Kasih Yang Tak Membiarkan Pergi

KASIH YANG TAK MEMBIARKAN PERGI

Setiap kali saya duduk untuk berrneditasi, pemikiran-pemikiran tentang Yesus memasuki doa-doa saya.

Masih saya ingat sakitnya kaki yang membeku ketika berjalan kaki ke sekolah pada musim dingin. Zaman usah, ayah kerja keras mencari nafkah dari sebidang tanah yang sempit. Susah mencar! uang, harga pakaian mahal, dan sering tidak punya sepatu. Ayah adalah orang jujur clan penganut agama Hindu yang taat, dia mengajar kami supaya percaya kepada agamanya.

Walaupun demikian saya berontak. Bahkan ayah saya yang panjang sabar sudah siap untuk mengirim saya ke sebuah panti asuhan. Hanya permohonan ibu saya yang menyelamatkan saya.

Tuhan, Mungkin Satu Hari Kelak

Saya segera meninggalkan sekolah clan mendapat kerja di kota. Kerja membawa sebuah dunia dari pengalaman-pengalaman baru. Saya bergabung dengan sebuah geng jalanan clan mulai merokok dan menggunakan obat-obat bius. Geng itu menggunakan waktu untuk merusak mobil-mobil dan gedung-gedung umum. Kami memasuki resepsi-resepsi pernikahan clan mengganggu acaranya. Berkelahi dengan geng-geng lain sering membuat saya luka-luka parah. Masih gemetar saya apabila mengingat beberapa kali kematian mengintai saya.

Pada suatu malam kami sudah mabuk-mabuk. Kami melewati sebuah pertemuan kemah yang besar di mana kebangunan rohani tengah berlangsung. Kami masuk clan mengejek orang-orang Kristen itu clan Allah mereka. Kemi duduk dan mengatakan “amin” dan “puji Tuhan” menyambut khotbah dengan suara keras dan tak hormat. Ketika pengkhotbah itu mengundang mereka yang menginginkan bantuan rohani tampil ke depan, kam! semua berbondong-bondong ke depan. Pengkhotbah itu mendoakan kami walaupun kami bersikap jahat, kemudian dia memberikan buku kecil ke tangan saya.

Saya bangun esok paginya dan memeriksa buku itu. Buku-buku itu adalah Perjanjian Baru. Sementara melihat itu saya merasa bersalah karena mengejek Allah orang Kristen. Saya rasa Allah adalah nyata, begitu nyata sehingga saya dapat berbicara dengan Dia. Saya takut dan minta maaf kepada Allah, “Tuhan, saya tidak akan pernah lagi mengejekmu. Saya menyesal. Sekarang saya masih belum bisa menerima-Mu sebagai Tuhan saya. Mungkin satu hari kelak, tetapi bukan sekarang!” Kemudian saya menyerahkan Perjanjian Baru itu.

Saya pindah ke kota lain untuk bekerja, meninggalkan teman-teman satu geng saya dan sebagian besar kelakuan jelek saya. Tanpa teman-teman, berjam-jam saya menggunakan waktu membaca sendirian.

Saya mulai membaca literatur Hindu dan senang belajar lebih banyak tentang iman yang telah diajarkan orangtua saya. Saya bertemu dengan seorang gadis Hindu, dan kami menikah. Agama kami berharga bagi kami dan banyak waktu kami gunakan untuk berdoa dengan menggunakan rosari Hindu. Kami sangat taat kepada puasa dan hari-hari raya Hindu.

Saya tidak toleran kepada kepercayaan agama-agama lain, terutama orangorang Kristen. Kadang-kadang amarah saya meluap-luap dan ingin mengutuk orang-orang yang menyebutkan nama Yesus di depan saya.

Tiga Mimpi yang Mengganggu

Tetapi setelah waktu berlalu, saya mulai jatuh cinta dengan Yesus yang indah dan penuh kasih ini. Pada suatu hari saya duduk berpikir, saya ingat pertemuan kebangunan rohani di mana teman-teman dan saya telah menghina Allah lalu sikap mengejek pergi ke mezbah, berjanji setengah hati bahwa kami akan mengikut Tuhan satu hari kelak. Saya ingat saya memegang Perjanjian Baru yang telah diberikan pendeta itu kepada saya dan berkata kepada Yesus, “Mungkin satu hari kelak, tetapi bukan sekarang.”

Saya tahu waktunya telah tiba. Saya tunduk kepala dan berkata, “Tuhan, saya tidak dapat melawan Engkau lagi.” Saya tahu saya harus mengikut Dia. Sekali saya membuat keputusan untuk mengikut Tuhan, saya ingin melakukan segala sesuatu yang berkenan pada pandangan Tuhan. Allah sudah mempersiapkan hati istri dan anak-anak saya juga. Ketika saya tanya mereka, “Apakah kita tetap Hindu atau menjadi Kristen?” semua mereka memberi suara menjadi Kristen. Pertanyaan selanjutnya adalah gereja mana yang akan kami masuki. Istri saya menganjurkan bergabung dengan gereja yang dimasuki tetangga kami.

Saya tahu tetangga ini aneh. Sebagian besar beribadah pada hari Minggu, tetapi mereka beribadah pada hari Sabtu. Saya sering lihat mereka setiap hari Sabtu pagi berdiri di stopan bis memegang Alkitab. Saya katakan pada istri, kita akan memasuki gereja mana saja kecuali gereja yang menguduskan hari Sabat.

Kami berdoa agar Alah menuntun kami ke gereja yang benar. Pada malam itu saya mendapat mimpi lain. Saya melihat orang-orang yang beribadah pada hari Sabtu duduk mengelilingi meja dengan Alkitab yang terbuka di depan mereka. Saya tiba-tiba bangun dan menyadari Alkitab adalah kitab Allah dan orang-orang ini adalah umat Allah. Sabtu berikutnya keluarga dan saya memasuki Gereja Advent, di mana kami disambut hangat. Kebaktian itu menyenangkan dan penuh hormat. Setelah tiba waktunya kami dibaptiskan.

Kami bersyukur karena kasih Yesus, yang menerobos kubu agama tradisi dan menuntun kami ke dalam terang Kekristenan. Saya merasa rendah di depan Allah yang memanggil kami orang berdosa ke dalam kebenaran-Nya.

Published in: on April 12, 2007 at 4:00 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/12/kasih-yang-tak-membiarkan-pergi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: