Tepat Pada Waktunya

TEPAT PADA WAKTUNYA

Dibawah ini adalah kesaksian dari seorang dokter yang saya muat dalam dua bahasa – Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia — agar bermanfaat berganda bagi pembaca:

Oleh Dr. Calvin Palmer (Terjemahan bebas oleh Sammy Lee)

“ADA SEORANG WANITA MUDA DIKURSI BELAKANG MOBILKU, dan saya rasa dia sudah mati.” Pada hari Jumat pagi itu, saya adalah satu-satunya dokter yang bertugas pada sebuah rumah sakit yang bernama Warburton Sanitarium and Hospital, di Warburton, Australia.

Pengumuman yang mengejutkan dari pemuda itu menyebabkan saya tersentak dengan melongo.

“Apa yang sudah terjadi?” saya bertanya.

“Saya tidak tahu,” jawabnya. “Tetangga kami–mereka baru saja menikah belum lama. Pagi ini suaminya pergi kerja seperti biasanya, dan isteri saya, yang selalu suka bertindak sebagai tetangga yang baik, pergi melihat bagaimana keadaan isterinya–dan menjumpai dia dalam keadaan terbaring pingsan diatas lantai. Ini adalah rumah sakit yang terdekat, sebab itu saya telah meletakkan dia di kursi belakang mobil saya dan telah mengadakan perjalanan sejauh 110 km melalui jalan setapak yang berliku-liku melalui rimba belantara untuk mencapai tempat ini.”

Kami tidak membuang waktu segera berlari menuju ke mobilnya. Disana terjerembab dikursi belakang mobil, terdapat tubuh kaku dari seorang wanita muda. Kulitnya terasa dingin dan pucat. Saya tidak dapat merasakan denyut nadi pada pergelangannya , saya hanya dapat merasakan debaran jantungnya yang sangat lemah. Dia masih hidup, tapi sudah dalam keadaan sangat sekarat.

Kami segera mengangkat tubuhnya keatas tandu dan membawanya kedalam rumah sakit. Saya menghadapi seorang pasien yang mengalami shock berat, sedang sekarat, tapi tidak mempunyai informasi sedikitpun mengenai apa yang menyebabkan kondisinya itu.

Dimana Kami Harus Mulai?

Setelah memeriksa wanita itu lebih lanjut, saya berkata kepada suster kepala, Matron Mitchell, “Perutnya menggelembung dengan cairan. Saya rasa itu adalah darah. Saya rasa kita sedang menghadapi kasus ectopic (pendarahan akibat bagian organ tubuh pecah atau pindah tempat)”

Keadaan seperti ini–yaitu pecahnya pembuluh nadi pada bagian tulang selangka atau pinggul–memerlukan pembedahan dengan segera. Kami melakukan terapi infus (intravenous), kemudian menilpon Melbourne, meminta pengiriman darah dengan segera menggunakan taksi. Staff kami mempersiapkan kamar operasi untuk pembedahan darurat. Yang menjadi masalah kami sekarang adalah anastetik. Saya adalah satu-satunya dokter di rumah sakit itu, dan berhubung keadaan wanita itu yang sangat kritis, kami sangat membutuhkan seorang ahli anestesia. Pada zaman itu dimana ether digunakan–sekitar 30 tahun yang lalu–kebanyakan anestesia itu dilakukan oleh dokter umum.

Hanya terdapat sedikit sekali ahli anestesia, dan saya tidak ingat nama dari seorang pun. Matron Mitchell, sang suster kepala, mempunyai sedikit pengalaman memberikan anestetik, jadi berhubung tidak ada dokter lain, saya berpaling kepadanya dan berkata: “Saya harus meminta anda mengadakan anestetik.” “Kita harus mengadakan operasi terhadap dia karena kalau tidak maka itu akan terlambat. Kalau sampai dia meninggal, anda akan dipanggil ke pengadilan, tapi saya akan pergi bersama anda.”

Sementara staf kami sedang mempersiapkan pasien dan ruang operasi, saya masuk ke kantor saya dan berdoa. “Tuhan, saya dalam keadaan darurat. Nyawa seorang wanita menjadi taruhan. Saya benar-benar sangat membutuhkan seorang ahli anastesi.

Saya katakan kepada Matron Mitchell, “Saya akan memulai memberikan anestetik itu. Kemudian setelah itu saya akan serahkan kepada Anda sementara saya mengadakan pembersihan dan pembedahan.”

Pada saat saya sedang bersiap-siap melaksanakan anestetik itu, pintu kamar operasi tiba-tiba terbuka. Seorang asing menonjolkan kepalanya dan berkata, “Saya Dr. Smith. Apakah saya bisa menolong anda?”

Saya harus mengetahui apakah dia ini seorang Ph.D, doktor dalam ilmu musik, ahli penyakit kulit, ataukah ahli ilmu jiwa. Jadi saya bertanya kepadanya, “apakah bidang pekerjaan anda?”

“Saya seorang ahli anestesia”

Saya menjelaskan situasinya kepadanya, dan dia mengambil alih pekerjaan anestetik itu. Seluruh keahliannya dia tumpahkan untuk menjaga supaya wanita itu tetap hidup sementara saya melakukan pembedahan. Saya membedah perutnya dan mendapati bahwa itu penuh sekali dengan darah. Saya tidak pernah melihat baik sebelumnya maupun sesudahnya pendarahan yang demikian hebatnya. Pompa pengisap listrik yang kami gunakan tidak mampu untuk menangani begitu banyak darah. Saya menggunakan kedua tangan saya untuk mengeluarkan darah dari perutnya sama seperti menimba air keluar dari perahu orang-orang di Kepulauan Solomon. Saya dapati urat nadi yang robek masing memuntahkan darah. Waktu saya mengikat urat nadi itu, saya pun yakin bahwa wanita itu akan hidup.

Ketika wanita itu sudah dipindahkan ke zal, saya berpaling kepada Dr. Smith. “Bagaimana caranya sampai anda boleh muncul didepan pintu kamar operasi kami pada saat yang begitu tepat?”

“Saya tidak dapat menjelaskannya,” dia berkata, “tapi saya akan ceritakan apa yang telah terjadi.”

Suatu Penunjukan Ilahi

Dia mulai ceritanya: “Sebagaimana anda tahu, ada sedikit sekali ahli anestesiologi, dan saya sudah bekerja terlalu lama. Pagi ini saya muncul dirumah sakit kami untuk mengadakan beberapa kasus, tapi mendapat informasi, tanpa ada penjelasan, bahwa daftar kasus-kasus itu telah dibatalkan.

“Saya pikir, Alangkah bagusnya! Saya akan segera meninggalkan kota Melbourne untuk berakhir pekan. Saya akan pergi ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun mengenal saya, dimana tidak ada rumah sakit, tidak ada kamar operasi, dan tidak ada anestetik.”

Kemudian dia berkata, “Saya merasa terdorong untuk pergi ke Warburton. Saya tidak dapat menerangkan apa sebabnya, tapi saya segera menentukan saya harus pergi kesana. Saya tidak pernah ke Warburton sebelumnya tapi saya tahu ada beberapa penginapan dimana saya bisa tinggal selama akhir pekan ini.

“Ketika saya tiba di Warburton, saya melihat sebuah bangunan yang besar terletak diatas bukit. Itu kelihatannya seperti sebuah penginapan, saya berpikir. Jadi saya mengemudikan mobil saya kedalam halaman ini, tapi ternyata bahwa ini adalah sebuah rumah sakit. Pada saat saya baru saja hendak memutarkan mobil saya untuk pergi, seorang wanita muncul didekat pintu gerbang. “Nama saya adalah Dr. Smith,” saya berkata kepadanya, “Dan saya sedang mencari sebuah penginapan untuk ditempati akhir pekan ini.”

“Dia menjambret tangan saya, ‘anda diperlukan dikamar operasi sekarang juga,’ dia mengatakan kepada saya.

“Saya telah datang ke Warburton untuk menghindarkan diri dari kamar operasi,” saya menjawab.

“Tapi ini adalah keadaan darurat,” dia mendesak.

“Nah, begitulah caranya mengapa sampai saya berada disini.” Dr. Smith melanjutkan.

Membandingkan Catatan

“Dapatkah anda mengatakan kepada saya” saya bertanya kepadanya, “Jam berapakah itu waktu anda merasakan dorongan untuk datang ke Warburton?”

“Pagi ini pada jam 8 lewat sepuluh menit.”

Urutan peristiwa yang telah terjadi mulai terbeber dalam otak saya. Pada jam 8 tepat wanita itu telah jatuh pingsan di Matlock, 110 km jaraknya dari Warburton. Pada jam 8:10, Tuhan menanamkan dalam benak ahli anestetik itu, ditempat yang letaknya 80 km sebelah barat, bahwa dia harus pergi ke Warburton. Sekitar jam 10:30 saya memohon kepada Tuhan untuk pertolonganNya, tetapi Dia sudah menjawab doa saya lebih dari dua jam sebelum itu. Permasalahan yang kami hadapi datangnya dari sebelah timur, dan solusinya datang dari sebelah barat, tapi saya tidak tahu apa-apa sama sekali mengenai hal itu.

Saya telah mendapat suatu pelajaran besar mengenai pemenuhan keperluan kita oleh Tuhan dari pengalaman itu. Dan ini telah memberikan kepada saya penghargaan yang lebih besar terhadap janjinya “Sebelum mereka berseru, Aku akan menjawab” (Yesaya 65:24).

_________________________
Sebelum masa pensiunnya Dr. Calvin Palmer, M.D. melayani di rumah sakit kusta yang ada di Solom Island, dan kemudian sebagai ahli bedah di Warburton Hospital, dan setelah itu sebagai dokter ahli bedah di Rumah Sakit Sydney Adventist Hospital. (Saya kenal benar dengan Dr. Palmer karena saya dulu bekerja selama dua tahun di rumah sakit Sydney Adventist Hospital, selama mengikuti kuliah di Macquarie Universityu, dan dialah juga yang menangani pembedahan hernia saya di tahun 1979. Semoga kisah ini telah menguatkan iman anda sekalian bahwa kita mempunyai Tuhan yang telinganya terbuka lebar mendengar doa kita dan menjawabnya sebelum kita berseru kepadaNya. Dalam bahasa Mandarin nama Yesus adalah ” Ye Su “, yang terdiri dari huruf “Ye” terdiri dari gambar “dua telinga” berdampingan, dan “Su” terdiri dari gambar “ikan” dan “padi” yang berdampingan, dengan kata lain: “Tuhan Yesus telinganya dua-dua selalu terbuka untuk mendengarkan seruan doa kita, dan Dia selalu menyediakan makanan kita merupakan nasi atau gandum (roti) serta lauk pauknya untuk kebutuhan kita sehari-hari!” What a wonderful God we have!

(Sammy Lee)

I’VE GOT A YOUNG WOMAN ON THE BACK SEAT OF my car, and I think she’s dead.” On this Friday morning I was the only doctor on duty at the institution then known as the Warburton Sanitarium and Hospital, in Warburton, Australia.

The young man’s startling announcement caught me off guard.

“What happened?” I asked.

“I don’t know,” he replied. “The neighbors–they just recently got married. This morning the husband went off to work as usual, and my wife, who likes to be a good neighbor, went to see how the wife was getting on–and found her collapsed on the floor. This is the nearest hospital, so I put her on the back seat of the car and have been driving more than 110 kilometers of winding bush track to get here.”

We lost no time getting out to his car. There, crumpled on the back seat, was the still form of a young woman. Her skin was cold and white. I couldn’t feel a pulse. However, I could just discern a feeble heartbeat. She was alive, but only just.

We immediately lifted her onto a stretcher and carried her into the hospital. I had a patient in extreme shock, on the brink of death, but had no information as to what had caused her condition.

Where to Begin?

After examining the woman further, I said to Matron Mitchell, “Her abdomen is distended with fluid. I think it’s blood. It looks as though we have an ectopic on our hands.”

This condition–a rupture of major blood vessels in the pelvis–necessitates immediate surgery. We commenced intravenous therapy, then phoned to Melbourne, requesting blood to be rushed up by taxi. The staff prepared the operating room for emergency surgery. Our problem now was the anesthetic. I was the only doctor at the hospital, and because the woman’s condition was so critical, we desperately needed an anesthetist. In those days of ether–more than 30 years ago–most anesthesia was given by general practitioners.

There were very few specialists, and I didn’t know the name of one. Matron Mitchell had a little experience in giving anesthetics, so because no doctor was available, I turned to her. “I’ll have to ask you to give the anesthetic,” I said. “We have to operate now, or it’ll be too late. If she dies on ! the table, you will go to court, but I’ll go with you.”

As the staff prepared the operating room and the patient, I went into my office and prayed. “Lord, this is an emergency. A woman’s life is at stake. I desperately need a specialist in anesthetics. But You know all about it.”

I told Matron Mitchell, “I’ll commence the anesthetic. Then I’ll hand it over to you while I scrub up and operate.”

Just as I was about to commence administering the anesthetic, the door to the operating room opened. A complete stranger put his head around the corner and said, “I’m Dr. Smith. Can I be of any help?”

I had to know whether he was a Ph.D., a doctor of music, a skin specialist, or a psychiatrist. So I asked him, “What line of work do you do?”

“I’m a specialist in anesthesia.”

I explained the situation, and he took over the anesthetic. It took all the skill he had to keep that woman alive while I operated. I opened her abdomen and found it absolutely distended with blood. Never before or since had I seen such a hemorrhage. The electric suction device I used couldn’t handle so much blood. I put both hands together and bailed out her abdomen as I had bailed out canoes in the Solomon Islands. I found the ruptured artery still feebly spitting blood. As I tied it off I knew she would live.

When the woman had been taken back to the ward, I turned to Dr. Smith. “How on earth did you appear at the door of the operating room at that precise moment?” I asked.

“I can’t explain it,” he said, “but I’ll tell you what happened.”

A Divine Appointment

He began: “As you know, there are very few anesthesiologists about, and I’ve been working long hours. This morning I turned up at the hospital to do a list of cases, only to be told, without explanation, that the whole list had been canceled.

“I thought, How wonderful! I’m going to get right away from Melbourne for the weekend. I want to go somewhere where nobody knows me, where there are no hospitals, no operating rooms, and no anesthetics.”

Then he said, “I had an impulse to come to Warburton. I can’t explain it, but I decided I had to come. I had never been to Warburton before, but I knew there were a number of guesthouses where I could spend the weekend.

“When I got to Warburton, I noticed a large building on the slopes of a hill. That looks like a guesthouse, I thought. So I drove up here, but it turned out to be a hospital instead. Just as I was about to turn around and drive off, a woman came out of the gates. ‘My name is Dr. Smith,’ I told her, ‘and I’m looking for a place where I can spend the weekend.’

“She grabbed me. ‘You’re wanted in the operating room at once,’ she said.

“‘I came to Warburton to get away from operating rooms,’ I replied.

“‘But it’s an emergency,’ she persisted.

“And that,” continued Dr. Smith, “is how I came to be here.”

Comparing Notes

“Can you tell me,” I asked, “just what time you had that impulse that you should come to Warburton?”

“It was at 8:10 this morning.”

The sequence of events began to unfold in my mind. At 8:00 the woman had collapsed at Matlock, 110 kilometers east of Warburton. At 8:10 God put into the mind of that anesthesiologist, 80 kilometers to the west, that he must go to Warburton. At about 10:30 I was pleading with God for help, but He had already answered my prayer more than two hours before. The problem was coming from the east, the solution from the west, and I knew nothing about it.

I learned a great lesson about providence from that experience. It has given me a deeper appreciation for the promise “Before they call, I will answer” (Isa. 65:24).

_________________________
Before his retirement Calvin Palmer, M.D., served at a leper colony in the Solomon Islands, as a surgeon at Warburton Hospital in Australia, and as a staff physician at Sydney Adventist Hospital.

Published in: on April 12, 2007 at 3:54 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://hkbp.wordpress.com/2007/04/12/tepat-pada-waktunya-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: