Tuhan, Aku Bukan Orang Samaria itu…

Tuhan, Aku Bukan Orang Samaria itu…


Malam mulai merambat kota Jakarta. Hujan yang hampir setiap malam mengguyur Jakarta, malam ini sedang beristirahat. Mungkin Dia yang membuat hujan tahu, kalau anaknya harus berjalan melakukan apa yang Dia lakukan 2000 tahun yang lalu. Mencari yang terhilang, mengunjungi yang terbuang, memberi makan yang lapar, dan menyatakan kabar baik kepada mereka yang tidak mempunyai harapan.

Yup.. hari ini Ci Merry salah satu rekan dan pemimpin di Yayasan Rumah Roti, mengajak saya untuk pergi melakukan PI dan kunjungan ke jemaat kami yang merupakan jemaat dari ibadah Tuna Wisma, yang isinya pemulung, pengamen, anak-anak jalan, dan orang-orang yang tersingkirkan di kota ini. Entah kenapa, saya yang diajak hari itu, karena sebenarnya kita punya 2 team untuk kunjungan ke anak-anak jalanan yang masih remaja, dan kami biasa menyebutnya anak gaul. Team yang satu Waktu yang tadinya kita tetapkan jam 7 malam untuk jalanadalah Ci Merry dan Roy, sedangkan team yang satu lagi adalah K´ Maria dan saya.

Sepulang dari kantor, saya sudah mempunyai pikiran lelah, dan semakin lelah karena tahu kalau malam ini saya punya 2 buah agenda yang continyu dan baru selesai sampai jam 5 pagi. yang pertama yaitu PI ke stasiun-stasiun, sedangkan yang satu lagi adalah doa semalaman bersama anak-anak JPJ(Jaringan Pemuda Jakarta) di Plasa Central. Jam 7 malam saya sudah sampai di tempat ci Merry, tapi ternyata Ci Merry pun baru pulang dari kantor, jadi saya harus menunggu ci Merry bersiap-siap. Kebetulan disana ada Yusuf dan Ester, rekan di pelayanan Tuna Wisma juga. sambil ngobrol ngalor-ngidul, dan mulai ada cerita tentang salah satu anak kecil yang ditangkap kamtib di daerah Juanda, dan ibunya minta supaya kami membantu membebaskan anak tersebut. Akhirnya ci Merry siap untuk berangkat dan berpikir sebentar tentang anak kecil tersebut.

Malam yang semakin gelap, yang membuat semakin was-was apakah akan hujan malam ini ? Sampailah kami di stasiun Mangga Besar, dan saya memarkirkan motor di sebrang stasiun. Pemandangan kumuh mulai menusuk mata, seiring kami memasuki stasiun Mangga Besar. Stasiun yang seharusnya stasiun yang indah, bahkan bisa dibilang melebihi stasiun Gambir dari segi konstruksi dan arsitekturnya, tapi sayang, karena kurang perhatian dari pemerintah setempat, stasiun ini malah menjadi tempat singgah bagi para pemulung dan pengamen, bahkan tempat-tempat yang diperuntukan sebagai tokopun berubah fungsi menjadi tempat tinggal tetap yang disewakan sebulannya hanya 50 ribuan rupiah.

Memasuki stasiun tersebut, pikiran yang lelah namun masih ada kegairahan dalam roh saya, menjadi hilang seketika dan perasaan marah, kecewa dan sedih mulai masuk ke dalam pikiran saya. Anak-anak jalanan yang biasa saya bina setiap minggu, sedang ngefly dengan lem aibon yang membawa pikiran mereka menuju surga dunia. Ah.. Tuhan apa yang bisa membuat anak-anak ini berubah… Tahu kalau kami datang, merekapun berusaha bersembunyi. Tidak lama kemudian, mereka mulai berani untuk menyapa kami, tapi dengan aibon yang masih tersembunyi di balik baju mereka.

Mulai banyak hal yang mereka ceritakan, dan seolah suatu koor mereka bercerita kalau mereka mulai ngelem lagi karena kumpulan mereka yang suka ngelem. Sungguh pergaulan sangat berpengaruh sekali dalam kehidupan seseorang. Taufik yang malu-malu dan belum pernah menyentuh aibon, sekarang sudah sangat akrab dengan aibon. Hendra, lelaki kecil yang badung bahkan sudah terbiasa dengan rokok. Si Ambon, anak kecil hitam yang kini sudah sering memakai lexotan. ah.. Tuhan mereka tidak memakainya secara sembunyi-sembunyi, merak tidak melakukannya di ruangan yang tertutup, tapi mereka lakukan ini di tengah keramaian, tapi mengapa tidak ada yang perduli dengan paa yang merak lakukan ????

Tidak lama kemudian si Ambon mulai merengek-rengek, “ka.. tolong temen saya Ka.. bawa ke dokter, kakinya ngga bisa jalan…”. Saya yang sudah sangat kecewa saat itu hanya bisa berpikir, ” ah… anak ini sedang mabuk lexotan, paling alesan aja untuk minta duit…” Saya coba alihkan perhatian saya ke Taufik, yang saya kenal santun dan baik, tapi setelah beberapa minggu tidak pernah datang lagi, ternyata sudah tidak asing lagi dengan aibon. Tapi si Ambon masih terus merengek-rengek….

Akhirnya saya coba dekati anak ini. Seorang anak yang sudah cukup dewasa, dengan usia sekitar 19 tahunan, sedang tergolek lemah sambil tiduran. Bau yang datang dari dirinya membuat saya tidak tahan berlama-lama dekat dengan dia. Saya berpikir saat itu, anak ini habis terjatuh ke dalam Got, karena suasana stasiun yang remang-remang membuat saya tidak bisa melihat dengan jelas kondisinya, saya hanya melihat kotorang hitam yang sudah mengering di bagian kaki kanannya. Saya mulai bertanya apa yang terjadi, dan anak ini yang tidak pernah saya lihat di stasiun ini sebelumnya mulai cerita kalau dia terkena peron kereta, sambil saya perhatikan ternyata terdapat luka-luka seperti sayatan di kakinya, dan ternyata kotoran hitam tersebut adalah darah yang sudah mengering.

Saat itu perasaan marah, kecewa dan sebagainya yang membuat hati saya tidak damai sejahtera, membuat pikiran saya blank, dan saya hanya bisa cerita ke Ci Merry yang sedang ngobrol dengan anak-anak lainnya, tentang keadaan anak ini, dan bertanya apa yang harus kita lakukan. kemudian ci Merry pun menghampiri anak ini, kemudian tidak lama kamipun berdiskusi dan kami memutuskan untuk membawa anak ini ke klinik Pesona, yang merupakan klinik yang telah bekerja sama dengan kami untuk mengurusi anak-anak jalanan di daerah tersebut. Kamipun memanggil salah satu jemaat kami yang tinggal di stasiun tersebut yaitu Pak Sobari. Setelah saya memanggil Bajaj, Pak Sobaripun memapah anak ini dengan sangat sulit sekali, karena ternyata anak ini tidak bisa jalan. Bahkan untuk naik ke Bajajpun sulit sekali.

Sesampainya di klinik ini, Puji Tuhan ternyata klinik ini dalam keadaan sepi, karena biasanya kalau saya mengantar mereka ke klinik ini tidak jarang harus menunggu satu sampai dua jam. Setelah anak ini di bawa ke dokter, ternyata dokter melihat ada kemungkinan kalau tulang di daerah lutut terjadi pergeseran, dan melihat hal ini dokter klinik tersebut angkat tangan, tidak bisa melakukan tindakan lebih lanjut. Di Klinik inilah kami bisa mendapatkan cerita lebih banyak tentang kejadian ini.

Bahkan secara tidak sadar kami tidak mengerti, bagaimana anak ini yang mengalami kejadian di Stasiun Gondangdia bisa dibawa ke stasiun Mangga Besar. Dan yang luar biasanya ternyata anak ini mengalami kejadian ini dari tadi pagi, dan setiap kali lukanya dibersihkan darah akan terus mengalir. Sampai akhirnya darah itu dibiarakan mengering dan menjadi kehitaman. Ah.. ternyta sudah begitu apatisnyakah dunia ini ? Anak yang terbaring dari pagi sampai malam belum ada yang menolongnya. Saya ngga tahu rencana Tuhan begitu ajaib, waktu PI kami yang biasa kami lakukan hari Sabtu pun bisa bergeser ke Hari Jumat.

Setelah dokter melihat, dokter hanya bisa bilang kalau anak ini harus dirontgent terlebih dahulu untuk mendapatkan tindakan selanjutnya.

Tindakan selanjutnya yang diambilpun antara di gips atau di pen. Benak saya dipenuhin dengan pikiran-pikiran bahwa ini akan memakan proses dan biaya yang cukup banyak. Bahkan Dokterpun bilang akan sangat banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan anak ini, dan bukan hanya biaya saja, tapi juga waktu yang harus diberikan untuk membawa anak ini rawat jalan, sampai anak ini bisa berjalan normal kembali, karena minimal dalam satu minggu harus dibawa ke dokter 2 kali untuk melakukan perawatan lebih lanjut. Kemudian saat itu kami cuman minta supaya dokter bisa mengambil tindakan seperlunya seperti menyuntik dengan anti tetanus dan memberikan obat untuk menahan rasa sakit. Setelah itu saya mulai mencari tahu rumahsakit yang bisa memberikan pengobatan untuk anak jalanan dengan biaya yang murah, ternyata bahkan dokterpun tidak pernah mendengar ada rumah sakit yang seperti itu. Bahkan yang luar biasanya dokter menyuruh kami untuk bawa ke dukun patah tulang. Dalam hati saya cuman bisa tertawa, kok bisa-bisanya nyuruh kami ambil tindakan seperti itu ?

Kemudian kami hanya memberikan uang kepada anak tersebut untuk dia bisa makan dan roti-roti yang kami bawa untuk kami berikan ke anak-anak jalanan. Melalui Pak Sobari, kami cuman berpesan untuk melihat-lihat anak tersebut. “Son, dosa ngga ya kita kalau kita cuman bawa ke klinik ini ??” tanya Ci Merry setelah mereka berangkat ke stasiun kembali, saat itu saya cuman bisa bilang kalau kita sudah lakukan apa yang kita bisa.

Setelah itu kami melanjutkan PI kami ke daerah Gunung Sahari, dan rasa kecewa saya bisa sedikit terobati ketika saya bertemu dengan anak-anak di daerah ini yang rata-rata mereka mengamen, tapi perilaku mereka yang cukup baik dan santun serta cara bicara mereka yang lebih terjaga.

Ternyata di daerah ini banyak sekali anak-anak jalanan dan mereka mempunyai komunitas yang cukup kuat untuk hal ini. Selesai PI hampir jam 9 lewat 10 menit, saya pun mengantar Ci Merry pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Kemudian saya melanjutkan pulang kerumah untuk menunggu rekan-rekan saya yang mau ikut doa semaleman tersebut.

Sesampai dirumah, saya dipenuhi pikiran tentang perumpamaan Orang Samaria yang baik hati. Saya tidak tahu posisi saya saat itu ada dimana, sebagai Imam Yahudikah ? sebagai orang Lewikah ? atau sebagai orang Samaria ? Bahkan ketika doa pun saya masih teringat-ingat hal ini.

Akhirnya setelah selesai doa, kami menuju roti bakar di daerah pancoran, dan disitu mulailah saya bercerita tentang apa yang saya alami, dan saya katakan bahwa ini realita dan saya minta pendapat mereka kalau mereka mengalami hal ini. Rekan-rekan saya yang merupakan pemimpin-pemimpin pun bingung apa yang harus dilakukan. Karena ini bukan perkerjaan sehari saja, tapi harus terus menerus, minimal seminggu dua kali harus membawa anak ini ke sinshe. Ah… ini real, ini nyata dan ini yang harus saya alami. Pertanyaan ci Merry pun tentang apakah dosa dengan perbuatan kami terus menggantung dipikiran saya.

Sampai keesokan paginyapun pikiran ini terus menggelayuti saya. Sampai akhirnya saya mencoba menghubungi seorang rekan untuk menuju ke stasiun dan membawa dia ke sinshe, karena dia lebih berpengalaman untuk berurusan dengan orang seperti ini. Sayapun juga mengirim sms ke Ci Merry dan menceritakan apa yang saya dapatkan melalui hal ini.

Ternyata memang perumpamaan yang sering sekali saya ceritakan, yaitu tentang orang Samaria yang Baik Hati, yang mudah sekali sepertinya dilakukan, yang mudah sekali diucapkan, tidak bisa saya lakukan di dunia yang real. Bahkan kondisi seperti inipun membuat saya harus berpikir sangat panjang.

Tuhan aku bersyukur mengalami hal ini. Terima Kasih aku sudah dibawa mengalami perumpamaan yang telah Kau ajarkan, dan ternyata memang sangat sulit sekali hal ini untuk dilakukan. Saat ini aku gagal Tuhan untuk menjadi Orang Samaria itu.. aku ngga sanggup Tuhan untuk menjadi orang Samaria itu.. aku ngga tahu Tuhan dimanakah posisiku… Imam Yahudikah ?? atau orang Lewikah ?? Tuhan saat ini aku bahkan tidak bisa menyalahkan Imam Yahudi dan Orang Lewi itu, karena akupun ternyata sama seperti mereka, dan bahkan duniapun dipenuhi dengan orang-orang seperti mereka, tapi aku ngga akan pernah melupakan pengalaman ini, dan aku akan terus belajar untuk bisa menjadi orang Samaria itu…

Published in: on April 2, 2007 at 6:59 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/02/tuhan-aku-bukan-orang-samaria-itu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: