan tentang sebuah lembaga pendidikan yang menerima siswa dengan bea siswa selain itu langsung bekerja di instansi tersebut. Kebetulan lembaga ini mencari siswa dari STM untuk di didik bagi kepentingan instansi tersebut.

Iseng-iseng, aku mengirim lamaran menjadi siswa di lembaga pendidikan tersebut. Beberapa minggu kemudian, datang surat dari lembaga pendidikan ini. Aku diminta mengikuti test seleksi. Akupun memenuhi panggilan test tersebut.Ternyata aku lulus test yang terbaik dan berhak mengikuti pendidikan di lembaga itu.

Setelah di didik selama tiga tahun. Aku menjadi lulusan terbaik dan diterima di instansin tersebut. Gaji yang ku peroleh bisa memperbaiki kehidupan keluargaku bahkan adikku bisa kubiayai hingga tamat kuliah.

Terkadang aku terpikir akan kejadian diatas bis dulu. Mungkin aku salah sangka (berdosa) dengan mengecam Tuhan Yesus yang tidak mendengar doaku agar di terima di bengkel itu. Ternyata Tuhan Yesus mendengar doaku dan ia telah berencana akan hidupku serta jalan apa yang harus kulalui. Mungkin anak kecil penjual koran itu, malaikat yang menyamar untuk menolong diriku.

Pernah aku menyusuri jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk untuk mencari anak kecil itu. Tapi tidak bisa ketemui. Kini aku menyadari bahwa manusia bisa berencana dan berharap tapi Tuhan Yesus telah mempunyai rencana sendiri bagi diri kita. Amin.

Published in: on April 2, 2007 at 6:53 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/sebuah-cerita-kecil/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: