Seksualitas yang Seharusnya

Seksualitas yang Seharusnya

COBA tolong Anda definisikan apa “merah” itu! “Merah? Ah, kalau cuma itu sih, semua juga tahu!”, begitu mungkin reaksi Anda. Ya, siapa yang tidak kenal warna “merah”? Tapi silakan mendefinisikannya, maka saya jamin, Anda pasti kebingungan. Saya duga, yang paling banter dapat Anda katakan adalah, bahwa merah itu bukan putih, bukan kuning, bukan biru, dan seterusnya.

Ini mirip dengan pengalaman saya, ketika di luar negeri saya diminta menjelaskan apa itu “demokrasi Pancasila” dan “ekonomi Pancasila”. Gelagapan saya dibuatnya.

Yang waktu itu spontan meluncur dari mulut saya adalah, bahwa “demokrasi Pancasila” itu bukan “demokrasi liberal” ala Amerika; tapi bukan pula “demokrasi rakyat” gaya Korea Utara. Dan “ekonomi Pancasila” adalah sistem ekonomi yang tidak kapitalis, namun sekaligus tidak pula sosialis”.

Yang ingin saya katakan adalah, bahwa kadang-kadang kita hanya bisa menjelaskan “what is” dari “what is not”. Apa yang “ya”, dari apa yang “tidak”. Dan apa yang “harus”, dari apa yang “tidak boleh”.

Hukum ketujuh Dasa Titah berbunyi, “JANGAN BERZINAH”. Apa persisnya yang dilarang oleh hukum tersebut? Ada dua cara yang dapat kita tempuh untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, kita bisa menjawabnya dengan membuat sebuah “daftar larangan”, yang boleh jadi tidak terbatas panjangnya, dan luar biasa banyaknya. Atau, kedua, kita dapat dengan ringkas mengatakan, bahwa “apa yang tidak boleh” adalah semua yang bertentangan dengan “apa yang harus”.

Tentu saja, saya memilih yang kedua. Yang berarti, kita akan membicarakan terlebih dahulu apa-apa yang “seharusnya”, baru apa-apa yang “dilarang”.

* * *

SALAH SATU konsep terpenting dan “khas” alkitab tentang “manusia”, adalah pemahamannya bahwa manusia adalah satu kesatuan yang utuh. Satu kesatuan tubuh-jiwa-roh yang tak terbagi-bagi. Tanpa dikhotomi. Tanpa dualisme.

Ini berlawanan dengan filsafat Yunani yang mengatakan, bahwa “tubuh” adalah penjara bagi “jiwa”. Atau dengan dengan filsafat Timur yang mengajarkan, bahwa yang “rohani” itu mulia, dan yang “jasmani” itu hina.

Dengan ringkas tapi tegas alkitab menyatakan, bahwa “manusia” adalah kesatuan “tubuh” dan “jiwa” yang tak terpisahkan. Kejadian 2:7 memberi kesaksian, “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah, dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup”.

Artinya, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya adalah dari Allah yang satu itu jua asalnya. Karena itu kedua-duanya baik, mulia, kudus. Manusia harus memuliakan Allah dengan segenap jiwanya, tapi juga dengan seluruh tubuhnya. Antropologi semacam ini tentu saja sangat menentukan bagi pemahaman mengenai “seksualitas”.

* * *

KONSEKUENSI yang pertama adalah, bahwa – menurut alkitab – “seksualitas” pada dirinya, dan pada hakikatnya, adalah baik. Baik, sama seperti semua ciptaan Allah yang lain, menurut penilaian Allah, “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Tidak kotor, nista atau hina. Sebaliknya, ia suci, mulia, menyenangkan.

Pada satu pihak, kebutuhan maupun dorongan seksual diterima sebagai sesuatu yang alamiah. Sama seperti kebutuhan manusia akan makanan atau minuman. Sama seperti dorongan rasa lapar atau rasa haus. Karena itu alkitab tak pernah berusaha menutup-nutupinya. Tidak jarang malah terlalu eksplisit. Karena itu, bersyukurlah – jangan merasa bersalah — bila Anda masih dikaruniai selera makan atau . nafsu seks!

Namun, di lain pihak, toh ada sesuatu yang “lebih” atau “istimewa” pada seksualitas, yang tidak terdapat pada makan atau minum. Perkenankanlah saya memberi dua contoh sederhana.

Yang pertama adalah kemungkinan yang unik dan eksklusif , yang dIkaruniakan Tuhan melalui seksualitas. Apa itu? Yaitu, kemungkinan manusia untuk memperoleh keturunan atau ber”prokreasi”. Agar melaluinya, kelangsungan eksistensi manusia bisa terus berlanjut. Apa yang lebih mulia dan lebih istimewa dari pada ini? Kegiatannya barangkali memang cuma beberapa menit, tapi jangkauannya adalah ke”akan”an yang seolah-olah tanpa batas! Itulah seksualitas.

Kemudian, yang kedua, bukan cuma menyangkut potensialitasnya semata, tapi juga realitasnya. Maksud saya, kenikmatan serta kepuasan lahir-batin yang dimungkinkan Allah untuk dialami oleh manusia, melalui kegiatan seksualnya ini! Ini juga tak terbandingkan dengan kegiatan apa pun yang lain.

Seorang bapak gereja bahkan pernah mengatakan, bahwa satu-satunya pengalaman manusiawi yang dapat dipakai sebagai “pembanding”, sehingga orang bisa memperoleh sekelumit gambaran tentang kenikmatan sorga nanti, adalah orgasme. Walaupun, tentu saja, perbedaannya juga luar biasa. Orgasme cuma berlangsung beberapa detik. Sedang kenikmatan sorgawi – yaitu ketika manusia mengalami “kesatuan mistis” dengan Allah — berlangsung abadi.

* * *

DALAM ketegangan yang dinamis antara dua aspek itulah, kita menangkap pemahaman seksualitas yang khas alkitabiah. Aspek yang pertama adalah, ke”normal”an serta ke”natural”an-nya. Bahwa seksualitas itu normal! Dorongan-dorongannya natural! Sama seperti kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikis Anda yang lain. Jadi, Anda tak perlu merasa malu atau merasa bersalah bila memiliknya. Sebaliknya, bersyukurlah!

Mengatakan bahwa seksualitas itu “normal” dan “natural” berarti mengatakan, bahwa seksualitas penting. Bahwa tanpa itu, hidup manusia menjadi tidak penuh, tidak utuh, tidak lengkap. Bahwa hidup yang a-seksual adalah a-natural. Abnormal. Boleh-boleh saja Anda memutuskan untuk tidak menikah. Tapi jangan katakan, bahwa itu Anda lakukan agar Anda bisa menjadi lebih suci dan lebih dekat kepada Tuhan!

Setelah mengatakan itu, toh kita harus segera menyatakan, bahwa seksualitas bukanlah satu-satunya yang penting. Bukan pula yang terpenting. Seksualitas bukan segala-galanya. Ia cuma “salah satu”. Tak boleh kita per”setan”kan, namun jangan pula kita per”tuhan”kan!

Seksualitas adalah salah satu aspek saja dari kehidupan manusia yang lebih luas dan lebih kompleks. Karena itu ia hendaknya juga dipahami dan diperlakukan dalam inter-relasi dengan komponen-komponen kehidupan yang lain. Tidak dalam “isolasi”, melainkan dalam “koordinasi” dengan yang lain-lain itu. Yang benar berkenaan dengan seksualitas adalah yang “proporsional”. Tidak “sex-maniac” tidak pula “sex-o-phobia”.

* * *

“JANGAN BERZINAH”. Pada satu pihak, larangan ini adalah salah satu saja dari sepuluh titah yang ada. Karena itu, jangan terlampau melebih-lebihkannya. Dosa seksual tidak lebih serius dibandingkan dengan dosa di bidang ajaran, atau dengan dosa dalam keluarga, atau dengan jenis dosa-dosa lainnya.

Sebab itu bagi saya, adalah tragis dan ironis, ketika sekelompok masyarakat ribut besar dan merasa amat terganggu oleh “goyang Inul”, tapi nyaris tidak bereaksi apa-apa ketika tindak korupsi semakin meluas, ketika tindak kekerasan meranggas, ketika perdagangan perempuan dan anak-anak dibiarkan semakin subur, ketika semakin banyak orang miskin yang tergusur, dan . ada orang yang malah sibuk menggagas “polygamy award”.

Namun toh benar juga, bahwa sekalipun “dosa seksual” hanya “salah satu” saja, tapi ia adalah “salah-satu” yang sama sekali tidak boleh dipandang remeh! Kita tidak boleh dengan enteng mengatakan, “Ah, biar saja! Habis, memang sudah zaman-nya sih!” . Atau, “Jangan usil ngurusin apa yang terjadi di bawah selimut orang , deh! Itu ´kan tanggungjawab masing-masing!”

Tidak! Kita tidak bermaksud “usil” atau “iseng”. Kita hanya mau peduli, sebab Tuhan pun sangat peduli. Dan Tuhan sangat peduli, karena dalam seksualitas ini terkait masalah “kekudusan”. Baik kekudusan individual, maupun kekudusan relasional.

* * *

DALAM seksualitas terkait masalah “kekudusan relasional” antar-manusia. Telah sejak awal proses penciptaan, dengan jelas Tuhan menyatakan, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18).

Kesendirian, menurut Allah, “tidak baik”. Sebab kesendirian akan menciptakan ketidak-berdayaan. Ketidak-berdayaan yang hanya dapat diatasi dengan kehadiran seorang “penolong yang sepadan”. Dan itulah antara lain hakikat serta fungsi seksualitas itu.

Seksualitas memungkinkan mutualitas atau hubungan timbal balik antarmanusia. Juga kesetaraan antar manusia. Dan, jangan lupa, kesatuannya! “Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku . sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:23-24).

Jadi “berzinah” itu apa? “Berzinah”, berarti tercemarnya kekudusan serta integritas moral individual orang-per-orang. Tapi “berzinah” juga berarti rusaknya relasi yang mutualistis antar manusia: keseteraannya, kesatuannya, tolong-menolongnya. Ketika “perzinahan” terjadi, kekudusan terinjak-injak dan relasi kemanusiaan retak. Dan ini, Saudara, sungguh, adalah bencana!

Published in: on April 2, 2007 at 11:32 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/seksualitas-yang-seharusnya/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: