Bab 6

6. BAYANGAN BERTEMU KEGENAPAN-NYA

 

Dalam bab sebelumnya sudah disinggung bahwa Hukum Moral mengutarakan kehendak Allah, menyatakan dosa (Roma 7:7) sehingga tetap kekal, sebaliknya Hukum Upacara mengutarakan injil dalam bayangan dan lambang. Karena bayangan dan lambang ini telah menemukan kegenapan / tujuan-nya, maka berakhirlah fungsinya.

” … semuanya ini adalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” Kolose 2:17. Hukum yang bersifat bayangan akan selesai tugasnya bila yang dibayangkannya sudah terwujud.

Dalam bab ini akan dipelajari bahwa bait suci bangsa Israel mengajarkan tentang Injil keselamatan, Injil yang sama dengan yang Kristus ajarkan. Hukum upacara ini antara lain adalah persembahan korban, makanan dan minuman yang berkaitan dengan upacara, hari-hari suci istimewa, perayaan-perayaan agama, sabat-sabat tahunan. Kitab Imamat menerangkan tentang hal ini, khusunya Imamat 23 membahas mengenai pesta-pesta tahunan dan upacara sabat-sabat tahunan.

 

1. Adakah persembahan korban sebelum ditetapkan Tuhan melalui Musa di Sinai? Dan apakah yang dilambangkan oleh korban-korban itu?

a. Kejadian 3:21

” TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka”. Ini adalah persembahan korban pertama yang tercatat di Alkitab dan Allah sendiri yang melakukannya.

Ketelanjangan manusia akibat dosa ditutupi oleh Allah. Allah mengganti pakaian/cawat dari daun ara (Kejadian 3:7). Bukan hanya persoalan kualitas kekuatan yang Allah inginkan tetapi terlebih Allah ingin mengajarkan makna penebusan. Ada darah yang harus dicurahkan untuk menutupi dosa, dan itu hanya bisa dilakukan oleh darah Kristus.

b. Kejadian 4:4

“Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu”. Yang membuat persembahan Habel diterima Allah, karena ia mempersembahkan korban sesuai iman yang benar. Habel beriman pada pengorbanan Anak Domba Allah. Kain mempersembahkan apa yang baik menurut pikirannya, namun itu tidak melambangkan penebusan Kristus.

c. Kejadian 8:20

” Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu”. Terluputnya Nuh sekeluarga adalah anugrah Allah (“Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan – Kej 6:8). Persembahan korban Nuh menyatakan imannya kepada Korban yang sebenarnya.

d. Kejadian 22:13

“Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya”. Disamping korban domba lainnya yang pernah dipersembahkan Abraham, peristiwa ini sangat khusus dimana Allah menyediakan domba pengganti anaknya. Kristus adalah “Domba” yang menggantikan kita.

e. Keluaran12:21, 27

Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: “Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah, … Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” Disinilah pengertian persembahan korban menjadi jelas, darah yang tercurah dan dioleskan di ambang pintu, yang melambangkan darah Kristus, meluputkan maut yang harus dialami anak-anak Israel.

Catatan :

Meskipun ada banyak macam persembahan korban yang ditetapkan Tuhan melalui Musa, itu semua menunjuk kepada Anak Domba Allah yang tersembelih bagi kita, karena Allah kita bukanlah seperti dewa-dewa kafir yang “haus darah” yang membutuhkan sesuatu dikorbankan demi kepuasannya. ” …tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Ibrani 9:22

 

2. Ketika Musa mendirikan Kemah Suci, apakah ia mengikuti suatu “contoh”?

Kejadian 25:9,40 “Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.” “Dan ingatlah, bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.”

Allah menyatakan pada Musa suatu “contoh” untuk diikuti dalam konstruksi kemah suci itu. Kata yang digunakan untuk “contoh” adalah tabnith, yang berarti “pola”, “rencana”, “satu bentuk”, “satu konstruksi”, “satu gambaran”, “satu struktur”, dan “satu tiruan”. Ibrani 8:5 mengajarkan bahwa Allah mendisain/merancang bait suci di bumi menjadi satu “salinan”, “bayangan”, atau “contoh” dari bait suci surgawi. Kata Yunani yang diterjemahkan “bayangan” menunjuk pada suatu bayangan yang dipantulkan oleh satu benda dan yang menggambarkan bentuk benda itu. Walaupun samar-samar, bait suci di bumi ini menggambarkan bait suci surgawi.

 

3. Apakah sebenarnya yang ingin digambarkan oleh Bait Suci beserta upacara-upacaranya?

Ibrani 8: 4-5

Sekiranya Ia di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan menurut hukum Taurat.
Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: “Ingatlah,” demikian firman-Nya, “bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.”

 


4. Mengapakah Allah melembagakan suatu struktur yang rumit dan rinci seperti sistem korban dalam Kemah/ Bait Suci, jika pada akhirnya toh tidak ada keselamatan didapatkan di dalamnya?

Upacara-upacara di bait suci melambangkan misi penebusan Kristus, menyatakan seluruh rencana penebusan, dalam bentuk alat peraga atau suatu model.

Cobalah untuk mengerti pekerjaan Kristus terpisah dari upacara bait suci Ibrani. Sangatlah sulit. Kata-kata Petrus bahwa kita ditebus “dengan darah anak domba yang tak bernoda dan yang tak bercacat” (I Pet 1:19) dan pernyataan Paulus “anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus” (I Kor 5:7), tidak ada maknanya kecuali dimengerti dalam konteks pelayanan bait suci Ibrani.

Catatan : Meskipun bait suci duniawi adalah bayangan dari yang nyata (bait suci surgawi), tidak ada keselamatan dalam upacara bait suci itu sendiri. “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapus dosa” Ibrani 10:4

 

5. Apakah pekerjaan penyelamatan Kristus berakhir pada pengorbananNya di salib Golgota?

Dengan mempelajari pelayanan bait suci di bumi, dengan jelas diketahui, betapapun mendasar dan pentingnya korban hewan itu, upacara bait suci tidak berakhir dengan kematiannya. Masih ada yang lain yang harus dilaksanakan, bukan oleh orang berdosa itu, melainkan oleh imam yang sedang bertugas. Imam membawa darah korban dan mengadakan pendamaian bagi orang berdosa itu. Singkatnya, orang berdosa itu masih memerlukan seorang pengantara.

Jika kita memahami pelayanan bait suci itu sebagai suatu pola rencana keselamatan, maka pola itu mengajarkan bahwa pekerjaan penyelamatan tidak berakhir dengan korban, sehingga betapa pun penting dan mendasarnya kematian Kristus di salib, pekerjaan-Nya bagi kita tidak berakhir di salib.

 

6. Apakah pekerjaan berikutnya yang harus dilakukan Kristus setelah pengorbananNya, dan mengapa itu perlu?

Ada dua tahap pekerjaan penyelamatan Kristus :

a. Pengorbanan atau penumpahan darah.

Penumpahan darah adalah bagian dari Korban itu. Jangan salah, pengorbanan Kristus sebagai tebusan bagi kita sudah lengkap di salib Golgota (tidak perlu lagi tambahan atau penyempurnaan oleh usaha manusia), namun pekerjaanNya belumlah selesai sampai di situ.

b. Pengantaraan, atau pemercikan darah.

Pemercikan darah adalah bagian dari Imam. Bila penumpahan darah adalah pekerjaan menyediakan, maka pemercikan darah adalah pekerjaan menggunakan. Kebangkitan Kristus, kenaikanNya, karunia Roh Kudus, dan pekerjaan Kristus sebagai Imam Besar di sorga (Ibrani 4:14, 8:1-2), semuanya diperlukan – bukan untuk menambah kebajikan pada pengorbananNya yang sudah lengkap itu tetapi untuk menerapkan kegunaan pengorbanan itu bagi setiap orang percaya.

Catatan :

Masalah dosa, keselamatan, dan kejahatan, sekalipun mendapat upahnya di dunia, itu melibatkan surga. Dosa tidak berawal di bumi, tetapi di sorga (Yesaya 14: 12-14) dengan pemberontakan Lusifer dan sepertiga malaikat. Oleh sebab itu masalah dosa mempunyai konsekwensi surgawi. Segenap alam semesta terlibat (Roma 8;22) dalam berbagai persoalan uang berhubungan denag dosa dan pemberontakan. Pelayanan Kristus dalam bait suci surgawi diperlukan agar bagian lain dari alam semesta ini melihat bagaimana Allah menghadapi pemberontakan itu dengan terbuka dan adil.

 

7. Apakah yang digambarkan oleh upacara harian dalam bait suci?

Merupakan gambaran Golgota dan keimamatan Kristus di sorga.

(a) Prinsip yang terkandung dalam setiap persembahan korban karena dosa ialah prinsip substitusi atau pengganti — mempersembahakan nyawa seekor hewan yang tidak berdosa sebagai pengganti nyawa dari pendosa itu sendiri Imamat 1:4, 4:4,15,24,29; 16:21). Untuk mengajarkan bahwa upah dosa itu ialah maut, hewan itu mati (di tangan pendosa yang sudah bertobat) sebagai pengganti pendosa itu atau sebagai pemikul dosanya.

Catatan : Persembahan korban ini tidak selalu harus berupa anak domba. Untuk upacara ini, bangsa Israel dibagi dalam empat kelompok (1) Imam-imam, (2) Raja atau pemuka (3) rakyat jelata (4) seluruh umat Israel.

(b) Sebelum membunuh korban persembahan itu, pendosa itu meletakkan tangannya di atas kepala hewan itu dan mengaku semua dosanya, dengan demikian menjadi lambang pemindahan dosanya kepada hewan yang tidak berdosa itu.

(c) Imam yang bertugas memercikkan darah korban di bilik yang suci atau di atas mezbah korban bakaran, dengan demikian dosa itu disimpan dulu dalam bait suci untuk pemeriksaan atau pertimbangan pada kemudian hari.

(d) Dengan upacara harian ini, semua dosa yang sudah diakui dipindahkan ke dalam bait suci dan menajiskan bait suci itu, yang memerlukan upacara penyucian khusus pada akhir tahun.

(e) Pendosa yang sudah menyesal itu pulang dengan bebas sampai pada Hari Grafirat -perayaan tahunan – pada waktu dosanya ditinjau kembali untuk menentukan putusan akhir untuk dosa-dosanya itu.

 

8. Apakah yang digambarkan oleh upacara tahunan dalam bait suci?

Menggambarkan tentang penghukuman akhir dan penyucian dunia ini dari dosa. Penjelasan rinci dari upacara ini terdapat dalam Imamat 16. Garis besarnya sebagai berikut:

(a) Upacara tahunan dipusatkan di Bilik Yang Mahasuci, dan ini hanya boleh dilakukan oleh Imam Besar sendiri.

(b) Upacara ini dikenal dengan “Hari Grafirat” atau “Penyucian Bait Suci”, dilaksanakan tanggal 10 bulan ketujuh (Tishri) menurut kalender penanggalan Yahudi, terjadi pada musim gugur.

(c) Setelah persembahan pendahuluan dilaksanakan oleh Imam Besar, mereka membuang undi atas kedua kambing yang disediakan oleh umat itu. Satu untuk “Milik Tuhan”, dan yang satu lagi untuk “Azasel” atau “Kambing Hitam” yang melambangkan Setan.

(d) Imam Besar menyembelih kambing Tuhan dan membawa satu baskom darah kambing itu ke dalam Bilik yang Mahasuci, memercikkan darah itu keatas dan dihadapan Tutup Pendamaian. Pada waktu ia keluar, ia percikkan lagi darah itu ke perabot yang ada di bilik yang suci, kemudian ke atas bejana pembasuhan dan mezbah yang berada di halaman bait suci.

(e) Akhirnya Imam Besar mengaku dosa seluruh jemaat yang sudah dipindahkan dan bertumpuk di atas kepala kambing yang masih hidup itu, yang akan di bawa ke padang belantara (dibiarkan untuk mati, bersama dosa-dosa yang dibawanya).

Catatan : Upacara kambing Azasel ini tidak dilakukan SAMPAI bait suci beserta seluruh jemaat itu sudah disucikan oleh darah kambing Tuhan.

(f) Untuk memastikan bahwa dosanya sudah dihapuskan, semua bani Israel harus hadir pada upacara hari Pendamaian/Grafirat ini. Jika ia dengan sengaja tidak hadir atau menolak untuk turut serta maka ia akan diasingkan dari jemaat. Dengan demikian hari Grafirat dipandang sebagai hari Penghukuman Tahunan, dan hingga sekarang ini, bangsa Yahudi masih menganggapnya demikian.

 

9. Apa yang dilambangkan oleh pengusiran kambing Azasel?

Dalam bahasa Ibrani, kata untuk kambing hitam adalah azasel (Imamat 16:5-10, 20-22).Kambing ini menunjukkan cara Allah dalam penghapusan terakhir dosa dari alam semesta ini. Sebelum kambing itu diusir ke padang gurun, bangsa Israel tidak bisa mengganggap diri mereka telah bebas dari beban dosa-dosa mereka. Seluruh orang Israel harus menjalani Hari Pendamaian itu dalam doa, puasa, dan memeriksa diri.

Mengapakah kambing Azasel itu tidak bisa dikatakan melambangkan pengorbanan Kristus di salib bersama kambing untuk Tuhan, padahal dikatakan kambing itu ditempatkan hidup-hidup dihadapan Tuhan untuk mengadakan pendamaian (Imamat 16:10)?

Jawabannya adalah :

1. Tidak ada darah dicurahkan dari kambing Azasel itu, maka itu bukanlah suatu korban untuk dosa (Ibrani 9:22).

2. Dosa-dosa yang dipindahkan kepadanya telah ditebus oleh korban-korban lain yang telah dicurahkan darah (Imamat 4).

3. Pemindahan dosa-dosa kepada Azasel terjadi setelah segala dosa yang dicatat dalam bait suci telah ditebus oleh darah kambing untuk Tuhan (Imamat 16:16-19).

4. Oleh karena satu kambing telah dipilih untuk Tuhan (Yahweh), maka Azasel untuk siapa kambing yang lain itu ditentukan, haruslah melambangkan satu pribadi yang berdiri menentang Tuhan. Dan itu tentulah Setan.

Catatan :

Pada saat inilah, yaitu pada Hari Pendamaian, pertentangan besar antara Kristus dan Setan digambarkan dalam bentuk mini — Kristus sebagai penawar bagi dosa dan Setan sebagai penyebab dosa. (Sumber-sumber paling tua di luar Alkitab yang menyebutkan Azasel adalah kitab apokripa 1 Henokh pada abad ke-2 SM. Sepuluh petunjuk kitan ini mengenai Azasel menyatakan dia sebagai pribadi kepada siapa segala dosa dilimpahkan, yang diusir ke padang gurun, yang pasukan malaikat jahatnya akan dihukum).

 

10. Apa yang dilambangkan oleh hari-hari raya bait suci?

Hari-hari raya bait suci melambangkan siklus penebusan. Ada 7 hari raya yang dicatat Imamat 23.

(1) Hari Raya Paskah (I Kor 5:7, I Pet 1:19,20)

Telah menemukan wujudnya dalam pengorbanan Kristus. Digenapi tepat sampai pada bulan, tanggal dan jamnya. (14 Nisan)

(2) Hari Raya Roti tak Beragi

Istilah “Paskah” dan “Roti tak Beragi” sering digunakan secara bergantian untuk pesta perayaan yg sama. Ragi adalah lambang dosa (I Korintus 5:7-8) dan roti tanpa ragi adalah lambang Juruselamat yang tidak berdosa, yang berhenti di dalam kuburan pada hari Sabat Paskah akhir minggu itu. Digenapi dengan tepat. (15 Nisan).

(3) Buah Sulung (I Kor 15:20-23)

Inilah jawaban lambang Perjanjian Lama bagi kebangkitan Yesus Kristus. Digenapi pada hari yg tepat (16 Nisan)

(4) Pentakosta (Kisah 2:1-4)

Terjadi tepat 50 hari sesudah persembahan Roti yg dibuat dari hasil pertama jelas (16 Nisan), yaitu tercurahnya Roh Kudus. Hari Raya ini dalam Perjanjian Lama adalah perayaan panen (tuaian) dan jelas terlihat pada Pantekosta sebagaimana tuaian ajaib 3000 jiwa yg dihasilkan oleh pekerjaan Roh Kudus. Digenapi dengan tepat ( 6 Sivan)

(5) Serunai/ Sangkakala (Wahyu 14:6,7).

Secara tradisi dikenal pula sebagai hari raya penobatan, sangkakala ditiup menyambut kedatangan raja. Sangkakala akhir ditiup pada hari kedatangan Raja Semesta Alam (Matius 24:31, I Tesalonika 4:16). Menggambarkan kebangunan besar menantikan kedatangan Kristus ke-2 yang digenapi antara tahun 1830-1840an. Hal ini berhubungan dengan dikumandangkannya “penyucian kaabah” tahun 1844 (yang menandai titik akhir nubuatan 2300 petang dan pagi dalam Daniel 8:14).

(6) Hari Grafirat/Pendamaian (Daniel 7:9,10; 8:14; Wahyu 11:18,19).

Digenapi dengan hari penghukuman sebelum kedatangan Yesus — fase permulaan penghakiman. Mengenai makna hari grafirat ini telah diuraikan dalam butir no 10.

(7) Pondok Daun/Tabernakel (Yesaya 35; Matius 8:11; 13:39,43; 24:31; Lukas 13:28,29; Wahyu 7:9-17; 14;14-16; 19:6-9).

Disebut juga hari raya Pengumpulan Hasil (Keluaran 23:16; 34:22). Akan digenapi pada “Perkumpulan” besar atau “Tuaian pulang ke rumah” yaitu berkumpulnya umat tebusan Allah pada Kedatangan Yesus Kedua kali. Merupakan puncak “Tuaian dari segala tuaian” yang digambarkan oleh sekian banyak perumpamaan dan nubuatan (Matius 3:12; 13:39-41; Yakobus 5:7,8: Wahyu 14:14-16).

Menurut tradisi, tema perayaan hari Tabernakel atau Kemah Suci ini adalah “Allah berdiam ditengah-tengah umatNya). “Lihatlah, kemah Allah ada ditengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka” Wahyu 21:3.

Catatan :

Hari-hari Raya ini juga disebut sebagai “Sabat”. Karena dirayakan satu tahun sekali maka kita isebut “Sabat Tahunan” untuk membedakannya dengan “Sabat Mingguan”. Sabat Tahunan jatuh pada hari yang berbeda-beda tiap tahunnya, tapi Sabat Mingguan tentu saja selalu jatuh pada hari ke-tujuh.

 

11. Bagaimana Bait Suci di Bumi diperbandingkan dengan Bait Suci Surgawi?

Bait suci di Bumi

Bait Suci Surgawi

Buatan manusia (Kel 25:8)

Dirancang / didirikan oleh Tuhan (Ibr 8:1,2)

Sebuah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di dalam surga (Ibr 8:5)

Kemah sejati (Ibrani 8:2)

Mempunyai imam-imam dari suku Lewi, yang kedudukannya harus digantikan karena mengalami maut (Ibrani 7: 23) Hanya satu Imam dari suku Yehuda, menurut aturan Melki-sedek, yang hidup kekal menjadi Pengantara selamanya ( Ibr 7: 14-16, 24-25).

Korban-korban dan hari-hari raya di bait suci diulangi tahun demi tahun (Ibr 10:1)

Pengorbanan Kristus hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 10:10)

 

12. Apa yang dinyatakan kitab Wahyu mengenai bait suci surgawi?

Dalam kitab Wahyu keterangan-keterangan tentang kaabah, mencakup kata “bait, bait suci, dan kemah” (Wahyu 3:12; 7:15; 11:1,2,19; 14:15,17; 15:5-8; 16:1,17; 21:22). Sepanjang penglihatan Yohanes ada hubungan yang saling mempengaruhi terus-menerus antara bumi dan bait suci itu. Kitab Wahyu menyuguhkan Anak Domba dalam suasana bait suci dan bait suci digambarkan sebagai pusat kendali penebusan. Pekabaran-pekabaran penebusan berasal dari ruang tahta Allah di surga. Keamanan orang-orang kudus didasarkan atas kegiatan-kegiatan bait suci Allah dan Anak Domba. Pengadilan juga datang dari bait suci, dan peristiwa-peristiwa akhir zaman juga diarahkan dari situ.

 

13. Apa yang menandai berakhirnya era bait suci duniawi?

Dengan robeknya tirai bait suci pada hari penyaliban itu (lihat Matius 27:51) Allah menyatakan bahwa semua peraturan keimamatan dalam Perjanjian Lama sudah selesai. Bukan karena hal ini kejahatan adanya tetapi karena apa yang dibayangkan dari peraturan keimamatan tersebeut sudah bertemu dengan realitasnya, sehingga karena itu sudah tidak berlaku lagi. Tujuan utama dari upacara keimamatan hanya mengarahkan kepada Kristus dan tujuan itu telah tercapai. Oleh sebab Ia sudah datang dan telah menyerahkan nyawaNya sebagai korban satu kali dan untuk selamanya, maka peraturan Keimamatan itu sudah cukup tugasnya seperti tangga penunjang/ steger dalam suatu pembangunan gedung.

Catatan:

Pada sisi lain, penyelidikan atas Ibrani 8:6-12 menunjukkan bahwa bagian lain dari hukum Ilahi yaitu bagian yang menyangkut prinsip moral seperti dituangkan dalam Sepuluh Hukum itu justru ditinggikan dan dibesarkan dengan kematiam Kristus. (Roma 3:31)

 

14. Apa yang dimaksud dengan hukum Taurat yang berubah (Ibrani 7:12,18,19)?

Ibrani 7:12-19

” Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu. … Memang suatu hukum yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, kalau hukum itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu tidak berguna, –sebab hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan–tetapi sekarang ditimbulkan pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Allah”

Dari Ibrani 7:12, yang dimaksud hukum Taurat berubah atau tidak mempunyai kekuatan lagi adalah hukum Taurat yang berhubungan dengan keimamatan.

 

15. Apa pula yang dimaksud dengan “perjanjian pertama” dan “perjanjian baru” dalam kitab Ibrani?

Ibrani 8:7, 13 “Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua…. Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.”

Banyak orang menganggap bahwa perjanjian yang telah menjadi usang itu menyangkut Sepuluh Hukum di Sinai. Di bawah ini akan kita lihat, apakah perjanjian pertama itu adalah Hukum Taurat yang menyangkut Sepuluh Hukum, atau hukum Kesehatan, atau hukum sipil, atau hukum upacara/keimamatan?

Ibrani 9:1,8 “Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia….. Dengan ini Roh Kudus menyatakan, bahwa jalan ke tempat yang kudus itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu masih ada.”

Ayat-ayat ini jelas menyatakan bahwa itu adalah hukum Taurat yang berhubungan dengan bait suci (tempat kudus) dan peraturan ibadah (upacara), yaitu peraturan keimamatan.

Dan kemudian kata-Nya: “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua.” Ibrani 10:9. Kristus datang melakukan kehendak Tuhan menjadi Penebus yang sesungguhnya, yang sebelumnya dilambangkan oleh korban-korban hewan.

 

Kesimpulan :

Seperti yang telah dipelajari bahwa hukum Taurat terdiri dari (1) Hukum Moral (Sepuluh Hukum), (2) hukum Kesehatan, (3) hukum sipil dan (4) hukum upacara/keimamatan. Tidak ada satu pun dari ke empat bagian hukum itu yang bersifat “jahat” sehingga tidak perlu dilakukan lagi, tetapi karena masing-masing mempunyai fungsinya tersendiri, sehingga ada yang bersifat kekal dan ada pula yang berlaku selama kurun waktu tertentu.

Sistem keselamatan dalam perjanjian lama ( baca:sebelum salib Golgota) adalah sama dengan sistem keselamatan dalam perjanjian baru (sesudah salib Golgota). Hal ini juga dibahas dalam topik “Injil Kekal” bab IV hal 12. . Mereka yang hidup sebelum peristiwa penyaliban Kristus, juga ditebus oleh darah Kristus.

Ibrani 9:15, 18, Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama…. Itulah sebabnya, maka perjanjian yang pertama tidak disahkan tanpa darah.

 

Published in: on April 10, 2007 at 8:15 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/10/bab-6/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: