Anak Pendeta Yang Atheis Bertobat dan Menjadi Pendeta

Anak Pendeta Yang Atheis Bertobat dan Menjadi Pendeta

Saudara-saudaraku yang kekasih didalam Tuhan Yesus Kristus,

Saya adalah putera sulung dari Pendeta Gereja Utusan Pantekosta di Makassar. Semasa kecil bersekolah di Sekolah Dasar Katolik Frater Mamajang, kemudian SMP Frater Jl. Thamrin di Makassar dan melanjutkan di SMA Broederan St. Aloysiur, Jln Sultan Agung, Bandung. Walaupun ayah saya adalah seorang Pendeta namun saya merasa bosan untuk mengikuti acara kebaktian di gereja. Saya terpengaruh oleh paman saya seorang terpelajar tapi berpaham atheist pada waktu itu. Paman saya seorang yang sangat dermawan, dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang selalu beramal, siap menolong siapa saja yang dapat dibantunya. Ayah saya sangat ketat dalam mendidik kami anggota keluarganya. Berhubung karena kawan-kawan saya hampir semuanya adalah anak-anak remaja yang gemar berdansa dan menikmati kepelesiran duniawi, saya juga telah condong mengikuti mereka. Ini merupakan suatu tantangan besar dan menjadi sebab terjadinya konflik diantara saya dengan ayah saya. Akhirnya saya putuskan untuk meninggalkan rumah orang tua saya dan merantau ke pulau Jawa.

Di Bandung saya tinggal dirumah paman saya yang tidak menganut agama apa pun. Saya merasa seperti seekor kuda yang terlepas dari kurungan kandang yang sempit. Tanpa saya ketahui Bapak Sorgawi saya telah menyediakan suatu kandang yang lain di dekat kota Bandung, dimana kuda yang liar ini kemudian telah tinggal untuk lima tahun lamanya. Sebagai akibatnya: saya berubah menjadi seorang yang taat beragama dan akhirnya menjadi seorang Pendeta.

Selama bekerja sebagai pendeta saya telah mengadakan banyak ceramah KKR dan dengan berkat Tuhan serta kuasa Roh Suci, saya berbahagia telah menolong ratusan jiwa menerima Kristus. Namun saya masih mempunyai keragu-raguan mengenai otentitas Alkitab, karena saya dipengaruhi oleh kawan-kawan yang berusaha meyakinkan kepada saya bahwa Alkitab orang Kristen itu sudah tidak asli lagi, dan tidak dapat dibuktikan bahwa yang sekarang itu masih sama seperti kitab aslinya. Berbeda dengan kitab Alquran, yang dari dulu sampai sekarang tidak diterjemahkan kedalam bahasa yang lain melainkan tetap didalam bahasa aslinya yaitu bahasa Arab.

Ditahun 1995 ketika saya bekerja sebagai pendeta dan guru bahasa Inggris di Macau, saya menghadapi kesulitan karena tidak dapat berbahasa Tionghoa, sehingga saya sulit berkomunikasi dengan siswa-siswa saya yang hanya dapat berbahasa Kanton. Saya berusaha mempelajari bahasa Tionghoa. Pada suatu hari saya mengunjungi YMCA Christian Bookshop yang ada di Kowloon untuk mencari buku Kursus Kilat Bahasa Mandarin. Saya disodorkan sebuah buku karangan Dr. Ethel Nelson yang berjudul “The Discovery of Genesis”. Didalam buku itu pengarangnya menunjukkan bahwa huruf-huruf Tionghoa mengandung kisah yang sama seperti cerita yang terdapat didalam Alkitab. Saya sangat tertarik pada isi buku itu dan mulai menyelidikinya lebih lanjut. Akhirnya saya dapat menguasai dasar bahasa Tionghoa dan menggunakannya dalam percakapan, malah sekarang dapat mengajarkan kepada orang lain. Tetapi lebih dari itu, saya menemukan bukti-bukti yang tidak dapat dibantah bahwa bangsa Tionghoa Purbakala, mengenal dan menyembah Allah Pencipta Alam yang sama seperti yang disembah oleh bangsa Yahudi dan orang Kristen. Sekarang saya sangat yakin bahwa Allah yang sama yang mengilhamkan Alkitab, juga pasti telah mengilhamkan para nenek moyang orang Tionghoa ketika mereka menemukan huruf-huruf atau sistim tulis menulis didalam bahasa Tionghoa yang umurnya sudah lebih dari empat ribu tahun sampai saat ini.

Ini berarti bahwa lebih dari enam ratus tahun sebelum adanya bangsa Yahudi, bangsa Tionghoa sudah mempunyai aksara mereka dan telah mencatat sejarah kerajaan mereka yang dimulai dengan Dinasti Xia dari tahun 2205 Sebelum Tarikh Masehi. Sedangkan buku yang pertama didalam Alkitab telah ditulis oleh Musa disekitar tahun 1450 Sebelum Tarikh Masehi.

Bangsa Tionghoa pada zaman purbakala menyembah Allah yang mereka namakan Shang Di, artinya Raja Diatas atau Raja Langit. Dilihat dari peninggalan tulisan-tulisan yang paling tua, yaitu yang disebut Jia Gu Wen, yaitu ukiran-ukiran diatas tulang belulang yang digunakan untuk pemujaan dizaman dulu dan diketemukan dikuburan-kuburan kuno yang telah berumur lebih dari tiga ribu tahun, ternyata bahwa sejak zaman dahulu bangsa Tionghoa percaya bahwa Allah yang dikenal dengan nama: Shang Di, Shen atau Tian itu, adalah pencipta dari langit dan bumi serta segala isinya, termasuk manusia.

Huruf “Shen” atau Allah sebenarnya terdiri dari dua radikal atau komponen dasar dari huruf Tionghoa, yang disebelah kiri adalah radikal “shi” yang artinya “seorang yang sempurna dari langit” dan dikanannya adalah radikal “shen” yang berarti “memberikan instruksi atau menjelaskan”. Kalau diselidiki lebih lanjut, ternyata radikal “shen” itu adalah gambar yang sederhana dari dua belah tangan yang meraih suatu sosok tubuh dari tanah. Bandingkan ini dengan huruf “zao” yang artinya “menciptakan” yang terbentuk dari radikal: “tanah” + “mulut” + “kehidupan” + “berjalan” = “menciptakan”. Jelas ini adalah uraian tentang bagaimana Allah pada mula pertama menciptakan manusia persis seperti yang dicatat dalam kitab Kejadian 2:7 “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nagas hidup kedalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Adam telah dibuat dari “tanah”, kemudian Allah memberikan “kehidupan” kepadanya dengan jalan menghembuskan nafas kehidupan (dengan menggunakan “mulutNya”) sehingga dia menjadi makhluk yang hidup, seorang dewasa yang langsung bisa “berjalan” dengan tidak perlu belajar merangkak dulu seperti semua manusia lainnya yang dilahirkan sebagai bayi.

Demikian pula huruf “yuan” atau “taman”, itu terdiri dari “perbatasan” + “tanah” + “mulut” + “seorang manusia” + “seorang manusia yang kedua keluar dari sisinya” = “taman” atau “yuan”. Ini jelas adalah kisah bagaimana Allah menciptakan Adam, manusia yang pertama dan Hawa , pasangannya yang diambil dari tulang rusuk yang dari sisinya, dan meletakkan mereka di taman Eden.

Ada ratusan huruf-hurf dalam aksara Tionghoa yang semuanya dengan sangat tepat, persis sama dengan Alkitab mengkisahkan tentang kejadian alam, penggodaan setan, kejatuhan manusia, pelanggaran mereka yang mengakibatkan ketelanjangan, bagaimana mereka bersembunyi dibelakang pohon-pohon yang ada ditaman Eden, pembuatan pakaian untuk penutup tubuh pasangan yang pertama, pengusiran mereka dari taman itu, pembunuhan yang pertama oleh kakak yang pertama (Kain), pembuatan kapal yang pertama yang berpenumpang delapan orang, air bah yang membinasakan seluruh penduduk bumi kecuali yang delapan tadi, kekacauan bahasa manusia di menara Babel, dan perpindahan (migrasi) besar-besaran yang terjadi ketika itu. Selanjutnya rencana keselamatan manusia melalui pengorbanan “Anak Domba Allah”, ini semuanya dapat dilihat dengan sangat mengagumkan dalam tulisan-tulisan Tionghoa.

Penyelidikan ini telah menyebabkan saya sangat yakin akan kebenaran Alkitab dan saya telah diberkati Tuhan karean mendapat kesempatan membagikannya kepada banyak orang dari segala golongan dan bangsa di Indonesia, Malaysia, Singapore, Macau, Tiongkok dan Australia.

Published in: on April 12, 2007 at 3:38 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/12/anak-pendeta-yang-atheis-bertobat-dan-menjadi-pendeta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: